ar
en
id

Bahasa:

MAHASISWA UMU BUTON AKHIRI PENGABDIAN DI BOMBONAWULU

UMU Online – Bombonawulu, 13 Juni 2025 – Buton Tengah Di balik kesejukan pagi di Kantor Lurah Bombonawulu, Kecamatan Gu, Kabupaten Buton Tengah, tersimpan kisah yang menggugah hati tentang kolaborasi ilmu pengetahuan dan pengabdian. Mahasiswa Universitas Muslim Buton yang tergabung dalam Program Kandidat Sarjana Mengabdi Tematik (KSMT) – Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM) angkatan ke-3, resmi ditarik kembali ke kampus setelah menyelesaikan dua bulan pengabdian intensif di desa Bombonawulu.

Kegiatan penarikan yang dilaksanakan pada Jumat, 13 Juni 2025, berlangsung dalam suasana penuh haru, kekeluargaan, dan optimisme. Selama dua bulan, mahasiswa tidak hanya hadir sebagai pelengkap program akademik, tetapi sebagai anak bangsa yang membangun dan dibangun oleh desa. Mereka menyatu dalam denyut kehidupan masyarakat, hadir dalam setiap ruang belajar, tawa anak-anak, keluhan warga, serta harapan akan kemajuan dan perubahan.

Tema “Membangun Desa, Menguatkan Bangsa” menjadi fondasi kuat kegiatan ini. Mahasiswa turun ke desa bukan sekadar menjalankan kewajiban akademik, tetapi menjawab panggilan moral dan intelektual. Mereka menyadari bahwa pembangunan bangsa tidak bisa dimulai dari pusat tanpa menyentuh pinggiran, bahwa desa adalah pilar kebudayaan, ekonomi, dan pendidikan yang harus dikuatkan dari dalam.

Selama berada di Bombonawulu, mahasiswa UMU Buton terlibat aktif dalam aktivitas pemerintahan kelurahan, pelayanan masyarakat, dan penguatan pendidikan dasar. Mereka membantu tugas-tugas administrasi kelurahan, menginisiasi kelas belajar tambahan bagi anak-anak, serta mendorong kegiatan literasi masyarakat. Tidak sedikit warga yang merasa kehadiran mahasiswa memberi semangat baru, memberi warna pada aktivitas harian yang sebelumnya berjalan biasa.

“Mahasiswa bukan datang membawa solusi dari menara gading, tapi datang membawa hati yang mau mendengar, bekerja bersama, dan tumbuh bersama masyarakat,” ungkap Bapak Amir Manasi, S.Pd., M.Pd, selaku Dosen Pembimbing Lapangan (DPL) saat memberikan sambutan dalam acara penarikan. Dalam arahannya, beliau menekankan bahwa hakikat pendidikan tinggi adalah ketika ilmu bisa menjadi alat perubahan sosial dan mahasiswa menjadi aktor utama dalam perubahan tersebut.

“Desa tidak menunggu gelar akademik kita, tapi kehadiran kita. Desa tidak butuh teori hebat, tapi langkah kecil dan tulus yang nyata. Di sini kalian belajar bahwa pembangunan itu dimulai dari hal sederhana: dari senyum, dari peduli, dari mendengar,” ujar Amir Manasi, yang disambut tepuk tangan hadirin.

Dalam kesempatan tersebut, pamong desa yang mendampingi mahasiswa selama dua bulan juga memberikan sambutan yang penuh makna. Ia menyampaikan betapa kehadiran mahasiswa memberi pengaruh positif yang besar, khususnya bagi anak-anak dan kalangan muda.

“Di mata anak-anak, kalian bukan hanya kakak pengajar, tapi juga panutan dan inspirasi. Di mata kami, kalian adalah mitra perubahan. Kalian memberi contoh bahwa belajar itu tidak terbatas ruang, dan membantu itu tidak harus menunggu jadi pejabat. Kalian hadir dengan ketulusan,” ujar pamong desa dengan suara yang menggetarkan ruangan.

Beliau juga menyampaikan harapan agar mahasiswa terus membawa semangat membangun desa ke mana pun mereka pergi. Karena dari desalah kekuatan bangsa dibentuk. Jika desa maju, maka bangsa akan tumbuh dalam keseimbangan dan keadilan.

Pengabdian dua bulan ini menjadi momen transformatif bagi mahasiswa. Mereka menyadari bahwa desa bukan tempat terpencil, tetapi tempat kebijaksanaan alami, kehangatan kolektif, dan kekuatan lokal yang sangat berarti. Mereka belajar bahwa membangun desa tidak cukup dengan proyek fisik semata, tetapi harus dimulai dengan pendidikan, literasi nilai, penguatan kapasitas, dan keteladanan sosial.

Kini, setelah fase pengabdian ini selesai, mahasiswa akan kembali ke kampus untuk menjalani fase penguatan soft skill. Materi seperti integritas diri, kepemimpinan, komunikasi, kerja sama, berpikir kritis, dan manajemen waktu akan menjadi bekal mereka dalam membangun diri menjadi pemimpin masa depan—bukan sekadar pemegang ijazah, tetapi pemegang misi perubahan.

Namun, lebih dari itu, yang mereka bawa pulang bukan hanya pengalaman, tapi kesadaran. Kesadaran bahwa perubahan tidak dimulai dari konferensi besar, tapi dari desa kecil. Dari menyapu halaman balai desa, dari mendampingi anak-anak mengeja huruf, dari mendengarkan cerita para ibu tentang masa depan yang mereka bayangkan.

Universitas Muslim Buton memberikan apresiasi yang sebesar-besarnya kepada Lurah Bombonawulu, seluruh jajaran perangkat kelurahan, para guru, dan seluruh masyarakat yang telah dengan hangat menerima mahasiswa untuk belajar dan mengabdi. Tanpa penerimaan yang terbuka, tanpa kolaborasi yang tulus, program ini tidak akan membawa dampak sebagaimana yang diharapkan.

Sebuah ayat pendek dari Al-Qur’an menjadi penutup terbaik untuk hari yang menggetarkan ini: “Wa mā taf‘alū min khairin fa innallāha bihi ‘alīm” “Apa pun kebaikan yang kamu kerjakan, sungguh Allah Maha Mengetahuinya.” (QS Al-Baqarah: 215)

Mahasiswa UMU Buton telah menorehkan kebaikan kecil di Bombonawulu. Mereka telah menyalakan lentera kecil yang kini menjadi cahaya harapan. Cahaya itu akan mereka bawa, ke mana pun mereka melangkah-sebagai agen perubahan, sebagai pemuda pembangun desa, dan sebagai bagian dari bangsa yang mencintai negerinya dalam bentuk paling sederhana dan paling nyata: melayani dengan ilmu dan hati.

Editor, Kantor Humas Universitas Muslim Buton Muh Firman Syah

Tags :
Bagikan :