ar
en
id

Bahasa:

KEGIATAN NGAJI RUTIN KAMIS: WAKTU MENENTUKAN NILAI HIDUP

UMU Online-Universitas Muslim Buton kembali menghadirkan kegiatan Ngaji Rutin Kamis, sebuah program keagamaan yang menjadi wadah refleksi spiritual dan intelektual bagi seluruh civitas akademika. Kegiatan ini dilaksanakan pada Kamis, 06 November 2025 di Ballroom Al Munawwara UMU Buton, dengan tema yang sangat relevan dan menyentuh makna kehidupan: “Manajemen Waktu Menurut Surah Al-‘Ashr.” Kajian ini menghadirkan narasumber Hasrin, S.P., M.P, Ketua Lembaga Penjaminan Mutu UMU Buton, yang dikenal luas karena pandangan bijaknya dalam mengaitkan nilai-nilai Al-Qur’an dengan kehidupan akademik dan profesional.

Acara dimulai tepat pukul 12.40 WITA dengan suasana khidmat. Seluruh peserta – terdiri dari dosen, tenaga kependidikan, dan mahasiswa dari berbagai fakultas – tampak memenuhi ruangan dengan antusias. Kegiatan diawali dengan pembacaan Surah Al-‘Ashr oleh perwakilan mahasiswa, yang kemudian dilanjutkan dengan sambutan singkat dari panitia pelaksana. Suasana menjadi semakin hidup ketika pemateri mulai mengurai makna ayat demi ayat, menuntun peserta untuk memahami esensi waktu bukan hanya sebagai dimensi duniawi, tetapi juga sebagai amanah Ilahi yang menentukan nilai kehidupan manusia.

Dalam pemaparannya, Hasrin menegaskan bahwa waktu adalah nikmat terbesar sekaligus ujian paling halus yang Allah berikan kepada manusia. Mengutip firman Allah dalam Surah Al-‘Ashr, beliau menjelaskan bahwa Allah bersumpah atas nama waktu karena begitu pentingnya makna “masa” dalam kehidupan manusia. “Demi masa, sesungguhnya manusia berada dalam kerugian kecuali orang-orang yang beriman, beramal saleh, saling menasihati dalam kebenaran, dan saling menasihati dalam kesabaran,” (QS. Al-‘Ashr: 1–3). Melalui ayat singkat ini, peserta diajak untuk merenungkan bahwa waktu bukan sekadar hitungan menit, jam, atau hari, melainkan ukuran kebermaknaan hidup seseorang.

Menurut beliau, manusia modern sering kali kehilangan esensi waktu karena terlalu sibuk mengejar hal-hal yang bersifat duniawi. Kita hidup dalam era yang serba cepat – teknologi berkembang pesat, informasi mengalir deras, namun di sisi lain, kesadaran spiritual sering kali tertinggal. Banyak orang merasa sibuk setiap hari, tetapi tidak semua bisa menjawab: untuk apa mereka sibuk? Inilah yang disebut dengan “kerugian waktu” dalam perspektif Al-‘Ashr – ketika manusia tenggelam dalam aktivitas tanpa makna, kehilangan arah dan tujuan hidup yang hakiki.

Hasrin kemudian menekankan bahwa manajemen waktu bukan hanya soal keterampilan teknis seperti membuat jadwal atau mengatur prioritas, tetapi juga menyangkut kesadaran spiritual. Dalam Islam, waktu memiliki dimensi transendental – setiap detik adalah peluang untuk beramal, setiap hari adalah ujian kesabaran, dan setiap minggu adalah perjalanan menuju kedewasaan iman. Karena itu, seorang Muslim harus memiliki kesadaran bahwa setiap waktu akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan Allah. “Setiap jam yang berlalu tanpa kebaikan adalah kehilangan yang tak tergantikan,” ujarnya menegaskan.

Suasana kajian semakin mendalam ketika pemateri mengajak peserta meneladani Rasulullah SAW dalam mengatur waktu. Nabi Muhammad dikenal sebagai sosok yang sangat menghargai waktu. Dalam keseharian beliau, tidak ada satu pun detik yang dihabiskan tanpa tujuan. Waktu beliau terbagi dengan rapi antara ibadah, keluarga, dakwah, dan urusan umat. Beliau mengajarkan bahwa produktivitas sejati bukan diukur dari banyaknya aktivitas, tetapi dari keberkahan yang lahir dari setiap amal. Di sinilah makna manajemen waktu Islami menjadi relevan: bukan sekadar mengisi waktu, tetapi menghidupinya dengan nilai ibadah.

Bagi civitas akademika UMU Buton, tema ini memiliki makna yang sangat kontekstual. Dalam dunia pendidikan, waktu adalah elemen utama dalam membangun kualitas. Mahasiswa dituntut mampu mengelola waktu dengan bijak antara kuliah, organisasi, dan kehidupan pribadi. Dosen pun diharapkan dapat menyeimbangkan antara tanggung jawab mengajar, penelitian, dan pengabdian masyarakat. Sementara tenaga kependidikan perlu memastikan pelayanan administrasi berjalan efektif tanpa mengabaikan nilai keikhlasan dan dedikasi. Dengan demikian, manajemen waktu tidak hanya menjadi keterampilan profesional, tetapi juga cermin keimanan dan kedisiplinan.

