ar
en
id

Bahasa:

PENARIKAN MAHASISWA KSMT-MBKM UMU BUTON DI SMPN 17 BAUBAU

UMU Online-Baubau, Juni 2025, Dalam ruang waktu yang terasa begitu cepat berlalu, dua bulan pengabdian mahasiswa Universitas Muslim Buton dalam program Kandidat Sarjana Mengabdi Tematik–Merdeka Belajar Kampus Merdeka (KSMT-MBKM) di SMP Negeri 17 Baubau akhirnya sampai pada penutup yang menggetarkan hati. Suasana haru menyelimuti halaman sekolah yang selama ini menjadi tempat mahasiswa berproses, mengabdi, dan bertumbuh. Dalam upacara penarikan yang berlangsung hangat namun penuh makna, mahasiswa pamit dengan membawa segudang pengalaman, pelajaran hidup, dan semangat baru untuk menempuh fase berikutnya dari perjalanan mereka sebagai calon sarjana.

Program KSMT-MBKM bukan hanya sekadar tugas luar kampus, melainkan laboratorium kehidupan yang membentuk mahasiswa menjadi insan yang bukan hanya tahu, tetapi juga peka. Di SMPN 17 Baubau, mahasiswa bukan sekadar hadir untuk menyampaikan materi, tetapi mereka merajut relasi, membangun kepercayaan, dan menyemai nilai-nilai pendidikan yang otentik. Mereka mendampingi guru, membina siswa, dan menjadi bagian dari dinamika pembelajaran yang nyata. Di sinilah teori dan praktik bertemu; idealisme dan realitas menyatu dalam proses pembentukan karakter yang utuh.

Pada momen pelepasan itu, Dosen Pembimbing Lapangan, Bapak Muh. Naim, SPd.,MPd menyampaikan pesan mendalam kepada seluruh mahasiswa peserta KSMT-MBKM. Dengan nada tenang namun penuh ketegasan, beliau menggarisbawahi bahwa pengalaman dua bulan ini tidak boleh menjadi kenangan kosong, melainkan harus menjadi fondasi kuat untuk membangun masa depan. “Kalian telah berada di tengah-tengah masyarakat sekolah. Kalian telah merasakan bagaimana dunia pendidikan berjuang di lapangan. Apa yang kalian alami di sini bukan pelengkap kuliah, tapi inti dari proses belajar itu sendiri,” ungkap beliau.

Bapak Muh. Naim juga menyampaikan bahwa dalam program ini, mahasiswa bukan hanya diuji dalam hal kemampuan mengajar, tetapi juga kesabaran, tanggung jawab, komunikasi, dan adaptasi. Menjadi bagian dari sistem pendidikan menengah pertama—dengan segala kompleksitas usia siswa, keterbatasan fasilitas, serta dinamika lingkungan—telah memberikan warna tersendiri bagi pertumbuhan pribadi dan profesional para mahasiswa. Beliau menutup arahannya dengan harapan bahwa nilai-nilai pengabdian dan empati yang ditanamkan selama KSMT-MBKM akan terus menyala bahkan setelah para mahasiswa kembali ke kampus.

Sementara itu, Guru Pamong yang selama ini mendampingi mahasiswa di sekolah juga menyampaikan sambutan perpisahan yang menyentuh hati. Ia menceritakan bagaimana kehadiran mahasiswa UMU Buton memberikan angin segar di lingkungan sekolah. Para guru merasa terbantu, para siswa merasa termotivasi, dan suasana pembelajaran menjadi lebih dinamis. Mahasiswa datang dengan semangat, kesederhanaan, dan tekad untuk memberi. “Kami melihat kalian tidak hanya sebagai pendamping, tetapi juga sebagai bagian dari keluarga kami. Terima kasih telah bersama kami, mencintai siswa-siswa kami, dan membawa semangat baru dalam proses belajar,” ucap sang guru dengan mata berkaca-kaca.

Bagi mahasiswa sendiri, dua bulan di SMPN 17 Baubau bukan waktu yang singkat. Mereka telah menyatu dengan ritme kehidupan sekolah, memahami karakter siswa yang penuh semangat dan keingintahuan, serta membentuk hubungan emosional yang dalam. Banyak dari mereka yang merasakan pertumbuhan mental dan spiritual selama pengabdian ini. Mereka belajar bahwa menjadi pendidik bukan hanya soal mengajar, tetapi juga menyentuh hati dan memotivasi jiwa. Di balik setiap tantangan, mereka menemukan kekuatan baru dalam diri mereka sendiri.

