Kajian Islam dan Aswaja UMU Buton Bahas Deforestasi dan Pemanasan Global, Teguhkan Peran Muslim sebagai Khalifah Penjaga Bumi

Kajian Islam dan Aswaja UMU Buton Bahas Deforestasi dan Pemanasan Global, Teguhkan Peran Muslim sebagai Khalifah Penjaga Bumi

UMU Online – Baubau, 2 Juli 2026.  Kepedulian terhadap krisis lingkungan hidup tidak lagi hanya menjadi agenda para ilmuwan, pemerintah, maupun organisasi internasional, tetapi juga merupakan bagian integral dari tanggung jawab keagamaan. Berangkat dari kesadaran tersebut, Lembaga Kajian Islam dan Aswaja Universitas Muslim Buton (UMU Buton) kembali menyelenggarakan Kajian Rutin Kamis dengan mengangkat tema “Deforestasi dan Pemanasan Global: Di Mana Posisi Kita sebagai Muslim?” yang berlangsung di Ballroom Al-Munawwara Universitas Muslim Buton, Kamis (2/7/2026).

Kegiatan ilmiah-keagamaan tersebut menghadirkan Nurul Safia Rianti, S.Pd., M.Pd., Dosen Program Studi Pendidikan Geografi Universitas Muslim Buton, sebagai narasumber utama. Kajian diawali dengan pembacaan ayat suci Al-Qur’an, yaitu Surah Ar-Rum ayat 41–45, yang menjelaskan keterkaitan antara kerusakan di darat dan di laut dengan perilaku manusia, sekaligus menjadi landasan normatif dalam membangun kesadaran ekologis menurut perspektif Islam.

Kajian dihadiri oleh Ketua Yayasan Pendidikan Indonesia Kepulauan Buton, Rektor Universitas Muslim Buton, para Wakil Rektor, Kepala Biro, Kepala Lembaga, Kepala Kantor, Dekan Fakultas, Ketua Program Studi, dosen, tenaga kependidikan, serta mahasiswa dari berbagai program studi di lingkungan Universitas Muslim Buton. Kehadiran unsur pimpinan universitas bersama sivitas akademika menunjukkan komitmen kelembagaan dalam mengintegrasikan nilai-nilai keislaman, ilmu pengetahuan, dan tanggung jawab sosial terhadap isu-isu strategis yang dihadapi dunia saat ini.

Dalam sambutannya, Rektor Universitas Muslim Buton menegaskan bahwa perguruan tinggi memiliki tanggung jawab yang lebih luas daripada sekadar menghasilkan lulusan yang kompeten secara akademik. Perguruan tinggi juga berkewajiban membentuk karakter, etika, dan kepedulian sosial yang berakar pada nilai-nilai agama serta mampu memberikan solusi terhadap berbagai persoalan kemanusiaan dan lingkungan.

Menurutnya, perubahan iklim, deforestasi, degradasi ekosistem, serta meningkatnya frekuensi bencana hidrometeorologi merupakan tantangan global yang membutuhkan pendekatan multidisipliner. Oleh karena itu, pendidikan tinggi harus menjadi pusat lahirnya pemikiran kritis, inovasi, dan gerakan nyata dalam membangun pembangunan berkelanjutan yang berpijak pada nilai-nilai moral dan spiritual.

Dalam paparannya, Nurul Safia Rianti menjelaskan bahwa deforestasi merupakan salah satu faktor dominan yang mempercepat pemanasan global melalui meningkatnya emisi gas rumah kaca akibat berkurangnya tutupan hutan. Hutan memiliki fungsi vital sebagai penyerap karbon (carbon sink), pengatur siklus hidrologi, penjaga keanekaragaman hayati, sekaligus penyangga keseimbangan ekosistem. Ketika kawasan hutan mengalami kerusakan secara masif akibat alih fungsi lahan, pembalakan liar, maupun kebakaran hutan, maka kemampuan bumi dalam mengendalikan konsentrasi karbon di atmosfer semakin menurun.

Ia menjelaskan bahwa dampak pemanasan global telah dirasakan secara nyata melalui meningkatnya suhu rata-rata permukaan bumi, perubahan pola curah hujan, meningkatnya kejadian cuaca ekstrem, ancaman terhadap ketahanan pangan, krisis air bersih, kenaikan muka air laut, hingga hilangnya berbagai spesies flora dan fauna. Kondisi tersebut tidak hanya menjadi persoalan lingkungan, tetapi juga berdampak langsung terhadap aspek sosial, ekonomi, kesehatan masyarakat, dan keberlanjutan pembangunan.

Lebih lanjut dijelaskan bahwa Islam telah jauh lebih dahulu memberikan fondasi etik mengenai hubungan manusia dengan alam. Manusia diposisikan sebagai khalifah fil ardh, yaitu pemimpin sekaligus pengelola bumi yang bertanggung jawab menjaga keseimbangan ciptaan Allah SWT. Amanah tersebut mengandung konsekuensi moral bahwa setiap bentuk eksploitasi sumber daya alam harus dilakukan secara bijaksana, adil, dan berorientasi pada keberlanjutan.

