UMU Online-24 September 2026 Universitas Muslim Buton kembali menggelar Ngaji Kamis, sebuah forum kajian ilmiah dan keislaman yang mempertemukan sivitas akademika dalam ruang refleksi keagamaan sekaligus pembahasan persoalan strategis yang dekat dengan kehidupan masyarakat. Kegiatan yang berlangsung di Ballroom Al-Munawwara, Universitas Muslim Buton, Kamis (24/9/2026) tersebut menghadirkan Sulaiman, S.Pt., M.Si., Dosen Program Studi Peternakan UMU Buton, dengan tema “Ketahanan Pangan Hewani di Negeri Khalifatul Khamis.”
Kajian dimulai dengan pembacaan Surah An-Nahl ayat 1–5, sebelum dilanjutkan dengan pemaparan mengenai ketahanan pangan hewani dan berbagai tantangan pengembangan subsektor peternakan di Kepulauan Buton. Forum tersebut tidak hanya ditempatkan sebagai kegiatan keagamaan rutin, tetapi juga menjadi ruang untuk membangun kesadaran akademik mengenai pentingnya menghubungkan ilmu pengetahuan dengan kebutuhan pembangunan daerah.
Di hadapan sivitas akademika yang hadir, Sulaiman menjelaskan bahwa persoalan ketahanan pangan hewani di Kepulauan Buton memiliki dimensi yang cukup kompleks. Salah satu persoalan yang perlu mendapatkan perhatian serius adalah masih terbatasnya perkembangan sektor peternakan lokal dalam memenuhi kebutuhan masyarakat terhadap sumber protein hewani.
Menurutnya, kebutuhan masyarakat terhadap daging, ayam, dan telur dalam jumlah besar masih banyak dipenuhi melalui pasokan dari luar daerah. Produk peternakan, khususnya ayam dan telur, masih didatangkan dari Sulawesi Selatan maupun Pulau Jawa. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa kebutuhan konsumsi masyarakat sebenarnya cukup besar, tetapi belum sepenuhnya dapat diimbangi oleh kemampuan produksi peternakan lokal.
Sulaiman menilai kondisi tersebut perlu dilihat bukan semata-mata sebagai persoalan perdagangan antardaerah, melainkan sebagai tantangan pembangunan sektor peternakan sekaligus peluang ekonomi yang sangat besar bagi masyarakat Kepulauan Buton. Ketika kebutuhan pangan hewani terus meningkat dan pasokan masih bergantung pada daerah lain, terdapat ruang yang luas untuk membangun sistem produksi peternakan yang lebih kuat di daerah sendiri.
“Permasalahan kita bukan hanya pada minat generasi muda yang relatif rendah untuk masuk ke bisnis peternakan, tetapi juga pada persoalan mendasar seperti ketersediaan pakan,” demikian substansi yang disampaikan Sulaiman dalam kajian tersebut.
Ia menjelaskan, pakan merupakan salah satu faktor kunci dalam pengembangan usaha peternakan. Ketersediaan pakan yang cukup, berkualitas, berkesinambungan, dan terjangkau sangat menentukan keberlangsungan usaha peternakan. Tanpa dukungan sistem pakan yang kuat, pengembangan populasi ternak dan peningkatan produksi akan menghadapi berbagai kendala.
Persoalan pakan juga berkaitan langsung dengan aspek ekonomi usaha. Biaya produksi peternakan sangat dipengaruhi oleh biaya pakan. Apabila sebagian besar kebutuhan pakan harus didatangkan dari luar daerah, maka struktur biaya produksi menjadi lebih tinggi dan pada akhirnya dapat memengaruhi daya saing peternak lokal.
Karena itu, menurut Sulaiman, pengembangan peternakan di Kepulauan Buton tidak cukup dilakukan hanya dengan mendorong masyarakat memelihara ternak. Pengembangan harus diarahkan menjadi sebuah ekosistem peternakan, mulai dari penyediaan bahan baku pakan, formulasi pakan, pembibitan, budidaya, pengelolaan kesehatan ternak, teknologi produksi, pengolahan hasil, hingga pemasaran.
Di sisi lain, Sulaiman juga menyoroti tantangan regenerasi pelaku usaha peternakan. Minat generasi muda untuk menjadikan peternakan sebagai bidang usaha dinilai masih relatif rendah. Sebagian generasi muda masih melihat peternakan sebagai pekerjaan konvensional yang membutuhkan tenaga besar dan memberikan hasil yang tidak selalu cepat.
