UMU Online — Momentum Wisuda dan Pelantikan Sarjana Universitas Muslim (UMU) Buton Angkatan III Tahun 2025 menjadi lebih bermakna dengan kehadiran Prof. Nasir Hamzah, S.E., M.Si. Dalam orasi ilmiahnya, Guru Besar tersebut menyuntikkan semangat baru bagi civitas akademika khususnya para wisudawan dan wisudawati yang akan segera memasuki dunia kerja dan pengabdian masyarakat.
Di hadapan sivitas UMU Buton dan para tamu undangan, Prof. Nasir Hamzah menegaskan bahwa perguruan tinggi tidak lagi cukup dinilai dari sekadar mencetak lulusan saja. Menurutnya, UMU Buton harus dan mampu bertransformasi menjadi pusat ilmu pengetahuan sekaligus penggerak ekonomi daerah. Kampus memiliki peran strategis untuk mengukur dan menghadirkan dampak ekonomi secara objektif mulai dari multiplier effect, kontribusi terhadap Produk Domestik Regional Bruto (PDRB), penciptaan UMKM baru, hingga pengembangan ekosistem kewirausahaan yang berkelanjutan.
“UMU Buton adalah pusat ilmu yang dapat mengukur nilai ekonomi dari aktivitas kampus secara nyata. Kampus ini melahirkan lulusan yang menjadi penggerak ekonomi mulai dari analis data, wirausaha, manajer, pejabat publik, ekonom, hingga pemimpin lembaga. Kontribusi kampus terhadap evidence-based policy adalah dimensi penting dari dampak sosial perguruan tinggi,” tegas Prof. Nasir Hamzah.
Prof. Nasir Hamzah menyoroti pergeseran paradigma penilaian perguruan tinggi. Selama bertahun-tahun, keberhasilan universitas kerap diukur melalui akreditasi, jumlah publikasi, atau banyaknya lulusan. Namun, tuntutan zaman berubah. Masyarakat kini menagih jawaban yang lebih substansial yaitu apa dampak nyata kampus bagi ekonomi, sosial, dan lingkungan?
Melalui kegiatan pendidikan, penelitian, kewirausahaan, dan tata kelola institusi, perguruan tinggi diyakini mampu menciptakan multiplier effects yang signifikan bagi perekonomian nasional. Bahkan jika dihitung secara agregat, kontribusi ekonomi perguruan tinggi dapat mencapai ratusan triliun rupiah sekitar Rp.350 trilun termasuk dari SPP dan pengeluaran mahasiswa, serta gaji dosen dan tenaga kependidikan.
Prof. Nasir Hamzah menggarisbawahi tiga pilar utama perguruan tinggi berdampak terdiri atas 3 yaitu talenta, inovasi, dan kontribusi.
Pertama aspek talenta unggul, dimana kampus harus melahirkan lulusan yang tidak hanya cepat lulus, tetapi juga cepat terserap di dunia kerja atau mampu menciptakan lapangan kerja. Indikator tracer study kini menilai masa tunggu kerja, tingkat gaji di atas Upah Minimum Provinsi (UMP), kemampuan global, hingga pengalaman internasional, semuanya menuntut kapabilitas dunia nyata.
Kedua, inovasi yang relevan dan terhilirisasi. Riset tidak boleh berhenti di jurnal ilmiah, tetapi harus aplikatif dan digunakan oleh industri atau pemerintah, serta memberi manfaat atau dampak langsung bagi masyarakat. Indikator kinerja utama (IKU) pun mengukur publikasi bereputasi, kolaborasi riset dengan industri dan pemerintah, serta hilirisasi yang menciptakan lapangan kerja baru. “Riset harus menjadi solusi, bukan sekadar koleksi dokumen,” tegasnya.
Ketiga, kontribusi sosial, ekonomi, dan lingkungan berkelanjutan. Perguruan tinggi harus hadir dalam agenda pembangunan nasional mulai dari pengentasan kemiskinan (SDG 1), pendidikan inklusif (SDG 4), hingga penguatan kemitraan (SDG 17). Dampak lingkungan juga menjadi perhatian penting, mencakup efisiensi energi, pengelolaan sampah, transportasi hijau, dan konservasi biodiversitas.
Prof. Nasir Hamzah secara jujur mengakui masih adanya jarak antara dunia akademik dan kebutuhan riil masyarakat. Banyak penelitian belum dimanfaatkan, dan tidak semua lulusan relevan dengan kebutuhan industri. Karena itu, ia menekankan pentingnya ekosistem pentahelix yaitu kolaborasi antara kampus, pemerintah, industri, masyarakat, dan media untuk menciptakan inovasi yang benar-benar berdampak.
Inilah momen bagi UMU Buton untuk membuka pintu lebih lebar, bermitra lebih strategis, dan bergerak lebih cepat, pungkasnya.
Orasi ilmiah tersebut tidak hanya menjadi pesan inspiratif bagi para wisudawan, tetapi juga menjadi penanda arah baru UMU Buton sebagai kampus yang berdampak, berdaya saing, dan berkontribusi nyata bagi kemajuan daerah dan bangsa.
