“Pepaya California” Itu Tidak Pernah Lahir di California

Sumber Foto: Kompas

Kenapa namanya Pepaya California? Mungkin kita tak pernah memikirkannya. Kita sudah terbiasa mendengar nama itu sejak lama.

Pepaya California.

Orang menjualnya di pasar. Supermarket memajangnya di rak. Hotel menyajikannya di meja makan. Ibu-ibu membelinya. Bayi, orang dewasa, dan orang tua memakannya. Nama itu terdengar sangat akrab. Begitu akrab sampai banyak orang percaya buah ini datang dari California, Amerika Serikat.

Tapi kenyataannya berbeda.

California tidak pernah menciptakan pepaya ini. Seorang perempuan Indonesia yang menciptakannya. Dia adalah Prof. Dr. Ir. Sriani Sujiprihati, M.S. Cerita ini dimulai lebih dari 20 tahun lalu.

Sekitar tahun 2003, Pak Okim, seorang petani pepaya di Bogor, merasa gelisah. Dia bercerita bahwa pepaya yang dia tanam memang laku dijual. Namun, ada masalah besar. Setiap kali benih dari pohon terbaik ditanam lagi, kualitas buahnya menurun. Ada pepaya yang kecil. Ada yang rasanya hambar. Bentuknya tak seragam. Ada juga yang mudah busuk.

Bagi banyak orang, ini mungkin hanya keluhan seorang petani. Tapi bagi seorang ilmuwan, ini adalah masalah penting. Prof. Sriani tidak hanya mendengar keluhan itu.

Dia merenungkannya.

“Kenapa petani harus terus bergantung pada benih yang kualitasnya tak menentu?”

“Kenapa Indonesia belum punya varietas pepaya unggul buatan sendiri?”

Pertanyaan-pertanyaan ini mengubah arah penelitiannya. Banyak orang berpikir penemuan besar datang dari satu percobaan yang sukses. Padahal, kenyataannya tidak begitu. Di balik setiap penemuan besar, ada ribuan kegagalan yang tak pernah diceritakan.

Hari demi hari, Prof. Sriani dan timnya bekerja di kebun percobaan IPB.

Mereka menyilangkan tanaman.

Mereka menunggu bunga mekar.

Mereka mengamati buah yang mulai tumbuh.

Mereka mengukur beratnya.

Mereka menghitung tingkat kemanisannya.

Mereka mencatat ketebalan daging buah.

Mereka memeriksa bentuknya.

Mereka mengamati ketahanannya terhadap penyakit.

Lalu…

Semua itu mereka ulangi lagi. Jika hasilnya belum memuaskan mereka mengulanginya lagi. Kalau masih belum berhasil mereka mengulanginya lagi.

Begitulah dunia sains.

Tidak ada jalan pintas. Tidak ada tombol “lewati”. Hanya ada kesabaran.

Musim datang dan pergi. Tahun berganti.

Satu tahun…

Dua tahun…

Tiga tahun…

Empat tahun…

Lima tahun…

Enam tahun…

Hingga akhirnya masuk tahun ketujuh.

Setelah tujuh tahun penuh riset, seleksi, dan pengujian, akhirnya mereka menemukan varietas yang dicari. Buahnya manis. Kulitnya halus. Dagingnya tebal. Ukurannya pas.

Tanaman itu tidak tumbuh terlalu tinggi, jadi mudah dipanen. Hasil panennya melimpah. Dan yang terpenting petani menyukainya.

Varietas itu dinamai Callina, atau dikenal sebagai IPB-9.

Namanya terdengar biasa. Tapi di baliknya ada ribuan jam kerja yang hampir tak diketahui orang banyak.

pepaya
Sumber Foto: Kompas
Pepaya California
Prof. Dr. Ir. Sriani Sujiprihati, M.S. - Sumber Foto: detikNews

26 Mei 2010, tanggal itu menjadi tonggak penting dalam pertanian Indonesia. Menteri Pertanian Republik Indonesia secara resmi mengakui Pepaya Callina (IPB-9) sebagai varietas unggul nasional.

Bagi banyak orang, ini mungkin hanya berita singkat. Tapi bagi Prof. Sriani ini adalah jawaban dari tujuh tahun harapan, kerja keras, dan keyakinan. Mimpi itu akhirnya punya nama.

Bibit Callina mulai diperbanyak. Petani mulai menanamnya. Hasil panen meningkat. Supermarket mulai memesannya. Pedagang mulai mencarinya. Masyarakat mulai menyukainya.

Namun, saat buah ini masuk ke pasar modern, sesuatu yang tak terduga terjadi. Nama Callina perlahan hilang. Yang melekat di pikiran orang adalah nama baru. Pepaya California.

Nama itu terdengar lebih menarik. Lebih mudah diingat. Lebih disukai konsumen.

Anehnya, Semakin terkenal nama “California“, semakin sedikit orang tahu buah ini berasal dari Indonesia.

Prof. Sriani sendiri pernah menyayangkan penggunaan nama itu. Itu membuat orang mengira buah ini datang dari luar negeri.

Padahal, benihnya dikembangkan di Bogor. Diteliti oleh ilmuwan Indonesia. Dibudidayakan oleh petani Indonesia. Dan menjadi kebanggaan pertanian Indonesia.

Hari ini, mungkin kita membeli Pepaya California tanpa banyak berpikir. Kita memotongnya. Menyimpannya di kulkas. Menyajikannya untuk keluarga. Tanpa kita sadari, setiap potongan buah itu menyimpan kisah perjuangan selama tujuh tahun. Kisah tentang seorang perempuan yang yakin ilmu pengetahuan tak boleh hanya ada di laboratorium. Ilmu harus sampai ke kebun. Harus membantu petani. Harus ada di meja makan masyarakat.

Prof. Sriani tidak membangun gedung tinggi. Beliau tidak menciptakan aplikasi yang diunduh jutaan orang. Bisa jadi, sebagian besar orang Indonesia tidak mengenalnya. Tapi karyanya ada setiap hari di pasar, di toko buah, di supermarket, bahkan di meja makan jutaan keluarga.

Dan mungkin, itulah arti pengabdian yang paling indah. Bekerja dalam diam. Tanpa mencari pujian. Tapi hasilnya dinikmati seluruh bangsa.

Prof. Dr. Ir. Sriani Sujiprihati, M.S. meninggal dunia pada 6 September 2011. Beliau wafat di RSUP Dr. Sardjito, Yogyakarta.

Beliau tidak sempat menyaksikan hasil penelitiannya tersebar luas. Jutaan buah hasil penelitiannya kini ada di pasar tradisional dan supermarket. Buah ini juga menopang hidup banyak petani.

Namun…

Ilmuwan sejati tidak pernah benar-benar tiada. Mereka meninggalkan lebih dari sekadar nama. Mereka meninggalkan ilmu. Mereka meninggalkan harapan. Mereka meninggalkan manfaat yang abadi.

Saat ini, sedikit orang yang mengingat nama Prof. Sriani Sujiprihati. Akan tetapi, hampir semua orang tahu Pepaya California.

Terima kasih, Prof. Sriani Sujiprihati.

Terima kasih atas dedikasi Anda yang membuat Indonesia tidak hanya punya pepaya lebih baik, tapi juga bukti bahwa ilmu pengetahuan bisa mengubah hidup jutaan orang.

Tags :
Bagikan :