Padahal, perkembangan teknologi telah mengubah wajah industri peternakan. Peternakan modern dapat dikembangkan melalui pendekatan teknologi, manajemen usaha, digitalisasi, inovasi pakan, penguatan rantai pasok, serta pengolahan produk bernilai tambah. Perspektif tersebut penting untuk diperkenalkan kepada generasi muda agar peternakan tidak lagi dipandang sekadar sebagai aktivitas memelihara hewan, tetapi sebagai sektor bisnis dan industri yang memiliki prospek ekonomi.
Kepulauan Buton, lanjutnya, memiliki potensi lahan yang dapat dikembangkan untuk mendukung sektor peternakan. Potensi tersebut menjadi modal penting untuk membangun produksi pangan hewani yang lebih dekat dengan konsumen. Tantangannya adalah bagaimana potensi lahan tersebut diubah menjadi produktivitas ekonomi melalui perencanaan, teknologi, sumber daya manusia, investasi, dan kelembagaan yang tepat.
Dalam perspektif tersebut, perguruan tinggi memiliki posisi strategis. Kampus tidak hanya bertugas menghasilkan lulusan, tetapi juga memiliki tanggung jawab untuk menghasilkan pengetahuan, inovasi, dan sumber daya manusia yang mampu menjawab persoalan nyata masyarakat.
Program Studi Peternakan UMU Buton, menurut semangat kajian tersebut, dapat menjadi bagian dari proses membangun ekosistem peternakan daerah melalui pendidikan, penelitian, pengabdian kepada masyarakat, dan pengembangan kewirausahaan. Mahasiswa tidak hanya diarahkan memahami teori peternakan, tetapi juga perlu memiliki keberanian untuk mengembangkan usaha berbasis potensi lokal.
Kajian “Ketahanan Pangan Hewani di Negeri Khalifatul Khamis” akhirnya menjadi ruang perjumpaan antara nilai keislaman, ilmu pengetahuan, dan persoalan pembangunan daerah. Pembacaan Surah An-Nahl ayat 1–5 menjadi pembuka yang mengingatkan bahwa berbagai sumber daya yang tersedia di bumi merupakan bagian dari karunia Allah yang perlu dikelola secara bertanggung jawab.
Bagi UMU Buton, kegiatan Ngaji Kamis juga memperlihatkan komitmen kampus untuk membangun tradisi akademik yang tidak memisahkan ilmu, nilai keagamaan, dan pengabdian kepada masyarakat. Majelis ilmu di lingkungan kampus diharapkan tidak berhenti pada pemahaman teoritis, tetapi mampu melahirkan gagasan dan tindakan yang memberikan manfaat nyata.
Persoalan ketahanan pangan hewani di Kepulauan Buton pada akhirnya bukan hanya menjadi urusan peternak. Ia berkaitan dengan ekonomi masyarakat, peluang usaha generasi muda, kemandirian pangan daerah, pengembangan wilayah, serta masa depan pembangunan daerah. Ketergantungan pasokan dari luar daerah sekaligus memperlihatkan adanya peluang besar yang masih terbuka di dalam daerah.
Melalui forum seperti Ngaji Kamis, UMU Buton mendorong agar persoalan tersebut terus dibicarakan secara ilmiah dan konstruktif. Potensi lahan, sumber daya manusia, kebutuhan pasar, dan perkembangan teknologi dapat menjadi fondasi untuk membangun sektor peternakan yang lebih produktif dan berkelanjutan.
Ngaji Kamis UMU Buton dengan demikian bukan sekadar agenda keagamaan rutin, melainkan juga ruang untuk membaca persoalan masyarakat melalui perspektif ilmu, iman, dan kemanfaatan. Dari majelis ilmu, diharapkan lahir gagasan yang dapat menjadi bagian dari ikhtiar membangun Kepulauan Buton yang lebih mandiri dalam pangan, lebih kuat dalam ekonomi, dan lebih siap mencetak generasi muda yang berani menjadikan potensi daerah sebagai sumber kemajuan.
UMU Online — Berilmu, Berakhlak, Berkarya untuk Negeri.






