ar
en
id

Bahasa:

KETERTIBAN SOSIAL DALAM PERSPEKTIF ISLAM

Ngaji Dan Kajian Rutin Kamisan UMU Buton: Memperkuat Ketertiban Sosial dan Nilai Keislaman di Lingkungan Kampus

UMU Online-Baubau, 9 Oktober 2025 Universitas Muslim Buton terus meneguhkan jati dirinya sebagai kampus berkarakter Islami melalui pelaksanaan Ngaji Rutin Kamisan, sebuah kegiatan pembinaan rohani dan intelektual yang ditujukan bagi seluruh civitas akademika. Kegiatan yang berlangsung pada Kamis, 9 Oktober 2025, di Ballroom Al-Munawwarah UMU Buton, dimulai ba’da Dzuhur, mengusung tema “Ketertiban Sosial dalam Perspektif Islam.”

Kegiatan ini menghadirkan La Doni, S.Pd., M.Pd., dosen Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) Universitas Muslim Buton, sebagai pemateri utama. Dalam kesempatan ini, beliau menguraikan pandangan Islam tentang pentingnya ketertiban sosial sebagai salah satu pilar kehidupan bermasyarakat yang berkeadaban dan berkeimanan.

Ngaji Rutin Kamisan merupakan agenda spiritual mingguan yang digagas oleh Universitas Muslim Buton sebagai bagian dari program pembinaan karakter Islami. Tujuan kegiatan ini tidak hanya untuk memperdalam pemahaman keagamaan, tetapi juga untuk membangun kesadaran moral dan sosial di kalangan dosen, mahasiswa, dan tenaga kependidikan. Dengan mengintegrasikan nilai-nilai Islam dalam kehidupan akademik, UMU Buton berupaya melahirkan generasi yang cerdas, berakhlak mulia, dan bertanggung jawab terhadap masyarakat.

Kegiatan dimulai dengan suasana khusyuk melalui pembacaan Al-Qur’an Surah Al-Māidah ayat 1–5, yang berisi pesan tentang pentingnya menepati janji, menjaga hubungan sosial, dan menegakkan keadilan dalam kehidupan bersama. Bacaan ayat-ayat suci tersebut menjadi pengantar yang sarat makna sebelum memasuki sesi utama kajian.

Dalam paparannya, La Doni, S.Pd., M.Pd. menyampaikan bahwa ketertiban sosial merupakan manifestasi dari keimanan yang benar. Menurut beliau, Islam memandang keteraturan hidup bermasyarakat sebagai bagian dari ibadah, karena mencerminkan ketaatan terhadap perintah Allah SWT dalam menjaga keharmonisan dan keadilan antar manusia. Ia menegaskan bahwa umat Islam tidak hanya dituntut untuk beriman secara individual, tetapi juga untuk berperan aktif menciptakan lingkungan sosial yang tertib, aman, dan saling menghormati.

“Ketertiban sosial adalah cerminan dari akhlak Islami. Seorang Muslim sejati bukan hanya rajin beribadah, tetapi juga peduli terhadap keteraturan dan kesejahteraan masyarakat di sekitarnya,” ungkapnya penuh penekanan.

Lebih lanjut, beliau menguraikan bahwa dalam konteks kehidupan kampus, ketertiban sosial dapat diwujudkan melalui sikap disiplin, saling menghormati antar civitas akademika, serta komitmen menjaga etika akademik. Kedisiplinan hadir tepat waktu, menjaga kebersihan, dan menghargai pendapat orang lain merupakan bentuk sederhana dari ketertiban sosial yang berakar dari nilai-nilai Islam.

“Ketika mahasiswa datang kuliah tepat waktu, dosen menjalankan tugas dengan amanah, dan pegawai bekerja dengan jujur — itu semua adalah ibadah sosial yang mendatangkan keberkahan,” jelasnya.

Dalam kesempatan tersebut, pemateri juga menyinggung pentingnya nilai tanggung jawab kolektif (collective responsibility) dalam menjaga ketertiban sosial. Ia mencontohkan bahwa Rasulullah SAW dalam berbagai hadits menekankan pentingnya tolong-menolong dalam kebaikan dan melarang sikap acuh tak acuh terhadap kondisi lingkungan.

