UMU Online Baubau Universitas Muslim Buton menggelar kuliah umum yang menghadirkan Prof. Dr. Tasrifin Tahara, Atase Pendidikan dan Kebudayaan Kedutaan Besar Republik Indonesia di Dili, Republik Demokratik Timor-Leste, sebagai narasumber utama. Kuliah umum tersebut mengangkat tema “Dunia dan Peluang Tanpa Batas: Kapital Budaya dan Kompetensi Global Alumni Perguruan Tinggi Menuju Pasar Bebas ASEAN”, sebuah tema yang membawa sivitas akademika UMU Buton melihat perubahan dunia pendidikan, budaya, teknologi, bahasa, dan dunia kerja dalam perspektif kawasan Asia Tenggara. Tema tersebut menjadi pesan utama dalam bahan presentasi Prof. Tasrifin Tahara yang menempatkan mahasiswa dan lulusan perguruan tinggi sebagai bagian dari jejaring regional yang semakin terbuka.
Kuliah umum itu dihadiri Ketua Yayasan UMU Buton, Ketua MWA UMU Buton, Rektor UMU Buton, paraWakil Rektor, dosen, tenaga kependidikan, serta mahasiswa. Kehadiran pimpinan universitas dan sivitas akademika tersebut menunjukkan bahwa isu internasionalisasi pendidikan tinggi tidak hanya menjadi agenda mahasiswa, tetapi juga menjadi bagian dari arah pengembangan kelembagaan perguruan tinggi. Dalam suasana akademik yang terbuka dan penuh antusiasme, Prof. Tasrifin Tahara menyampaikan materi secara gamblang, menjelaskan satu demi satu gagasan yang dituangkan dalam slide presentasi, sekaligus memberikan arahan yang bersifat inspiratif kepada mahasiswa agar tidak memandang masa depan hanya dari batas geografis daerah asal.
Sejak awal pemaparannya, Prof. Tasrifin membawa peserta memahami perubahan dunia melalui gagasan tentang “dunia tanpa batas”, yang ia kaitkan dengan perubahan dari kuasa alam, kuasa manusia, hingga kuasa jejaring makna. Dalam materi tersebut dijelaskan bahwa perkembangan informasi, migrasi, dan teknologi digital telah membuat batas negara, disiplin ilmu, serta pasar semakin cair. Perubahan tersebut bukan semata-mata perubahan alat, tetapi juga perubahan mengenai bagaimana makna diproduksi, dipertukarkan, dan diperebutkan. Pertanyaan penting yang kemudian diletakkan di hadapan mahasiswa adalah bagaimana mahasiswa dan lulusan UMU dapat hadir dalam jejaring regional tanpa kehilangan akar budaya dan identitasnya.
Penjelasan tersebut menjadi semakin relevan ketika Prof. Tasrifin menguraikan dampak disrupsi digital terhadap kebudayaan. Menurut materi yang disampaikannya, pertukaran budaya kini berlangsung jauh lebih cepat sehingga digitalisasi harus diarahkan untuk memberdayakan komunitas, bukan menyeragamkan makna. Ia menjelaskan sejumlah risiko yang perlu mendapat perhatian, antara lain penggunaan budaya tanpa memahami makna dan sejarahnya, melemahnya nilai serta praktik lokal dalam kontestasi media, dan menyempitnya ruang ekspresi lokal akibat dominasi budaya arus utama. Karena itu, teknologi harus ditempatkan sebagai instrumen, sementara arah etik penggunaannya tetap ditentukan oleh manusia dan komunitas.
Di hadapan mahasiswa UMU Buton, penjelasan tersebut berkembang menjadi pesan yang kuat bahwa kemajuan teknologi tidak boleh membuat generasi muda tercerabut dari akar budaya. Justru, budaya lokal dapat menjadi sumber kekuatan ketika mampu diterjemahkan ke dalam konteks baru secara kreatif, bertanggung jawab, dan bermartabat. Bagi mahasiswa yang sedang mempersiapkan diri memasuki dunia kerja, kemampuan memahami lingkungan global harus berjalan bersama kemampuan memahami identitas dan nilai yang berasal dari lingkungan sendiri.
