LDK VII UMU BUTON 2026: IBRAHIM MARSELA TEKANKAN ENTREPRENEURSHIP SEBAGAI MINDSET, MAHASISWA DIDORONG MENJADI PEMIMPIN PERUBAHAN

MAHASISWA DIDORONG MENJADI PEMIMPIN PERUBAHAN

UMU Online — Entrepreneurship bukan sekadar profesi, bukan pula semata-mata aktivitas mendirikan usaha. Entrepreneurship adalah pola pikir yang membentuk keberanian mengambil inisiatif, kemampuan membaca peluang, ketangguhan menghadapi tantangan, dan kemauan menciptakan nilai bagi masyarakat. Filosofi inilah yang menjadi pesan utama Ketua Badan Penyelenggara Universitas Muslim Buton (UMU Buton), Drs. H. Ibrahim Marsela, MM, ketika membuka rangkaian materi Latihan Dasar Kepemimpinan VII (LDK VII) Mahasiswa UMU Buton Tahun 2026, Sabtu (24/10/2026).

Materi entrepreneurship tersebut berlangsung pukul 15.30–17.00 WITA di Pantai Lakeba, Kota Baubau, dan diikuti kurang lebih 250 mahasiswa UMU Buton. Dalam suasana pembelajaran terbuka yang memadukan penguatan kepemimpinan, pembentukan karakter, dan pengembangan wawasan kewirausahaan, Ibrahim Marsela mengajak mahasiswa memahami bahwa masa kuliah bukan sekadar perjalanan memperoleh gelar akademik, melainkan proses strategis mempersiapkan diri menjadi sumber daya manusia yang unggul, berintegritas, kompetitif, dan mampu menciptakan perubahan.

Kegiatan ini menjadi momentum penting untuk menegaskan kembali arah pengembangan mahasiswa UMU Buton, sejalan dengan visi institusi, yaitu “Membangun SDM Unggul, Berakhlakul Karimah dan Berwawasan Entrepreneurship.” Visi tersebut, menurut pokok-pokok materi yang disampaikan, bukan hanya pernyataan kelembagaan, tetapi orientasi pembentukan manusia yang harus diwujudkan melalui proses pendidikan, pengalaman organisasi, pengembangan kompetensi, dan pembiasaan perilaku positif selama mahasiswa menempuh pendidikan tinggi.

Dalam pemaparannya, Ibrahim Marsela menekankan bahwa entrepreneurship perlu dipahami sebagai cara berpikir dan cara bertindak dalam menghadapi kehidupan. Seorang entrepreneur tidak selalu harus menjadi pemilik perusahaan atau pengusaha. Lebih mendasar daripada itu, seorang entrepreneur adalah pribadi yang mampu melihat peluang di tengah keterbatasan, mengubah persoalan menjadi kemungkinan solusi, berani mengambil langkah yang terukur, serta menghasilkan karya yang memberikan manfaat.

Perspektif ini memperluas makna kewirausahaan dalam pendidikan tinggi. Mahasiswa perlu memiliki inisiatif, kemandirian, kreativitas, keberanian mengambil tanggung jawab, serta kemampuan mengubah gagasan menjadi tindakan nyata. Semangat entrepreneurship harus tumbuh pada calon guru, birokrat, peneliti, profesional, pemimpin organisasi, maupun calon pelaku usaha.

Dengan demikian, entrepreneurship tidak berhenti sebagai pengetahuan yang dipelajari di ruang kuliah, tetapi menjadi karakter yang hidup dalam keseharian mahasiswa. Ia tercermin dalam kesungguhan menyelesaikan tugas, keberanian mengemukakan gagasan, kecakapan membangun kolaborasi, kemampuan menyelesaikan masalah, dan ketekunan menciptakan hasil yang bernilai.

Dalam kerangka tersebut, mahasiswa didorong untuk tidak membatasi cita-cita pada pencarian pekerjaan setelah lulus. Mereka juga perlu mempersiapkan kemampuan untuk menciptakan pekerjaan, mengembangkan peluang ekonomi, membangun inovasi, dan memberikan kontribusi nyata bagi lingkungan sekitarnya.

Ibrahim Marsela selanjutnya menguraikan bahwa UMU Buton memiliki orientasi untuk menyiapkan mahasiswa menjadi sumber daya manusia yang siap menghadapi dunia kerja dan kehidupan profesional dengan daya saing tinggi. Kesiapan tersebut tidak cukup dibangun melalui penguasaan teori atau pencapaian nilai akademik semata. Mahasiswa perlu memiliki seperangkat kompetensi yang relevan, saling melengkapi, dan dapat diterapkan dalam situasi nyata.

