UMU Online-Baubau, 16 Oktober 2025 Aula utama Universitas Muslim Buton siang itu dipenuhi semangat dan antusiasme ratusan mahasiswa baru tahun akademik 2025/2026. Mereka hadir mengikuti kegiatan Entrepreneur Talk yang mengangkat tema inspiratif “Menumbuhkan Mindset Wirausaha Sejak di Bangku Kuliah.” Kegiatan ini menghadirkan Kepala BNI 46 Cabang Baubau sebagai narasumber utama, seorang praktisi perbankan yang telah berpengalaman dalam dunia bisnis, keuangan, dan kewirausahaan modern.
Kegiatan ini merupakan bagian dari rangkaian program pembinaan karakter dan penguatan soft skill mahasiswa baru yang selama ini menjadi ciri khas UMU Buton. Universitas ini percaya bahwa pendidikan tinggi bukan hanya tempat menimba ilmu akademik, tetapi juga wadah pembentukan karakter dan mentalitas wirausaha yang tangguh. Oleh karena itu, Entrepreneur Talk menjadi sarana penting untuk menanamkan nilai-nilai kemandirian, keberanian, dan kreativitas kepada mahasiswa sejak awal perjalanan akademik mereka.
Suasana kegiatan berlangsung hangat dan penuh semangat. Di antara wajah-wajah muda yang penuh harapan, terlihat rasa ingin tahu dan keinginan besar untuk belajar tentang dunia wirausaha. Rektor UMU Buton, BapakDr. H. Sujiton, dalam sambutan pembukaannya menegaskan bahwa dunia kerja saat ini sedang berubah cepat. Ia menekankan bahwa menjadi sarjana di masa depan tidak cukup hanya dengan nilai akademik tinggi, tetapi juga dengan kemampuan beradaptasi, berpikir kreatif, dan berani mengambil inisiatif. “Kampus harus menjadi tempat menumbuhkan semangat pencipta kerja, bukan pencari kerja. Itulah ruh Entrepreneur Talk ini,” ujar beliau dengan penuh keyakinan.
Pemateri dari BNI 46 Baubau kemudian memulai sesi utama dengan gaya komunikasi yang lugas, hangat, dan inspiratif. Ia mengajak seluruh mahasiswa untuk memahami bahwa dunia wirausaha bukan sekadar tentang membuka usaha, tetapi tentang membangun pola pikir. “Wirausaha sejati bukan dimulai dari modal besar, tetapi dari cara berpikir yang benar. Mindset yang kuat adalah fondasi utama sebelum melangkah ke dunia bisnis,” ujarnya sambil menatap para mahasiswa yang mendengarkan dengan penuh perhatian.
Beliau menjelaskan bahwa mindset wirausaha adalah cara pandang terhadap kehidupan yang berorientasi pada solusi, bukan keluhan. Orang dengan jiwa wirausaha melihat peluang di setiap kesulitan, sedangkan orang yang hanya berorientasi pada pekerjaan sering kali melihat kesulitan di setiap peluang. Dalam konteks mahasiswa, hal ini berarti belajar untuk berani mencoba hal baru, mengambil risiko yang terukur, serta berkomitmen pada proses belajar tanpa takut gagal. “Gagal itu wajar. Tetapi jika takut mencoba, itu berarti gagal sebelum berjuang,” katanya dengan tegas.
Dalam pemaparannya, narasumber menyoroti pentingnya berpikir kreatif dan visioner. Kreativitas, menurutnya, bukan sekadar kemampuan menghasilkan ide baru, tetapi kemampuan melihat sesuatu yang lama dari sudut pandang yang berbeda. Mahasiswa diajak untuk tidak terjebak dalam pola pikir sempit yang hanya berorientasi pada pekerjaan setelah lulus. Sebaliknya, mereka harus mulai melihat potensi di sekitar sebagai peluang. “Bau bau bukan kota kecil, tetapi lahan besar bagi ide-ide besar. Jangan menunggu peluang datang, ciptakan peluang itu sendiri,” ujarnya, disambut tepuk tangan gemuruh peserta.
Ia juga menekankan pentingnya visi dalam berwirausaha. Seorang wirausaha harus memiliki pandangan jauh ke depan tentang apa yang ingin dicapai. Tanpa visi, bisnis akan mudah goyah karena godaan jangka pendek. “Visi adalah kompas yang menuntun langkah kita. Saat orang lain berhenti karena lelah, orang yang punya visi tetap berjalan karena tahu arah tujuannya,” tutur beliau dengan penuh semangat.
Selain berbicara tentang kreativitas dan visi, narasumber juga menyoroti tantangan klasik yang sering dihadapi mahasiswa – yaitu pola pikir pencari kerja. Ia menjelaskan bahwa sistem pendidikan tradisional sering kali mencetak lulusan yang siap bekerja, tetapi tidak selalu siap menciptakan pekerjaan. Padahal, dunia modern saat ini menuntut individu yang inovatif, adaptif, dan mandiri. “Menjadi karyawan itu baik, tetapi menjadi pencipta lapangan kerja adalah panggilan yang lebih besar,” katanya sambil tersenyum.