Prof. Tasrifin kemudian membawa peserta memasuki konteks ASEAN. Dalam paparannya, ASEAN digambarkan sebagai ruang kompetisi sekaligus kerja sama yang semakin nyata. Pasar regional bukan lagi sekadar konsep dalam buku atau wacana akademik, melainkan ruang yang akan berhubungan langsung dengan kehidupan profesional mahasiswa dan lulusan. Materi presentasi juga menempatkan Timor-Leste dalam konteks perkembangan kawasan ASEAN dan menegaskan implikasinya bagi perguruan tinggi: kompetensi mahasiswa dan lulusan perlu dipersiapkan agar mampu berhadapan dengan standar regional.
Pada bagian berikutnya, Prof. Tasrifin mengajak peserta melihat budaya sebagai modal kompetitif. Dengan merujuk pada kerangka pemikiran Pierre Bourdieu, budaya tidak ditempatkan sebagai sekadar simbol atau hiasan, tetapi sebagai cultural capital yang memberikan akar, pembeda, dan kemampuan beradaptasi ketika masyarakat dan pasar semakin multikultural. Identitas budaya memberikan diferensiasi, nilai-nilai seperti sipakatau, sipakainge, dan sipakalebbi menjadi dasar interaksi lintas budaya, sementara resiliensi dan etika kerja kolektif menjadi bagian dari ketahanan dalam menghadapi lingkungan regional.
Pesan itu menjadi penting bagi mahasiswa UMU Buton karena lingkungan akademik tidak seharusnya menghasilkan lulusan yang hanya memiliki ijazah. Perguruan tinggi perlu melahirkan manusia yang memiliki identitas, kemampuan beradaptasi, karakter, dan kapasitas untuk membangun jejaring. Dalam konteks inilah Prof. Tasrifin menekankan bahwa seseorang dapat bergerak jauh tanpa harus kehilangan akar. Sebaliknya, akar budaya dapat menjadi sumber kepercayaan diri ketika seseorang masuk ke ruang yang lebih luas.
Bahasa juga menjadi bagian penting dari kuliah umum tersebut. Prof. Tasrifin menjelaskan bahwa bahasa merupakan modal simbolik sekaligus jembatan diplomasi. Untuk memasuki pasar regional, mahasiswa membutuhkan kemampuan bahasa yang strategis, termasuk penguasaan Bahasa Indonesia dalam konteks akademik dan profesional, Bahasa Inggris sebagai lingua franca jejaring akademik dan bisnis, serta Portugis dan Tetun untuk konteks Timor-Leste. Semua itu perlu dilengkapi dengan literasi digital karena data, informasi, dan jejak digital telah menjadi bagian dari komunikasi dunia modern.
Dari aspek kompetensi global, Prof. Tasrifin menegaskan bahwa pembelajaran harus berkembang menjadi kapasitas yang dapat diakui. Penguasaan teknologi, kemampuan bekerja lintas budaya, serta kemampuan bertindak secara etis dan berkelanjutan harus berjalan bersama. Materi yang disampaikannya juga menyinggung teknologi digital, kewirausahaan digital, kerja tim multinasional, negosiasi lintas budaya, manajemen konflik, reputasi, jejak digital, integritas akademik, dan etika profesi. Semua itu diarahkan pada terbentuknya kompetensi global yang dapat menjadi modal mobilitas dan rekognisi di kawasan ASEAN melalui kerangka ASEAN Qualifications Reference Framework (AQRF).
Dalam suasana kuliah yang interaktif dan inspiratif, Prof. Tasrifin tidak berhenti pada penjelasan konsep. Ia memberikan dorongan kepada mahasiswa agar mulai membangun kapasitas diri sejak berada di bangku kuliah. Mahasiswa didorong untuk melihat dunia sebagai ruang belajar yang lebih luas, membangun kemampuan komunikasi, memperluas jejaring, menguasai teknologi, menjaga integritas, serta berani mengambil peluang akademik dan profesional di luar lingkungan lokalnya.
Ia juga menjelaskan bahwa rekognisi regional tidak hanya ditentukan oleh ijazah. Kualifikasi pengetahuan dan keterampilan perlu disertai reputasi profesional, etika, integritas, serta jejak digital yang kredibel. Dari sinilah kemudian muncul rekognisi dalam bentuk sertifikasi dan mobilitas lintas negara. Pesan tersebut memberi penekanan bahwa reputasi seorang mahasiswa dibangun jauh sebelum ia memasuki dunia kerja. Setiap aktivitas akademik, karya, komunikasi, dan perilaku digital menjadi bagian dari identitas profesionalnya.