Namun perjalanan mereka belum usai. Setelah penarikan ini, mahasiswa akan kembali ke kampus untuk menjalani fase lanjutan berupa perkuliahan penguatan soft skill selama dua bulan. Ini bukan sekadar lanjutan administratif dari program KSMT-MBKM, tetapi fase penting untuk merefleksikan, mengolah, dan mengasah pengalaman yang telah mereka jalani. Mata kuliah yang akan mereka pelajari dirancang untuk memperkuat dimensi pribadi dan sosial mahasiswa. Mereka akan menggali lebih dalam tentang integritas diri, karena pengabdian tanpa integritas hanyalah formalitas. Mereka juga akan mempelajari kemampuan kolaborasi dan komunikasi, sebagai bekal untuk menghadapi dunia kerja dan masyarakat yang kian majemuk.

Tidak hanya itu, kemampuan berpikir kritis (critical thinking) akan diasah agar mahasiswa tidak hanya melihat masalah, tetapi mampu mencari solusi. Sementara leadership akan dibentuk dari pemahaman bahwa kepemimpinan bukan tentang posisi, tetapi tentang pengaruh dan teladan. Adaptasi dan manajemen waktu juga akan menjadi fokus, karena dunia nyata menuntut kecakapan mengelola diri dalam situasi yang tidak selalu ideal.

Kembali ke kampus bukan berarti meninggalkan pengabdian. Justru, pengalaman lapangan menjadi bekal yang memperkaya pembelajaran di kelas. UMU Buton percaya bahwa mahasiswa terbaik adalah mereka yang mampu mengintegrasikan ilmu, pengalaman, dan nilai-nilai kemanusiaan ke dalam satu kesatuan karakter unggul. Melalui program ini, kampus tidak hanya mencetak lulusan, tetapi mencetak pelayan masyarakat—sarjana yang mengabdi dengan ilmu dan hati.

Momen penarikan ini adalah simpul dari dua arah perjalanan: menutup masa pengabdian di masyarakat, dan membuka masa pendalaman diri di ruang akademik. Ini bukan akhir, tetapi titik transisi menuju kematangan sebagai individu dan sebagai calon pemimpin masa depan. Dalam proses ini, mahasiswa dibentuk bukan hanya menjadi sarjana yang kompeten, tetapi juga insan yang berintegritas, adaptif, komunikatif, kolaboratif, dan memiliki semangat kepemimpinan yang kuat.

Universitas Muslim Buton mengucapkan terima kasih kepada seluruh jajaran SMPN 17 Baubau—kepala sekolah, para guru pamong, dan seluruh keluarga besar sekolah—atas sambutan, kerja sama, dan bimbingan yang luar biasa kepada mahasiswa selama program berlangsung. Kampus juga mengapresiasi dosen pembimbing lapangan, Bapak Muh. Naim, yang telah dengan sabar mendampingi dan membentuk mahasiswa tidak hanya sebagai pendidik sementara, tetapi sebagai pemimpin masa depan yang peka terhadap realitas.

Dengan semangat Aswaja, penguatan nilai-nilai lokal, dan semangat nasionalisme yang moderat, UMU Buton percaya bahwa mahasiswa-mahasiswanya telah belajar lebih dari sekadar teori. Mereka telah belajar menjadi manusia—yang siap memberi makna di mana pun mereka ditempatkan. Seperti yang ditegaskan dalam pesan penutup upacara, “Bukan besar di mana kalian ditempatkan, tetapi seberapa besar pengaruh dan kebaikan yang kalian bawa ke tempat itu.”

Kini mereka kembali, bukan sebagai mahasiswa yang sama seperti saat mereka berangkat, melainkan sebagai insan yang telah digembleng oleh pengalaman, dikuatkan oleh tantangan, dan dibentuk oleh pengabdian. Mereka membawa cerita, semangat, dan nilai-nilai baru untuk ditularkan kepada sesama mahasiswa, kepada masyarakat, dan kepada masa depan bangsa yang mereka cintai.

Humas UMU Buton
Juni 2025

Tags :
Bagikan :