ar
en
id

Bahasa:

Kajian Rutin Kamis: PERAN BAHASA DALAM DUNIA PENDIDIKAN DI ERA MILENIAL

UMU Online-Kegiatan Kajian Rutin Kamis Universitas Muslim Buton kembali terlaksana dengan penuh keberkahan dan antusiasme tinggi dari seluruh civitas akademika. Pada Kamis, 27 November 2025, ruang Ballroom Al-Munawwara menjadi saksi berkumpulnya para dosen, mahasiswa, dan tenaga kependidikan untuk menyimak sebuah kajian ilmiah-spiritual yang sangat relevan dengan perkembangan zaman, yaitu kajian bertema “Peran Bahasa dalam Dunia Pendidikan di Era Milenial.” Tema ini diangkat untuk menjawab tantangan besar dunia pendidikan dalam menghadapi perubahan pola komunikasi dan penggunaan bahasa di tengah derasnya gelombang digitalisasi global.

Kegiatan dimulai tepat pukul 12.40 WITA, diawali dengan pembacaan ayat-ayat suci Al-Qur’an, Surah Ar-Rahman ayat 1–13. Pembacaan ayat tersebut tidak hanya mengawali kegiatan secara ritual, namun juga memberikan suasana khidmat yang mendalam. Ayat-ayat itu mengingatkan bahwa Allah-lah yang mengajarkan manusia dengan pena, mengaruniakan kemampuan berbahasa, serta menjadikan ilmu sebagai kemuliaan yang membedakan manusia dari makhluk lainnya. Pembacaan Surah Ar-Rahman menghadirkan kekuatan spiritual yang mengikat seluruh peserta untuk kembali meneguhkan bahwa ilmu dan bahasa adalah anugerah besar yang harus dijaga dan dikembangkan.

Setelah pembukaan, kegiatan dilanjutkan dengan penyampaian materi yang dibawakan oleh Hasrida Ardin, S.Hum., M.Hum, Ketua Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris. Beliau dikenal sebagai akademisi yang aktif mengkaji perkembangan bahasa, literasi, dan budaya komunikasi generasi milenial. Dalam pemaparannya, beliau menegaskan bahwa bahasa adalah jantung dari dunia pendidikan. Bahasa merupakan inti dari sistem berpikir manusia: bagaimana seseorang memahami, menjelaskan, menyampaikan, bahkan mengkonstruksi realitas, semuanya berawal dari bahasa yang ia gunakan. Oleh karena itu, perubahan bahasa di era digital tidak bisa dipandang remeh, melainkan harus dipahami sebagai fenomena penting yang mempengaruhi kualitas pendidikan, karakter generasi muda, dan masa depan bangsa.

Beliau menyampaikan bahwa era milenial ditandai dengan percepatan teknologi komunikasi. Kehadiran gawai, internet, media sosial, dan kecerdasan buatan tidak hanya mengubah cara manusia berinteraksi, tetapi juga mengubah struktur bahasa, kecepatan komunikasi, hingga cara berpikir. Generasi hari ini terbiasa menggunakan bahasa yang ringkas, padat, dan serba cepat. Kemajuan teknologi melahirkan ribuan istilah baru yang masuk ke dalam percakapan sehari-hari, bukan hanya dalam bahasa Inggris, tetapi juga dalam bahasa Indonesia. Istilah seperti upload, download, swipe, AI, cloud, streaming dan berbagai kata serapan lainnya menunjukkan bagaimana teknologi menjadi motor penggerak perkembangan linguistik modern.

Namun, perubahan bahasa bukan berarti bahasa menjadi lebih buruk. Hasrida Ardin menjelaskan bahwa perubahan adalah keniscayaan dalam ilmu linguistik. Bahasa, seperti budaya, berkembang sesuai zaman. Yang menjadi perhatian adalah bagaimana kampus sebagai lembaga pendidikan mampu mengarahkan perkembangan bahasa ini agar tidak menghilangkan kualitas berpikir dan kemampuan berbahasa formal yang diperlukan dalam dunia akademik maupun profesional. Beliau menekankan pentingnya membangun kesadaran konteks: kapan menggunakan bahasa formal, kapan bahasa akademik, kapan bahasa santai, dan bagaimana memadukan kreativitas bahasa dengan etika komunikasi.

