KAJIAN RUTIN KAMIS: MENGUATKAN PENDIDIKAN SEJAK DINI

MENGUATKAN PENDIDIKAN SEJAK DINI

Kajian Rutin Kamis UMU Buton: Al-Qur’an, ASWAJA, Mutu Pendidikan, dan Pembentukan Karakter

UMU Online Baubau, 1 Oktober 2026 — Universitas Muslim Buton kembali menggelar Kajian Rutin Kamis sebagai bagian dari penguatan karakter, spiritualitas, dan budaya akademik di lingkungan kampus. Kegiatan yang berlangsung di Ballroom Al-Munawwara, Kamis (1/10), tersebut mengangkat tema “Pendidikan Dasar sebagai Fondasi Pendidikan dalam Perspektif ASWAJA”, dengan narasumber Reza Alfahral, S.Pd., M.Pd., Dosen Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) UMU Buton.

Kajian diawali dengan pembacaan Al-Qur’an Surah Luqman ayat 13–19, ayat-ayat yang memberikan gambaran penting mengenai pendidikan keluarga, penanaman tauhid, pembentukan akhlak, penghormatan kepada orang tua, pengendalian diri, serta tanggung jawab manusia dalam kehidupan. Pemilihan Surah Luqman menjadi relevan dengan tema kajian karena pendidikan dalam perspektif Islam tidak dimulai ketika seseorang memasuki sekolah, melainkan dibangun sejak dini melalui keteladanan, pembiasaan, nasihat, dan lingkungan kehidupan.

Forum kajian berkembang menjadi ruang dialog akademik yang mempertemukan perspektif Al-Qur’an, pendidikan, pengalaman akademik, dan tantangan generasi di tengah perubahan teknologi. Ketua Lembaga Kajian Islam dan Aswaja UMU Buton, Bapak Fitratun, turut memberikan pokok pikiran mengenai hubungan Surah Luqman ayat 13–19 dengan pembangunan pendidikan dan karakter. Menurut perspektif yang dibangun dalam forum, pesan Luqman kepada anaknya menunjukkan bahwa pendidikan dasar sesungguhnya memiliki dimensi yang jauh lebih luas daripada penguasaan kemampuan membaca, menulis, berhitung, atau pengetahuan akademik.

Pendidikan sejak dini harus membangun fondasi keimanan, akhlak, tanggung jawab, kesadaran sosial, dan kemampuan mengendalikan diri. Pesan mengenai tauhid dalam ayat tersebut menjadi dasar bahwa kecerdasan harus berjalan bersama nilai. Anak yang memperoleh pendidikan bukan hanya diharapkan mengetahui sesuatu, tetapi juga memahami bagaimana pengetahuan tersebut digunakan secara benar dalam kehidupan.

Pokok pikiran tersebut kemudian bertemu dengan tantangan pendidikan kontemporer yang semakin kompleks. Rektor Universitas Muslim Buton, Dr. La Ode Rasmin, dalam forum tersebut turut memberikan perhatian terhadap kualitas pendidikan Indonesia dengan mengaitkannya dengan hasil PISA 2025. Data OECD yang dirilis pada 8 September 2026 menunjukkan bahwa hasil rata-rata siswa Indonesia pada 2025 masih berada di bawah rata-rata OECD dalam matematika, membaca, dan sains. Pada saat yang sama, OECD mencatat beberapa indikator positif terkait sikap belajar siswa Indonesia, termasuk tingginya proporsi siswa yang menyatakan senang mempelajari hal-hal baru dan memiliki kegigihan dalam menyelesaikan tugas.

PISA 2025 sendiri mengukur kemampuan siswa berusia sekitar 15 tahun dalam menerapkan pengetahuan dan keterampilan untuk menghadapi persoalan kehidupan nyata. Indonesia mengikutsertakan 14.168 siswa dari 419 sekolah dalam asesmen tersebut. Karena itu, hasil PISA tidak semata-mata dapat dibaca sebagai persoalan angka, tetapi sebagai bahan refleksi mengenai bagaimana sistem pendidikan mempersiapkan generasi menghadapi dunia yang semakin kompleks.

