UMU Online– Baubau, 14 Juni 2025, Di tengah dinamika zaman yang terus bergerak cepat dan penuh tantangan, semangat bela negara harus terus dipupuk dan ditanamkan pada generasi muda. Pemerintah Kota Baubau memberikan ruang yang bermakna melalui kegiatan Pendidikan dan Pelatihan Bela Negara yang diselenggarakan pada 15 hingga 18 Juni 2025 bertempat di Kompi Senapan A 725 Woroagi, Baubau. Kegiatan ini tidak hanya menjadi ajang pelatihan kedisiplinan dan ketahanan fisik, tetapi juga wahana membangun karakter dan semangat nasionalisme generasi muda.
Sebagai bentuk partisipasi aktif dalam mencetak generasi yang tangguh dan berkarakter, Universitas Muslim Buton mengirimkan dua mahasiswa terbaiknya: Riski dan Wa Ode Vela, yang mewakili wajah muda kampus dengan semangat intelektual yang kuat dan kecintaan terhadap tanah air. Mereka merupakan bagian dari mahasiswa terpilih yang akan menjalani proses pelatihan sebagai bekal memperkuat kepedulian, keberanian, serta kontribusi nyata kepada bangsa dan negara.
Sebelum pemberangkatan ke lokasi pelatihan, Upacara Pelepasan secara resmi dilaksanakan pada 14 Juni 2025 di lingkungan kampus UMU Buton. Dalam upacara yang khidmat tersebut, Wakil Rektor Bidang Akademik dan Kemahasiswaan UMU Buton hadir memberikan pesan pelepasan yang sarat dengan motivasi, doa, dan harapan. Beliau menyampaikan bahwa keterlibatan mahasiswa dalam pendidikan bela negara merupakan cerminan nyata dari komitmen UMU Buton untuk membentuk lulusan yang tidak hanya unggul dalam pengetahuan, tetapi juga kuat dalam karakter dan nasionalisme.
Dalam sambutannya, beliau menuturkan, “Kami bangga melepas dua putra-putri terbaik UMU Buton untuk mengikuti Pendidikan dan Pelatihan Bela Negara. Kegiatan ini adalah ruang aktualisasi diri, tempat di mana kalian tidak hanya dilatih untuk kuat secara fisik, tetapi juga kokoh dalam prinsip, tangguh dalam berpikir, dan bijak dalam bertindak. Semoga sepulang dari pelatihan ini, kalian kembali membawa semangat baru untuk membangun bangsa dari ruang akademik, sosial, hingga kemasyarakatan.”
Beliau menegaskan bahwa bela negara bukan sekadar aksi militer, tetapi sebuah sikap dan perilaku yang mencerminkan cinta tanah air melalui kerja keras, kedisiplinan, dan kontribusi nyata di berbagai sektor kehidupan. Mahasiswa, sebagai agen perubahan, perlu terus diberi ruang dan kesempatan untuk mengalami langsung proses pembentukan mental kebangsaan seperti ini.
Pada kesempatan yang sama, dua mahasiswa perwakilan yang dilepas juga menyampaikan kesan dan pesan yang menyentuh. Riski, dalam pernyataannya, menyampaikan rasa bangganya dapat mewakili UMU Buton dalam kegiatan yang penuh nilai ini. Ia merasa bahwa pelatihan ini akan menjadi titik balik bagi dirinya untuk membentuk mental juang yang kuat, memperluas pandangan tentang pentingnya kolaborasi, serta memaknai kebangsaan dalam wujud yang lebih konkrit.
“Saya merasa sangat terhormat bisa menjadi bagian dari pelatihan bela negara ini. Ini bukan sekadar pengalaman, tetapi juga bentuk pengabdian kami sebagai mahasiswa untuk membela negeri ini dengan cara kami, melalui ketangguhan, kerja keras, dan semangat untuk berkontribusi,” ujar Riski.
Wa Ode Vela, mahasiswa lainnya, menyampaikan bahwa pelatihan ini adalah kesempatan yang tidak semua orang dapatkan, dan ia akan memanfaatkan momen ini untuk memperkuat jati diri sebagai perempuan muda Indonesia yang berani, cerdas, dan cinta tanah air. Ia berharap pengalaman ini akan membuka ruang refleksi dan pembelajaran baru yang akan berguna untuk masa depan dirinya dan masyarakat sekitar.
“Sebagai perempuan muda, saya ingin membuktikan bahwa bela negara bukan hanya milik laki-laki. Kami juga mampu berlatih, bertahan, dan memberikan makna dalam setiap langkah kami. Ini adalah wujud tanggung jawab moral kami sebagai bagian dari bangsa Indonesia,” katanya dengan penuh semangat.
Kegiatan Pendidikan dan Pelatihan Bela Negara ini merupakan sinergi luar biasa antara pemerintah daerah dan institusi pendidikan tinggi dalam membentuk sumber daya manusia yang berkarakter kuat. UMU Buton meyakini bahwa ruang seperti ini adalah bagian integral dari proses pendidikan yang utuh—menggabungkan aspek akademik, spiritual, kebangsaan, dan kemanusiaan.
Kampus sebagai pusat peradaban ilmu harus berani memperluas horizon pembelajaran dengan menghadirkan pengalaman nyata yang mendidik jiwa. Dalam semangat Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM), keterlibatan mahasiswa dalam kegiatan bela negara menjadi bukti bahwa pembelajaran tidak hanya terjadi di ruang kelas, tetapi juga dalam interaksi langsung dengan realitas sosial dan kebangsaan.
Universitas Muslim Buton menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada Pemerintah Kota Baubau yang telah membuka ruang kolaboratif untuk memperkuat pendidikan karakter generasi muda. Sinergi ini diharapkan terus berlanjut untuk menciptakan iklim pendidikan yang menyeluruh dan berorientasi pada nilai-nilai luhur kebangsaan.
Sembari melepas kedua mahasiswa dengan doa dan harapan terbaik, Wakil Rektor Bidang Akademik dan Kemahasiswaan menutup sambutannya dengan mengutip ayat pendek dari Al-Qur’an, “Innallaha ma’a shabirin” — Sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang sabar. Sebuah pesan spiritual yang menjadi pengingat bahwa segala proses pembentukan karakter memerlukan kesabaran, ketekunan, dan ketulusan niat dalam menjalaninya.
upacara pelepasan ini bukanlah akhir dari perjalanan mahasiswa UMU Buton dalam bela negara, melainkan awal dari misi baru untuk membawa nilai-nilai tersebut ke dalam ruang-ruang kehidupan nyata. Mereka kini berangkat bukan hanya sebagai individu, tetapi sebagai duta semangat kebangsaan yang akan menularkan nilai disiplin, keberanian, dan cinta tanah air kepada lingkungan kampus dan masyarakat luas.
Editor, Kantor Humas UMU Buton Muhamad Firman Syah
14 Juni 2025
