UMU Online-Universitas Muslim Buton kembali menggelar kegiatan Leader Forum, sebuah ruang strategis bagi seluruh pimpinan dan pegawai universitas untuk berbagi wawasan, memperkuat sinergi kelembagaan, dan memperdalam pemahaman terhadap konsep Good University Governance atau tata kelola perguruan tinggi yang baik. Kegiatan ini dilaksanakan pada Kamis, 06 November 2025, pukul 15.30–16.30 WITA, bertempat di lingkungan kampus utama UMU Buton.
Forum ini mengangkat tema yang sangat relevan dengan arah pengembangan universitas masa kini, yakni “Tata Kelola UMU Buton.” Dalam kesempatan ini, tampil sebagai narasumber utama Dr. (Cand.) Ibrahim Marsela, dan sebagai keynote speaker adalah Dr. La Ode Rasmin, salah satu tokoh akademik yang dikenal dengan pandangan visionernya tentang penguatan tata kelola perguruan tinggi berbasis mutu dan teknologi. Peserta kegiatan ini adalah seluruh pegawai UMU Buton dari berbagai unit kerja dan lembaga di bawah koordinasi universitas, baik akademik maupun non-akademik.
Kegiatan Leader Forum merupakan bagian dari upaya UMU Buton untuk memperkuat kapasitas manajerial sumber daya manusia sekaligus membangun budaya organisasi yang kolaboratif. Dalam forum ini, para peserta diajak untuk memahami bagaimana prinsip tata kelola yang baik menjadi fondasi keberhasilan institusi pendidikan tinggi. Seiring dengan meningkatnya tuntutan transparansi, akuntabilitas, dan inovasi, universitas dituntut untuk memiliki sistem pengelolaan yang efisien, adaptif, dan terintegrasi.
Dalam paparannya, Dr. (Cand.) Ibrahim Marsela menegaskan bahwa tata kelola bukan sekadar urusan administratif, tetapi merupakan “roh” dari keberlangsungan universitas. Ia memulai dengan penjelasan filosofis bahwa sebuah lembaga pendidikan tinggi ibarat tubuh manusia: sistem tata kelola adalah jantungnya. Jika jantung berdetak dengan teratur, maka seluruh organ dapat bekerja harmonis; namun jika jantung lemah, seluruh fungsi tubuh akan terganggu. Begitu pula universitas, hanya bisa berjalan dengan baik jika sistem pengelolaan antar lembaganya bekerja selaras dan saling menopang.
Dalam konteks UMU Buton, Dr. Ibrahim menjelaskan bahwa penerapan prinsip tata kelola yang baik telah mulai diintegrasikan melalui penerapan PPEP — Perencanaan, Pelaksanaan, Evaluasi, dan Pengendalian Peningkatan — sebagai siklus budaya mutu universitas. Sistem ini bukan hanya formalitas administratif, tetapi menjadi instrumen nyata untuk membangun kesadaran kualitas di setiap lini kerja. Setiap program, kegiatan, dan kebijakan dievaluasi secara berkala agar perbaikan dapat dilakukan secara berkelanjutan. “Tidak ada kesuksesan tanpa tata kelola yang baik, dan tidak ada tata kelola yang baik tanpa budaya mutu,” ujar Dr. (Cand.) Ibrahim menekankan.
Beliau juga menyinggung tentang pentingnya menjaga koordinasi dan sinergitas antar lembaga di lingkungan UMU Buton. Dalam pandangannya, universitas adalah ekosistem kolaboratif, bukan arena kompetisi internal. Keberhasilan satu lembaga atau unit kerja adalah bagian dari keberhasilan universitas secara keseluruhan. Karena itu, setiap pihak diharapkan menjaga komunikasi terbuka, memperkuat koordinasi lintas bidang, dan menumbuhkan rasa saling mendukung. “Kita tidak bisa membangun universitas besar dengan semangat kerja yang terpisah. Sinergi adalah kata kunci tata kelola modern,” ungkapnya.
Salah satu poin menarik dari paparan Dr. (Cand) Ibrahim adalah penekanannya pada keberadaan kelas pengembangan yang tersebar di Pasarwajo, Matanauwe, dan Lombe. Beliau menyebutkan bahwa dalam satu semester, setiap dosen wajib mengajar minimal dua kali di kelas pengembangan tersebut. Kebijakan ini bukan hanya bentuk pemerataan layanan pendidikan, tetapi juga bagian dari tanggung jawab institusi untuk memperkuat ekosistem akademik di wilayah pengembangan. Ia menegaskan bahwa keterlibatan dosen di kelas pengembangan menjadi bagian dari implementasi tata kelola akademik yang berkeadilan dan inklusif, sejalan dengan semangat UMU Buton untuk semua.
