Dinkes Baubau Dorong UMU Buton Perkuat Implementasi Kampus Sehat

UMU Online, 23 September 2026  Universitas Muslim Buton  menerima kunjungan Dinas Kesehatan Kota Baubau dalam rangka advokasi dan penguatan implementasi Kampus Sehat, Rabu (23/9/2026). Pertemuan tersebut menjadi ruang dialog strategis untuk membahas bagaimana lingkungan perguruan tinggi dapat dibangun sebagai kawasan pendidikan yang sehat, bersih, aman, tertata, nyaman, dan mendukung produktivitas seluruh sivitas akademika.

Advokasi Kampus Sehat tidak hanya berbicara mengenai layanan kesehatan bagi mahasiswa, dosen, dan tenaga kependidikan. Konsep tersebut juga berkaitan erat dengan bagaimana seluruh lingkungan kampus dirancang, dikelola, dirawat, dan digunakan. Infrastruktur, kebersihan, sanitasi, ruang publik, ruang pembelajaran, penghijauan, pengelolaan limbah, hingga ketersediaan sarana aktivitas fisik menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari terciptanya ekosistem kampus yang sehat.

Dalam pertemuan tersebut, Dinas Kesehatan Kota Baubau memberikan penjelasan mengenai berbagai aspek yang perlu menjadi perhatian dalam implementasi Kampus Sehat di lingkungan UMU Buton. Salah satu hal yang mendapat perhatian adalah tata letak dan kerapian infrastruktur kampus. Lingkungan perguruan tinggi yang sehat membutuhkan penataan ruang yang baik sehingga mobilitas sivitas akademika dapat berlangsung secara aman, nyaman, dan tertib.

Penataan lingkungan juga tidak dapat dipisahkan dari aspek estetika. Kampus sebagai ruang pendidikan perlu memberikan suasana yang mendukung proses belajar dan interaksi akademik. Ruang yang tertata, bersih, terang, memiliki sirkulasi udara yang baik, serta terbebas dari berbagai gangguan lingkungan akan memberikan dukungan terhadap aktivitas pendidikan.

Aspek penghijauan kampus turut menjadi perhatian. Keberadaan tanaman hijauan bukan sekadar memperindah lingkungan, tetapi juga menjadi bagian dari upaya menciptakan ruang terbuka yang nyaman. Vegetasi dapat ditempatkan secara terencana di sekitar ruang belajar, jalur pejalan kaki, ruang publik, dan area lainnya dengan mempertimbangkan keamanan, fungsi, serta kemudahan pemeliharaan.

Dalam perspektif Kampus Sehat, penghijauan perlu ditempatkan sebagai bagian dari perencanaan lingkungan kampus. Kampus tidak hanya menjadi tempat berlangsungnya kegiatan akademik, tetapi juga menjadi ruang hidup yang digunakan sivitas akademika dalam waktu yang panjang. Karena itu, kualitas lingkungan fisik menjadi salah satu faktor yang perlu diperhatikan secara berkelanjutan.

Persoalan pengelolaan limbah kampus juga menjadi bagian penting dalam pembahasan. Aktivitas perguruan tinggi menghasilkan berbagai jenis limbah yang membutuhkan pengelolaan secara tertib. Pengurangan sampah dari sumbernya, pemilahan, penyediaan tempat sampah yang memadai, pengangkutan, serta pengelolaan lanjutan perlu menjadi bagian dari sistem pengelolaan lingkungan kampus.

Kebersihan toilet dan fasilitas sanitasi juga mendapat perhatian khusus. Toilet merupakan salah satu fasilitas dasar yang secara langsung berkaitan dengan kesehatan lingkungan. Kebersihan, ketersediaan air, ventilasi, pencahayaan, kondisi lantai dan dinding, serta sistem pemeliharaan perlu dilakukan secara rutin. Fasilitas sanitasi yang terawat menjadi indikator penting dalam menciptakan lingkungan kampus yang layak dan sehat.

Selain toilet, kebersihan dan kerapian ruang publik serta ruang belajar menjadi bagian penting dari pembahasan. Ruang kuliah, ruang administrasi, aula, koridor, halaman, serta area berkumpul mahasiswa perlu memiliki standar kebersihan dan pemeliharaan yang jelas. Pengelolaan tersebut membutuhkan keterlibatan seluruh unsur kampus, bukan hanya petugas kebersihan.

Kampus Sehat pada akhirnya membutuhkan perubahan cara pandang. Kebersihan lingkungan bukan semata-mata pekerjaan petugas, melainkan budaya bersama. Sivitas akademika memiliki peran dalam menjaga fasilitas, membuang sampah pada tempatnya, menggunakan sarana secara bertanggung jawab, serta menciptakan lingkungan yang nyaman bagi orang lain.

