UMU Online-English Tutorial Program kembali hadir sebagai salah satu program pengembangan kompetensi pegawai Universitas Muslim Buton yang secara konsisten dirancang untuk meningkatkan kemampuan bahasa Inggris sivitas akademika, khususnya dosen dan tenaga kependidikan. Pada Kamis, 13 November 2025, kegiatan ETP kembali dilaksanakan di Ballroom Al-Munawwarah UMU Buton dengan suasana yang menarik, antusias, dan penuh semangat belajar. Dengan mengusung tema “English Listening Practice”, kegiatan ini dipandu oleh pemateri berpengalaman, Nurhayati, S.S., M.Hum., serta diikuti oleh pegawai dari berbagai unit kerja di lingkungan UMU Buton.
Program ETP yang mengangkat slogan “Mulai Kecil, Bermimpi Besar!” dan “Bahasa Unggul, Layanan Hebat!” secara tegas mencerminkan komitmen UMU Buton dalam membangun kualitas sumber daya manusia yang unggul, terampil, dan kompetitif. Bahasa Inggris tidak lagi dianggap sebagai keterampilan tambahan, tetapi kebutuhan utama bagi perguruan tinggi yang ingin bersaing dalam dunia akademik global serta memberikan layanan terbaik bagi mahasiswa, mitra kerja sama, dan masyarakat.
Kegiatan dimulai pukul 14.00 WITA dengan penyampaian tujuan ETP, yakni memperkuat kemampuan mendengar (listening skill), meningkatkan kepekaan terhadap intonasi penutur asli, serta memperluas pemahaman kosakata dan penggunaan bahasa dalam konteks profesional. Listening merupakan kemampuan dasar yang menjadi jembatan bagi keterampilan berbicara, memahami instruksi, menangkap pesan, dan berkomunikasi secara efektif, baik dalam lingkungan akademik maupun kerja.
Dalam penyampaian materinya, Nurhayati, S.S., M.Hum. memulai dengan memberikan gambaran umum mengenai pentingnya listening dalam komunikasi. Ia menjelaskan bahwa kemampuan mendengar bukan sekadar mendengar suara, tetapi memahami pesan, menangkap konteks, dan menginterpretasikan makna. Komunikasi yang baik dimulai dari kemampuan mendengar yang baik, dan pegawai yang memiliki listening skill yang kuat akan mampu memberikan layanan yang lebih akurat, responsif, dan profesional.
Pemateri juga mengulas bahwa listening adalah salah satu keterampilan yang paling menantang dalam pembelajaran bahasa Inggris karena melibatkan kecepatan informasi, variasi aksen, penguasaan kosakata, dan kemampuan menyimak detail. Namun, dengan latihan yang teratur, kemampuan ini dapat berkembang dengan sangat cepat. Hal inilah yang menjadi dasar mengapa ETP mengambil fokus pada English Listening Practice pada sesi kali ini.
Pada sesi inti, peserta diajak untuk mengikuti berbagai aktivitas listening exercise seperti mendengarkan percakapan (dialogue), monolog pendek, instruksi kerja, hingga audio mengenai pelayanan publik. Metode yang digunakan bersifat interaktif; peserta tidak hanya diminta mendengar, tetapi juga menuliskan informasi, menjawab pertanyaan, dan mendiskusikan isi rekaman. Pendekatan ini membuat suasana pembelajaran lebih hidup—pegawai tampak fokus, tertantang, sekaligus menikmati proses belajar.
Pemateri juga menyisipkan teknik-teknik penting dalam meningkatkan kemampuan listening, antara lain: menemukan keywords dalam percakapan, mengenali pola kalimat yang sering digunakan, memahami konteks situasi sebelum mendengarkan, menangkap ide pokok serta detail pendukung, berlatih mendengar aksen berbeda seperti British dan American English.
Dari latihan-latihan tersebut terlihat bahwa sebagian pegawai mengalami peningkatan signifikan dalam kemampuan menangkap informasi, terutama ketika pemateri memutar ulang audio tanpa teks. Beberapa peserta mengaku bahwa selama ini mereka lebih banyak belajar membaca (reading) atau menulis (writing), namun jarang berlatih mendengarkan. Karena itu, program ini dirasakan sangat relevan dan bermanfaat.
