ar
en
id

Bahasa:

LEADER FORUM: MEMBANGUN INTEGRITAS MENUJU BUDAYA KERJA BERKEMAJUAN

UMU Online-Pada tanggal 20 November 2025, suasana Ballroom Al-Munawwara UMU Buton dipenuhi energi yang berbeda. Leader Forum UMU Buton pada sore hari itu menghadirkan suasana yang berbeda. Ballroom Al-Munawwara dipenuhi dosen, dan para unsur pimpinan yang hadir untuk mengikuti sesi bersama Ibrahim Marsela, yang bertindak sebagai narasumber utama. Dengan pengalaman panjang di dunia kepemimpinan, pendidikan, dan pengembangan institusi, Ibrahim Marsela membahas tema besar yang sangat fundamental bagi masa depan UMU Buton, yaitu nilai, budaya kerja, tata kelola, dan tata pamong. Topik ini bukan sekadar wawasan teknis, tetapi fondasi jangka panjang yang menentukan arah gerak dan kualitas sebuah institusi pendidikan tinggi.

Dalam penyampaiannya, Ibrahim memulai dengan menggambarkan nilai dan budaya kerja sebagai akar yang menopang seluruh struktur universitas. Sebuah kampus, katanya, tidak akan pernah maju hanya karena bangunan yang megah atau jumlah mahasiswa yang banyak. Ia akan maju ketika nilai-nilai yang hidup di dalamnya tumbuh kuat, konsisten, dan tercermin dalam perilaku seluruh civitas academica-mulai dari pimpinan, dosen, tenaga kependidikan, sampai mahasiswa. Nilai bukan sekadar tulisan dalam dokumen, tetapi karakter dan kebiasaan yang dibangun setiap hari.

Nilai pertama yang ia bahas adalah integritas akademik. Menurutnya, integritas adalah napas bagi dunia pendidikan. Tanpa integritas, maka ilmu kehilangan maknanya, prestasi kehilangan harganya, dan lembaga kehilangan kepercayaan publik. Ibrahim menjelaskan bahwa integritas bukan hanya soal jujur saat ujian atau tidak melakukan plagiarisme. Integritas juga tentang bagaimana seseorang memegang komitmen, menghargai proses, bersikap konsisten, dan menjaga nama baik institusi dalam berbagai kondisi. Dunia nyata, katanya, menunjukkan bahwa orang berintegritas akan selalu dibutuhkan, bahkan lebih bernilai dibanding sekadar kecerdasan tanpa moral.

Nilai kedua yang ia sampaikan adalah profesionalitas dan disiplin kerja. Dalam dunia modern yang serba cepat, orang yang disiplin akan selalu berada satu langkah lebih maju daripada mereka yang serba menunda. Disiplin adalah pondasi ketepatan, kinerja tinggi, dan karakter kerja yang bertanggung jawab. Ibrahim mengingatkan bahwa profesionalitas tidak hanya dimiliki oleh dosen atau pimpinan, tetapi harus menjadi karakter semua orang di kampus. Profesional adalah mereka yang bekerja bukan karena diawasi, tetapi karena sadar akan tanggung jawab moralnya.

Selanjutnya ia menekankan pentingnya kolaborasi dan kerja sama akademik. Dunia saat ini tidak lagi memberi ruang bagi individu yang berjalan sendiri. Kesuksesan besar lahir dari kolaborasi-baik antarprodi, antarbidang ilmu, maupun antar institusi. Kolaborasi membuka inovasi, memperluas perspektif, dan memperkaya pengalaman akademik. Ia menegaskan bahwa UMU Buton harus menjadi rumah bagi budaya kolaboratif, tempat para sivitas akademika saling mendukung, bukan saling menjatuhkan; saling menguatkan, bukan saling bersaing secara destruktif.

Dalam forum tersebut, Ibrahim juga membahas konsep budaya mutu atau quality culture. Menurutnya, budaya mutu bukan hanya standar yang ditulis, tetapi kebiasaan yang dijalankan. Institusi yang maju adalah institusi yang menanamkan kecintaan terhadap kualitas: kualitas pengajaran, kualitas layanan, kualitas penelitian, dan kualitas pengalaman mahasiswa. Dunia nyata menunjukkan bahwa organisasi yang bertahan bukan yang besar, tetapi yang konsisten meningkatkan kualitasnya dari waktu ke waktu.

Ia kemudian mengaitkan nilai mutu dengan pentingnya adaptif dan inovatif. Dunia berubah cepat-teknologi berubah, cara belajar berubah, cara bekerja berubah. Jika universitas tidak adaptif, maka ia hanya akan berjalan di tempat sementara dunia bergerak jauh di depan. Jadi, adaptasi bukan pilihan, melainkan keharusan. Inovasi bukan sekadar kreativitas, tetapi keberanian mencoba hal baru, memperbaiki sistem, dan memanfaatkan teknologi untuk mempercepat pelayanan akademik.