Selain itu, forum juga menyoroti transformasi digital yang sedang berlangsung di UMU Buton. Dr. (Cand) Ibrahim menegaskan pentingnya membangun kampus berbasis teknologi informasi, salah satunya melalui penerapan sistem SIAKARA (Sistem Informasi Akademik dan Kepegawaian UMU Buton). Melalui SIAKARA, seluruh proses akademik dan non-akademik dapat dilakukan secara transparan, cepat, dan efisien. Sistem ini mencakup pengelolaan perkuliahan, absensi, penilaian, pengajuan dokumen, hingga komunikasi antar unit kerja. Dengan demikian, tata kelola universitas tidak lagi bergantung pada pola manual, tetapi beralih pada sistem digital yang terintegrasi.
Digitalisasi, menurut Dr. (Cand) Ibrahim, bukan hanya bentuk modernisasi, tetapi juga cara membangun efisiensi organisasi. Ia mengutip filosofi “struktur ramping, fungsi kaya”, yang kini menjadi pedoman dalam pengembangan organisasi di UMU Buton. Artinya, universitas harus menghindari tumpang tindih fungsi dan birokrasi yang berbelit, namun memastikan bahwa setiap posisi memiliki peran strategis dalam mendukung tujuan institusi. Organisasi yang ramping bukan berarti lemah, justru lebih tangkas dan adaptif dalam menghadapi perubahan.
Sebagai keynote speaker, Dr. La Ode Rasmin memberikan penguatan konseptual terhadap pentingnya tata kelola sebagai indikator utama keberhasilan universitas di era modern. Dalam pandangannya, universitas tidak bisa berkembang hanya dengan mengandalkan semangat individu, tetapi harus ditopang oleh sistem yang kuat dan berkarakter. Ia menegaskan bahwa tata kelola yang baik mencerminkan kesadaran kolektif untuk bekerja dengan prinsip integritas, transparansi, dan tanggung jawab. “Kita boleh berbeda jabatan, tapi harus satu nilai, satu arah, dan satu komitmen mutu,” ujarnya.
Beliau juga mengingatkan bahwa dalam konteks pendidikan tinggi, tata kelola bukan semata urusan administratif, melainkan bagian dari etika akademik. Dosen, pegawai, dan pimpinan harus menjadi teladan dalam disiplin, konsistensi, dan profesionalitas. Tanpa itu, sistem tata kelola hanya menjadi slogan tanpa jiwa. Oleh karena itu, penguatan budaya kerja yang berbasis nilai-nilai Islam, integritas, dan kebersamaan menjadi ruh utama tata kelola UMU Buton.
Diskusi dalam forum berlangsung hangat dan produktif. Beberapa peserta mengajukan pertanyaan seputar implementasi SIAKARA dan mekanisme PPEP di unit masing-masing. Tanggapan yang diberikan menegaskan bahwa sistem ini akan terus dikembangkan secara adaptif sesuai kebutuhan lapangan. Selain itu, dibahas pula pentingnya capacity building bagi dosen dan pegawai agar mampu memanfaatkan teknologi informasi secara optimal.
Leader Forum kali ini tidak hanya menjadi ajang diskusi, tetapi juga momentum refleksi. Para peserta diajak untuk menyadari bahwa tata kelola yang baik dimulai dari diri sendiri – dari kedisiplinan, rasa tanggung jawab, dan kesadaran terhadap peran. Kinerja institusi adalah cermin dari perilaku setiap individu di dalamnya. Ketika setiap orang bekerja dengan niat ibadah dan semangat kolaboratif, maka universitas akan tumbuh dengan kuat, berkarakter, dan berdaya saing.
Kegiatan diakhiri dengan penegasan komitmen bersama seluruh peserta untuk memperkuat sinergitas antar lembaga dan menjaga budaya mutu dalam setiap aspek pekerjaan. Dalam suasana yang penuh semangat dan optimisme, Dr. Ibrahim menutup forum dengan kalimat yang sarat makna: “Keberhasilan bukan soal siapa yang paling menonjol, tetapi siapa yang paling konsisten dalam bekerja bersama. Tata kelola yang baik tidak lahir dari kebijakan semata, tetapi dari niat tulus untuk membangun universitas ini dengan hati.”
Forum ini meninggalkan kesan mendalam bagi peserta. Banyak yang menilai bahwa kegiatan seperti Leader Forum sangat penting untuk menjaga arah bersama dan memperkuat komunikasi antar unit. Di tengah perubahan cepat dunia pendidikan tinggi, UMU Buton menunjukkan langkah nyata bahwa tata kelola bukan sekadar jargon manajerial, tetapi bagian dari budaya organisasi yang hidup.
Dengan semangat kolaborasi, transparansi, dan keberlanjutan, Leader Forum menjadi wadah pembelajaran bersama untuk memastikan UMU Buton terus melangkah maju sebagai kampus modern yang menjunjung nilai Aswaja, berdaya saing global, dan berkomitmen pada mutu. Karena sejatinya, sebagaimana yang ditegaskan dalam forum ini, tidak ada keberhasilan tanpa tata kelola yang baik, dan tidak ada tata kelola yang baik tanpa kesadaran bersama bahwa waktu, tenaga, dan dedikasi setiap pegawai adalah bagian dari ibadah membangun peradaban ilmu di bumi Buton tercinta.
Editor, Muh Adil UMU Buton