Di tengah modernisasi bahasa, tantangan terbesar adalah menjaga kemampuan menulis formal, kemampuan berpikir runtut, dan kemampuan menyampaikan argumen secara sistematis. Teknologi sering memudahkan komunikasi, namun terkadang menjadikan generasi muda terlalu mengandalkan simbol, emotikon, dan kalimat singkat sehingga lupa mengasah kedalaman bahasa. Inilah yang menjadi tanggung jawab lembaga pendidikan: membina mahasiswa agar tetap mampu berbahasa dengan kualitas tinggi meski hidup di era kecepatan informasi.

Dalam kajian tersebut, dua mahasiswa menyampaikan pertanyaan reflektif yang semakin memperkaya diskusi. Pertanyaan pertama datang dari mahasiswa Prodi Pendidikan Bahasa Inggris yang menanyakan sejauh mana teknologi mempengaruhi penggunaan bahasa formal di kalangan mahasiswa. Pemateri menjelaskan bahwa fenomena code-mixing adalah hal lumrah, namun harus diarahkan agar mahasiswa tetap mampu menggunakan bahasa formal saat diperlukan. Beliau menekankan bahwa teknologi menciptakan kebiasaan baru, tetapi kualitas bahasa tetap bergantung pada kesadaran individu.

Pertanyaan kedua datang dari mahasiswa Prodi Sistem dan Teknologi Informasi, yang bertanya apakah teknologi membuat bahasa menjadi dangkal. Dengan tenang, pemateri menjelaskan bahwa yang menentukan kedalaman bahasa bukan teknologinya, melainkan cara manusia menggunakannya. Teknologi hanyalah alat; manusialah yang menentukan kualitas isi. Jika digunakan dengan bijak, teknologi justru membuka ruang untuk memperkaya kosakata, memperluas pengetahuan linguistik, dan meningkatkan literasi.

Selama kajian, suasana akademik dan spiritual terjalin erat. Mahasiswa terlihat antusias, mencatat, bertanya, dan berdiskusi. Para dosen pun terlibat aktif memberikan pandangan tambahan setelah pemaparan materi. Kegiatan seperti ini menjadi bukti bahwa UMU Buton terus berkomitmen menghadirkan ruang-ruang ilmiah yang membangun karakter, intelektualitas, dan kedalaman spiritual mahasiswa. Kajian Rutin Kamis bukan hanya sebagai agenda seremonial, tetapi sebagai energi moral dan intelektual yang menegaskan identitas kampus sebagai lembaga pendidikan yang mengedepankan ilmu, akhlak, dan budaya Qur’ani.

Melalui kajian ini, seluruh peserta diingatkan bahwa bahasa bukan sekadar alat komunikasi, melainkan fondasi peradaban. Bahasa mencerminkan cara berpikir. Bahasa melahirkan budaya. Bahasa mengikat identitas. Dan bahasa menjadi jembatan antara ilmu dan akhlak. Di tengah derasnya arus digitalisasi, UMU Buton mengajak seluruh civitas akademika untuk menjaga kualitas bahasa, meningkatkan literasi, serta menggunakan teknologi sebagai sarana meningkatkan kecerdasan, bukan sebaliknya.

Pada akhir kegiatan, pemateri menyampaikan pesan bahwa generasi milenial UMU Buton harus menjadi generasi yang tidak hanya mahir teknologi, tetapi juga kuat dalam bahasa, santun dalam komunikasi, luas dalam pengetahuan, dan kokoh dalam karakter. Bahasa yang baik akan melahirkan pemikiran yang baik, dan pemikiran yang baik akan melahirkan tindakan yang bijak. Kegiatan ditutup dengan doa bersama, memohon kepada Allah agar ilmu yang diterima menjadi cahaya yang menerangi langkah dan kehidupan.

Kajian Rutin Kamis ini kembali membuktikan bahwa UMU Buton terus membangun tradisi akademik yang berkelanjutan, menghadirkan perpaduan antara spiritualitas dan keilmuan, serta melahirkan generasi yang siap berperan dalam dunia yang terus berubah. Dengan memahami peran bahasa di era milenial, civitas akademika diharapkan mampu menjadi bagian dari peradaban yang maju, berakhlak, dan berpengetahuan luas.

Tags :
Bagikan :