UMU Online, Rumah Inovasi dan Kolaborasi menjadi etalase karya, ruang pembelajaran, dan pusat penguatan kompetensi dosen UMU Buton untuk mendorong penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat yang produktif, inovatif, berdaya guna, dan berkelanjutan. Sharing Knowledge 5 oktober 2026 bertempat Ballroom Al Munawwara UMU Buton
Universitas Muslim Buton terus membangun ekosistem akademik yang mendorong penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) tidak berhenti sebagai kewajiban tridarma, tetapi berkembang menjadi kekuatan institusi. Salah satu langkah strategis yang diarahkan untuk mencapai tujuan tersebut adalah penguatan Rumah Inovasi dan Kolaborasi UMU Buton sebagai ruang bertemunya gagasan, pengetahuan, pengalaman, inovasi, dan jejaring kerja sama akademik.
Semangat itu tercermin dalam kegiatan Sharing Knowledge: Memperkuat Riset dan PkM UMU Buton yang dipimpin oleh Ketua Rumah Inovasi dan Kolaborasi UMU Buton, Aliyaman, S.P., M.P. Kegiatan tersebut turut dihadiri Ketua Badan Penyelenggara UMU Buton, Ibrahim Marsela, serta Rektor UMU Buton, Dr. La Ode Rasmin. Kehadiran pimpinan universitas memberikan pesan kuat bahwa pengembangan penelitian, inovasi, dan PkM merupakan bagian penting dari agenda strategis penguatan mutu dan daya saing UMU Buton.
Rumah Inovasi dan Kolaborasi dirancang bukan sekadar sebagai tempat berkumpul atau berdiskusi. Lebih dari itu, rumah tersebut diharapkan menjadi ruang yang mampu menghubungkan berbagai potensi akademik menjadi kekuatan bersama. Di dalamnya terdapat semangat untuk membangun budaya berbagi pengetahuan, mempertemukan kompetensi, mengembangkan gagasan, memfasilitasi penelitian, memperkuat PkM, serta menghasilkan karya yang dapat memberikan nilai tambah bagi universitas dan masyarakat.
Salah satu fungsi penting Rumah Inovasi dan Kolaborasi adalah menjadi etalase hasil penelitian dan produk inovasi UMU Buton. Hasil penelitian dosen selama ini memiliki nilai akademik dan potensi pemanfaatan yang besar. Namun, sebuah hasil penelitian akan memiliki dampak yang lebih luas apabila terdokumentasi dengan baik, dikenal oleh sivitas akademika, dapat diakses oleh mitra, serta dikembangkan menjadi produk atau inovasi yang dapat dimanfaatkan masyarakat.
Karena itu, etalase penelitian tidak hanya dimaknai sebagai ruang untuk memajang hasil karya. Etalase tersebut merupakan bagian dari strategi membangun visibilitas dan reputasi akademik. Hasil penelitian, produk inovasi, teknologi tepat guna, model pemberdayaan masyarakat, buku, publikasi, maupun berbagai luaran akademik lainnya dapat ditampilkan sebagai bukti bahwa aktivitas penelitian UMU Buton menghasilkan karya nyata.
Dari etalase tersebut, muncul peluang baru. Sebuah penelitian yang awalnya hanya menghasilkan laporan dapat dikembangkan menjadi artikel ilmiah, buku, model pembelajaran, teknologi tepat guna, produk komersial, atau inovasi yang dapat digunakan masyarakat. Sebuah program PkM yang berhasil juga dapat dikembangkan menjadi model pemberdayaan yang direplikasi di wilayah lain. Dengan demikian, Rumah Inovasi dan Kolaborasi menjadi jembatan antara pengetahuan, inovasi, dan pemanfaatan.
Fungsi lain yang tidak kalah penting adalah penguatan Hak Kekayaan Intelektual atau HKI. Hasil penelitian dan karya inovatif dosen perlu mendapatkan perlindungan dan pengakuan yang memadai. HKI bukan sekadar dokumen legal, tetapi bagian dari upaya melindungi karya intelektual sekaligus meningkatkan nilai strategis hasil penelitian.
