ar
en
id

Bahasa:

BELAJAR JUJUR DARI MATEMATIKA, MENEGUHKAN KETAATAN DARI ANGKA.

UMU Online-Kamis, 15 Januari 2026, Universitas Muslim Buton terus menegaskan posisinya sebagai institusi pendidikan tinggi yang memadukan keunggulan akademik dengan penguatan nilai keislaman, moral, dan akhlak. Di tengah dinamika zaman yang ditandai oleh percepatan teknologi, kompleksitas persoalan sosial, dan tantangan etika dalam dunia pendidikan, UMU Buton memilih untuk tetap berpijak pada fondasi nilai yang kokoh. Salah satu wujud nyata dari komitmen tersebut adalah penyelenggaraan Kajian Rutin Kamis oleh Lembaga Kajian Islam dan Aswaja Universitas Muslim Buton.

Kajian ini bukan sekadar agenda keagamaan rutin, melainkan bagian integral dari visi besar universitas dalam membangun insan akademik yang bertakwa, berintegritas, dan memiliki kesadaran moral yang kuat. Melalui ruang kajian yang berlangsung di Masjid Baitul Hikmah Universitas Muslim Buton, kampus menghadirkan atmosfer reflektif yang menyatukan ilmu, iman, dan kehidupan nyata. Masjid tidak hanya menjadi tempat ibadah ritual, tetapi juga pusat pembinaan karakter, pusat pemikiran, dan ruang perjumpaan nilai antara keilmuan dan spiritualitas.

Kajian Rutin Kamis kali ini diawali dengan pembacaan Surah Al-Zalzalah, sebuah surah pendek yang sarat makna tentang keadilan Ilahi dan pertanggungjawaban manusia atas setiap perbuatan. Ayat-ayatnya mengingatkan bahwa tidak ada amal yang luput dari perhitungan, sekecil apa pun kebaikan atau keburukan yang dilakukan. Pembukaan ini menjadi fondasi spiritual yang kuat sebelum memasuki kajian utama, sekaligus menjadi refleksi mendalam bagi civitas akademika tentang makna kejujuran, tanggung jawab, dan kesadaran diri dalam kehidupan akademik maupun sosial.

Mengangkat tema “Belajar Jujur dari Matematika, Belajar Taat dari Angka”, kajian ini menawarkan perspektif yang unik dan kontekstual. Matematika, yang selama ini sering dipersepsikan sebagai ilmu yang kaku dan abstrak, justru dihadirkan sebagai cermin nilai kehidupan. Dalam matematika, kejujuran menjadi prinsip dasar. Satu kesalahan kecil dalam logika atau perhitungan dapat mengubah keseluruhan hasil. Tidak ada ruang untuk manipulasi, tidak ada toleransi terhadap ketidakakuratan. Semua tunduk pada hukum yang pasti dan konsisten. Nilai-nilai inilah yang kemudian ditarik sebagai pelajaran moral dan spiritual bagi manusia.

Melalui pendekatan ini, kajian menegaskan bahwa ilmu pengetahuan tidak pernah netral dari nilai. Setiap disiplin ilmu, termasuk matematika, menyimpan pesan etis yang relevan dengan kehidupan. Angka-angka mengajarkan ketaatan terhadap aturan, keteraturan dalam berpikir, dan konsistensi dalam bertindak. Kejujuran dalam matematika sejalan dengan kejujuran dalam kehidupan, sementara ketaatan pada aturan angka mencerminkan ketaatan manusia terhadap hukum Allah dan norma sosial.

Kajian ini disampaikan oleh Irawati Windani, S.Pd., M.Pd., dosen Program Studi Pendidikan Matematika Universitas Muslim Buton. Dengan latar belakang akademik yang kuat dan pengalaman dalam dunia pendidikan, pemateri mengajak peserta kajian untuk memandang ilmu sebagai jalan pembentukan karakter. Matematika tidak hanya diajarkan untuk melatih kecerdasan kognitif, tetapi juga untuk membentuk sikap jujur, disiplin, dan bertanggung jawab. Nilai-nilai ini sangat relevan dengan dunia akademik, di mana integritas ilmiah menjadi fondasi utama dalam proses belajar, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat.

