ar
en
id

Bahasa:

KAJIAN RUTIN KAMIS UMU BUTON: PETERNAKAN SEBAGAI JALAN MERAIH REZEKI HALAL DAN BERKAH

UMU Online-Universitas Muslim Buton kembali meneguhkan komitmennya sebagai kampus yang tidak hanya membangun kecerdasan intelektual, tetapi juga menumbuhkan kekuatan spiritual dan moral dalam diri seluruh civitas akademika. Pada Kamis, 20 November 2025, seluruh dosen, tenaga kependidikan, dan mahasiswa berkumpul di Ballroom Al-Munawwara untuk mengikuti Kajian Rutin Kamis yang menjadi tradisi pembinaan ruhani di lingkungan UMU Buton. Kegiatan ini diselenggarakan oleh Lembaga Kajian Islam dan Aswaja sebagai upaya melahirkan pribadi akademik yang berakhlak baik, berpengetahuan luas, dan siap menghadapi tantangan zaman dengan ketenangan hati dan kejernihan pikiran.

Kajian dimulai pukul 12.40 WITA setelah para peserta memenuhi ruang pertemuan dengan suasana khidmat. Sebelum memasuki materi utama, agenda dibuka dengan pembacaan Surah Yasin ayat 71–75 yang mengisahkan tentang karunia Allah berupa hewan ternak yang dijadikan sarana kehidupan manusia. Ayat ini bukan sekadar bacaan rutin, melainkan sebuah pesan mendalam tentang hubungan manusia dengan rezeki, tanggung jawab, dan keberkahan hidup. Dalam lantunan ayat-ayat tersebut, tersimpan isyarat bahwa rezeki adalah amanah yang tidak hanya perlu disyukuri, tetapi juga dipahami prosesnya. Surah Yasin ayat 71–75 menjadi pengingat bahwa Allah adalah Zat yang menundukkan hewan ternak untuk kepentingan manusia, dan dari proses itulah kita diajak untuk merenungi makna rezeki halal yang hadir dari usaha yang bersih, etis, dan penuh tanggung jawab.

Setelah pembacaan ayat suci selesai, hadirin menyimak materi dari Ibu Rina Sumiarti, S.Pt., M.Pt., selaku Kepala Program Studi Peternakan UMU Buton. Dengan pengalaman akademik dan praktis yang luas, Rina membawakan tema “Peternakan sebagai Jalan Meraih Rezeki Halal dan Berkah” dengan pendekatan yang sederhana, filosofis, namun sangat membumi. Rina menjelaskan bahwa dunia modern telah menghadirkan banyak model bisnis, tetapi sektor peternakan tetap menjadi salah satu sumber penghidupan yang paling jelas hubungan antara usaha, proses, dan hasilnya. Dalam peternakan, rezeki lahir dari kesabaran merawat, kedisiplinan memberi makan, ketelitian menjaga kebersihan, dan konsistensi memahami siklus hidup hewan. Di sanalah letak keberkahan: rezeki yang lahir dari proses nyata yang dapat dilihat, disentuh, dan disyukuri.

Ibu Rina menekankan bahwa keberkahan dalam rezeki bukan hanya terletak pada jumlah yang diperoleh, tetapi pada cara seseorang mendapatkannya. Peternakan menjadi ladang amal karena seluruh prosesnya mengajarkan nilai-nilai penting seperti tanggung jawab, amanah, dan pengelolaan yang baik. Dalam dunia nyata, sektor peternakan menjadikan manusia dekat dengan alam, dan kedekatan itu memunculkan kesadaran bahwa hidup adalah rangkaian kerja keras yang membutuhkan ikhtiar dan tawakal sekaligus. Ia menjelaskan bahwa manusia sering terjebak dalam paradigma bahwa rezeki datang dari sesuatu yang instan, padahal peternakan justru merupakan jalan yang paling menunjukkan bahwa keberhasilan membutuhkan waktu, komitmen, dan keteguhan hati.

Dalam kajiannya, Ibu Rina juga mengaitkan peternakan dengan tantangan modern, seperti kebutuhan pangan yang terus meningkat, isu keberlanjutan, dan peluang ekonomi bagi generasi muda. Rina menekankan bahwa mahasiswa UMU Buton memiliki potensi besar untuk menjadi pelaku usaha yang tidak hanya mengejar keuntungan, tetapi juga berkontribusi pada ketahanan pangan daerah dan nasional. Sektor peternakan membuka kesempatan luas untuk membangun usaha yang halal, bermanfaat, dan memberikan dampak sosial. Dengan demikian, peternakan tidak lagi dipandang sebagai sektor tradisional, melainkan sebagai bagian penting dari ekosistem bisnis masa kini yang kaya inovasi dan potensi kemandirian ekonomi.

