ar
en
id

Bahasa:

MARTABAT TUJUH DALAM KEPEMIMPINAN KESULTANAN BUTON

UMU Online : Kamis, 12 Juni 2025, setelah salat Dzuhur, Universitas Muslim Buton kembali menyelenggarakan kegiatan rutin Merangkai Cita-Cita dari Masjid. Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya membangun integrasi antara nilai-nilai spiritual Islam dan kehidupan berbangsa, terutama dalam konteks kehidupan sehari-hari pegawai di lingkungan kampus.

Pada kesempatan ini, La Ode Muh. Alfian, S.Sos., M.Si., menjadi narasumber dengan materi berjudul “Menyambungkan Surah At-Talaq Ayat 8–12 dan Martabat Tujuh sebagai Konstitusi Sufi Nusantara.” Dalam penyampaiannya, beliau mengajak seluruh peserta untuk merenungkan kembali bagaimana tauhid (keyakinan akan keesaan Allah) bukan hanya berkaitan dengan ibadah pribadi, tetapi juga merupakan etika yang seharusnya mewarnai seluruh tatanan sosial dan pemerintahan.

Salah satu hal menarik yang dibahas adalah bagaimana konsep Martabat Tujuh pernah diterapkan sebagai dasar etika kepemimpinan di Kesultanan Buton. Sebuah warisan lokal yang sangat kaya makna dan layak diangkat kembali dalam konteks kekinian.

La Ode Muh. Alfian membuka kajiannya dengan menafsirkan kandungan Surah At-Talaq ayat 8 hingga 12. Menurutnya, ayat-ayat ini menyampaikan pesan yang sangat kuat tentang pentingnya hidup dalam ketaatan kepada Allah, serta menjunjung keteraturan sesuai hukum-hukum yang telah Allah tetapkan di alam semesta. Tidak hanya dalam kehidupan rumah tangga, namun juga dalam kehidupan sosial dan pemerintahan.

Jika suatu masyarakat atau bangsa berpaling dari nilai-nilai ilahi, maka kehancuran adalah akibat yang tidak dapat dihindari. Hal ini telah dijelaskan dalam ayat tersebut, yang memberi peringatan atas sikap keras kepala bangsa-bangsa terdahulu.

Dalam konteks ini, tauhid bukan sekadar doktrin teologis, tetapi juga fondasi dari kehidupan yang bermartabat dan berkeadilan. Maka, nilai-nilai tauhid harus diterapkan dalam perencanaan dan pelaksanaan kebijakan publik, termasuk dalam sistem pendidikan, ekonomi, hukum, dan pemerintahan.

Pembahasan semakin menarik ketika La Ode Muh. Alfian mengaitkan ajaran Martabat Tujuh dengan sistem pemerintahan tradisional Kesultanan Buton. Dalam sejarahnya, para sultan tidak hanya memimpin secara administratif, tetapi juga bertindak sebagai pembimbing spiritual bagi rakyatnya. Pemimpin dianggap sebagai cerminan dari insan kamil, atau manusia paripurna, yang memahami dan menjalankan ajaran Martabat Tujuh.

Martabat Tujuh sendiri merupakan konsep sufistik yang menjelaskan tahap-tahap keterhubungan antara manusia dan Allah, dari fase ketuhanan yang mutlak (Ahadiyah) hingga perwujudan manusia yang sempurna (Insan Kamil). Dalam struktur Kesultanan Buton, konsep ini tidak sekadar menjadi ajaran keagamaan, tapi juga diterapkan sebagai dasar penyusunan konstitusi kerajaan, dikenal sebagai Sarakah Hukum.

Dengan mengadopsi prinsip-prinsip spiritual ini, Kesultanan Buton berhasil membangun sistem pemerintahan yang tidak hanya tertib, tetapi juga adil, beretika, dan memiliki kekuatan moral yang tinggi. Hal ini menunjukkan bahwa spiritualitas dapat menjadi kekuatan riil dalam membangun tata kelola yang baik.

Menutup penyampaian materi, La Ode Muh. Alfian menekankan bahwa masjid seharusnya menjadi tempat kelahiran gagasan-gagasan besar untuk peradaban. Tidak cukup hanya sebagai tempat ibadah ritual, tetapi juga sebagai ruang refleksi dan perumusan nilai-nilai luhur untuk kehidupan bersama.

Beliau mengajak seluruh peserta untuk meneladani jejak kepemimpinan para sultan Buton yang mengedepankan tauhid dan spiritualitas dalam tata kelola kerajaan. Di masa kini, nilai-nilai tersebut tetap relevan dan bisa menjadi pedoman dalam bekerja sebagai pendidik, birokrat, atau siapa pun yang diberi amanah memimpin dan melayani.

Tauhid, menurutnya, harus tercermin dalam kejujuran, tanggung jawab, kerja keras, dan cinta kepada sesama. Itulah hakikat dari keberagamaan yang hidup dan membumi. Program Merangkai Cita-Cita dari Masjid akan terus berlanjut setiap Kamis ba’da Dzuhur, sebagai bentuk ikhtiar UMU Buton untuk membentuk insan akademik yang tidak hanya unggul secara intelektual, tetapi juga kuat secara spiritual dan moral.

Dengan semangat ini, UMU Buton berharap dapat turut melahirkan generasi yang mampu membawa perubahan bagi bangsa dan daerah, dengan fondasi akidah yang kokoh dan semangat kepemimpinan yang berlandaskan nilai-nilai ketuhanan.

Editor, Humas UMU Buton Muhamad Firman Syah

Tags :
Bagikan :