ar
en
id

Bahasa:

GUNUNG SEBAGAI PASAK BUMI

UMU Online-Kamis, 29 Januari 2026 Universitas Muslim Buton kembali meneguhkan komitmennya dalam membangun ekosistem akademik yang tidak hanya unggul secara intelektual, tetapi juga kokoh secara spiritual dan moral. Melalui program Ngaji Rutin Kamis yang digagas oleh Lembaga Kajian Islam dan Aswaja (LKIA) Universitas Muslim Buton, kampus menghadirkan ruang refleksi keislaman yang menautkan ilmu pengetahuan, ayat-ayat Al-Qur’an, dan realitas kehidupan secara utuh dan bermakna.

Ngaji Rutin Kamis bukan sekadar agenda keagamaan rutin, melainkan bagian dari ikhtiar strategis universitas dalam membentuk insan akademik yang bertakwa, berkarakter, dan memiliki kesadaran nilai yang kuat. Bertempat di Masjid Baitul Hikmah Universitas Muslim Buton, kajian ini menjadikan masjid kampus sebagai pusat pembinaan spiritual dan intelektual, sekaligus ruang dialog antara wahyu dan ilmu pengetahuan.

Kajian kali ini diawali dengan pembacaan Al-Qur’an Surah An-Naba ayat 1 hingga 10. Ayat-ayat tersebut mengajak manusia untuk merenungi tanda-tanda kebesaran Allah yang terbentang di alam semesta. Surah An-Naba dikenal sebagai surah yang menggugah kesadaran manusia tentang hakikat kehidupan, kekuasaan Allah, dan kepastian hari kebangkitan. Pada ayat-ayat awalnya, Allah mengarahkan perhatian manusia kepada fenomena alam, termasuk gunung-gunung yang ditegaskan sebagai pasak bumi, sebuah metafora kosmik yang sarat makna teologis dan ilmiah.

Mengangkat tema “Gunung sebagai Pasak Bumi”, kajian ini mengajak civitas akademika Universitas Muslim Buton untuk melihat alam bukan sekadar objek fisik, tetapi sebagai ayat-ayat kauniyah yang menyimpan pesan keimanan. Gunung dalam Al-Qur’an digambarkan sebagai penyangga bumi, penstabil yang menjaga keseimbangan agar kehidupan dapat berlangsung. Gambaran ini tidak hanya bernilai simbolik, tetapi juga membuka ruang dialog antara Al-Qur’an dan sains modern, yang menemukan bahwa struktur pegunungan memiliki peran penting dalam kestabilan kerak bumi.

Kajian ini disampaikan oleh Jaelani, S.Pd., M.Pd, seorang akademisi yang dikenal aktif dalam penguatan integrasi keilmuan dan nilai keislaman di lingkungan Universitas Muslim Buton. Melalui penyampaiannya, peserta kajian diajak untuk memahami bahwa Al-Qur’an tidak pernah bertentangan dengan ilmu pengetahuan, justru mendorong manusia untuk berpikir, meneliti, dan merenungi ciptaan Allah sebagai jalan menuju penguatan iman.

Dalam kajian tersebut ditegaskan bahwa gunung sebagai pasak bumi bukan hanya fenomena geologis, tetapi juga pelajaran spiritual. Sebagaimana gunung yang berfungsi menjaga keseimbangan bumi, manusia pun dituntut untuk memiliki prinsip dan nilai yang kokoh agar tidak mudah goyah oleh godaan zaman. Keteguhan iman, kejujuran dalam bersikap, serta konsistensi dalam menjalankan nilai moral menjadi “pasak” yang menstabilkan kehidupan pribadi maupun kehidupan akademik.

Bagi civitas akademika, pesan ini memiliki relevansi yang sangat kuat. Dunia akademik adalah ruang yang penuh dinamika, kompetisi, dan tantangan. Tanpa fondasi nilai yang kuat, kecerdasan intelektual dapat kehilangan arah. Melalui kajian ini, Universitas Muslim Buton menegaskan bahwa ilmu harus disertai dengan iman, dan kecakapan akademik harus berjalan seiring dengan kematangan spiritual.