Di hadapan para mahasiswa, Rina menuturkan bahwa dunia peternakan adalah dunia yang membentuk karakter. Ia melatih seseorang untuk memahami ritme kehidupan, mengenali tanda-tanda alam, dan mengasah kepekaan terhadap kebutuhan makhluk hidup lain. Semua itu secara tidak langsung membentuk manusia yang lebih sabar, lebih peduli, dan lebih bertanggung jawab. Hal ini sejalan dengan nilai Aswaja yang menjunjung keseimbangan antara ilmu, amal, dan akhlak. Melakukan aktivitas usaha dengan kesadaran spiritual menjadikan seseorang lebih siap menghadapi dinamika hidup yang penuh ketidakpastian. Peternakan, dengan segala prosesnya, adalah latihan untuk hidup lebih teratur, produktif, dan berpikir jangka panjang.

Dalam pemaparan berikutnya, Ibu Rina menyampaikan bahwa mahasiswa sebagai generasi muda perlu memiliki cara pandang baru tentang usaha dan rezeki. Dunia hari ini sering menampilkan kesuksesan secara instan, sehingga banyak orang lupa bahwa hasil besar biasanya dimulai dari langkah-langkah kecil. Peternakan mengajarkan bahwa sesuatu yang kecil dapat tumbuh besar jika dipelihara dengan disiplin, bahwa proses yang lambat bukan berarti tidak bermakna, dan bahwa setiap hari yang dilalui dengan kesungguhan akan menjadi bagian dari keberhasilan di masa depan. Ia menggambarkan bahwa beternak bukan sekadar aktivitas fisik, tetapi juga proses mental yang mengajarkan keikhlasan, kesabaran, dan kesediaan untuk menghadapi risiko. Semua itu merupakan bekal hidup yang sangat penting dalam dunia kerja dan bisnis.

Tidak hanya itu, Rina juga mengaitkan peternakan dengan konsep keberlanjutan ekonomi daerah. Di Buton dan sekitarnya, banyak potensi lokal yang bisa dikembangkan melalui usaha peternakan kecil maupun menengah. Jika dikelola dengan baik, sektor ini dapat menjadi sumber pendapatan berkelanjutan bagi masyarakat. Kajian ini mengajak mahasiswa untuk melihat peluang yang mungkin selama ini tidak mereka sadari. Peluang tidak selalu datang dari hal-hal besar; ia sering muncul dari apa yang ada di sekitar kita. Peternakan adalah salah satu bukti bahwa sumber rezeki sering berada dekat namun tidak diperhatikan. Dengan wawasan dan bimbingan yang tepat, mahasiswa dapat mengubah peluang sederhana menjadi usaha produktif.

Acara ini juga menjadi sarana memperkuat hubungan spiritual mahasiswa dengan konsep rezeki dalam perspektif Islam. Dalam Islam, rezeki tidak sekadar sesuatu yang material, tetapi juga mencakup ketenangan, kesehatan, dan kesempatan untuk berbuat baik. Peternakan, sebagai salah satu profesi yang dianjurkan dalam banyak riwayat, mengajarkan kedekatan dengan alam ciptaan Allah, sekaligus membentuk karakter pelakunya menjadi insan yang menghargai proses. Keberkahan hadir ketika seseorang bekerja dengan niat yang benar, cara yang benar, dan tujuan yang bermanfaat. Melalui kajian ini, para peserta diajak memahami bahwa bekerja adalah bagian dari ibadah, dan ibadah menjadi lebih bermakna ketika dilakukan dengan kesadaran dan keikhlasan.

Suasana kajian semakin hidup ketika para mahasiswa diberi kesempatan untuk bertanya dan berdiskusi. Pertanyaan-pertanyaan yang muncul mencerminkan antusiasme mereka terhadap dunia usaha, terutama usaha yang bersifat berkelanjutan dan berbasis potensi lokal. Ibu Rina menjawab setiap pertanyaan dengan contoh nyata dan pendekatan praktis, sehingga mahasiswa dapat memahami materi secara langsung. Diskusi ini tidak hanya memperluas wawasan, tetapi juga membuka perspektif baru bahwa dunia peternakan dapat dikembangkan dengan teknologi modern, pemasaran digital, dan inovasi lainnya yang relevan dengan kebutuhan zaman.

Sebagai penutup, kegiatan ini memberikan pesan kuat bahwa membangun masa depan bukan hanya tentang mencari pekerjaan, tetapi tentang menciptakan nilai bagi diri sendiri dan lingkungan. Peternakan hanyalah salah satu jalur yang dapat ditempuh, tetapi ia menawarkan filosofi penting: bahwa rezeki datang kepada mereka yang bersungguh-sungguh, peduli, dan menjalani proses dengan penuh kesabaran. Kajian Rutin Kamis kali ini diharapkan menjadi momentum bagi seluruh civitas akademika untuk terus menumbuhkan nilai-nilai kebaikan, bekerja dengan integritas, dan berusaha dengan ketulusan hati.

Semoga kajian ini menjadi inspirasi bagi mahasiswa untuk mempersiapkan diri menjadi insan yang tidak hanya cerdas, tetapi juga berkarakter, produktif, dan berakhlak mulia.

 

Tags :
Bagikan :