Beliau menggambarkan betapa pentingnya mengubah mindset dari sekadar mencari pekerjaan menjadi menciptakan nilai. Ia mendorong mahasiswa agar tidak takut memulai hal kecil. Dalam dunia bisnis, yang penting bukan seberapa besar langkah pertama, melainkan keberanian untuk melangkah. “BNI 46 sendiri lahir dari semangat wirausaha dan kepercayaan pada potensi anak muda. Karena itu, kami hadir bukan hanya sebagai lembaga keuangan, tetapi juga mitra penggerak kewirausahaan di kampus dan masyarakat,” tambahnya.
Dalam bagian lain paparannya, narasumber menguraikan bahwa keberanian mengambil peluang baru merupakan kunci sukses yang sering terlewatkan. Banyak orang gagal bukan karena tidak punya kemampuan, tetapi karena terlalu lama menunggu waktu yang sempurna. “Waktu terbaik untuk memulai adalah sekarang, bukan nanti. Dunia tidak menunggu kesiapan kita, dunia bergerak mengikuti keberanian,” tegasnya.
Ia kemudian memberi contoh nyata tentang sejumlah pengusaha muda di Indonesia yang memulai bisnis dari ide sederhana – dari menjual produk lokal, membuka layanan digital kecil, hingga membangun start-up inovatif. Mereka semua memiliki kesamaan: berani mencoba, tahan menghadapi kegagalan, dan terus belajar. Pesan yang berulang kali ia tekankan adalah bahwa setiap mahasiswa memiliki potensi menjadi pengusaha jika mau mengasah keberanian dan disiplin.
Narasumber juga menyinggung pentingnya konsistensi dalam membangun ide bisnis. Dunia wirausaha bukan tentang kesuksesan instan, tetapi tentang ketekunan dalam proses. Ide hebat sekalipun tidak akan berarti tanpa konsistensi dalam eksekusi. Ia mengingatkan mahasiswa bahwa bisnis adalah perjalanan panjang yang penuh tantangan. “Jangan takut gagal, takutlah kalau berhenti berusaha. Setiap kegagalan adalah guru yang mengajari cara baru untuk berhasil,” katanya dengan nada lembut yang sarat motivasi.
Suasana kegiatan terasa hidup. Mahasiswa aktif mengajukan pertanyaan tentang strategi memulai usaha, mengelola keuangan, dan mengembangkan ide bisnis di lingkungan kampus. Narasumber menjawab dengan sabar dan memberikan pandangan realistis namun optimis. Ia menekankan pentingnya memulai dari hal yang dekat dengan keseharian – seperti mengelola usaha kecil, bergabung dalam komunitas bisnis mahasiswa, atau mengikuti program entrepreneur incubation yang sudah disiapkan oleh universitas dan mitra lembaga keuangan seperti BNI.
Rektor UMU Buton, Bapak Dr. H. Sujiton, dalam penutupan acara menyampaikan apresiasi yang tinggi kepada BNI 46 Baubau atas kontribusinya dalam mendukung program Entrepreneur Campus di lingkungan UMU Buton. Beliau menyampaikan bahwa kegiatan ini sejalan dengan visi universitas dalam membangun entrepreneurial mindset di kalangan mahasiswa. “Kami ingin melahirkan generasi intelektual yang kreatif, berani, dan berkarakter. Dunia kerja tidak menunggu kita; maka kita harus menjadi bagian dari dunia yang menciptakan peluang itu sendiri,” ungkap beliau.
Kegiatan Entrepreneur Talk kali ini bukan hanya memberikan pengetahuan, tetapi juga menggugah kesadaran bahwa wirausaha adalah panggilan jiwa. Ia bukan semata-mata tentang keuntungan finansial, tetapi tentang kontribusi sosial – menciptakan nilai, memberikan manfaat, dan memberdayakan orang lain. Dalam konteks inilah, mahasiswa UMU Buton diajak untuk melihat bahwa wirausaha sejati adalah mereka yang mampu menggunakan ilmu, pengalaman, dan keberanian untuk membangun kehidupan yang lebih bermakna bagi diri sendiri dan masyarakat.
Forum ini menjadi ruang inspiratif bagi mahasiswa baru untuk memulai perjalanan mereka di dunia akademik dengan semangat yang lebih besar. Mereka tidak hanya belajar untuk meraih gelar, tetapi juga untuk mengasah karakter mandiri, berani, dan pantang menyerah. Banyak di antara mereka yang setelah kegiatan ini mulai memikirkan ide-ide bisnis sederhana yang bisa dikembangkan di kampus – dari produk kreatif, layanan digital, hingga usaha sosial yang berdampak positif.
Ketika kegiatan berakhir, wajah-wajah penuh semangat itu menatap masa depan dengan pandangan baru. Mereka menyadari bahwa menjadi mahasiswa bukan hanya tentang belajar teori, tetapi juga tentang menyiapkan diri menjadi agen perubahan. Semangat yang lahir dari Entrepreneur Talk ini diharapkan menjadi benih yang terus tumbuh dan berbuah dalam bentuk inovasi nyata di masa depan.
Dengan terselenggaranya kegiatan ini, UMU Buton sekali lagi menegaskan komitmennya untuk mencetak generasi muda yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga tangguh secara mental, kreatif dalam berpikir, dan berani mengambil tindakan. Sebuah generasi yang tidak lagi menunggu kesempatan, tetapi menciptakannya. Karena sesungguhnya, masa depan bukan untuk mereka yang menunggu, tetapi untuk mereka yang berani melangkah dan percaya pada potensinya sendiri.
Editor: Muh Adil
