ar
en
id

Bahasa:

Entrepreneur Wanted: MIMPI, AKSI, PELUANG, USAHA, MASA DEPAN

UMU Online-Kegiatan Entrepreneur Wanted yang dilaksanakan Universitas Muslim Buton melalui Indonesia Buton Institute kembali menjadi ruang pembelajaran yang membawa energi positif bagi mahasiswa. Pada tanggal 27 November 2025, Ballroom Al-Munawwara menjadi tempat berkumpulnya ratusan mahasiswa yang datang dengan penuh rasa ingin tahu, harapan, serta keinginan untuk melihat dunia wirausaha dari sudut pandang tokoh yang telah membuktikan perjalanan suksesnya.

Talkshow kali ini mengangkat tema “Bisnis Kecil yang Menjanjikan Kaum Muda Entrepreneur di Masa Depan”, sebuah topik yang sangat relevan bagi generasi muda di era yang penuh perubahan dan kompetisi ini. Sejak awal, kegiatan dijalankan dengan suasana sederhana namun penuh semangat. Mahasiswa terlihat antusias, beberapa di antara mereka bahkan datang lebih awal agar mendapatkan tempat duduk yang dekat dengan panggung. Hal ini menggambarkan bahwa wirausaha tidak lagi menjadi pilihan cadangan, tetapi sudah menjadi mimpi yang ingin diraih oleh banyak mahasiswa UMU Buton.

Acara dibuka oleh Direktur Indonesia Buton Institute, Muhammad Filtar, S.Pi., M.P.W.K, seorang tokoh yang tak hanya dikenal sebagai akademisi, tetapi juga pelaku usaha yang cukup sukses. Dalam sambutannya, beliau memulai dengan cerita sederhana tentang perjalanan bisnis awal yang ia rintis bernama Kurururio. Sebuah usaha yang lahir jauh sebelum Maxxim ada. Dengan nada tenang namun penuh kebanggaan, beliau menyebut bahwa usaha tersebut kini memiliki pendapatan mencapai tujuh ratus juta rupiah per hari di Kota Surabaya. Namun yang membuat peserta terharu bukanlah besarnya angka itu, tetapi cerita bahwa keuntungan sebesar itu bukan ditujukan untuk dirinya sendiri, melainkan untuk menyokong karyawan yang bekerja dan membantu keberlanjutan usaha.

Cerita beliau tentang mengoperasikan mobil pengantar obat untuk pasien sakit di Surabaya menjadi pesan penting bahwa wirausaha bukan soal kekayaan pribadi, tetapi soal kebermanfaatan. Beliau mengajak mahasiswa UMU Buton untuk ikut mengembangkan Kurururio di Kota Baubau. Tawaran itu bukan sekadar peluang bisnis, tetapi juga ajakan untuk belajar, berproses, dan membangun masa depan ekonomi daerah melalui usaha kecil yang dikelola dengan kesungguhan. Dalam suasana itu, mahasiswa seperti melihat bahwa dunia usaha bukan sesuatu yang jauh, bukan pula sesuatu yang hanya dimiliki orang-orang khusus. Dunia usaha dapat diraih siapa pun yang berani mengambil langkah.

Setelah sambutan pembuka tersebut, kegiatan memasuki sesi inti. Pemateri talkshow, Bapak Eko Prasetyo, S.T., M.M Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Baubau mengambil tempat di mimbar dan mulai menyampaikan materi dengan gaya sederhana, santai, namun kuat secara pesan. Beliau banyak menggunakan bahasa sehari-hari agar mahasiswa mudah menangkap maksudnya. Beliau menceritakan perjalanan hidupnya sebagai aktivis organisasi sejak muda. Dengan pengalaman memimpin lima perguruan tinggi di Surabaya, beliau menggambarkan bahwa organisasi bukan hanya tempat berkumpul, tetapi tempat membentuk keberanian, kepemimpinan, dan kecakapan menggerakkan orang lain.

Dalam penyampaiannya, beliau mengingatkan mahasiswa bahwa dunia kerja dan dunia usaha membutuhkan kemampuan mengelola diri dan orang lain. Kemampuan berkomunikasi menjadi modal yang tidak bisa ditawar. Beliau mengajak mahasiswa untuk aktif terlibat dalam organisasi kampus seperti BEM dan HMPS. Menurut beliau, mahasiswa yang punya pengalaman organisasi biasanya lebih siap menghadapi tantangan nyata ketika mereka lulus nanti. Disebutkannya bahwa “organisasi membuat kita belajar bergerak dan membuat orang lain ikut bergerak”, sebuah pesan yang kemudian menjadi bahan renungan banyak mahasiswa.

