DI USIA KE-8 UMU BUTON TEMBUS BATAS INTERNASIONAL: MAHASISWA TIMOR-LESTE MENJADI PENANDA LOMPATAN PENDIDIKAN KEPULAUAN

MAHASISWA TIMOR-LESTE MENJADI PENANDA LOMPATAN PENDIDIKAN KEPULAUAN

UMU Online  – Universitas Muslim Buton menorehkan babak baru dalam perjalanan kelembagaannya. Di usianya yang memasuki tahun kedelapan, perguruan tinggi yang tumbuh dari kawasan Kepulauan Buton ini mulai memperlihatkan lompatan strategis melalui penerimaan mahasiswa internasional asal Timor-Leste. Langkah tersebut bukan sekadar penambahan mahasiswa dari luar negeri, melainkan penanda bahwa perguruan tinggi daerah memiliki peluang, kapasitas, dan keberanian untuk mengambil bagian dalam peta pendidikan tinggi lintas negara.

Momentum bersejarah tersebut ditandai dengan penyelenggaraan Opening Ceremony Pengenalan Kehidupan Kampus bagi Mahasiswa Baru (PPKMB) Internasional UMU Buton, Kamis, 5 November 2026. Kegiatan berlangsung selama satu hari dan dihadiri Ketua Yayasan Pendidikan Indonesia Kepulauan Buton, Drs. H. Ibrahim Marsela, MM, Rektor UMU Buton, La Ode Rasmin, Wakil Rektor Bidang Akademik dan Kemahasiswaan, Wakil Rektor Bidang Aset, ICT, dan Sumber Daya, para kepala lembaga, kepala biro, dekan fakultas, ketua program studi, dosen, serta mahasiswa.

Kehadiran mahasiswa asal Timor-Leste memberikan makna tersendiri bagi perkembangan UMU Buton. Untuk sebuah universitas yang relatif muda, penerimaan mahasiswa internasional merupakan capaian yang mencerminkan terbukanya ruang kolaborasi pendidikan, meningkatnya kepercayaan terhadap institusi, serta munculnya orientasi pengembangan kampus yang tidak lagi terbatas pada kebutuhan pendidikan di tingkat lokal dan regional.

Dalam suasana akademik yang penuh semangat, Ketua Yayasan Pendidikan Indonesia Kepulauan Buton, Drs. H. Ibrahim Marsela, MM, menyampaikan pengarahan yang menempatkan capaian internasionalisasi tersebut sebagai bagian dari perjalanan panjang membangun universitas. Ia mengajak seluruh sivitas akademika untuk memahami bahwa usia institusi bukanlah satu-satunya ukuran kemajuan. Yang lebih menentukan adalah keberanian menetapkan cita-cita, kemampuan membaca perubahan, kekuatan membangun sistem, dan kesungguhan mengubah gagasan menjadi kenyataan.

Menurut perspektif pengembangan yayasan, UMU Buton yang baru memasuki usia kedelapan telah menunjukkan bahwa perguruan tinggi yang lahir dari daerah kepulauan tidak harus membatasi orientasi pengembangannya pada wilayah tempat institusi itu berdiri. Baubau dan Kepulauan Buton justru dapat menjadi titik awal untuk membangun hubungan pendidikan dengan masyarakat internasional.

Mengapa UMU Buton di usia yang relatif muda telah berani menerima mahasiswa internasional? Pertanyaan tersebut menjadi salah satu pesan penting dalam pengarahan Ketua Yayasan. Jawabannya terletak pada cara pandang terhadap masa depan pendidikan tinggi. Sebuah universitas tidak boleh hanya sibuk menyelesaikan kebutuhan hari ini, tetapi harus mulai mempersiapkan kapasitas untuk menjawab tantangan masa depan.

