ar
en
id

Bahasa:

KEPEMIMPINAN MEMBANGUN BUDAYA MUTU

UMU Online-Dalam semangat memperkuat tata kelola akademik yang berintegritas dan berorientasi mutu, Universitas Muslim Buton  kembali menggelar Leader Forum Kamisan sebagai bagian integral dari program LEVEL UP Tuesday. Forum ini diselenggarakan pada Kamis, 30 Oktober 2025, bertempat di Ballroom Al-Munawwara, dan dihadiri oleh Ketua Badan Penyelenggara UMU Buton, Dr. (Cand.) Ibrahim Marsela, Presiden UMU Buton Dr. Laode Rasmin, para Wakil Rektor, pejabat struktural, dosen, serta tenaga kependidikan. Kehadiran berbagai elemen kepemimpinan universitas tersebut mencerminkan komitmen kuat UMU Buton dalam membangun budaya organisasi yang adaptif, kolaboratif, dan berorientasi pada peningkatan kinerja institusi.

Rapat yang dipimpin oleh Wakil Rektor Bidang Akademik dan Kemahasiswaan ini menghadirkan dua narasumber utama, yakni Ketua Lembaga Penjaminan Mutu dan Kepala PD-DIKTI UMU Buton. Keduanya menyampaikan pembahasan yang berfokus pada evaluasi kecukupan dokumen akademik dan non-akademik, terutama yang berkaitan dengan sistem pelaporan data pendidikan tinggi seperti PD-DIKTI, SAPTO 2.0, SINTA, dan akun SPMI UMU Buton. Agenda ini menjadi momentum penting dalam memastikan bahwa seluruh elemen universitas memiliki kesadaran yang sama terhadap pentingnya tata kelola data, transparansi, serta kesesuaian dokumen yang menjadi indikator utama penilaian mutu perguruan tinggi.

Forum ini menjadi wadah evaluasi mingguan yang strategis untuk meninjau capaian dan kekurangan pelaksanaan tugas akademik dan non-akademik di setiap unit kerja. Dalam pelaksanaannya, Leader Forum Kamisan bukan sekadar ruang diskusi administratif, melainkan arena pembelajaran kolektif bagi para pimpinan fakultas, kepala pusat, serta dosen untuk memperkuat budaya reflektif dan solutif dalam menghadapi tantangan tata kelola pendidikan tinggi yang semakin kompleks. Dengan pendekatan partisipatif, setiap peserta diberi ruang untuk memberikan pandangan, analisis, serta usulan perbaikan terhadap kondisi riil dokumen dan data yang dimiliki oleh masing-masing unit.

Salah satu isu utama yang mengemuka dalam forum kali ini adalah aspek kecukupan data dan dokumen pada sistem PD-DIKTI. Kepala PD-DIKTI UMU Buton menegaskan pentingnya konsistensi pelaporan, sinkronisasi data dosen, mahasiswa, kurikulum, dan aktivitas pembelajaran agar seluruh informasi yang tercatat dapat menjadi representasi valid dari kualitas penyelenggaraan pendidikan. Penekanan diberikan pada pentingnya keterpaduan kerja antarunit agar proses unggah data tidak sekadar menjadi rutinitas administratif, tetapi juga bagian dari sistem akuntabilitas yang mendukung keandalan lembaga.

Sementara itu, Ketua LPM menyoroti pentingnya keterkaitan antara kelengkapan dokumen kebijakan, audit keuangan, serta hasil tracer study alumni sebagai instrumen penjaminan mutu yang berkesinambungan. Ia menjelaskan bahwa SPMI bukanlah sekadar sistem dokumen, melainkan cerminan budaya mutu yang hidup di setiap lini. Oleh karena itu, upaya penguatan data dan kebijakan harus diiringi dengan peningkatan pemahaman seluruh sivitas akademika terhadap nilai-nilai mutu, kedisiplinan pelaporan, serta tanggung jawab akademik yang berorientasi pada keberlanjutan institusi.