Dalam konteks tersebut, perhatian terhadap pendidikan sejak dini, kualitas guru, kurikulum, kemauan belajar, dan disiplin menjadi semakin penting. Kualitas pendidikan pada jenjang yang lebih tinggi sangat dipengaruhi oleh fondasi yang dibangun pada tahap sebelumnya. Ketika kemampuan dasar, karakter belajar, disiplin, dan motivasi tidak terbentuk dengan baik, pendidikan pada jenjang berikutnya akan menghadapi tantangan yang lebih berat.

Guru menjadi salah satu faktor strategis dalam proses tersebut. Kurikulum dapat dirancang dengan baik, teknologi dapat disediakan, dan sarana pendidikan dapat dikembangkan, tetapi kualitas implementasi sangat bergantung pada kualitas pendidik dan lingkungan belajar. Guru bukan hanya penyampai materi, melainkan pembentuk kebiasaan belajar, teladan perilaku, fasilitator berpikir, sekaligus figur yang dapat memengaruhi karakter peserta didik.

Persoalan tersebut menjadi semakin kompleks ketika pendidikan berhadapan dengan perkembangan teknologi digital. Dalam forum Kajian Rutin Kamis, mahasiswa Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar turut menyampaikan kegelisahan mengenai menurunnya kualitas moral di tengah gempuran teknologi. Kekhawatiran tersebut menunjukkan bahwa kemajuan teknologi tidak otomatis menghasilkan kemajuan karakter.

Teknologi memberikan akses pengetahuan yang sangat luas, tetapi sekaligus membawa tantangan berupa perubahan pola interaksi, derasnya informasi, budaya instan, dan berbagai bentuk konten yang dapat memengaruhi perilaku generasi muda. Karena itu, persoalan pendidikan abad ke-21 bukan lagi sekadar bagaimana membuat peserta didik mampu menggunakan teknologi, tetapi bagaimana membentuk manusia yang mampu menggunakan teknologi secara bertanggung jawab.

Di sinilah pesan Surah Luqman memperoleh relevansinya kembali. Pendidikan membutuhkan keseimbangan antara ilmu dan nilai, kecerdasan dan akhlak, kemampuan digital dan pengendalian diri. Anak dan generasi muda perlu memiliki kemampuan untuk memilih informasi, membedakan yang baik dan buruk, menghormati orang lain, menjaga hubungan sosial, serta memahami tanggung jawab moral atas setiap tindakan.

Ketua Yayasan UMU Buton, Bapak Ibrahim Marsela, dalam forum tersebut memberikan penekanan pada pentingnya membangun tiga keterampilan sekaligus kepada mahasiswa UMU Buton, yakni ilmu, karakter, dan kemampuan soft skill. Ketiganya tidak seharusnya diposisikan sebagai bagian yang terpisah, melainkan sebagai satu kesatuan kompetensi lulusan.

Ilmu memberikan dasar intelektual. Karakter memberikan arah moral. Sementara soft skill memungkinkan seseorang menggunakan ilmu dan karakter tersebut dalam interaksi nyata. Mahasiswa yang memiliki pengetahuan tetapi tidak memiliki karakter menghadapi persoalan integritas. Sebaliknya, karakter yang baik tanpa kompetensi dapat menghadapi keterbatasan dalam memberikan kontribusi profesional. Karena itu, perguruan tinggi perlu membangun keseimbangan ketiganya.

Dalam kerangka identitas UMU Buton, pembangunan karakter tersebut juga dikaitkan dengan tiga nilai yang menjadi pedoman kehidupan akademik, yaitu Al-Mufakkir, Al-Munaddin, dan Al-Muslih. Ketiga nilai tersebut diarahkan untuk tidak berhenti sebagai istilah institusional, tetapi diinternalisasi dalam kehidupan dan pergaulan akademik.

Al-Mufakkir merepresentasikan manusia yang berpikir, menggunakan ilmu, mengembangkan daya kritis, dan mampu melihat persoalan secara mendalam. Mahasiswa tidak cukup hanya menerima informasi, tetapi harus mampu mengolahnya menjadi pemahaman dan gagasan. Dalam konteks pendidikan abad ke-21, kemampuan berpikir kritis menjadi semakin penting karena generasi muda berhadapan dengan arus informasi yang sangat besar.

Al-Munaddin dapat dimaknai sebagai semangat membangun dan menggerakkan. Nilai tersebut mendorong civitas akademika untuk tidak berhenti pada gagasan, tetapi menerjemahkan pengetahuan menjadi tindakan. Pendidikan memperoleh makna ketika ilmu menghasilkan karya, solusi, dan kontribusi nyata bagi masyarakat.