Dalam konteks pendidikan tinggi, kejujuran akademik merupakan isu yang sangat penting. Plagiarisme, manipulasi data, dan ketidakjujuran dalam evaluasi akademik menjadi tantangan serius di berbagai institusi pendidikan. Melalui kajian ini, UMU Buton menegaskan bahwa pembinaan nilai kejujuran tidak cukup hanya melalui aturan administratif, tetapi harus ditanamkan melalui kesadaran spiritual dan refleksi moral yang mendalam. Masjid kampus menjadi ruang strategis untuk menumbuhkan kesadaran tersebut.

Kajian Rutin Kamis ini juga merupakan bagian dari Program Level Up Tuesday, sebuah payung besar pembinaan karakter dan kapasitas civitas akademika Universitas Muslim Buton. Program ini dirancang untuk mendorong peningkatan kualitas diri secara berkelanjutan, tidak hanya dalam aspek akademik, tetapi juga dalam aspek spiritual, etika, dan kepemimpinan. Di bawah tanggung jawab utama Kantor Lembaga Kajian Islam dan Aswaja (LKI-Aswaja) UMU Buton, program ini dirangkai secara sistematis agar selaras dengan visi dan misi universitas.

Lebih jauh, kajian ini terintegrasi dalam gerakan Merangkai Cita-cita dari Masjid (MCM), sebuah gagasan besar yang menempatkan masjid sebagai pusat peradaban kampus. Dari masjid, nilai-nilai keislaman dirawat, gagasan-gagasan besar dirumuskan, dan karakter insan akademik dibentuk. Masjid tidak hanya menjadi simbol religius, tetapi juga simbol intelektual dan moral kampus. Di sinilah UMU Buton menegaskan identitasnya sebagai universitas yang memadukan tradisi keilmuan modern dengan nilai-nilai Islam Ahlussunnah wal Jamaah.

Penyelenggaraan kajian ini terbuka bagi seluruh civitas akademika Universitas Muslim Buton. Kehadiran dosen, tenaga kependidikan, dan mahasiswa dalam satu ruang kajian mencerminkan semangat kebersamaan dan kesetaraan dalam menuntut ilmu dan memperbaiki diri. Tidak ada sekat hierarki dalam ruang kajian, yang ada adalah perjumpaan hati dan pikiran dalam rangka mencari hikmah dan kebenaran.

Melalui Kajian Rutin Kamis, Universitas Muslim Buton ingin menegaskan bahwa pendidikan sejati adalah proses yang holistik. Pendidikan tidak hanya menghasilkan lulusan yang cerdas secara intelektual, tetapi juga manusia yang jujur, taat, dan berakhlak mulia. Ilmu tanpa nilai akan kehilangan arah, sementara nilai tanpa ilmu akan kehilangan daya. Oleh karena itu, integrasi antara ilmu pengetahuan dan nilai keislaman menjadi ciri khas dan kekuatan UMU Buton.

Kajian ini diharapkan dapat menjadi ruang refleksi yang berkelanjutan bagi civitas akademika, agar setiap aktivitas akademik senantiasa dilandasi oleh kejujuran dan ketaatan. Dari cara berpikir, cara belajar, hingga cara berinteraksi dalam kehidupan kampus dan masyarakat, nilai-nilai tersebut diharapkan tumbuh menjadi budaya bersama. Budaya akademik yang berintegritas inilah yang akan menjadi modal utama dalam membangun reputasi dan kontribusi Universitas Muslim Buton di tingkat regional maupun nasional.

Pada akhirnya, Kajian Rutin Kamis bukan hanya tentang mendengarkan ceramah, tetapi tentang menata ulang orientasi hidup. Tentang bagaimana ilmu yang dipelajari di ruang kelas dapat menjadi jalan mendekatkan diri kepada Allah SWT. Tentang bagaimana angka dan logika dapat mengajarkan kejujuran dan ketaatan. Dan tentang bagaimana masjid kampus dapat menjadi pusat lahirnya insan akademik yang unggul, berkarakter, dan berdaya guna bagi umat dan bangsa.

Dari Masjid Baitul Hikmah, Universitas Muslim Buton terus merangkai cita-cita besar. Cita-cita tentang kampus yang tidak hanya melahirkan sarjana, tetapi juga melahirkan manusia-manusia berintegritas. Cita-cita tentang pendidikan yang tidak hanya mencerdaskan akal, tetapi juga menenangkan hati dan membimbing perilaku. Inilah ikhtiar UMU Buton dalam membangun masa depan, dengan menjadikan kejujuran dan ketaatan sebagai fondasi utama perjalanan akademik dan kehidupan.

Editor, UMU Buton
Muh Adil

Tags :
Bagikan :