Sebelum meninggalkan pintu gerbang UMU Buton, mahasiswa diharapkan telah membangun skill set yang kuat, meliputi kompetensi bidang keilmuan, keterampilan komunikasi, literasi digital, kemampuan berbahasa, kepemimpinan, kerja sama tim, pemecahan masalah, dan kecakapan berwirausaha. Kombinasi kemampuan tersebut menjadi fondasi untuk menghadapi dunia kerja yang terus berubah, persaingan yang semakin terbuka, serta perkembangan teknologi yang menuntut pembelajaran berkelanjutan.

Konsep mahasiswa multitalenta dalam konteks ini bukan berarti seseorang harus menguasai segala bidang sekaligus. Multitalenta berarti memiliki keahlian utama yang kuat, disertai keterampilan pendukung yang membuatnya adaptif, produktif, dan mampu bekerja lintas bidang. Mahasiswa perlu mengetahui keunggulan dirinya, memperdalam kompetensi profesional, sekaligus mengembangkan kemampuan lain yang memperluas kesempatan untuk berkontribusi.

Orientasi tersebut menuntut mahasiswa mengambil peran aktif dalam proses pembentukan dirinya. Kampus menyediakan lingkungan belajar, pendidikan, pendampingan, dan kesempatan berkembang. Namun, hasil akhirnya sangat ditentukan oleh kesungguhan mahasiswa dalam memanfaatkan setiap kesempatan untuk meningkatkan kapasitas diri.

Aspek lain yang mendapat penekanan dalam materi tersebut adalah pembentukan karakter tangguh. Menurut Ibrahim Marsela, sumber daya manusia unggul tidak cukup hanya cerdas secara intelektual. Mereka juga harus memiliki ketahanan mental, kedisiplinan, daya juang, dan kemampuan menjaga komitmen ketika menghadapi kesulitan.

Karakter tahan banting menjadi modal penting bagi mahasiswa untuk menghadapi tekanan akademik, tantangan organisasi, perubahan lingkungan, maupun ketidakpastian masa depan. Ketangguhan bukan berarti seseorang tidak pernah mengalami kegagalan atau tidak boleh merasa lelah. Ketangguhan justru terlihat dari kemampuan mengevaluasi kesalahan, mengambil pelajaran, memperbaiki strategi, dan kembali melangkah dengan lebih matang.

Semangat pantang menyerah perlu berjalan bersama kemampuan berpikir rasional. Mahasiswa harus berani menghadapi tantangan, tetapi tetap mampu menilai risiko, mempertimbangkan pilihan, dan mengambil keputusan berdasarkan informasi yang memadai. Dengan cara demikian, keberanian tidak berubah menjadi tindakan gegabah, sementara ketekunan tidak kehilangan arah.

Bagi UMU Buton, pembentukan karakter juga tidak dapat dipisahkan dari nilai moral dan akhlak. Mahasiswa diharapkan memiliki integritas, kejujuran, tanggung jawab, tata krama, kepribadian yang baik, serta sikap menghormati orang lain. Kompetensi yang tinggi harus berjalan seiring dengan perilaku yang membanggakan. Keunggulan intelektual akan memperoleh makna sosial yang lebih besar ketika digunakan secara bertanggung jawab dan berlandaskan nilai-nilai kebaikan.

Dalam dunia profesional, karakter semacam ini menjadi modal kepercayaan. Kemampuan dapat membuka kesempatan, tetapi integritas dan konsistensi perilaku membantu mempertahankan kepercayaan serta membangun reputasi dalam jangka panjang.

Dalam menghadapi perubahan zaman, mahasiswa juga perlu membangun growth mindset, yaitu keyakinan bahwa kemampuan dapat terus dikembangkan melalui proses belajar, latihan, pengalaman, dan evaluasi. Pola pikir ini mendorong mahasiswa untuk tidak menganggap keterbatasan saat ini sebagai batas permanen bagi masa depannya.

Mahasiswa yang memiliki growth mindset tidak mudah merasa puas dengan pencapaian yang telah diraih. Ia bersedia menerima masukan, mengakui kekurangan, mempelajari keterampilan baru, dan memperbaiki cara kerja. Kegagalan dipandang sebagai bahan evaluasi, sedangkan keberhasilan menjadi pijakan untuk mencapai kualitas yang lebih tinggi.

