ar
en
id

Bahasa:

KEGIATAN NGAJI DAN KAJIAN KAMIS (MCDM)

Tema: Menghadapi Krisis Moral dengan Kecerdasan Spiritual

UMU Online-Baubau, 16 Oktober 2025 Di tengah dinamika kehidupan modern yang serba cepat dan kompleks, Universitas Muslim Buton terus berkomitmen menumbuhkan keseimbangan antara kecerdasan intelektual dan kecerdasan spiritual. Komitmen itu kembali diwujudkan melalui kegiatan Ngaji Rutin Kamis, sebuah tradisi yang telah menjadi bagian dari budaya akademik UMU Buton. Kegiatan ini bukan sekadar forum keagamaan, melainkan wadah refleksi, penyucian hati, dan pembelajaran nilai-nilai moral yang menjadi pondasi bagi pembentukan karakter insan akademik yang utuh. Kegiatan Merangkai Cita-Cita dari Mesjid Adalah Bagian dari program Level Up Tuesday UMU Buton yang digagas  oleh Ketua Lembaga Kajian Islam dan Aswaja, Bapak Fitratun.

Kegiatan Ngaji Rutin Kamis kali ini menghadirkan Bapak Ibrahim, S.Hut., M.P, dosen dari Program Studi Agroteknologi, Fakultas Pertanian dan Peternakan UMU Buton, sebagai pemateri. Dengan tema yang sangat relevan, “Menghadapi Krisis Moral dengan Kecerdasan Spiritual”, acara ini mengajak seluruh civitas akademika untuk merenungkan bagaimana nilai-nilai spiritual dapat menjadi kekuatan utama dalam menjawab tantangan moral yang melanda masyarakat modern.

Kegiatan dilaksanakan pada hari Kamis, 16 Oktober 2025, Ba’da Dzuhur, bertempat di Ballroom Al-Munawwarah, Universitas Muslim Buton. Seperti biasa, acara diawali dengan pembacaan Surah Al-Ankabut ayat 45 sampai 50, ayat-ayat yang sarat makna tentang kekuatan Al-Qur’an sebagai sumber petunjuk dan penjaga moral umat. Peserta diminta untuk membawa mushaf Al-Qur’an, baik dalam bentuk fisik maupun digital, agar setiap individu dapat membaca dan memahami secara langsung ayat-ayat yang dibahas.

Suasana kegiatan berlangsung penuh kekhusyukan dan kehangatan. Cahaya matahari sore menembus kaca jendela ballroom, memantul di wajah-wajah para peserta yang duduk dengan tenang dan penuh perhatian. Dari para dosen, tenaga kependidikan, hingga mahasiswa, semua tampak menyatu dalam semangat yang sama: mencari ketenangan batin dan memperkuat nilai spiritual dalam diri masing-masing.

Dalam pengantar tausiyahnya, Rektor UMU Buton Bapak Ibrahim memulai dengan menggambarkan realitas yang kini dihadapi masyarakat modern. Menurutnya, dunia sedang mengalami apa yang disebut sebagai krisis moral global, di mana kemajuan teknologi dan keterbukaan informasi tidak selalu berbanding lurus dengan kemajuan akhlak. Banyak orang cerdas secara intelektual, tetapi kehilangan arah secara spiritual. “Kita hidup di era di mana manusia mampu menciptakan mesin berpikir, tetapi sering lupa menggunakan hati untuk merasa,” ucap beliau dengan suara lembut namun penuh makna.

Beliau menjelaskan bahwa krisis moral bukanlah persoalan baru, namun kini menjadi lebih kompleks karena pengaruh media digital yang membentuk pola pikir instan dan egoistik. Dalam konteks ini, Bapak Ibrahim menegaskan bahwa kecerdasan spiritual memiliki peran krusial. Ia adalah kemampuan untuk memahami makna hidup, mengenali diri, dan menempatkan segala sesuatu sesuai nilai-nilai ilahiah. Kecerdasan spiritual, menurutnya, tidak hanya menjadikan seseorang religius dalam ritual, tetapi juga bermoral dalam tindakan.

Mengutip Surah Al-Ankabut ayat 45, beliau menjelaskan bahwa salah satu fungsi utama dari shalat adalah mencegah perbuatan keji dan mungkar. “Ini bukan sekadar ajakan untuk melaksanakan ibadah formal, melainkan penegasan bahwa spiritualitas sejati adalah yang mampu melahirkan perilaku moral. Jika ibadah tidak membuat kita lebih jujur, lebih sabar, lebih peduli, maka kita harus bertanya pada diri sendiri: sudahkah ibadah kita benar-benar menghidupkan hati?” ujarnya sambil menatap peserta dengan penuh empati.

Dalam penjelasannya yang sederhana namun menyentuh, Bapak Ibrahim menguraikan bahwa kecerdasan spiritual bukan hanya tentang memahami teks agama, tetapi juga tentang menumbuhkan kesadaran batin untuk berbuat baik. Ia mencontohkan bahwa seorang mahasiswa yang memiliki kecerdasan spiritual tidak akan menyontek saat ujian, karena ia sadar bahwa kejujuran lebih berharga daripada nilai tinggi. Seorang dosen yang cerdas secara spiritual tidak akan abai terhadap tanggung jawab akademik, karena ia merasa setiap ilmu yang diajarkan adalah amanah.

Lebih jauh, beliau menggambarkan bahwa krisis moral yang terjadi dewasa ini seringkali bermula dari hilangnya koneksi antara akal dan hati. Akal yang tidak dibimbing oleh nilai spiritual akan mudah tergoda oleh ambisi, kepentingan pribadi, dan keserakahan. Oleh karena itu, kecerdasan spiritual adalah keseimbangan yang menuntun manusia agar tetap waras di tengah kekacauan dunia modern. “Kita boleh modern dalam cara berpikir, tetapi harus tetap religius dalam cara hidup,” tegas beliau.