Poin penting lain yang ia angkat adalah pelayanan prima atau service excellence. Di era modern, kampus bukan hanya pusat pendidikan, tetapi juga penyedia layanan. Mahasiswa adalah pengguna layanan akademik, yang harus dilayani dengan profesional, ramah, cepat, dan tepat. Pelayanan prima menciptakan pengalaman positif, menumbuhkan rasa memiliki, dan memperkuat citra institusi. Menurut Ibrahim, pelayanan prima lahir dari hati yang tulus dan kesadaran bahwa setiap orang berhak mendapatkan yang terbaik.

Forum itu juga membahas kepemimpinan, sebuah nilai penting yang menjadi motor pergerakan institusi. Kepemimpinan bukan hanya jabatan, tetapi kemampuan mempengaruhi, menginspirasi, dan membuka ruang bagi orang lain untuk berkembang. Pemimpin sejati bukan yang berdiri paling depan, tetapi yang memastikan semua orang bergerak bersama. Ibrahim mengingatkan bahwa kepemimpinan yang kuat harus lahir dari karakter, bukan sekadar otoritas.

Nilai terakhir yang ia bahas adalah budaya saling menghargai dan humanis. Dalam komunitas akademik, penghargaan terhadap sesama adalah energi yang menciptakan lingkungan sehat. Universitas adalah ruang perbedaan, tempat gagasan bertemu dan berkembang. Oleh karena itu, sikap menghargai-baik kepada dosen, staf, maupun mahasiswa-menjadi pilar penting dalam menjaga harmoni akademik.

Setelah membahas nilai dan budaya kerja, Ibrahim beralih ke tema besar kedua: tata kelola dan tata pamong. Ia menjelaskan bahwa sebuah institusi tidak akan berjalan baik tanpa struktur, sistem, dan mekanisme pengelolaan yang jelas. Tata kelola bukan hanya aturan, tetapi kerangka kerja yang memastikan universitas bergerak dengan arah yang tepat dan efisien. Sistem tata pamong yang baik menciptakan transparansi, akuntabilitas, dan keadilan.

Ia memulai dari struktur organisasi dan pembagian peran. Menurutnya, struktur yang jelas akan menciptakan aliran kerja yang rapi dan menghindari tumpang tindih tanggung jawab. Setiap orang harus tahu perannya, wewenangnya, dan batasnya, sehingga koordinasi berjalan efektif. Dalam dunia kerja nyata, struktur yang baik adalah faktor penting yang menentukan kecepatan dan kualitas pengambilan keputusan.

Selanjutnya ia membahas penguatan kebijakan dan standar operasional. Kebijakan yang kuat memberikan arah, sedangkan SOP memberikan konsistensi. Tanpa SOP, pelayanan tidak stabil. Tanpa kebijakan, organisasi tidak memiliki kompas. Ibrahim menjelaskan bahwa kebijakan dan SOP bukan sekadar dokumen administratif, tetapi alat untuk menegakkan kualitas dan disiplin organisasi. Jika dijalankan dengan benar, keduanya menciptakan budaya kerja yang tertata dan profesional.

Ia juga menyoroti pentingnya budaya kerja, etika, dan mekanisme pengawasan dalam tata kelola. Pengawasan bukan untuk mencari kesalahan, tetapi untuk menjaga kualitas. Etika bukan untuk membatasi, tetapi untuk menjaga martabat profesional. Dunia nyata menunjukkan bahwa organisasi yang tanpa etika akan jatuh meskipun kuat, sedangkan organisasi yang berpegang pada etika akan tumbuh meskipun kecil.

Dalam penutupnya, Ibrahim menyampaikan pesan yang sangat filosofis namun sederhana: bahwa nilai, budaya kerja, tata kelola, dan tata pamong adalah empat pilar yang tidak boleh dipisahkan. Institusi yang kuat dibangun dari manusia yang kuat. Manusia yang kuat lahir dari nilai yang kuat. Dan nilai yang kuat akan membentuk budaya yang kuat. Jika seluruh elemen UMU Buton berjalan dengan nilai yang sama, budaya yang sama, dan tata kelola yang rapi, maka UMU Buton tidak hanya akan berkembang-tetapi akan menjadi institusi yang dihormati, dipercaya, dan menjadi kebanggaan daerah.

Lebih dari itu, ia menegaskan bahwa perubahan institusi dimulai dari perubahan individu. Dari cara seseorang bekerja, berpikir, dan bersikap. Dari komitmen kecil yang dilakukan setiap hari. Karena pada akhirnya, kemajuan bukanlah hasil dari satu langkah besar, tetapi akumulasi dari ribuan langkah konsisten yang dilakukan oleh banyak orang dalam waktu yang panjang.

Editor UMU Buton, Muh Adil

Tags :
Bagikan :