Budaya HKI perlu ditumbuhkan sejak tahap awal penelitian. Dosen perlu memahami bahwa tidak semua hasil penelitian berhenti pada publikasi. Sebagian hasil penelitian dapat memiliki karakter inovatif yang layak mendapatkan perlindungan kekayaan intelektual. Dengan pendampingan yang tepat, dosen dapat memahami bagaimana mengidentifikasi potensi HKI, menyiapkan dokumen, serta mengembangkan hasil penelitian agar memiliki nilai akademik dan ekonomi.
Dalam konteks UMU Buton sebagai Entrepreneur University, penguatan HKI juga memiliki relevansi yang sangat kuat. Pengetahuan dan inovasi merupakan aset penting yang dapat dikembangkan menjadi nilai tambah. Penelitian yang menghasilkan inovasi tidak hanya memperkaya khazanah akademik, tetapi juga membuka peluang hilirisasi, kerja sama, pemanfaatan teknologi, dan pengembangan produk.
Karena itu, Rumah Inovasi dan Kolaborasi juga perlu berfungsi sebagai ruang yang mendorong perubahan cara pandang dosen terhadap penelitian. Penelitian tidak semata-mata dipandang sebagai kegiatan untuk memenuhi kewajiban tridarma, melainkan sebagai investasi pengetahuan yang dapat menghasilkan reputasi, inovasi, jejaring, dan manfaat ekonomi maupun sosial.
Penguatan tersebut membutuhkan peningkatan kompetensi sumber daya manusia dosen. Tidak semua dosen memiliki pengalaman dan tingkat kompetensi penelitian yang sama. Ada yang telah berpengalaman memperoleh hibah dan menghasilkan publikasi, sementara yang lain masih membutuhkan pendampingan dalam menyusun proposal, menentukan metodologi, mengolah data, menulis artikel, memilih jurnal, mengembangkan luaran, maupun menyiapkan dokumen HKI.
Di sinilah fungsi coaching clinic menjadi sangat penting.
Coaching clinic dapat menjadi ruang pendampingan yang lebih praktis dan terarah. Dosen tidak hanya memperoleh teori mengenai penelitian, tetapi dapat membawa persoalan nyata yang sedang dihadapi untuk dibahas bersama. Proposal penelitian dapat ditelaah, desain penelitian dapat diperbaiki, metodologi dapat didiskusikan, artikel dapat dikembangkan, dan peluang luaran penelitian dapat dipetakan.
Model pendampingan semacam ini memungkinkan peningkatan kompetensi berlangsung secara bertahap dan berbasis kebutuhan. Dosen yang sudah memiliki pengalaman dapat berbagi dengan dosen lain. Peneliti yang telah berhasil memperoleh pendanaan dapat membagikan strategi penyusunan proposal. Dosen yang memiliki pengalaman publikasi dapat berbagi mengenai proses penulisan dan publikasi ilmiah. Dengan demikian, pengetahuan tidak berhenti pada individu, tetapi menjadi modal kolektif institusi.
Sharing Knowledge pada akhirnya menjadi lebih dari sekadar forum berbagi informasi. Ia menjadi bagian dari proses membangun learning organization, yaitu organisasi yang terus belajar dari pengalaman, memperbaiki kelemahan, dan mengembangkan kapasitas anggotanya.
Ketua Rumah Inovasi dan Kolaborasi UMU Buton, Aliyaman, S.P., M.P., memiliki posisi strategis untuk menggerakkan fungsi tersebut. Rumah inovasi membutuhkan kepemimpinan yang mampu mempertemukan orang, gagasan, dan peluang. Tantangannya bukan hanya membuat program, tetapi memastikan program tersebut menghasilkan perubahan nyata terhadap kapasitas dosen dan produktivitas institusi.
Sementara itu, kehadiran Ketua Badan Penyelenggara UMU Buton, Ibrahim Marsela, menunjukkan pentingnya dukungan kelembagaan terhadap pengembangan budaya penelitian dan inovasi. Sebuah ekosistem riset tidak mungkin tumbuh hanya melalui semangat individu. Diperlukan dukungan kebijakan, sumber daya, fasilitas, apresiasi, serta keberpihakan institusi terhadap pengembangan kapasitas akademik.
