UMU Online-Baubau, 23 Oktober 2025 – Universitas Muslim Buton kembali menunjukkan komitmennya dalam membangun generasi berkarakter Islami melalui kegiatan Kajian Rutin Kamis yang diselenggarakan oleh Lembaga Kajian Islam dan Aswaja (LKIA). Kegiatan yang berlangsung di Ballroom Al Munawwara ini mengusung tema “Substansi Ibadah Shalat dalam Membentuk Karakter Pribadi Muslim” dan menghadirkan Haerunianti, S.P., M.P., Ketua Program Studi Agribisnis FAPERTA UMU Buton, sebagai pemateri utama.
Kajian ini menjadi bagian dari program unggulan “Merangkai Cita-cita dari Masjid”, yaitu gerakan spiritual dan intelektual yang dirancang untuk menumbuhkan kesadaran bahwa ilmu dan iman tidak dapat dipisahkan. Kegiatan ini dihadiri langsung oleh Rektor Universitas Muslim Buton, PresidenUMU Buton, para dosen, tenaga kependidikan, dan ratusan mahasiswa dari berbagai fakultas. Suasana berlangsung penuh kekhidmatan dan semangat kebersamaan, mencerminkan semangat ukhuwah islamiyah yang kuat di lingkungan kampus.
Acara dibuka dengan pembacaan Surah An-Nisa ayat 103–107, yang dibacakan secara bergiliran oleh mahasiswa. Ayat-ayat tersebut menjadi pengantar yang mengingatkan pentingnya menjaga ibadah shalat sebagai pilar utama kehidupan seorang muslim. Suasana Ballroom Al Munawwara terasa teduh dan penuh makna, dengan lantunan ayat suci yang menggema dan menyentuh hati para jamaah.
Dalam pemaparannya, Haerunianti, S.P., M.P. menekankan bahwa shalat bukan sekadar ritual gerakan dan bacaan, melainkan pendidikan spiritual yang membentuk kepribadian seseorang. “Shalat mengajarkan disiplin, ketundukan, dan kesadaran diri di hadapan Allah SWT. Jika shalat dikerjakan dengan penuh pemahaman, maka ia akan memancar dalam akhlak dan perilaku kita sehari-hari,” ujarnya. Ia juga mengajak mahasiswa untuk menjadikan shalat sebagai pusat refleksi diri dan sumber kekuatan moral dalam meraih cita-cita.
Lebih lanjut, beliau menegaskan bahwa keberhasilan akademik tidak akan bermakna jika tidak disertai dengan kesalehan pribadi. Dalam konteks kehidupan kampus, nilai-nilai shalat seharusnya menjadi dasar dalam membangun budaya disiplin, kerja keras, dan kejujuran. “Seorang mahasiswa yang menjaga shalat dengan benar akan tumbuh menjadi pribadi yang berintegritas, tangguh, dan berjiwa pemimpin,” tambahnya.
Kehadiran Rektor UMU Buton dalam kegiatan ini menambah semangat bagi seluruh peserta. Dalam sambutannya, beliau menyampaikan apresiasi atas inisiatif LKIA dalam menjaga atmosfer religius di kampus. “Universitas Muslim Buton tidak hanya berorientasi pada kecerdasan intelektual, tetapi juga pada pembentukan karakter dan spiritualitas mahasiswa. Dari masjid, kita belajar tentang kesederhanaan, kebersamaan, dan ketulusan dalam menuntut ilmu,” ungkapnya.
Sementara itu, Presiden Mahasiswa UMU Buton menyampaikan pandangannya bahwa kegiatan seperti ini memberi ruang bagi mahasiswa untuk kembali menemukan keseimbangan antara dunia akademik dan nilai-nilai spiritual. “Ngaji dan kajian Islam seperti ini menjadi oase bagi kami di tengah kesibukan perkuliahan. Di sini kami belajar bukan hanya tentang agama, tapi juga tentang bagaimana menjadi manusia yang lebih baik,” katanya penuh semangat.
Acara berlangsung dengan suasana interaktif. Setelah penyampaian materi, peserta diberikan kesempatan untuk bertanya dan berdiskusi. Beberapa mahasiswa mengangkat pertanyaan seputar tantangan menjaga kekhusyukan shalat di tengah aktivitas kampus dan bagaimana menginternalisasikan nilai-nilai ibadah dalam kehidupan sosial. Pemateri menjawab dengan penuh kehangatan dan memberikan contoh konkret dari pengalaman sehari-hari.
Kegiatan diakhiri dengan doa bersama dan refleksi singkat yang dipimpin oleh Ketua LKIA. Dalam doa tersebut, seluruh peserta memohon agar ilmu yang diperoleh dapat menjadi penerang hati dan penguat langkah dalam meniti jalan kehidupan.
Kajian Rutin Kamis ini menjadi bukti nyata bahwa Universitas Muslim Buton tidak hanya mendidik mahasiswa untuk cerdas secara intelektual, tetapi juga membangun fondasi spiritual yang kuat. Melalui program “Merangkai Cita-cita dari Masjid”, kampus berupaya menghadirkan ruang-ruang pembelajaran yang menghubungkan nilai keilmuan dengan nilai keislaman, menjadikan masjid dan ruang kajian sebagai pusat peradaban akademik yang berakhlak mulia.
Dari sinilah semangat perubahan itu dimulai – dari tempat yang suci, dari hati yang berserah, dan dari cita-cita yang dirangkai dengan doa dan ilmu. Universitas Muslim Buton terus berkomitmen melahirkan generasi intelektual muslim yang berilmu, beriman, dan berakhlakul karimah – karena bagi UMU Buton, setiap langkah menuju masa depan dimulai dari sujud dan dzikir di rumah Allah.
Editor UMU Buton, Muh Adil
