Dinamika kehidupan modern yang serba cepat dan kompleks, Universitas Muslim Buton terus berkomitmen menumbuhkan keseimbangan antara kecerdasan intelektual dan kecerdasan spiritual. Komitmen itu kembali diwujudkan melalui kegiatan Ngaji Rutin Kamis, sebuah tradisi yang telah menjadi bagian dari budaya akademik UMU Buton. Kegiatan ini bukan sekadar forum keagamaan, melainkan wadah refleksi, penyucian hati, dan pembelajaran nilai-nilai moral yang menjadi pondasi bagi pembentukan karakter insan akademik yang utuh. Kegiatan Merangkai Cita-Cita dari Mesjid Adalah Bagian dari program Level Up Tuesday UMU Buton yang digagas oleh Ketua Lembaga Kajian Islam dan Aswaja, Bapak Fitratun.
Kegiatan Ngaji Rutin Kamis kali ini menghadirkan Bapak La Ode Abdul Razak,S.Pd,.M.Pd Sebagai Kepala Program Studi dari Kepelatihan Pendidikan Olahraga, Fakultas Keguruan Ilmu Pendidikan, sebagai pemateri. Dengan tema yang sangat relevan, “Hubungan Kesehatan Jasmani dan Kecerdasan Spiritual ”, acara ini mengajak seluruh civitas akademika untuk merenungkan bagaimana kecerdasan spiritual sering dianggap sebagai kemampuan batin seperti mendekatkan diri kepada Tuhan, memahami makna hidup, dan memiliki ketenangan ternyata kondisi kesehatan jasmani sangat berpengaruh terhadap perkembangan kecerdasan tersebut.
Kegiatan dilaksanakan pada hari Kamis, 13 November 2025, Ba’da Dzuhur, bertempat di Ballroom Al-Munawwarah, Universitas Muslim Buton. Seperti biasa, acara diawali dengan pembacaan Surah Al-Baqoroh ayat 190 sampai 194 ayat-ayat yang sarat makna tentang kekuatan Al-Qur’an sebagai sumber petunjuk dan penjaga moral umat. Peserta diminta untuk membawa mushaf Al-Qur’an, baik dalam bentuk fisik maupun digital, agar setiap individu dapat membaca dan memahami secara langsung ayat-ayat yang dibahas.
Suasana kegiatan berlangsung penuh kekhusyukan dan kehangatan. Cahaya matahari sore menembus kaca jendela ballroom, memantul di wajah-wajah para peserta yang duduk dengan tenang dan penuh perhatian. Dari para dosen, tenaga kependidikan, hingga mahasiswa, semua tampak menyatu dalam semangat yang sama: mencari ketenangan batin dan memperkuat nilai spiritual dalam diri masing-masing.
Dalam pengantar Tausiyahnya, Bapak La Ode Abdul Razak,S.Pd,.M.Pd menjelaskan Tubuh yang sehat membantu hati dan pikiran lebih tenang Kejernihan batin sulit dicapai ketika tubuh sakit atau lemah. Rasa sakit membuat seseorang mudah stres, sulit fokus, dan emosinya tidak stabil. Ketika tubuh sehat, pikiran menjadi lebih tenang sehingga seseorang lebih mudah dengan bermeditasi, berzikir, atau berdoa, merenung, mengevaluasi diri, merasakan kedamaian batin.
Beliou menjelaskan Tubuh yang bugar mendukung disiplin dan kesadaran diri Kesehatan jasmani menuntut kedisiplinan seperti: menjaga makan, olahraga rutin, tidur teratur. Disiplin fisik ini mempengaruhi disiplin spiritual, seperti: konsisten beribadah, menjaga akhlak, mengontrol nafsu, menjaga kesadaran diri (mindfulness).
Mengutip Surah Al-ankabut ayat 190, bahwa’’ Dan perangilah di jalan Allah orang-orang yang memerangi kamu, tetapi janganlah kamu melampaui batas. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas.” Ini mengajak kita sebagai manusia , Menjaga diri dari gangguan yang merusak, Tidak melampaui batas (tidak berlebih-lebihan), Melakukan usaha untuk mempertahankan kebaikan dan keselamatan secara Kesehatan jasmanai dan keselamatan kecerdasan spiritual, setelah itu beliou menjelaskan bahwa ,menjaga kesehata dari pola makan berlebihan merusak tubuh, kurang tidur melemahkan fisik, malas bergerak menurunkan energi. Dan Semua itu akan mengganggu kecerdasan spiritual, karena tubuh yang lemah membuat ibadah kurang khusyuk, pikiran tidak fokus, hati mudah gelisah.
Dalam penjelasanya yang sederhana namun punya makna yang luas mengenai kesahatan jasmani dan spiritual dalam kehidupan sehari-hari, jika ika tubuh kuat ibadah lancar, hati lebih bersyukur, pikiran lebih jernih dalam memahami petunjuk Allah.
Dan beliou memberikan Kesimpulan Surah Al-Baqarah ayat 190 mengajarkan prinsip menjaga diri dan tidak melampaui batas. Prinsip ini sangat selaras dengan menjaga kesehatan jasmani. Tubuh yang sehat menghasilkan ketenangan batin, kekuatan ibadah, dan pemahaman spiritual yang lebih dalam. Dengan kata lain, kesehatan jasmani menjadi fondasi penting bagi berkembangnya kecerdasan spiritual.
Suasana kegiatan berlangsung penuh kekhusyukan dan kehangatan. Cahaya matahari sore menembus kaca jendela ballroom, memantul di wajah-wajah para peserta yang duduk dengan tenang dan penuh perhatian. Dari para dosen, tenaga kependidikan, hingga mahasiswa, semua tampak menyatu dalam semangat yang sama: mencari ketenangan batin dan memperkuat nilai spiritual dalam diri masing-masing. Dan ada beberapa mahasiswa yang memberikan pertanyaan yaitu Irman Sanjaya Wa ode dila Bagaimana sehingga kesehatan jasmani bisa membuat mempengaruhi kecerdasan spiritual Jawabanya: Tidak mungkin seseorang solat dalam keadaan kondisi sakit makanya perlu adanya kesehatan jasmani.