Kehadiran Rektor UMU Buton, Dr. La Ode Rasmin, juga memperlihatkan bahwa penelitian dan PkM harus ditempatkan sebagai bagian integral dari pengembangan universitas. Perguruan tinggi yang ingin meningkatkan reputasi tidak cukup hanya memperkuat proses pembelajaran. Kualitas penelitian, publikasi, inovasi, HKI, PkM, dan kerja sama harus bergerak secara bersamaan.
UMU Buton memiliki ruang yang luas untuk mengembangkan agenda penelitian berbasis potensi lokal. Buton dan kawasan sekitarnya memiliki kekayaan persoalan sekaligus peluang penelitian, mulai dari ekonomi maritim, pertanian, peternakan, pendidikan, kewirausahaan, perdagangan, pemerintahan, teknologi informasi, hingga pengembangan masyarakat. Potensi tersebut dapat menjadi sumber lahirnya penelitian yang memiliki karakter kuat dan relevansi tinggi terhadap kebutuhan daerah.
Rumah Inovasi dan Kolaborasi dapat mengambil peran sebagai penghubung antara potensi lokal tersebut dengan kapasitas akademik dosen. Dari persoalan masyarakat dapat lahir topik penelitian. Dari penelitian dapat lahir inovasi. Dari inovasi dapat lahir HKI. Dari HKI dapat dikembangkan produk atau model pemanfaatan. Selanjutnya, hasil tersebut dapat diterapkan melalui PkM dan dikembangkan melalui kerja sama dengan pemerintah, dunia usaha, masyarakat, maupun mitra lainnya.
Dengan pola tersebut, penelitian dan PkM tidak lagi berjalan dalam ruang yang terpisah. Keduanya dapat membentuk sebuah rantai nilai pengetahuan yang dimulai dari identifikasi masalah, penelitian, inovasi, perlindungan HKI, hilirisasi, penerapan, hingga evaluasi dampak.
Inilah yang menjadi tantangan sekaligus peluang Rumah Inovasi dan Kolaborasi UMU Buton ke depan. Rumah tersebut harus mampu menjadi tempat lahirnya gagasan, tempat bertumbuhnya kompetensi, tempat dipamerkannya karya, sekaligus tempat bertemunya berbagai pihak yang ingin membangun kolaborasi.
Sharing Knowledge menjadi langkah awal untuk membangun budaya tersebut. Forum ini mengingatkan bahwa kekuatan perguruan tinggi tidak hanya ditentukan oleh jumlah sumber daya manusia, tetapi juga oleh kemampuan institusi mengorganisasi pengetahuan dan mengubahnya menjadi karya yang bernilai.
Rumah Inovasi dan Kolaborasi UMU Buton diharapkan menjadi rumah bagi pengetahuan yang bergerak menjadi aksi. Dosen tidak hanya didorong untuk meneliti, tetapi juga menghasilkan luaran. Hasil penelitian tidak hanya disimpan, tetapi ditampilkan. Produk tidak hanya dibuat, tetapi dikembangkan. Karya tidak hanya dipublikasikan, tetapi dilindungi melalui HKI dan, bila memungkinkan, dihilirkan. Kompetensi tidak hanya dimiliki individu, tetapi ditularkan melalui coaching clinic dan kolaborasi.
Dari sinilah budaya akademik yang produktif dapat tumbuh. Pengetahuan dibagikan, kompetensi diperkuat, penelitian dikembangkan, inovasi dilahirkan, HKI dilindungi, dan hasilnya dikembalikan kepada masyarakat.
Bagi UMU Buton, Rumah Inovasi dan Kolaborasi bukan sekadar sebuah unit atau ruang kegiatan. Ia adalah mesin penggerak ekosistem riset, inovasi, dan PkM yang diharapkan mampu memperkuat kualitas sumber daya manusia, meningkatkan produktivitas akademik, memperluas jejaring kolaborasi, sekaligus memperkuat posisi UMU Buton sebagai Entrepreneur University yang menghasilkan pengetahuan, inovasi, dan manfaat nyata bagi masyarakat.
Berilmu • Berakhlak • Berkarya untuk Negeri.