Semangat tersebut berkaitan erat dengan continuous learning, yakni komitmen untuk terus belajar sepanjang hayat. Pendidikan tinggi bukan akhir dari proses pembelajaran, melainkan fondasi untuk belajar secara mandiri, kritis, dan berkelanjutan. Perubahan teknologi, kebutuhan dunia kerja, serta dinamika masyarakat menuntut setiap lulusan untuk terus memperbarui pengetahuan dan keterampilannya.

Melalui materi entrepreneurship ini, mahasiswa diajak memahami bahwa keunggulan bukanlah status yang diperoleh sekali untuk selamanya. Keunggulan harus dirawat melalui kedisiplinan, keterbukaan terhadap pengetahuan baru, kemauan beradaptasi, dan keberanian memperbaiki diri.

Ibrahim Marsela juga menekankan pentingnya kemampuan berpikir kritis atau critical thinking, terutama kemampuan analisis dalam memahami persoalan dan menentukan langkah penyelesaian. Mahasiswa perlu membiasakan diri memeriksa informasi, membedakan fakta dan asumsi, mengidentifikasi akar masalah, menimbang berbagai alternatif, serta menyusun keputusan yang dapat dipertanggungjawabkan.

Kemampuan analitis menjadi semakin penting di tengah arus informasi yang cepat dan kompleks. Mahasiswa tidak cukup hanya menjadi penerima informasi. Mereka perlu mampu mengolah pengetahuan, menguji gagasan, menyampaikan argumentasi secara logis, dan menghasilkan solusi yang relevan dengan kebutuhan masyarakat.

Selain berpikir kritis, mahasiswa perlu mengembangkan leadership atau kepemimpinan. Kepemimpinan tidak semata-mata ditentukan oleh jabatan dalam organisasi. Kepemimpinan tercermin dalam kemampuan mengambil inisiatif, menetapkan arah, menggerakkan orang lain, menjaga komitmen, menyelesaikan persoalan bersama, dan bertanggung jawab atas keputusan yang diambil.

Kemampuan membangun networking atau jejaring juga menjadi unsur penting. Mahasiswa perlu belajar menjalin hubungan profesional, menghargai perbedaan, berkolaborasi, dan membangun kepercayaan dengan berbagai pihak. Jejaring yang berkualitas bukan sekadar banyaknya kenalan, melainkan hubungan yang dibangun melalui integritas, komunikasi yang baik, kompetensi, dan kemauan untuk saling memberikan manfaat.

Ketiga kemampuan tersebut—berpikir kritis, kepemimpinan, dan jejaring—saling memperkuat. Analisis yang tajam membantu menentukan arah, kepemimpinan menggerakkan tindakan, sedangkan jejaring memperluas ruang kolaborasi. Apabila dikembangkan bersama karakter yang baik dan semangat entrepreneurship, mahasiswa akan memiliki bekal yang lebih kokoh untuk menjadi pelaku perubahan.

Pada bagian akhir materi, Ibrahim Marsela menyampaikan pesan khusus agar mahasiswa menggunakan waktu selama menempuh pendidikan di UMU Buton dengan sebaik-baiknya. Empat tahun masa kuliah, menurut pesan yang disampaikannya, merupakan waktu yang sangat singkat jika dibandingkan dengan perjalanan kehidupan dan tanggung jawab yang akan dihadapi setelah lulus.

Karena itu, mahasiswa diminta tidak membiarkan waktu berlalu tanpa tujuan. Setiap hari perlu dimanfaatkan untuk memperkaya ilmu pengetahuan, memperkuat keterampilan, membangun karakter, memperluas pengalaman, dan menyiapkan masa depan. Kesempatan yang tidak digunakan untuk berkembang dapat menjadi peluang pembelajaran yang terlewatkan.

Untuk membantu mahasiswa memahami pentingnya keseimbangan dalam mengelola waktu, ia memperkenalkan rumus 8+8+8. Rumus ini membagi 24 jam sehari menjadi tiga bagian: delapan jam untuk belajar dan aktivitas produktif, delapan jam untuk beristirahat, serta delapan jam untuk keluarga dan kehidupan personal.

Dalam penerapannya, delapan jam untuk belajar dimaknai sebagai komitmen terhadap pengembangan diri, baik melalui perkuliahan, membaca, latihan keterampilan, aktivitas organisasi, maupun kegiatan produktif lain. Delapan jam istirahat menegaskan pentingnya menjaga kebugaran dan pemulihan tubuh agar proses belajar berlangsung optimal. Sementara itu, delapan jam untuk keluarga dan kehidupan personal mengingatkan mahasiswa agar tetap menjaga hubungan sosial, tanggung jawab, dan keseimbangan hidup.