Diskusi juga menyinggung aspek kecukupan sumber daya manusia dosen di setiap program studi. Wakil Rektor Bidang Akademik menegaskan bahwa penguatan SDM dosen merupakan fondasi bagi keberlangsungan mutu pembelajaran. Dalam konteks ini, forum menyoroti pentingnya pemetaan rasio dosen terhadap mahasiswa, kualifikasi pendidikan, serta produktivitas tridarma sebagai dasar dalam menentukan arah rekrutmen dan pengembangan karier dosen. Pendekatan berbasis data menjadi kunci agar keputusan strategis universitas dapat diambil secara objektif, efisien, dan tepat sasaran.

Kehadiran Ketua Badan Penyelenggara UMU Buton, Dr. (Cand.) Ibrahim Marsela, memberi makna tersendiri bagi jalannya forum. Dalam sambutannya, beliau menegaskan bahwa Leader Forum Kamisan merupakan refleksi dari budaya kepemimpinan berbasis keteladanan dan akuntabilitas. Ia mengajak seluruh peserta untuk memandang evaluasi bukan sebagai bentuk kritik, melainkan sebagai proses pembelajaran untuk tumbuh bersama. Dengan semangat continuous improvement, setiap kekurangan harus dijadikan bahan introspeksi, dan setiap capaian harus menjadi inspirasi untuk melangkah lebih jauh.

Beliau juga menekankan pentingnya membangun ekosistem kampus yang memiliki kesadaran kolektif terhadap pentingnya dokumentasi yang rapi, valid, dan terverifikasi. Dokumen bukan hanya alat administrasi, melainkan representasi nyata dari integritas dan tanggung jawab institusi dalam mempertanggungjawabkan kinerjanya kepada publik dan pemerintah. Dengan demikian, keberhasilan UMU Buton tidak hanya diukur dari banyaknya aktivitas yang dilakukan, tetapi dari sejauh mana universitas mampu menjaga konsistensi mutu dan akuntabilitasnya dalam setiap proses.

Suasana forum berlangsung dinamis dan produktif. Para dosen dan pejabat struktural aktif memberikan pandangan serta solusi untuk memperbaiki sistem pelaporan data, melengkapi dokumen kebijakan, serta mengoptimalkan fungsi akun SPMI sebagai wadah digital penjaminan mutu. Diskusi yang konstruktif ini mencerminkan semangat kolegialitas dan profesionalisme yang kuat di lingkungan UMU Buton. Setiap unit berkomitmen untuk mempercepat tindak lanjut hasil evaluasi agar seluruh data dan dokumen yang menjadi kebutuhan akreditasi, pelaporan nasional, maupun internal universitas dapat terselesaikan dengan baik dan tepat waktu.

Leader Forum Kamisan menjadi bukti nyata bahwa kepemimpinan di UMU Buton dibangun atas dasar komunikasi yang terbuka, kolaborasi yang solid, dan tanggung jawab bersama. Forum ini tidak hanya memperkuat koordinasi antara pimpinan dan pelaksana teknis, tetapi juga membentuk karakter organisasi yang resilien dan berorientasi mutu. Dari ruang inilah lahir kesadaran baru bahwa mutu bukan sekadar hasil, melainkan perjalanan panjang yang harus dijaga dengan kerja keras, ketulusan, dan komitmen.

Pada akhirnya, pelaksanaan Leader Forum Kamisan sebagai bagian dari program LEVEL UP Tuesday menjadi simbol dari gerakan perubahan manajerial di UMU Buton. Forum ini tidak hanya membangun keselarasan arah kerja seluruh unit, tetapi juga menegaskan bahwa kepemimpinan sejati adalah kemampuan untuk mendengar, mengevaluasi, dan memperbaiki diri. Dalam dinamika global pendidikan tinggi yang terus berubah, UMU Buton menunjukkan bahwa kualitas institusi bukan ditentukan oleh besar kecilnya sumber daya, melainkan oleh kekuatan visi, konsistensi tindakan, dan budaya mutu yang terus dijaga. Dengan semangat Level Up, UMU Buton melangkah maju menuju universitas unggul yang berdaya saing, berkarakter, dan berkomitmen pada mutu berkelanjutan.

 

Editor UMU Buton, Muh Adil

Tags :
Bagikan :