ar
en
id

Bahasa:

NATIONAL ENTREPRENEUR FORUM 2026

NATIONAL ENTREPRENEUR FORUM 2026

UMU Online – UMU Buton terus mengambil peran sebagai pusat pengembangan pemikiran strategis, transformasi sosial, dan penguatan ekosistem kewirausahaan melalui pelaksanaan National Entrepreneur Forum (NEF) 2026, sebuah forum intelektual nasional yang menjadi bagian integral dari rangkaian UMU Entrepreneur Expo (UEE) 2026. Kegiatan yang berlangsung pada 15 Mei 2026 di Ballroom Al-Munawwara UMU Buton ini menghadirkan ruang dialog akademik dan strategis mengenai masa depan pembangunan kawasan kepulauan, transformasi ekonomi, kewirausahaan, serta tantangan global menuju Indonesia Emas 2045.

Forum ini dihadiri oleh sivitas akademika perguruan tinggi swasta se-Kepulauan Buton (Kepton), pelaku UMKM wilayah Kepulauan Buton, unsur pemerintah daerah, akademisi, mahasiswa, serta berbagai elemen masyarakat yang memiliki perhatian terhadap pembangunan ekonomi dan masa depan kawasan kepulauan. Kehadiran peserta dari lintas sektor tersebut memperlihatkan bahwa pembangunan daerah pada era kontemporer tidak lagi dapat dilakukan melalui pendekatan sektoral semata, tetapi membutuhkan dialog multiperspektif, kolaborasi kelembagaan, dan penguatan kapasitas sumber daya manusia berbasis pengetahuan.

Kegiatan menghadirkan sejumlah pembicara strategis, antara lain Prof. Dr. Mashur Razak, S.E., M.M. sebagai keynote speaker, H. Haliana, S.E. sebagai pembicara utama, perwakilan Pemerintah Kabupaten Buton Selatan melalui Asisten II Sekretariat Daerah, Ketua UMKM Sulawesi Tenggara, serta akademisi UMU Buton, Dr. H. Sujiton. Kehadiran berbagai perspektif tersebut memperkaya substansi forum melalui integrasi pendekatan akademik, kebijakan publik, kewirausahaan, dan pengalaman empiris pembangunan daerah.

Dalam pemaparannya, Prof. Dr. Mashur Razak menguraikan secara mendalam mengenai Mega Tren 2045, yakni perubahan besar dunia yang diperkirakan akan membentuk konfigurasi sosial, ekonomi, politik, dan teknologi global pada masa mendatang. Menurut beliau, generasi saat ini hidup dalam periode transisi peradaban yang ditandai percepatan perubahan, disrupsi teknologi, dan ketidakpastian global yang semakin kompleks.

Beliau menjelaskan bahwa tantangan pembangunan masa depan tidak hanya berkaitan dengan persoalan ekonomi domestik, tetapi juga dipengaruhi oleh dinamika geopolitik global, yakni perubahan keseimbangan kekuatan antarnegara yang berdampak terhadap perdagangan internasional, stabilitas ekonomi, keamanan energi, distribusi teknologi, serta pola hubungan ekonomi dunia. Dalam situasi tersebut, kawasan kepulauan seperti Kepulauan Buton dituntut memiliki daya adaptasi tinggi agar tidak menjadi penonton dalam perubahan global.

Lebih jauh, beliau menguraikan perkembangan geoekonomi, yaitu bagaimana kekuatan ekonomi kini menjadi instrumen utama persaingan global. Negara-negara besar tidak lagi hanya bersaing melalui kekuatan militer, tetapi juga melalui penguasaan teknologi, rantai pasok global, sumber daya alam strategis, keuangan internasional, serta dominasi perdagangan lintas negara. Oleh karena itu, daerah harus mulai membangun orientasi pembangunan yang berbasis produktivitas, inovasi, dan penguatan sumber daya manusia unggul.

Dalam forum tersebut, Prof. Mashur Razak juga menyoroti dinamika perdagangan internasional yang semakin kompetitif dan saling terhubung. Menurut beliau, masyarakat lokal tidak dapat lagi membatasi diri pada orientasi ekonomi tradisional yang tertutup, tetapi harus mulai memahami bagaimana produk lokal dapat masuk dalam rantai pasar regional maupun global melalui inovasi produk, digitalisasi pemasaran, peningkatan kualitas, dan penguatan identitas ekonomi lokal.

Pembahasan mengenai persaingan sumber daya alam juga memperoleh perhatian serius. Beliau menjelaskan bahwa masa depan dunia akan sangat dipengaruhi oleh perebutan sumber daya strategis seperti pangan, energi, mineral, kelautan, dan biodiversitas. Dalam konteks tersebut, kawasan Kepulauan Buton memiliki peluang besar karena kekayaan sumber daya kelautan, budaya maritim, dan posisi geopolitik yang strategis di kawasan Indonesia timur.