Diskusi interaktif juga mewarnai kegiatan ETP. Peserta diberi kesempatan untuk bertanya mengenai kesulitan yang sering dialami dalam memahami percakapan bahasa Inggris, terutama dalam pekerjaan sehari-hari yang mulai melibatkan dokumen berbahasa Inggris maupun interaksi dengan mitra luar negeri. Pemateri memberikan solusi praktis seperti penggunaan aplikasi belajar bahasa, menonton film pendek tanpa subtitle, mendengar podcast bertahap, hingga berlatih secara tandingan (peer learning) antardivisi. Dengan langkah-langkah kecil yang dilakukan setiap hari, kemampuan listening dapat berkembang pesat dan konsisten.
Kegiatan juga menyoroti pentingnya penguasaan bahasa Inggris bagi pegawai UMU Buton tidak hanya sebagai tuntutan administrasi, tetapi juga sebagai cara meningkatkan kualitas layanan kepada mahasiswa, terutama mahasiswa program internasional, mitra kerja sama luar negeri, dan tamu akademik. Nurhayati menekankan bahwa pelayanan prima membutuhkan komunikasi yang efektif. Ketika pegawai bisa memahami instruksi, permintaan, atau dokumen berbahasa Inggris dengan baik, maka profesionalitas institusi akan meningkat secara signifikan.
Peserta tampak semakin percaya diri ketika diminta mempraktikkan latihan shadowing, yaitu menirukan intonasi dan kecepatan penutur asli untuk membiasakan telinga dan mulut bekerja selaras. Aktivitas ini memancing suasana yang akrab dan menyenangkan, serta memecah kekakuan yang mungkin muncul dalam kegiatan pelatihan formal. ETP sore itu bukan hanya menjadi ruang belajar, tetapi juga ruang tumbuh-tempat peserta saling memotivasi untuk mengasah kemampuan bahasa Inggris secara konsisten.
Selain fokus pada listening, pemateri juga mengajak pegawai untuk memahami hubungan antara penguasaan bahasa Inggris dan kemajuan karier. Dalam dunia pendidikan tinggi modern, kemampuan berbahasa Inggris dapat membuka peluang beasiswa, konferensi internasional, peluang kerja sama, bahkan jenjang akademik lebih tinggi. Dengan kata lain, berinvestasi pada kemampuan bahasa Inggris berarti membuka pintu masa depan yang lebih luas dan lebih cerah.
Pada bagian akhir kegiatan, moderator menggarisbawahi pesan bahwa perubahan besar selalu dimulai dari langkah kecil. Program ETP hadir sebagai langkah kecil, namun dengan dampak besar bagi kemajuan UMU Buton sebagai kampus yang berdaya saing global. Slogan “Mulai Kecil, Bermimpi Besar” mengajak setiap pegawai untuk tidak ragu memulai dari tahap sederhana, sementara “Bahasa Unggul, Layanan Hebat” memperkuat komitmen bahwa kualitas pelayanan kampus sangat ditentukan oleh kualitas kompetensi sumber daya manusianya.
Kegiatan ditutup dengan refleksi singkat, di mana peserta diminta menyampaikan satu hal baru yang mereka pelajari hari itu dan satu komitmen yang ingin mereka lakukan untuk meningkatkan kemampuan listening. Banyak peserta menyampaikan tekad untuk meluangkan waktu 10–15 menit per hari untuk berlatih mendengar—tekad sederhana yang jika dilakukan secara konsisten akan menghasilkan perubahan berarti bagi kompetensi bahasa Inggris mereka.
ETP pada hari itu bukan hanya tentang memperbaiki kemampuan listening, tetapi juga membangun budaya belajar yang berkelanjutan di lingkungan UMU Buton. Program ini menjadi salah satu contoh nyata bagaimana universitas berkomitmen meningkatkan mutu layanan melalui penguatan kompetensi pegawai. Karena pada akhirnya, universitas yang unggul bukan hanya dibangun oleh bangunan megah atau fasilitas modern, tetapi oleh sumber daya manusia yang memiliki keahlian, kepercayaan diri, dan kemampuan berkomunikasi yang kuat.
Kegiatan ETP ini, UMU Buton menegaskan kembali ambisinya untuk menciptakan lingkungan kampus yang kompetitif, inklusif, dan berorientasi global. Melalui pelatihan berkelanjutan seperti ini, diharapkan pegawai dapat terus meningkatkan kapasitas diri, memberikan layanan terbaik, serta menjaga reputasi universitas sebagai lembaga pendidikan yang profesional, modern, dan siap berkolaborasi dalam dunia akademik internasional. Program ETP bukan sekadar pelatihan bahasa; ia adalah investasi jangka panjang bagi transformasi kualitas layanan UMU Buton.
Editor, Muh Adil UMU Buton