Bagi UMU Buton, Prof. Tasrifin menawarkan arah penguatan yang konkret. Dalam materi “Agenda Akademik”, ia menempatkan internasionalisasi kurikulum, mobilitas dan praktik, serta pusat bahasa dan budaya sebagai tiga ruang penguatan untuk mempersiapkan mahasiswa dan lulusan terhubung dengan Asia Tenggara dan dunia. Capaian pembelajaran perlu diselaraskan dengan AQRF dan standar ASEAN, sementara pertukaran, magang, serta praktik kerja lapangan internasional perlu diperluas. Bahasa dan budaya juga harus ditempatkan sebagai bagian inti dari kompetensi global, bukan sekadar mata kuliah tambahan.
Hubungan pendidikan Indonesia dan Timor-Leste kemudian ditempatkan sebagai salah satu pintu mobilitas. Dalam materi yang dipaparkan, Atase Pendidikan KBRI Dili diposisikan sebagai jembatan kerja sama yang dapat membuka pengalaman regional bagi mahasiswa dan lulusan UMU melalui program seperti TIAS, Darmasiswa, pertukaran, magang, dan praktik kerja lapangan. Pengalaman tersebut tidak hanya memberikan pengalaman akademik, tetapi juga membuka ruang diplomasi dan pembelajaran lintas budaya.
Pada bagian akhir, Prof. Tasrifin menyatukan seluruh gagasannya melalui sebuah metafora yang sangat dekat dengan identitas masyarakat Buton. Budaya diposisikan sebagai akar, bahasa sebagai jembatan, dan kompetensi global sebagai layar yang membawa mahasiswa dan lulusan berlayar menuju jejaring regional. Pesannya jelas: peluang tanpa batas hanya dapat dimanfaatkan oleh mereka yang mempersiapkan bekal secara utuh. Mahasiswa yang berakar pada budaya, mampu menjembatani perbedaan melalui bahasa, dan memiliki kompetensi global akan memiliki modal untuk hadir di kawasan dengan martabat.
Kuliah umum kemudian ditutup dengan ungkapan “Sabangka Asarope—Nilai Kemaritiman Orang Buton”, yang dijadikan metafora tentang dunia tanpa batas dan peluang tanpa batas. Ungkapan tersebut sekaligus menjadi penegasan bahwa keterbukaan global tidak berarti meninggalkan identitas lokal. Sebaliknya, nilai kemaritiman masyarakat Buton dapat dibaca sebagai semangat untuk berlayar, menjelajah, membangun jejaring, dan menghadapi ruang yang lebih luas dengan tetap membawa identitas serta nilai yang menjadi pijakan.
Kuliah umum Prof. Dr. Tasrifin Tahara di UMU Buton pada akhirnya bukan hanya menjadi forum penyampaian materi akademik, tetapi juga ruang refleksi tentang masa depan mahasiswa dan perguruan tinggi di tengah perubahan kawasan. Di hadapan pimpinan universitas, dosen, tenaga kependidikan, dan mahasiswa, pesan yang mengemuka adalah bahwa dunia kerja dan ruang pengabdian semakin terbuka. Tantangannya bukan lagi sekadar bagaimana memperoleh gelar sarjana, melainkan bagaimana membangun kompetensi, karakter, bahasa, literasi digital, jejaring, integritas, serta keberanian untuk hadir dalam ruang regional dan global.
Dari Baubau, pesan itu menemukan relevansinya: berakar kuat, membangun jembatan, lalu berlayar lebih jauh. Itulah semangat “Dunia dan Peluang Tanpa Batas” yang ditanamkan Prof. Dr. Tasrifin Tahara kepada sivitas akademika UMU Buton- bahwa masa depan tidak hanya menunggu di satu tempat, tetapi terbuka bagi mereka yang mau menyiapkan diri, memperluas wawasan, menjaga identitas, dan berani mengambil peluang.
Berilmu • Berakhlak • Berkarya untuk Negeri.