Penerimaan mahasiswa Timor-Leste menjadi salah satu wujud dari cara pandang tersebut. Yayasan melihat bahwa pendidikan merupakan jembatan yang menghubungkan bangsa, kebudayaan, dan masa depan generasi muda. Ketika seorang mahasiswa dari negara lain memilih UMU Buton sebagai tempat menuntut ilmu, sesungguhnya terbuka sebuah hubungan yang lebih luas daripada hubungan administratif antara mahasiswa dan perguruan tinggi. Di dalamnya terdapat kepercayaan, pertukaran pengalaman, persahabatan, dan kesempatan membangun jejaring antarbangsa.

Ketua Yayasan juga menekankan bahwa internasionalisasi tidak boleh dipahami sebatas menerima mahasiswa asing. Internasionalisasi harus dimaknai sebagai perubahan kualitas berpikir dan budaya kerja institusi. Kampus harus semakin disiplin, pelayanan harus semakin profesional, pembelajaran harus semakin berkualitas, dosen harus terus mengembangkan kompetensi, dan seluruh unsur pengelola harus memiliki kesadaran bahwa standar pelayanan pendidikan semakin terbuka terhadap perbandingan global.

Dalam pandangannya, keberanian melangkah ke tingkat internasional harus disertai kesiapan untuk memperbaiki diri. Tidak cukup hanya memiliki cita-cita menjadi universitas berwawasan global apabila tidak diikuti dengan penguatan kualitas akademik, tata kelola, teknologi informasi, sumber daya manusia, serta karakter mahasiswa. Karena itu, capaian penerimaan mahasiswa internasional harus menjadi energi baru untuk mempercepat pembenahan dan peningkatan mutu kelembagaan.

Lebih jauh, Ibrahim Marsela menegaskan bahwa keberhasilan universitas pada akhirnya tidak ditentukan oleh seberapa banyak mahasiswa yang berhasil direkrut, tetapi oleh seberapa besar perubahan kualitas manusia yang mampu dihasilkan. Perguruan tinggi harus menjadi tempat lahirnya generasi yang memiliki pengetahuan, keterampilan, karakter, dan kemampuan menghadapi perubahan dunia.

Dalam pengarahan tersebut, Ketua Yayasan juga menegaskan pentingnya kerangka besar pengembangan mahasiswa UMU Buton melalui tiga lapis pembentukan kompetensi, yakni Professional Skill, Future Skill, dan Human Skill. Ketiganya merupakan satu kesatuan strategi pengembangan manusia yang dirancang untuk menjawab kebutuhan dunia kerja, perubahan teknologi, dan tantangan kehidupan global.

Lapis pertama, Professional Skill, merupakan fondasi kompetensi keilmuan dan profesional mahasiswa. Setiap mahasiswa harus memiliki kemampuan nyata sesuai bidang ilmu yang dipelajarinya. Mahasiswa pendidikan harus memiliki kompetensi pedagogik dan penguasaan bidang studi. Mahasiswa ekonomi harus mampu memahami aktivitas bisnis, pasar, dan dinamika ekonomi. Mahasiswa bidang teknologi informasi harus memiliki kemampuan analisis, pengembangan sistem, serta pemanfaatan teknologi. Demikian pula mahasiswa bidang lainnya harus menguasai kompetensi yang relevan dengan disiplin ilmunya.

Professional Skill menegaskan bahwa gelar akademik harus memiliki makna kompetensi. Lulusan tidak cukup hanya membawa ijazah, tetapi harus mampu menunjukkan apa yang dapat dikerjakan, masalah apa yang dapat diselesaikan, dan nilai apa yang dapat diberikan kepada masyarakat. Dengan demikian, pendidikan tinggi tidak berhenti pada proses transfer pengetahuan, melainkan menghasilkan kemampuan profesional yang dapat dibuktikan melalui kinerja.

Lapis kedua, Future Skill, merupakan kemampuan menghadapi masa depan yang terus berubah. Dunia kerja, teknologi, pola bisnis, dan kehidupan sosial mengalami transformasi yang semakin cepat. Kecerdasan buatan, digitalisasi, ekonomi berbasis data, konektivitas global, dan perubahan struktur pekerjaan menuntut mahasiswa memiliki kemampuan beradaptasi dan terus belajar.