Sementara Al-Muslih menegaskan dimensi perbaikan dan kemaslahatan. Pengetahuan dan kemampuan yang dimiliki seseorang pada akhirnya harus digunakan untuk memperbaiki keadaan, membangun hubungan yang baik, dan memberikan manfaat bagi lingkungan. Dalam konteks pendidikan, lulusan ideal bukan hanya manusia yang sukses untuk dirinya sendiri, tetapi juga manusia yang mampu menghadirkan manfaat bagi masyarakat.

Tiga nilai tersebut memiliki keterkaitan kuat dengan pesan pendidikan dalam Surah Luqman. Pendidikan tidak berhenti pada transfer pengetahuan, tetapi diarahkan untuk membentuk manusia yang memiliki kesadaran tentang Tuhan, tanggung jawab terhadap sesama, kemampuan mengendalikan diri, dan keberanian melakukan kebaikan.

Forum Kajian Rutin Kamis akhirnya memperlihatkan bahwa pembicaraan mengenai pendidikan tidak dapat dipisahkan dari persoalan karakter dan kualitas manusia. Tantangan PISA memberikan perspektif mengenai capaian pembelajaran; perkembangan teknologi menunjukkan perubahan lingkungan belajar; sementara Al-Qur’an memberikan fondasi nilai yang menjadi arah pembentukan manusia.

Dari perspektif tersebut, pendidikan dasar perlu dipandang sebagai investasi jangka panjang. Anak yang memperoleh fondasi pengetahuan, karakter, disiplin, rasa ingin tahu, kemampuan berkomunikasi, dan nilai spiritual yang kuat akan memiliki modal yang lebih baik untuk menghadapi jenjang pendidikan berikutnya.

Perguruan tinggi kemudian memiliki tanggung jawab untuk melanjutkan proses tersebut. Mahasiswa tidak hanya dipersiapkan menjadi tenaga profesional, tetapi juga menjadi manusia yang memiliki integritas, kemampuan berpikir, kemampuan berkomunikasi, kepemimpinan, kreativitas, dan kesadaran sosial.

Kajian Rutin Kamis UMU Buton pada akhirnya bukan hanya forum untuk mendengarkan ceramah keagamaan. Ia berkembang menjadi ruang refleksi akademik tentang bagaimana pendidikan harus dibangun dari fondasi yang kuat. Al-Qur’an memberikan nilai, pendidikan memberikan pengetahuan, guru memberikan keteladanan, teknologi menyediakan alat, dan perguruan tinggi mengembangkan kompetensi untuk menghadapi masa depan.

Pesan penting yang muncul dari forum tersebut adalah bahwa kemajuan pendidikan tidak cukup diukur dari kemampuan menggunakan teknologi atau memperoleh nilai akademik. Ukuran yang lebih mendasar adalah kemampuan pendidikan membentuk manusia yang berilmu, berkarakter, disiplin, mampu beradaptasi, dan memiliki tanggung jawab moral.

Di tengah perubahan zaman, UMU Buton menempatkan pendidikan sebagai proses membangun manusia secara utuh. Ilmu membangun kecerdasan, karakter membangun integritas, soft skill membangun kemampuan berinteraksi, dan nilai-nilai Islam memberikan arah dalam penggunaannya.

Dari Surah Luqman 13–19 hingga tantangan PISA 2025, dari kualitas guru hingga gempuran teknologi, seluruh pembahasan bermuara pada satu kesadaran: masa depan pendidikan ditentukan oleh kualitas manusia yang dibentuk sejak dini dan terus dikembangkan sepanjang hayat.

Karena itu, pendidikan harus dimulai dengan fondasi yang benar, diperkuat oleh guru yang berkualitas, didukung kurikulum yang relevan, dibangun melalui kemauan dan disiplin belajar, serta diarahkan oleh karakter dan nilai.

Kajian Rutin Kamis UMU Buton menjadi pengingat bahwa kampus bukan hanya tempat mencari ilmu, tetapi tempat membentuk manusia: manusia yang berpikir sebagai Al-Mufakkir, bergerak dan membangun sebagai Al-Munaddin, serta menghadirkan perbaikan dan kemaslahatan sebagai Al-Muslih.

Berilmu • Berakhlak • Berkarya untuk Negeri.

Tags :
Bagikan :