ar
en
id

Bahasa:

ASISTEN MENGAJAR: KOLABORASI CERDAS MAHASISWA UMU BUTON DI SDN 2 WAJO, MENEBAR ILMU, MEMETIK ARTI

UMU Online-Wajo Baubau, 15 Juni 2025 Senyum anak-anak SDN 2 Wajo menjadi saksi dari sebuah momen penuh makna. Setelah dua bulan menjalani pengabdian sebagai Asisten Mengajar melalui program KSMT-MBKM, mahasiswa Universitas Muslim Buton resmi ditarik kembali dari lokasi penempatan mereka dalam sebuah seremoni yang sederhana namun menyentuh hati.

Program KSMT-MBKM (Kandidat Sarjana Mengabdi Tematik-Merdeka Belajar Kampus Merdeka) ini merupakan bagian dari komitmen UMU Buton dalam memperluas ruang belajar mahasiswa, bukan hanya di ruang kelas tetapi langsung di jantung kehidupan masyarakat. Dengan mengusung tema “Asisten Mengajar, Hadir untuk Membangun dan Belajar”, para mahasiswa bukan sekadar hadir sebagai pembantu guru, tetapi juga sebagai pembelajar aktif yang menyelami nilai-nilai kemanusiaan, komunikasi, dan kepemimpinan di dunia nyata.

Acara penarikan ini dihadiri oleh Dosen Pembimbing Lapangan (DPL), Ibu Rahmatia Siti Kaif, S.Pd., M.Pd., yang selama dua bulan mendampingi para mahasiswa dengan penuh dedikasi, serta para guru pamong dari SDN 2 Wajo yang menjadi mitra utama dalam pelaksanaan program. Dalam sambutannya, Ibu Rahmatia menyampaikan rasa bangganya terhadap transformasi para mahasiswa. “Mereka datang sebagai mahasiswa, tetapi hari ini mereka pulang sebagai calon pendidik yang matang secara empati dan tangguh secara mental,” ungkapnya.

Selama dua bulan, para mahasiswa yang tergabung dalam program Asisten Mengajar ini tak hanya membantu kegiatan belajar mengajar di kelas, tetapi juga terlibat dalam berbagai program penguatan literasi, pembinaan karakter siswa, kegiatan ekstrakurikuler, dan bahkan turut menyusun media pembelajaran kreatif yang sesuai dengan karakter anak-anak di SDN 2 Wajo.

Hari-hari yang mereka lewati bukan tanpa tantangan. Dari menghadapi siswa dengan latar belakang yang beragam, hingga beradaptasi dengan ritme kerja guru-guru di sekolah dasar, semua menjadi laboratorium nyata pembelajaran karakter dan soft skill. Mereka belajar mengelola emosi, mengasah empati, membangun komunikasi interpersonal, serta melatih kepemimpinan dalam tim kecil maupun dalam kelas.

Seorang mahasiswa peserta program menyampaikan kesannya, “Di sini saya benar-benar belajar bagaimana menjadi pendidik sejati. Saya belajar bahwa mengajar bukan hanya soal menyampaikan materi, tapi tentang membangun kepercayaan, memelihara semangat anak-anak, dan menjadi teladan dalam kesederhanaan.”

Salah satu kunci keberhasilan program ini adalah peran para guru pamong, yang dengan sabar dan bijak membimbing mahasiswa di lapangan. Mereka tak hanya menjadi pembimbing teknis, tetapi juga menjadi role model yang menunjukkan bagaimana menghadapi dinamika pendidikan dasar dengan kehangatan dan ketegasan yang seimbang.

Para guru mengaku kehadiran mahasiswa memberikan angin segar dan semangat baru di lingkungan sekolah. “Kami merasa terbantu, tetapi lebih dari itu, kami juga termotivasi oleh kreativitas dan antusiasme mereka. Mahasiswa UMU Buton datang dengan semangat belajar dan menginspirasi kami untuk terus berkembang,” kata salah satu guru pamong dalam refleksi akhir kegiatan.

Simbol dari kolaborasi ini bukan hanya tercermin dalam pembagian tugas mengajar, tetapi juga dalam pertukaran ide, pengalaman, dan semangat kebersamaan yang lahir dari tujuan mulia yang sama: mendidik anak bangsa.

Penarikan mahasiswa dari lokasi bukanlah akhir dari perjalanan belajar, melainkan jembatan menuju fase berikutnya. Setelah menyelesaikan pengabdian langsung di lapangan, mahasiswa akan kembali ke kampus untuk menjalani fase kedua program, yakni pembelajaran di kelas yang berfokus pada penguatan soft skill.

Materi seperti komunikasi efektif, empati dalam kepemimpinan, kolaborasi lintas budaya, literasi digital, hingga etika profesional akan menjadi kelanjutan dari pengalaman kontekstual yang mereka alami di SDN 2 Wajo. Dengan pendekatan reflektif dan dialogis, kampus akan membekali mereka untuk menyadari dan menginternalisasi pelajaran kehidupan yang telah mereka petik dalam bentuk nilai-nilai kepemimpinan masa depan.

DPL Ibu Rahmatia Siti Kaif menyampaikan bahwa proses ini penting untuk membentuk siklus belajar yang utuh. “Kita tidak cukup hanya menurunkan mahasiswa ke lapangan. Kita harus menarik kembali mereka, membimbing mereka untuk merefleksi, menyusun ulang pengalaman menjadi hikmah, dan menjadikannya bekal untuk dunia kerja dan pengabdian yang lebih luas ke depan,” ujarnya dengan nada penuh optimisme.

Dari SDN 2 Wajo Menuju Indonesia Maju: Mahasiswa UMU Buton sebagai Katalis Perubahan
Penarikan ini menjadi bukti bahwa program KSMT-MBKM bukan sekadar agenda kurikuler, melainkan bagian dari strategi besar UMU Buton dalam menciptakan lulusan yang cakap secara akademik dan dewasa secara sosial. Mahasiswa bukan hanya menjadi pelaku pendidikan, tetapi juga bagian dari solusi konkret untuk menjawab kebutuhan nyata di lingkungan sekitar.

Kehadiran mereka di SDN 2 Wajo bukan hanya menyisakan kenangan bagi anak-anak dan guru, tetapi juga menanam benih-benih perubahan kecil yang akan tumbuh menjadi semangat besar. Beberapa inovasi sederhana yang mereka rintis-seperti program literasi pagi, kelas mendongeng, atau pojok baca-telah memberikan warna baru dalam dunia belajar anak-anak.

Sebagai institusi pendidikan, UMU Buton menegaskan komitmennya untuk terus menjadi bagian dari perubahan sosial yang lebih inklusif dan berkelanjutan. Program KSMT-MBKM ini hanyalah satu dari banyak gerakan strategis yang dirancang untuk menyinergikan ilmu pengetahuan, pengabdian, dan pengembangan karakter dalam satu napas perjuangan.

Dari desa ke kampus, dari teori ke praktik, dari ruang kelas ke ruang social-begitulah mahasiswa UMU Buton belajar dan mengabdi. Penarikan hari ini bukan titik akhir, melainkan awal dari perjalanan panjang menuju pengabdian yang lebih luas, dalam semangat “Belajar untuk Mengabdi, Mengabdi untuk Membangun”.

Editor, Kantor Humas Universitas Muslim Buton Muhamad Firman Syah
16 Juni 2025

Tags :
Bagikan :