Menurutnya, ayat-ayat Al-Qur’an tidak hanya berbicara mengenai hubungan manusia dengan Allah SWT (hablum minallah), tetapi juga hubungan manusia dengan sesama (hablum minannas) dan hubungan manusia dengan alam semesta sebagai bagian dari ciptaan Allah SWT. Kerusakan lingkungan yang terjadi akibat keserakahan manusia merupakan bentuk penyimpangan terhadap prinsip keadilan, keseimbangan (mizan), dan kemaslahatan yang menjadi ajaran fundamental dalam Islam.

Dalam kajian tersebut juga ditegaskan bahwa pendekatan keagamaan terhadap isu lingkungan tidak berhenti pada aspek normatif, tetapi harus diwujudkan melalui perubahan perilaku dan budaya hidup yang lebih ramah lingkungan. Pengurangan penggunaan plastik sekali pakai, efisiensi energi, pengelolaan sampah berbasis pemilahan, penghijauan kawasan kampus, konservasi sumber daya air, hingga penguatan literasi lingkungan merupakan implementasi konkret dari nilai-nilai Islam dalam kehidupan sehari-hari.

Narasumber juga mengajak sivitas akademika untuk memahami bahwa krisis iklim bukan lagi ancaman masa depan, melainkan realitas yang sedang berlangsung. Oleh sebab itu, perguruan tinggi memiliki posisi strategis dalam menghasilkan penelitian, inovasi teknologi, kebijakan publik, serta pengabdian kepada masyarakat yang mampu memberikan kontribusi nyata terhadap mitigasi dan adaptasi perubahan iklim.

Sebagai institusi pendidikan tinggi yang mengintegrasikan nilai-nilai Islam Ahlussunnah wal Jamaah dengan pengembangan ilmu pengetahuan, Universitas Muslim Buton terus mendorong lahirnya budaya akademik yang tidak hanya berorientasi pada pencapaian intelektual, tetapi juga pada pembentukan karakter kepemimpinan yang bertanggung jawab terhadap lingkungan. Nilai tersebut sejalan dengan visi universitas dalam membangun sumber daya manusia yang unggul, berakhlakul karimah, serta memiliki jiwa kewirausahaan yang berorientasi pada keberlanjutan.

Ketua Yayasan Pendidikan Indonesia Kepulauan Buton dalam kesempatan tersebut memberikan apresiasi terhadap penyelenggaraan kajian yang secara konsisten menghadirkan tema-tema aktual dan relevan dengan tantangan zaman. Menurutnya, pendidikan Islam harus mampu menjawab persoalan kontemporer melalui pendekatan ilmiah yang tetap berlandaskan Al-Qur’an dan Sunnah sehingga lulusan perguruan tinggi tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga memiliki sensitivitas sosial dan ekologis.

Beliau menegaskan bahwa pembangunan peradaban tidak hanya diukur melalui kemajuan ekonomi dan teknologi, melainkan juga oleh kemampuan manusia menjaga keseimbangan alam sebagai amanah Allah SWT. Karena itu, lembaga pendidikan memiliki tanggung jawab moral untuk melahirkan generasi yang mampu memadukan keimanan, ilmu pengetahuan, dan kepedulian terhadap keberlangsungan lingkungan hidup.

Suasana kajian berlangsung interaktif. Peserta dari berbagai fakultas aktif mengajukan pertanyaan mengenai tantangan pengelolaan lingkungan di tingkat lokal, peran generasi muda dalam mitigasi perubahan iklim, hingga strategi membangun budaya kampus hijau (green campus) yang berkelanjutan. Diskusi menunjukkan tingginya antusiasme sivitas akademika terhadap isu lingkungan yang dipandang semakin relevan dalam kehidupan masyarakat modern.

Melalui kegiatan ini, Universitas Muslim Buton menegaskan komitmennya untuk terus menghadirkan ruang dialog ilmiah yang mempertemukan perspektif keislaman dengan perkembangan ilmu pengetahuan. Kajian rutin yang diselenggarakan oleh Lembaga Kajian Islam dan Aswaja menjadi bagian dari upaya membangun tradisi akademik yang reflektif, kritis, dan solutif dalam menjawab berbagai persoalan bangsa dan dunia.

Di tengah meningkatnya perhatian global terhadap pembangunan berkelanjutan, penguatan literasi lingkungan berbasis nilai-nilai agama menjadi modal penting dalam membentuk generasi yang tidak hanya memiliki kompetensi akademik, tetapi juga kesadaran moral untuk menjaga bumi sebagai rumah bersama. Pesan utama yang mengemuka dalam kajian ini adalah bahwa menjaga lingkungan bukan sekadar kewajiban ekologis, melainkan juga bagian dari ibadah dan manifestasi keimanan kepada Allah SWT.

Melalui sinergi antara ilmu pengetahuan, nilai-nilai Islam, dan komitmen kelembagaan, Universitas Muslim Buton berharap dapat terus berkontribusi dalam melahirkan insan akademik yang unggul, berintegritas, serta mampu menjadi agen perubahan bagi terwujudnya masyarakat yang berkeadaban, berkelanjutan, dan berwawasan lingkungan. Kajian Rutin Kamis ini menjadi bukti bahwa perguruan tinggi memiliki peran strategis dalam membangun kesadaran kolektif bahwa setiap langkah kecil dalam menjaga alam merupakan bagian dari ikhtiar besar menjaga keberlangsungan kehidupan umat manusia dan mewujudkan kemaslahatan bagi generasi sekarang maupun generasi yang akan datang.

Tags :
Bagikan :
Pendaftaran Mahasiswa Baru

Pengumuman