Eko Prasetyo, dengan pembawaan yang hangat, juga menyampaikan bahwa UMU Buton adalah kampus yang baik, moderat, dan layak dibanggakan. Beliau meminta mahasiswa untuk tidak menyia-nyiakan waktu selama kuliah. Ia juga berpesan agar mahasiswa membawa nama UMU Buton dengan narasi positif, bahkan menyamakannya dengan kampus-kampus terkemuka di Indonesia seperti UGM, UI, dan Unhas. Menurut beliau, reputasi kampus tidak hanya dibangun oleh institusi, tetapi juga oleh mahasiswa yang bercerita tentang kampusnya dengan kebanggaan.

Suasana talkshow semakin hidup ketika Bapak Eko membuka interaksi dengan mahasiswa. Beliau meminta agar mahasiswa menemukan akun media sosialnya dan memberikan komentar positif tentang kegiatan atau motivasi yang mereka dapatkan. Sebagai bentuk apresiasi, beliau menjanjikan hadiah dua ratus ribu rupiah untuk sepuluh mahasiswa yang beruntung. Langkah ini membuat banyak mahasiswa merasa semakin dekat dengan pemateri, sekaligus memberikan pengalaman langsung bagaimana seorang pemimpin membuka komunikasi dengan generasi muda.

Sepanjang sesi, terlihat bahwa para mahasiswa mendapatkan banyak energi baru. Mereka tidak hanya mendengarkan cerita sukses, tetapi mendapatkan gambaran nyata bahwa dunia usaha memiliki ruang luas untuk mereka raih. Mereka melihat bahwa menjadi entrepreneur bukan hanya tentang modal besar, tetapi tentang keberanian untuk memulai. Tentang karakter. Tentang ketekunan. Tentang bagaimana seseorang mampu melihat peluang di tempat di mana orang lain melihat kesulitan.

Kegiatan Entrepreneur Wanted ini bukan hanya menyampaikan teori bisnis, tetapi lebih kepada membentuk pola pikir. Talkshow ini menjadi ruang refleksi bagi mahasiswa bahwa masa depan dibangun dari tekad, bukan keberuntungan. Dari tindakan kecil, bukan rencana besar tanpa aksi. Dari keberanian melangkah, bukan dari ketakutan gagal. Para mahasiswa disadarkan bahwa bisnis kecil dapat tumbuh menjadi besar jika dimulai dengan kejujuran, kerja keras, dan komitmen jangka panjang.

Menjelang akhir kegiatan, suasana terasa begitu hangat. Beberapa mahasiswa berdiskusi secara informal dengan pemateri dan Direktur IBI. Ada yang bertanya tentang peluang usaha rumahan, ada yang ingin tahu bagaimana memulai bisnis tanpa modal besar, dan ada pula yang menyampaikan keinginan untuk bergabung dalam pengembangan Kurururio di Baubau. Semua ini menunjukkan bahwa kegiatan Entrepreneur Wanted bukan hanya agenda formal, tetapi ruang yang mampu membuka kesadaran baru tentang potensi diri mahasiswa.

Talkshow ini kemudian ditutup dengan doa dan rasa syukur atas terselenggaranya kegiatan yang memberi manfaat besar bagi mahasiswa UMU Buton. Para peserta meninggalkan ruangan dengan wajah penuh semangat, seakan membawa pulang bara kecil yang siap berkembang menjadi api besar yang menerangi masa depan mereka.

Kegiatan ini menjadi salah satu momen yang menguatkan pesan bahwa wirausaha bukan hanya tentang uang, melainkan tentang keberanian bermimpi, ketekunan beraksi, kemampuan melihat peluang, serta kemauan membangun masa depan. Entrepreneur Wanted bukan hanya program, tetapi gerakan membentuk generasi muda UMU Buton menjadi pribadi yang mandiri, kreatif, dan siap menjadi bagian dari pertumbuhan ekonomi daerah.

Tags :
Bagikan :