UMU Online-Masjid Baitul Hikmah – Kamis, 19 Juni 2025 Universitas Muslim Buton Menjadikan Masjid Sebagai Poros Ilmu, Akhlak, dan Transformasi Sosial, terus menapaki jalan dakwah intelektual dengan menyelenggarakan Ngaji Rutin Kamis Siang sebagai bagian dari penguatan nilai-nilai Islam Wasathiyah dan pembudayaan keilmuan yang berakar pada spiritualitas. Bertempat di Masjid Baitul Hikmah-jantung ruhani kampus-kajian ini tak sekadar menjadi ruang ibadah, tetapi juga wahana transformasi karakter, peneguhan jati diri keislaman, dan pembentukan sikap sosial yang berkeadaban.
Kegiatan ini menghadirkan Dr. La Ode Rasmin, S.Pd., M.Pd., dosen Pendidikan Bahasa Inggris UMU Buton, yang membawakan materi bertema “Islam dan Kesalehan Sosial”. Disambut dengan pembacaan Surah Al-Baqarah ayat 176–180, suasana penuh kekhusyukan mengiringi renungan mendalam tentang pentingnya menyelaraskan kesalehan personal dengan tanggung jawab sosial. Dalam konteks ini, Islam bukan semata ibadah ritual, melainkan juga sistem etika hidup yang membangun keadilan, kebajikan, dan solidaritas sosial di tengah masyarakat.
Rektor UMU Buton, dalam sambutannya, menegaskan bahwa nilai-nilai kesalehan sosial dan Islam Wasathiyah haruslah mengilhami seluruh aspek kehidupan kampus. “Nilai keadilan, toleransi, tolong-menolong, dan sikap moderat adalah ruh yang wajib mewarnai interaksi akademik di UMU Buton. Masjid bukan hanya tempat ibadah, tetapi pusat gerakan ilmu dan akhlak,” ujar beliau penuh semangat.
Dr. La Ode Rasmin dalam pemaparannya mengajak hadirin merenungkan bagaimana Islam yang wasathiyah (moderat) mampu menjadi kekuatan spiritual dan sosial yang menyatukan keberagaman, menyejukkan konflik, dan mendorong etika kolektif. Kesalehan sosial bukan semata sikap baik hati secara individual, melainkan keterlibatan aktif dalam memperjuangkan keadilan, menyantuni sesama, serta menciptakan harmoni sosial.
Penting pula untuk menautkan nilai-nilai Islam dengan kearifan lokal Buton. Falsafah Pia-pia, Sanggula, Lipu, dan Sara Pataanguna yang diwariskan oleh Kesultanan Buton sejatinya adalah bentuk konkret dari etika sosial Islam. Pia-pia sebagai simbol penghormatan, sanggula sebagai lambang gotong royong, lipu sebagai spirit kecintaan pada negeri, dan sara sebagai tatanan keadilan hukum, memperlihatkan bahwa Buton telah lama mengintegrasikan nilai Islam ke dalam sistem sosialnya.
Melalui pendekatan ini, UMU Buton menghidupkan kembali nilai-nilai lokal yang memperkuat identitas dan spiritualitas mahasiswa. Kegiatan ngaji rutin menjadi medan dialektika antara wahyu dan realitas, antara Islam normatif dan Buton historis, antara teks suci dan nilai-nilai budaya.
Ketua Yayasan UMU Buton turut menegaskan bahwa kegiatan ini merupakan manifestasi nyata dari tiga pilar utama visi UMU Buton, yaitu: membangun SDM unggul berbasis tridarma perguruan tinggi, menumbuhkan akhlakul karimah, dan memupuk wawasan kewirausahaan. “Kita tidak hanya mencetak sarjana, tapi kita ingin membentuk insan yang utuh-cerdas secara intelektual, kuat secara spiritual, dan tangguh secara sosial,” ungkapnya.
Program Merangkai Cita-Cita dari Masjid yang diinisiasi Lembaga Kajian Islam dan Aswaja merupakan langkah awal yang sederhana namun strategis. Kajian ini bukan hanya forum ilmu, melainkan juga forum empati dan kepekaan sosial. Dari Masjid, dibicarakan isu-isu aktual kemanusiaan, dibangkitkan semangat kepedulian, dan ditekankan pentingnya adab dalam ilmu.
Mengajak civitas akademika untuk masuk ke masjid berarti mengajak mereka masuk ke dalam ruang perenungan, penguatan spiritual, dan pencarian makna. Dari langkah kecil ini, akan tumbuh gerakan besar yang menjadikan UMU Buton sebagai kampus yang bukan hanya menghasilkan lulusan berkualitas, tetapi juga berakhlak, tanggap terhadap persoalan umat, dan siap memberi solusi dengan cara yang penuh rahmah.
Ngaji Rutin Kamis Siang bukan hanya kegiatan berkala, tetapi menjadi elemen kultur kampus UMU Buton. Islam Rahmah-Islam yang mengedepankan kasih sayang, keseimbangan, dan keadilan-harus menjadi ruh dari setiap aspek kehidupan akademik. Di sinilah UMU Buton menempatkan perannya bukan hanya sebagai lembaga pendidikan, tetapi juga sebagai lembaga perubahan sosial.
Dalam kegiatan ini, civitas akademika diajak meneguhkan identitas keislaman mereka tidak hanya dalam bentuk pengetahuan, tapi juga dalam tindakan sosial. Islam yang menginspirasi dan membebaskan. Islam yang menyalakan harapan dan menguatkan solidaritas. Islam yang berakar pada cinta, ilmu, dan amal.
Sebagaimana sabda Nabi, “Barangsiapa yang keluar untuk menuntut ilmu, maka ia berada di jalan Allah hingga ia pulang.” Maka setiap langkah menuju masjid, setiap renungan dalam ngaji, setiap niat untuk memahami dan mengamalkan nilai-nilai Islam, sesungguhnya adalah bagian dari jihad ilmiah yang akan melahirkan insan-insan yang membawa terang bagi negeri. Lembaga Kajian Islam dan Aswaja – Universitas Muslim Buton
Editor, Kantor Humas UMU Buton, Muhamad Firman Syah