Dalam sesi refleksi, peserta diajak untuk merenungkan peran masing-masing dalam menjaga moralitas di lingkungan akademik. Mahasiswa diajak untuk menjadikan kuliah bukan sekadar kewajiban, tetapi ladang pengabdian dan pencarian makna. Para dosen diingatkan untuk menjadi teladan moral dan spiritual bagi mahasiswanya, bukan hanya dalam ucapan, tetapi dalam tindakan dan keikhlasan mengabdi. Sedangkan tenaga kependidikan diingatkan bahwa setiap pelayanan administratif yang dilakukan dengan niat tulus juga merupakan ibadah yang bernilai tinggi.

Bapak Ibrahim juga menyoroti bahwa pendidikan tanpa spiritualitas akan kehilangan jiwanya. “Pendidikan sejati adalah yang mampu membentuk manusia yang berilmu dan berakhlak. Kecerdasan otak bisa membuat seseorang hebat, tetapi kecerdasan hati yang membuatnya bermartabat,” tuturnya. Ia menambahkan bahwa perguruan tinggi seperti UMU Buton memiliki tanggung jawab moral untuk mencetak generasi yang tidak hanya cakap secara akademik, tetapi juga berkarakter dan berjiwa sosial.

Dalam suasana yang hening, beliau menutup tausiyahnya dengan pesan mendalam: bahwa setiap individu harus mulai membangun kesadaran spiritual dari hal-hal kecil. Mulai dari kejujuran dalam bekerja, kesabaran dalam menghadapi ujian, hingga rasa syukur atas nikmat sekecil apa pun. “Ketika kita menata hati, kita menata hidup. Dan ketika hidup tertata, kita akan mampu menghadapi setiap krisis dengan ketenangan,” katanya dengan nada yang tenang namun menggugah.

Peserta tampak terharu. Beberapa menundukkan kepala dalam diam, merenungkan kata demi kata yang baru saja mereka dengar. Tidak sedikit pula yang mencatat poin-poin penting dari tausiyah tersebut, seolah tak ingin kehilangan satu pun butiran hikmah. Setelah sesi utama selesai, acara dilanjutkan dengan doa bersama yang dipimpin langsung oleh pemateri, memohon agar Allah senantiasa menjaga hati, menuntun langkah, dan memperkuat iman seluruh civitas akademika UMU Buton.

Kegiatan Ngaji Rutin Kamis kali ini menjadi lebih dari sekadar pertemuan keagamaan. Ia menjadi ruang spiritual yang menyatukan kesadaran kolektif tentang pentingnya moralitas dalam setiap aspek kehidupan. Dalam dunia akademik yang dipenuhi dinamika dan persaingan, kegiatan seperti ini mengingatkan bahwa keberhasilan sejati tidak hanya diukur dari gelar dan jabatan, tetapi dari integritas dan kedalaman spiritual yang melekat pada diri seseorang.

rektor UMU Buton, Bapak Dr.H.Sujiton, yang turut hadir dalam kegiatan ini, menyampaikan apresiasi atas konsistensi pelaksanaan Ngaji Rutin Kamis. Beliau menilai kegiatan ini sangat penting dalam membangun karakter civitas akademika yang berlandaskan nilai Aswaja dan moderasi beragama. “Ngaji Rutin Kamis bukan hanya kegiatan seremonial, melainkan bagian dari strategi membangun peradaban kampus yang berkarakter Islami. Kita ingin kampus ini menjadi tempat ilmu tumbuh bersama iman, dan pengetahuan berjalan seiring dengan moral,” ujar beliau dengan penuh semangat.

Di akhir kegiatan, suasana kebersamaan begitu terasa. Para peserta saling bersalaman, tersenyum, dan berbagi kesan. Ada rasa damai yang tersisa di hati setiap orang yang hadir. Mereka pulang dengan hati yang lebih ringan, pikiran yang lebih jernih, dan tekad yang lebih kuat untuk menjadi pribadi yang lebih baik.

Kegiatan ini kembali menegaskan bahwa UMU Buton tidak hanya mencetak generasi berilmu, tetapi juga membina insan yang berjiwa spiritual dan bermoral tinggi. Dalam konteks dunia pendidikan tinggi, Ngaji Rutin Kamis adalah oase rohani yang menyeimbangkan antara dunia akademik yang rasional dan dunia batin yang spiritual. Ia menjadi bukti bahwa pendidikan sejati bukan hanya tentang apa yang dipelajari di kelas, tetapi juga tentang bagaimana seseorang menata hati dan perilaku di kehidupan nyata.

Dengan mengusung semangat learning with soul, UMU Buton terus menanamkan nilai-nilai Islam rahmatan lil ‘alamin dalam setiap langkah pengembangannya. Kegiatan Ngaji Rutin Kamis akan terus dilaksanakan secara konsisten sebagai bagian dari ikhtiar membangun insan akademik yang beriman, berilmu, dan berakhlak.

Di tengah dunia yang semakin canggih, kegiatan sederhana seperti ini menjadi pengingat bahwa sejatinya manusia tidak pernah benar-benar maju jika meninggalkan nilai-nilai moral dan spiritual. Dan di sinilah UMU Buton berdiri teguh: membangun peradaban dengan ilmu, menghidupkan akhlak dengan iman, serta menumbuhkan kemanusiaan dengan kasih dan kebijaksanaan.

 

Editor: Muh Adil

Tags :
Bagikan :