Future Skill mencakup kemampuan berpikir kritis, kreativitas, komunikasi, kolaborasi, literasi digital, penguasaan bahasa asing, pemecahan masalah, inovasi, serta jiwa entrepreneurship. Mahasiswa harus mampu membaca perubahan, mengenali peluang, dan menciptakan solusi. Mereka tidak boleh hanya menjadi penonton perkembangan teknologi, tetapi harus mampu menjadi pengguna yang cerdas, pengembang inovasi, bahkan pencipta peluang ekonomi baru.

Dalam kerangka ini, entrepreneurship memiliki posisi penting. Mahasiswa perlu dibentuk menjadi pribadi yang berani mengambil inisiatif, mampu mengelola risiko, memiliki daya juang, dan sanggup mengubah gagasan menjadi tindakan produktif. Masa depan bukan hanya milik mereka yang memiliki pengetahuan, tetapi juga mereka yang mampu menggunakan pengetahuan untuk menciptakan nilai dan menyelesaikan persoalan.

Lapis ketiga, Human Skill, merupakan dimensi paling mendasar dalam pembentukan manusia. Kecakapan profesional dan kemampuan menghadapi masa depan harus ditopang oleh kualitas kemanusiaan yang kuat. Integritas, akhlak, kedisiplinan, empati, tanggung jawab, kepemimpinan, kemampuan menghargai perbedaan, serta kepedulian sosial menjadi fondasi yang menentukan bagaimana seseorang menggunakan ilmu dan keahliannya.

Human Skill memberikan arah moral bagi penguasaan kompetensi. Seseorang dapat memiliki kecerdasan tinggi dan keterampilan teknologi yang luar biasa, tetapi tanpa integritas dan akhlak, kemampuan tersebut berpotensi kehilangan orientasi kemanfaatannya. Karena itu, UMU Buton menempatkan pembentukan karakter sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari proses pendidikan.

Ketiga lapis tersebut harus berkembang secara bersamaan. Professional Skill menjadikan mahasiswa kompeten dalam bidang keilmuannya. Future Skill menjadikan mereka adaptif, inovatif, dan siap menghadapi perubahan. Human Skill menjadikan mereka manusia yang berintegritas, berakhlak, dan bertanggung jawab. Inilah konstruksi pendidikan yang tidak hanya menghasilkan tenaga kerja, tetapi membangun manusia yang mampu bekerja, berkarya, memimpin, dan memberikan manfaat bagi kehidupan.

Pesan ini memiliki relevansi khusus bagi mahasiswa internasional. Perbedaan negara asal, bahasa, budaya, dan pengalaman hidup bukanlah penghalang untuk tumbuh bersama. Sebaliknya, keberagaman merupakan ruang pembelajaran untuk membangun kemampuan profesional, memperluas wawasan global, dan mengembangkan kualitas kemanusiaan.

Sejalan dengan pengarahan Ketua Yayasan, Rektor UMU Buton, La Ode Rasmin, bersama jajaran pimpinan universitas menempatkan penerimaan mahasiswa internasional sebagai tantangan sekaligus kesempatan untuk memperkuat kualitas penyelenggaraan pendidikan tinggi. Pengembangan kelas internasional memerlukan keselarasan antara kebijakan akademik, kesiapan program studi, pelayanan mahasiswa, infrastruktur, teknologi informasi, dan dukungan sumber daya manusia.

Rektor memperkenalkan profil universitas, arah pengembangan kelembagaan, serta identitas UMU Buton sebagai perguruan tinggi yang berorientasi pada pembangunan sumber daya manusia unggul, berakhlakul karimah, dan berwawasan entrepreneurship. Mahasiswa diharapkan memahami bahwa mereka memasuki lingkungan akademik yang tidak hanya menuntut pencapaian prestasi belajar, tetapi juga pembentukan karakter, kemandirian, dan tanggung jawab sosial.

Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan pembekalan lima materi utama PPKMB. Materi pertama mengenai Profil Kelembagaan, Sejarah, Visi, Misi, dan Budaya Akademik UMU Buton, yang memperkenalkan identitas universitas, struktur organisasi, fakultas, program studi, serta nilai-nilai dasar penyelenggaraan pendidikan.

Materi kedua membahas Sistem Pendidikan Tinggi, Kurikulum, dan Layanan Akademik, meliputi sistem perkuliahan, satuan kredit semester, administrasi akademik, evaluasi pembelajaran, hak dan kewajiban mahasiswa, serta mekanisme pelayanan pendidikan.

Materi ketiga mengangkat Etika Akademik, Integritas, dan Penguatan Karakter Islami, dengan penekanan pada kejujuran ilmiah, kedisiplinan, tanggung jawab, toleransi, serta penghormatan terhadap keberagaman.

Materi keempat membahas Adaptasi Sosial, Kebudayaan Buton, dan Wawasan Kebangsaan, yang memperkenalkan sejarah, tradisi, kearifan lokal, dan kehidupan masyarakat Kepulauan Buton sebagai lingkungan tempat mahasiswa menjalani pendidikan.

Materi kelima mengangkat Literasi Digital, Entrepreneurship, dan Kompetensi Global, yang mendorong mahasiswa menguasai teknologi, mengembangkan kreativitas, membangun kemampuan komunikasi, serta memiliki keberanian menciptakan peluang dan inovasi.

Seluruh materi tersebut dikoordinasikan oleh Kepala Biro Kerja Sama dan Hubungan Luar Negeri UMU Buton selaku Ketua Panitia. Pelaksanaan kegiatan melibatkan unsur pimpinan dan sivitas akademika agar proses pengenalan kehidupan kampus berlangsung secara terarah dan memberikan pemahaman menyeluruh kepada mahasiswa baru.

Bagi UMU Buton, momentum ini merupakan pengingat bahwa lompatan kelembagaan harus selalu diikuti dengan peningkatan kualitas. Penerimaan mahasiswa internasional menjadi awal dari tanggung jawab yang lebih besar untuk membangun pengalaman pendidikan yang bermutu, lingkungan akademik yang inklusif, dan pelayanan yang mampu menjawab kebutuhan mahasiswa dari berbagai latar belakang.

Di usia kedelapan, UMU Buton sedang menegaskan sebuah perspektif penting: perguruan tinggi daerah tidak harus berpikir kecil hanya karena berada jauh dari pusat pertumbuhan nasional. Dengan visi yang jelas, kepemimpinan yang berani, tata kelola yang semakin kuat, dan komitmen kolektif seluruh sivitas akademika, kampus dari Kepulauan Buton memiliki kesempatan untuk tumbuh dan berkontribusi dalam ruang pendidikan internasional.

Penerimaan mahasiswa asal Timor-Leste menjadi salah satu penanda perjalanan tersebut. Sebuah langkah yang mungkin berawal dari satu hubungan pendidikan, tetapi memiliki potensi untuk berkembang menjadi jembatan kerja sama, pertukaran budaya, dan persahabatan antarbangsa.

Ukuran keberhasilan UMU Buton bukan semata-mata terletak pada kemampuannya membawa mahasiswa internasional ke Baubau, melainkan pada kemampuannya menghadirkan pendidikan yang mengubah masa depan mahasiswa. Pendidikan yang menguatkan keahlian, membuka cakrawala, membangun karakter, dan melahirkan manusia yang bermanfaat bagi masyarakat.

UMU Buton membuktikan bahwa kampus yang tumbuh dari daerah dapat memiliki cita-cita dunia. Dari Kepulauan Buton, pendidikan melintasi batas negara; dari ruang akademik, generasi masa depan dipersiapkan untuk mengambil peran dalam peradaban global.

Tags :
Bagikan :