UMU Online-Pada tanggal 20 November 2025, suasana Ballroom Al-Munawwara UMU Buton dipenuhi energi yang berbeda. Para mahasiswa duduk dengan penuh perhatian ketika Ibrahim Marsela, seorang entrepreneur yang telah melewati jatuh bangunnya dunia usaha, berdiri di depan mereka untuk berbagi pengalaman hidup dan perjalanan bisnisnya. Dalam sesi tersebut, ia tidak hanya berbicara sebagai seorang pelaku usaha, tetapi sebagai seseorang yang telah melihat betapa pentingnya perubahan pola pikir dalam membangun masa depan. Ia membuka pembahasan dengan sebuah pesan sederhana namun sangat mendasar: setiap usaha harus diawali dengan niat baik sebelum memulai apa pun. Niat adalah pondasi yang menentukan arah, keteguhan, dan cara seseorang menghadapi proses panjang dalam dunia bisnis.
Menurut Ibrahim, banyak orang gagal bukan karena kekurangan modal, tetapi karena kekurangan kemauan, ketegasan, dan kesiapan mengeksekusi. Di dunia nyata, modal sering kali bisa dicari-tetapi kemauan tidak dapat dipinjam dan eksekusi tidak dapat digantikan oleh siapa pun. Kemauan adalah energi internal yang membuat seseorang tetap bangkit meskipun usaha tidak berjalan sesuai rencana. Sementara eksekusi adalah jembatan antara ide dan kenyataan. Tanpa keduanya, modal sebesar apa pun tidak akan mampu menciptakan hasil.
Ia menekankan bahwa faktor modal bukanlah yang utama, meskipun banyak orang menjadikannya alasan untuk tidak memulai usaha. Sebagian besar usaha besar di dunia dimulai dari hal kecil, dari garasi rumah, dari meja sederhana, dari modal yang hampir tidak ada. Yang membesarkan mereka bukanlah uang, tetapi keberanian untuk memulai dan ketekunan untuk melanjutkan. Dalam konteks inilah, Ibrahim mengingatkan mahasiswa bahwa dunia usaha lebih banyak menguji mental daripada fisik. Mereka yang tahan banting akan bertahan. Mereka yang cepat menyerah akan tersisih.
Saat berbagi kisahnya, ia mengajak mahasiswa untuk melihat dunia usaha dengan sudut pandang yang lebih realistis sekaligus optimis. Dalam bisnis, kata Ibrahim, seseorang harus fokus pada solusi, bukan pada masalah. Karena masalah adalah bagian dari hidup yang tidak dapat dihilangkan, tetapi dapat dihadapi dengan cara yang lebih cerdas. Ia menyampaikan bahwa orang yang hanya melihat masalah akan kehilangan peluang, sementara orang yang fokus pada solusi akan menemukan jalan baru bahkan di tengah situasi yang sulit. Pola pikir seperti inilah yang membuat seorang entrepreneur mampu bertahan, berkembang, dan membaca peluang yang sering tidak terlihat oleh kebanyakan orang.
Ibrahim kemudian menyinggung pentingnya kemampuan untuk memahami potensi usaha di sekitar kita. Menurutnya, Indonesia adalah negara yang sangat kaya, tidak hanya dari sisi sumber daya alam, tetapi juga dari sisi pasar dan kebutuhan masyarakat. Kesempatan selalu ada, hanya saja banyak orang gagal melihatnya karena terlalu fokus pada keterbatasan. Ia mencontohkan bahwa bisnis-bisnis sederhana justru sering menjadi fondasi ekonomi masyarakat: usaha kecil, kuliner, jasa, hingga digital. Dunia sedang berubah, tetapi peluang selalu tersedia bagi mereka yang mau membuka mata dan menggerakkan tangan.
Para mahasiswa diajak untuk melihat fenomena ini bukan dengan cara romantis, tetapi dengan cara realistis. Dunia usaha bukan tempat untuk orang yang mudah mengeluh, kata Ibrahim, tetapi tempat bagi mereka yang berani mengambil keputusan meski belum sepenuhnya siap. Karena dalam bisnis, kesempurnaan bukanlah syarat untuk memulai. Yang penting adalah memulai terlebih dahulu, kemudian memperbaiki sambil berjalan. Banyak orang yang menunggu keadaan sempurna, tetapi keadaan sempurna itu tidak pernah datang. Justru proses itulah yang membuat seseorang lebih matang, lebih kuat, dan lebih bijak dalam melangkah.