Ngaji Rutin Kamis ini merupakan bagian dari Visi Besar Universitas Muslim Buton dalam membangun insan akademik yang bertakwa dan memegang teguh akhlak serta nilai moral. Pendidikan tinggi, dalam pandangan UMU Buton, bukan hanya proses transfer ilmu, tetapi juga proses pembentukan karakter dan kesadaran nilai. Oleh karena itu, kegiatan-kegiatan keislaman seperti kajian Al-Qur’an ditempatkan sebagai elemen penting dalam ekosistem pendidikan kampus.

Program ini dikemas di bawah naungan Level Up Tuesday, sebuah kerangka besar pengembangan kapasitas dan kualitas diri civitas akademika Universitas Muslim Buton. Level Up Tuesday dirancang untuk mendorong peningkatan berkelanjutan, tidak hanya dalam aspek akademik, tetapi juga dalam aspek spiritual, etika, dan kepemimpinan. Di bawah tanggung jawab utama Kantor Lembaga Kajian Islam dan Aswaja (LKI-Aswaja) UMU Buton, program ini dirancang secara terarah dan berkesinambungan.

Lebih jauh, Ngaji Rutin Kamis juga menjadi bagian dari gerakan Merangkai Cita-cita dari Masjid (MCM). Gerakan ini menempatkan masjid kampus sebagai pusat peradaban, tempat lahirnya gagasan, nilai, dan karakter. Dari masjid, civitas akademika diajak untuk menata orientasi hidup, memperkuat hubungan dengan Allah, dan menumbuhkan kepedulian terhadap sesama dan lingkungan.

Melalui tema tentang gunung, kajian ini juga mengajak peserta untuk menumbuhkan kesadaran ekologis. Alam bukanlah objek eksploitasi semata, tetapi amanah yang harus dijaga. Gunung, laut, hutan, dan seluruh ciptaan Allah memiliki fungsi dan keseimbangan yang saling terkait. Merusak alam berarti merusak tatanan yang telah Allah tetapkan. Kesadaran ini sangat relevan dengan tantangan lingkungan global yang dihadapi saat ini, termasuk perubahan iklim dan kerusakan ekosistem.

Kehadiran civitas akademika dalam Ngaji Rutin Kamis mencerminkan semangat kebersamaan dalam menuntut ilmu dan memperbaiki diri. Dosen, tenaga kependidikan, dan mahasiswa duduk bersama dalam satu majelis ilmu, tanpa sekat hierarki, dengan tujuan yang sama: mencari hikmah dan mendekatkan diri kepada Allah SWT. Suasana inilah yang ingin terus dirawat oleh Universitas Muslim Buton sebagai bagian dari budaya akademik yang religius dan humanis.

Ngaji Rutin Kamis di Masjid Baitul Hikmah Universitas Muslim Buton bukanlah kegiatan yang berdiri sendiri, melainkan bagian dari perjalanan panjang universitas dalam membangun identitas kampus Islami yang berorientasi pada masa depan. Kampus tidak hanya diposisikan sebagai ruang belajar formal, tetapi sebagai ruang pembentukan manusia seutuhnya, yang mampu membaca ayat-ayat Allah baik yang tertulis dalam Al-Qur’an maupun yang terbentang di alam semesta.

Melalui kajian bertema “Gunung sebagai Pasak Bumi”, Universitas Muslim Buton mengajak seluruh civitas akademika untuk meneladani keteguhan gunung dalam menjaga keseimbangan. Keteguhan dalam iman, konsistensi dalam nilai, dan komitmen dalam menjalankan amanah akademik menjadi pesan utama yang ingin disampaikan. Dari masjid kampus, nilai-nilai tersebut diharapkan tumbuh menjadi karakter kolektif yang menguatkan jati diri UMU Buton.

Dengan terus menghidupkan kajian keislaman yang kontekstual dan reflektif, Universitas Muslim Buton menegaskan posisinya sebagai perguruan tinggi yang tidak hanya mencetak lulusan berilmu, tetapi juga melahirkan insan akademik yang berakhlak, bertakwa, dan memiliki kesadaran kosmik tentang peran manusia sebagai khalifah di bumi. Inilah ikhtiar UMU Buton dalam merangkai cita-cita besar pendidikan, dimulai dari masjid, untuk masa depan umat, bangsa, dan peradaban.

Editor, UMU Buton
Muh Adil

Tags :
Bagikan :