Dalam sesi diskusi interaktif, beberapa mahasiswa mengajukan pertanyaan seputar cara menghindari pemborosan waktu di era digital. Menanggapi hal itu, Hasrin menjelaskan bahwa tantangan terbesar generasi muda hari ini bukan kekurangan waktu, melainkan kesalahan dalam memprioritaskan. Media sosial, hiburan daring, dan budaya instan membuat banyak orang terjebak dalam aktivitas konsumtif tanpa sadar kehilangan kesempatan untuk tumbuh dan berkontribusi. “Kita sering merasa kekurangan waktu, padahal waktu yang Allah berikan cukup. Hanya saja, kita sering menukarnya dengan hal yang tidak bermanfaat,” ujarnya menutup diskusi dengan penuh makna.

Lebih jauh, kegiatan Ngaji Rutin Kamis ini juga menjadi ruang refleksi bersama untuk menata ulang kesadaran diri sebagai insan beriman dan berilmu. Dalam konteks universitas yang berbasis Entrepreneurship, pemahaman tentang manajemen waktu menjadi pondasi penting dalam membangun jiwa kewirausahaan yang produktif dan berorientasi pada keberkahan. Mahasiswa dilatih untuk memandang waktu sebagai aset, bukan sekadar sesuatu yang berlalu. Aset ini, jika dikelola dengan niat baik, dapat melahirkan karya, inovasi, dan kebermanfaatan bagi masyarakat.

Salah satu pesan mendalam dari kajian ini adalah pentingnya menyeimbangkan antara kesibukan dunia dan kebutuhan ruhani. Banyak orang gagal mencapai ketenangan bukan karena kurang waktu, tetapi karena waktu yang dimiliki tidak diisi dengan keseimbangan antara kerja dan ibadah. Dalam Surah Al-‘Ashr, keseimbangan itu tergambar jelas – iman sebagai fondasi spiritual, amal saleh sebagai bentuk nyata produktivitas, saling menasihati dalam kebenaran sebagai wujud kepedulian sosial, dan kesabaran sebagai kekuatan moral. Keempatnya menjadi pilar kehidupan yang menjadikan waktu bermakna.

Kegiatan ini pun menjadi bukti bahwa UMU Buton konsisten membangun ekosistem kampus yang religius, berkarakter, dan berdaya saing. Di tengah derasnya arus globalisasi, universitas ini tidak hanya fokus pada capaian akademik, tetapi juga pada pembinaan spiritual dan moral mahasiswa. Program seperti Ngaji Rutin Kamis diharapkan mampu memperkuat budaya Aswaja (Ahlussunnah wal Jama’ah) yang menjadi nilai dasar universitas – nilai moderasi, keseimbangan, dan kedalaman berpikir.

Dalam penutupan kajian, Hasrin menyampaikan pesan filosofis yang membekas di hati peserta. Ia mengatakan bahwa manusia sering mengira hidup panjang, padahal hidup sejatinya hanya sejauh waktu yang tersisa. “Kalau kita ingin tahu nilai satu tahun, tanyakan kepada mahasiswa yang menunggu wisuda. Kalau ingin tahu nilai satu bulan, tanyakan kepada ibu yang menunggu kelahiran. Dan kalau ingin tahu nilai satu detik, tanyakan kepada orang yang hampir kehilangan nyawa,” tuturnya penuh hikmah. Pernyataan itu menggugah kesadaran semua peserta untuk lebih menghargai waktu yang tersisa.

Kegiatan diakhiri dengan doa bersama yang dipimpin oleh salah satu dosen FKIP, memohon kepada Allah agar memberikan keberkahan waktu dan kekuatan untuk mengisinya dengan amal kebaikan. Seusai acara, banyak mahasiswa yang menyampaikan kesan positif. Mereka merasa kegiatan ini bukan hanya menambah ilmu agama, tetapi juga memotivasi untuk lebih disiplin dalam menjalani aktivitas perkuliahan. Beberapa dosen juga menyatakan apresiasinya terhadap tema yang diangkat, karena sesuai dengan tantangan zaman di mana disiplin dan spiritualitas sering kali diuji oleh kemajuan teknologi dan kesibukan modern.

Secara keseluruhan, pelaksanaan Ngaji Rutin Kamis kali ini menjadi momentum penting untuk memperkuat kesadaran akan nilai waktu dalam kehidupan akademik dan spiritual. Ia mengajarkan bahwa waktu adalah rahmat, bukan beban. Ia juga mengingatkan bahwa manusia yang sukses bukanlah yang paling sibuk, melainkan yang paling mampu menjadikan setiap waktunya bernilai ibadah.

Kegiatan seperti ini juga memperlihatkan bagaimana UMU Buton berupaya menjadikan pendidikan bukan hanya tentang kecerdasan intelektual, tetapi juga tentang kebijaksanaan moral dan spiritual. Kampus ini berkomitmen untuk terus menghidupkan ruang-ruang perenungan, agar mahasiswa dan dosen tidak hanya berpacu dengan waktu, tetapi juga memahami makna terdalam di baliknya.

Dari Surah Al-‘Ashr, dari ruang kecil di Ballroom Al Munawwara, kita diingatkan bahwa waktu adalah kehidupan itu sendiri. Barang siapa yang mampu mengelola waktunya, maka ia sedang mengelola hidupnya menuju keberkahan. Dan barang siapa yang lalai terhadap waktu, sesungguhnya ia sedang kehilangan makna keberadaannya.

Dengan penuh harap, kegiatan Ngaji Rutin Kamis ini akan terus menjadi tradisi baik di lingkungan UMU Buton – tradisi yang menumbuhkan kebijaksanaan, memperkuat iman, dan membangun kesadaran bahwa setiap detik adalah kesempatan untuk menjadi lebih baik. Karena pada akhirnya, nilai sejati manusia bukan diukur dari berapa lama ia hidup, tetapi seberapa bermakna waktu yang telah ia gunakan.

 

Editor, Muh Adil UMU Buton

Tags :
Bagikan :