“Setiap individu di dalam masyarakat, termasuk di lingkungan kampus, memikul tanggung jawab moral untuk menegakkan ketertiban. Jika ada yang lalai, maka tugas kita bukan mencela, tetapi menasihati dan memperbaiki,” tambahnya.

Suasana kajian berlangsung hangat dan interaktif. Para peserta, yang terdiri dari dosen, mahasiswa, dan staf, tampak antusias mengikuti penjelasan dan tanya jawab yang dibuka di akhir sesi. Beberapa pertanyaan menarik diajukan, seperti bagaimana cara menerapkan nilai-nilai Islam dalam menghadapi perbedaan pendapat di lingkungan akademik, serta bagaimana menjaga harmoni sosial di era digital yang penuh tantangan moral.

La Doni menjawab dengan bijak bahwa Islam mengajarkan keseimbangan antara kebebasan dan tanggung jawab. Dalam kehidupan modern, termasuk di dunia kampus, kebebasan berekspresi harus diimbangi dengan etika dan adab yang mengutamakan kebaikan bersama.

“Islam tidak menolak kemajuan, tetapi kemajuan tanpa etika akan kehilangan arah. Ketertiban sosial berarti menempatkan kebebasan dalam koridor nilai-nilai Ilahiah,” ujarnya.

Selain memberikan pencerahan keagamaan, kegiatan Ngaji Rutin Kamisan ini juga berfungsi sebagai ruang silaturahmi spiritual antara berbagai unsur civitas akademika. Dengan berkumpul dalam suasana keilmuan dan keagamaan, hubungan antarpegawai, dosen, dan mahasiswa menjadi lebih dekat dan harmonis. Hal ini selaras dengan semangat UMU Buton dalam membangun kampus yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga berkarakter dan berakhlak Islami.

Kegiatan Ngaji Kamisan juga menjadi momentum refleksi bagi peserta untuk mengevaluasi diri dalam menjalankan peran sosial di lingkungan kerja dan belajar. Banyak peserta yang menyampaikan bahwa kegiatan ini memberikan ketenangan batin sekaligus motivasi baru untuk menjadi pribadi yang lebih tertib, sabar, dan peduli terhadap sesama.

Di akhir sesi, pemateri mengajak seluruh peserta untuk menjadikan ketertiban sosial sebagai bagian dari budaya hidup sehari-hari, bukan sekadar topik kajian sesaat. Beliau menutup dengan pesan penuh makna:

“Ketertiban bukan hanya urusan aturan, tetapi urusan hati. Jika hati kita tertib dengan iman, maka perilaku sosial kita pun akan tertib dalam kebaikan.”

Sebelum penutupan, panitia menyampaikan ucapan terima kasih kepada seluruh peserta yang telah hadir dan berpartisipasi aktif. Mereka juga mengingatkan pentingnya membawa Al-Qur’an, baik dalam bentuk mushaf maupun digital, untuk kegiatan ngaji berikutnya agar interaksi dengan ayat-ayat Allah menjadi lebih mendalam dan bermakna.

Kegiatan diakhiri dengan doa bersama yang dipimpin oleh salah satu dosen senior, memohon agar Allah SWT senantiasa memberikan keberkahan dalam ilmu, amal, dan persaudaraan di lingkungan Universitas Muslim Buton.

Ngaji Rutin Kamisan menjadi bukti nyata bahwa Universitas Muslim Buton tidak hanya berfokus pada pengembangan intelektual, tetapi juga spiritual. Melalui kegiatan seperti ini, kampus berkomitmen membangun keseimbangan antara ilmu dan iman, antara kecerdasan akademik dan ketertiban sosial, sehingga seluruh civitas akademika dapat berkontribusi membentuk masyarakat yang damai, beradab, dan diridhai Allah SWT.

Dengan semangat “Belajar, Beribadah, dan Berakhlak Mulia,” Universitas Muslim Buton terus berupaya menjadikan kampus sebagai pusat pembinaan moral dan spiritual yang mampu melahirkan generasi berilmu, beriman, dan berperan aktif dalam menjaga ketertiban sosial di tengah kehidupan modern.

Editor UMU Buton, Muh Adil

Tags :
Bagikan :