Di tengah penyampaian materinya, Ibrahim mengangkat fakta menarik dan penting: Indonesia baru bisa keluar dari keterpurukan ekonomi jika memiliki minimal 4% entrepreneur dari total penduduknya. Saat ini, Indonesia masih berada jauh di bawah negara-negara maju dari sisi jumlah entrepreneur. Negara-negara besar memiliki budaya inovasi dan keberanian untuk membuka usaha sejak dini, sementara Indonesia masih tertahan oleh pola pikir takut gagal dan menganggap usaha sebagai risiko besar. Padahal, tidak semua usaha harus dimulai dari sesuatu yang besar. Yang penting adalah kontribusi yang terus bertumbuh. Satu usaha kecil mungkin tampak sepele, tetapi jika dilakukan oleh ribuan bahkan jutaan orang, dampaknya menjadi luar biasa terhadap bangsa.
Menurut Ibrahim, mahasiswa adalah generasi yang paling memiliki peluang untuk mengangkat angka entrepreneur nasional ini. Mereka memiliki pengetahuan, akses teknologi, kreativitas, dan semangat yang belum terkikis oleh rutinitas kehidupan. Dunia digital telah membuka jalan baru yang tidak memerlukan modal besar, seperti usaha berbasis konten, pemasaran digital, bisnis jasa, dan berbagai model usaha lain yang tidak mengharuskan seseorang memiliki toko fisik. Mahasiswa hanya perlu keberanian untuk memanfaatkan peluang tersebut.
Dalam narasinya, ia juga menyoroti sisi filosofis dari dunia usaha. Bahwa setiap usaha pada dasarnya adalah perjalanan menemukan diri. Dalam proses membangun bisnis, seseorang belajar tentang kesabaran, kegigihan, hubungan manusia, emosi, strategi, dan pengendalian diri. Banyak orang tidak menyadari bahwa dunia bisnis adalah guru besar yang mengajarkan banyak hal yang tidak diajarkan di kelas. Bisnis mengajarkan bagaimana menghadapi penolakan, bagaimana merespon kegagalan, bagaimana memahami karakter orang lain, dan bagaimana menjaga integritas di tengah persaingan. Semua ini adalah pelajaran hidup yang sangat berharga.
Dari sini, ia mengajak mahasiswa untuk melihat bahwa bisnis bukan hanya cara mencari uang, tetapi cara memperbaiki diri. Seseorang yang belajar bertahan dalam usaha akan belajar bertahan dalam hidup. Seseorang yang belajar menyelesaikan masalah dalam bisnis akan lebih siap menyelesaikan masalah dalam kehidupannya nanti. Karena kehidupan dan usaha adalah dua ruang yang saling melengkapi; keduanya membutuhkan keberanian, strategi, dan ketabahan.
Ibrahim juga menekankan bahwa Indonesia memiliki potensi yang besar untuk bangkit menjadi negara maju jika generasi mudanya mau mengubah cara berpikir. Ia menegaskan bahwa perubahan bangsa tidak datang dari pemerintah saja, tetapi dari masyarakat yang mau mengambil peran melalui usaha dan inovasi. Entrepreneur adalah lokomotif perubahan. Mereka mendorong terciptanya lapangan pekerjaan, meningkatkan kualitas hidup masyarakat, dan menjadi pusat inovasi. Oleh karena itu, membentuk mindset entrepreneur pada mahasiswa bukan hanya kepentingan individu, tetapi kepentingan nasional.
Pada akhir sesinya, Ibrahim menyampaikan pesan yang sangat menyentuh: bahwa setiap perjalanan usaha akan penuh tantangan, tetapi tantangan itu bukan untuk ditakuti, melainkan untuk dihadapi dengan keberanian. Ia mengajak mahasiswa untuk tidak hanya menjadi penonton dalam kehidupan, tetapi menjadi pemain yang aktif membangun masa depan mereka sendiri. Karena masa depan tidak diberikan, tetapi dibangun. Dan membangun masa depan selalu dimulai dari langkah pertama, sekecil apa pun langkah itu.
Ia menutup dengan mengingatkan bahwa Indonesia membutuhkan 4% entrepreneur untuk bangkit, dan mungkin beberapa di antara mahasiswa yang hadir sore itu akan menjadi bagian dari angka penting tersebut. Mereka yang berani memulai, berani gagal, dan berani bangkit lagi.
Editor UMU Buton, Muh Adil