Rumus tersebut menjadi pengingat bahwa keberhasilan tidak hanya ditentukan oleh seberapa keras seseorang bekerja, tetapi juga oleh kemampuannya mengatur prioritas secara disiplin dan berkelanjutan. Mahasiswa perlu menyusun agenda, menetapkan target, mengevaluasi kemajuan, dan memastikan setiap aktivitas memberikan manfaat bagi pertumbuhan dirinya.

Waktu yang dikelola dengan baik akan membentuk kebiasaan. Kebiasaan yang konsisten akan memperkuat karakter. Karakter yang kuat, apabila didukung kompetensi dan integritas, akan menjadi modal penting untuk membangun masa depan yang lebih baik.

Menutup materinya, Ibrahim Marsela mengajak mahasiswa UMU Buton untuk tidak sekadar menjadi follower atau pengikut yang menunggu arahan, tetapi berani tampil sebagai leader atau pemimpin perubahan. Pesan ini menegaskan bahwa mahasiswa harus mengambil peran aktif dalam membentuk masa depan, bukan hanya mengikuti keadaan tanpa inisiatif.

Menjadi pemimpin perubahan tidak berarti harus selalu berada di posisi tertinggi. Seorang mahasiswa dapat memulainya dari hal sederhana: disiplin terhadap waktu, menjadi teladan dalam kejujuran, membantu menyelesaikan persoalan kelompok, menghadirkan gagasan baru, membangun kegiatan yang bermanfaat, atau mengembangkan usaha yang membuka peluang bagi orang lain.

Perubahan besar sering kali berawal dari tindakan kecil yang dilakukan secara konsisten. Karena itu, mahasiswa tidak perlu menunggu lulus untuk mulai berkarya. Lingkungan kampus merupakan ruang latihan untuk menguji gagasan, mengembangkan keberanian, membangun kolaborasi, dan membuktikan kemampuan dalam menghasilkan sesuatu yang bermanfaat.

Pesan tersebut sekaligus menegaskan bahwa kepemimpinan dan entrepreneurship merupakan dua kekuatan yang saling melengkapi. Kepemimpinan memberikan arah dan kemampuan menggerakkan, sedangkan entrepreneurship mendorong penciptaan peluang, inovasi, dan nilai tambah. Ketika keduanya berpijak pada akhlak, integritas, dan tanggung jawab, mahasiswa berpeluang tumbuh menjadi pemimpin yang tidak hanya berhasil bagi dirinya sendiri, tetapi juga membawa manfaat bagi masyarakat.

Pelaksanaan materi entrepreneurship dalam LDK VII Mahasiswa UMU Buton Tahun 2026 memperkuat pesan bahwa pendidikan kepemimpinan harus melampaui pengenalan struktur organisasi dan pembagian tugas. Pendidikan kepemimpinan perlu membentuk cara berpikir, memperkuat karakter, menumbuhkan tanggung jawab, serta melatih mahasiswa mengambil tindakan yang produktif dan terukur.

Melalui kegiatan ini, mahasiswa diajak melihat masa kuliah sebagai investasi penting bagi masa depan. Gelar akademik tetap menjadi capaian penting, tetapi kualitas lulusan juga ditentukan oleh karakter, kompetensi, daya adaptasi, pengalaman, dan kemampuan menghadirkan solusi.

Arah tersebut selaras dengan cita-cita UMU Buton untuk membangun sumber daya manusia yang unggul, berakhlakul karimah, dan berwawasan entrepreneurship. Mahasiswa diharapkan tumbuh menjadi pribadi yang memiliki keahlian, berintegritas, tangguh menghadapi tantangan, terus belajar, mampu bekerja sama, dan berani menciptakan peluang.

Pada akhirnya, keberhasilan pendidikan tidak hanya diukur dari banyaknya mahasiswa yang menyelesaikan studi, tetapi juga dari kemampuan lulusan menggunakan ilmu untuk memecahkan persoalan, membangun kehidupan yang bermartabat, dan memberikan kontribusi bagi kemajuan daerah serta bangsa.

Pesan utama LDK VII UMU Buton 2026 terangkum dalam satu orientasi: gunakan waktu untuk menempa diri, bangun kompetensi dengan kesungguhan, jaga akhlak dan integritas, kembangkan semangat entrepreneurship, serta beranilah menjadi pemimpin perubahan. Sebab, mahasiswa yang unggul bukan hanya mereka yang siap menghadapi masa depan, melainkan mereka yang mempersiapkan diri sejak hari ini untuk ikut membentuk masa depan.

Tags :
Bagikan :