Tidak kalah penting, beliau mengulas perkembangan keuangan global yang semakin dinamis, di mana arus investasi, digitalisasi ekonomi, perubahan sistem transaksi, hingga ekonomi berbasis data menjadi faktor penting dalam menentukan daya saing suatu bangsa maupun daerah. Menurut beliau, generasi muda harus dibekali dengan literasi ekonomi, literasi digital, dan kemampuan membaca perubahan agar tidak tertinggal oleh arus transformasi global.

Salah satu bagian penting dari forum ialah pembahasan mengenai kemajuan Artificial Intelligence (AI) atau kecerdasan buatan. Prof. Mashur Razak menegaskan bahwa AI bukan ancaman yang harus ditakuti, tetapi instrumen perubahan yang harus dipahami dan dikelola. Dunia pendidikan tinggi, UMKM, birokrasi, dan industri dituntut mampu beradaptasi terhadap otomatisasi, analisis data, kecerdasan digital, dan transformasi model kerja yang akan terus berkembang pada dekade mendatang.

Sebagai pembicara utama, H. Haliana, S.E., Bupati Wakatobi, memberikan pemaparan inspiratif mengenai posisi strategis Wakatobi sebagai salah satu destinasi unggulan nasional yang memiliki kekayaan maritim luar biasa. Dalam paparannya, beliau menjelaskan bahwa Wakatobi bukan hanya dikenal sebagai destinasi wisata, tetapi merupakan ruang peradaban maritim yang menyimpan potensi ekonomi besar berbasis kelautan, pariwisata, perdagangan, dan budaya bahari.

Beliau menguraikan bahwa Wakatobi memiliki sekitar 650 spesies terumbu karang, yang menjadikannya salah satu kawasan biodiversitas laut terkaya di dunia serta bagian penting dari pusat Segitiga Terumbu Karang Dunia (Coral Triangle). Kekayaan bawah laut tersebut tidak hanya menghadirkan panorama ekologis yang luar biasa, tetapi juga menjadi modal ekonomi strategis melalui pengembangan wisata bahari berkelanjutan.

Dalam perspektif pembangunan ekonomi daerah, Bupati Wakatobi menegaskan bahwa sektor kelautan dan perikanan menjadi kekuatan utama ekonomi masyarakat. Potensi perikanan yang besar membuka peluang usaha, perdagangan, serta penguatan ekonomi berbasis sumber daya laut yang berkelanjutan. Menurut beliau, masyarakat kepulauan memiliki modal sosial dan budaya yang sangat kuat dalam membangun ekonomi maritim.

Beliau juga menyoroti karakter masyarakat Wakatobi sebagai masyarakat pelaut yang memiliki kemampuan navigasi laut tinggi, daya tahan sosial yang kuat, serta pengalaman panjang dalam perdagangan antar-pulau. Budaya pelayaran yang diwariskan secara turun-temurun menunjukkan kemampuan masyarakat kepulauan dalam “menundukkan ganasnya laut” sebagai ruang kehidupan, perdagangan, dan penghidupan.

Pemaparan tersebut memberikan refleksi penting bahwa pembangunan kawasan kepulauan membutuhkan cara pandang yang berbasis potensi lokal, bukan sekadar meniru model pembangunan wilayah perkotaan. Daerah kepulauan memiliki kekuatan ekonomi khas yang harus dibangun melalui penguatan sumber daya manusia, inovasi ekonomi lokal, pengelolaan potensi kelautan, dan pembangunan kewirausahaan berbasis karakter wilayah.

Forum berlangsung dinamis dengan diskusi yang mempertemukan perspektif akademisi, pemerintah, UMKM, dan peserta forum mengenai strategi menghadapi masa depan. Antusiasme peserta memperlihatkan tingginya kebutuhan ruang intelektual yang membahas keterkaitan antara tantangan global dan kesiapan daerah menghadapi perubahan.

Pelaksanaan National Entrepreneur Forum 2026 pada akhirnya menjadi lebih dari sekadar seminar akademik. Forum ini hadir sebagai ruang refleksi kolektif mengenai masa depan Kepulauan Buton dan Indonesia di tengah perubahan dunia yang bergerak cepat. Di tengah dinamika geopolitik, transformasi ekonomi, kemajuan AI, dan persaingan global, pendidikan tinggi dipandang memiliki tanggung jawab strategis dalam menyiapkan generasi yang adaptif, inovatif, produktif, dan visioner.

Melalui forum ini, UMU Buton kembali mempertegas komitmennya sebagai perguruan tinggi yang tidak hanya mengembangkan pendidikan formal, tetapi juga membangun kesadaran intelektual, kewirausahaan, literasi masa depan, dan kapasitas kepemimpinan generasi muda untuk menjawab tantangan zaman serta mengoptimalkan peluang besar kawasan kepulauan menuju Indonesia Emas 2045.

Tags :
Bagikan :