Aspek sarana olahraga dan aktivitas fisik bagi sivitas akademika juga menjadi perhatian dalam advokasi tersebut. Perguruan tinggi memiliki lingkungan yang strategis untuk mendorong gaya hidup aktif. Ketersediaan fasilitas olahraga yang layak dapat memberikan ruang bagi mahasiswa, dosen, dan tenaga kependidikan untuk melakukan aktivitas fisik secara teratur.

Bagi UMU Buton, aspek tersebut memiliki relevansi tersendiri mengingat aktivitas olahraga juga berkaitan dengan pendidikan, kesehatan, pembentukan karakter, dan pengembangan potensi mahasiswa. Sarana olahraga yang dikelola dengan baik dapat menjadi bagian dari ekosistem kampus yang mendorong kebugaran sekaligus interaksi sosial yang positif.

Hal lain yang tidak kalah penting adalah kondisi selokan atau saluran drainase di lingkungan kampus. Drainase yang berfungsi baik diperlukan untuk mencegah genangan air, menjaga kebersihan lingkungan, serta mengurangi potensi munculnya berbagai persoalan kesehatan dan lingkungan. Pemeriksaan dan pemeliharaan saluran secara berkala menjadi bagian dari pengelolaan infrastruktur kampus.

Ketersediaan air bersih juga menjadi kebutuhan mendasar. Air digunakan dalam berbagai aktivitas kampus, mulai dari sanitasi, kebersihan fasilitas, toilet, hingga kebutuhan sehari-hari sivitas akademika. Karena itu, penyediaan air bersih harus disertai dengan pemeliharaan sarana, pengawasan kualitas, serta sistem distribusi yang memadai.

Pembahasan dalam pertemuan tersebut memperlihatkan bahwa implementasi Kampus Sehat membutuhkan pendekatan yang menyeluruh. Kesehatan tidak dapat dipisahkan dari lingkungan fisik, perilaku, fasilitas, tata kelola, serta budaya yang berkembang di dalam kampus.

Kampus Sehat juga memiliki dimensi pendidikan. Lingkungan kampus dapat menjadi laboratorium nyata bagi mahasiswa untuk belajar mengenai kebersihan, kesehatan masyarakat, pengelolaan lingkungan, disiplin, tanggung jawab sosial, dan keberlanjutan. Dengan demikian, program tersebut tidak berhenti pada pembangunan fasilitas, tetapi dapat menjadi bagian dari pembentukan karakter sivitas akademika.

Bagi UMU Buton, advokasi dari Dinas Kesehatan Kota Baubau menjadi momentum untuk melakukan evaluasi terhadap berbagai aspek lingkungan kampus sekaligus menyusun langkah perbaikan secara bertahap. Setiap ruang, fasilitas, dan kawasan kampus dapat dilihat kembali dari perspektif kesehatan, keamanan, kenyamanan, aksesibilitas, dan keberlanjutan.

Implementasi Kampus Sehat pada akhirnya bukan proyek sesaat. Ia membutuhkan komitmen, perencanaan, standar, pembiayaan, pemeliharaan, pengawasan, serta partisipasi seluruh sivitas akademika. Keberhasilannya sangat bergantung pada konsistensi menjaga lingkungan setelah berbagai fasilitas tersedia.

Pertemuan antara Dinas Kesehatan Kota Baubau dan UMU Buton tersebut sekaligus memperkuat gagasan bahwa perguruan tinggi memiliki tanggung jawab lebih luas dalam menciptakan lingkungan pendidikan yang mendukung kualitas hidup masyarakat kampus. Kampus yang sehat akan menciptakan ruang belajar yang lebih nyaman, lingkungan kerja yang lebih baik, serta budaya akademik yang lebih produktif.

Lebih jauh, Kampus Sehat dapat menjadi bagian dari identitas perguruan tinggi modern. Infrastruktur yang tertata, lingkungan hijau, sanitasi yang baik, pengelolaan limbah yang bertanggung jawab, ruang publik yang nyaman, fasilitas olahraga, drainase yang berfungsi, dan ketersediaan air bersih merupakan satu kesatuan dalam membangun ekosistem pendidikan yang sehat dan berkelanjutan.

Melalui advokasi ini, UMU Buton memiliki ruang untuk melanjutkan pembenahan lingkungan kampus secara sistematis dan bertahap. Tujuannya bukan hanya menciptakan kampus yang terlihat bersih, tetapi membangun budaya hidup sehat yang tumbuh dari kesadaran bersama seluruh sivitas akademika.

UMU Online — Berilmu, Berakhlak, Berkarya untuk Negeri.

Tags :
Bagikan :