UMU Online-Kamis, 22 Januari 2026 Universitas Muslim Buton terus meneguhkan perannya sebagai perguruan tinggi yang tidak hanya berorientasi pada pengembangan keilmuan dan kompetensi akademik, tetapi juga berkomitmen kuat dalam pembinaan nilai-nilai keislaman, akhlak, dan moralitas sivitas akademika. Di tengah tantangan kehidupan modern yang semakin kompleks, UMU Buton memandang pentingnya menghadirkan ruang-ruang refleksi spiritual yang mampu menuntun insan akademik untuk tetap berpijak pada nilai keikhlasan, kepedulian sosial, dan ketaatan kepada Allah SWT.
Komitmen tersebut kembali diwujudkan melalui penyelenggaraan Kajian Rutin Kamis yang digagas oleh Lembaga Kajian Islam dan Aswaja Universitas Muslim Buton. Kajian ini menjadi bagian dari agenda pembinaan berkelanjutan yang dirancang untuk menguatkan dimensi spiritual civitas akademika, sekaligus menjadikan masjid kampus sebagai pusat pembelajaran nilai dan peradaban. Bertempat di Masjid Baitul Hikmah Universitas Muslim Buton, kajian ini diharapkan menjadi ruang pertemuan antara ilmu, iman, dan amal dalam satu kesatuan yang utuh.
Kajian Rutin Kamis kali ini diawali dengan pembacaan Al-Qur’an Surah Ali ‘Imran ayat 91 hingga 95. Ayat-ayat tersebut mengandung pesan yang sangat mendalam tentang makna pengorbanan, keikhlasan, dan nilai sedekah yang sejati. Allah SWT menegaskan bahwa harta yang dikeluarkan di jalan-Nya harus dilandasi oleh keimanan yang tulus, bukan sekadar formalitas atau pencitraan. Pembacaan ayat ini menjadi pengantar spiritual yang kuat, mengajak peserta kajian untuk menata kembali niat dan orientasi dalam beramal, khususnya dalam bersedekah.
Mengangkat tema “Prosedur Sedekah Terbaik untuk Mendapat Pahala Terbaik”, kajian ini tidak hanya membahas sedekah sebagai aktivitas sosial, tetapi sebagai ibadah yang memiliki dimensi spiritual, etika, dan tata cara yang harus diperhatikan. Sedekah dalam Islam bukan sekadar memberi, melainkan proses mendidik jiwa agar terbebas dari sifat kikir, cinta berlebihan terhadap harta, dan keinginan untuk dipuji manusia. Oleh karena itu, memahami prosedur sedekah yang benar menjadi sangat penting agar amal yang dilakukan benar-benar bernilai di sisi Allah SWT.
Kajian ini disampaikan oleh Evi Trisetyasih, SE., M.Si, Wakil Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Muslim Buton. Dengan latar belakang akademik di bidang ekonomi dan pengalaman kepemimpinan di fakultas, pemateri mengajak peserta kajian untuk memandang sedekah tidak hanya dari perspektif spiritual, tetapi juga dari sudut pandang pengelolaan harta yang bertanggung jawab dan beretika. Sedekah dipahami sebagai bagian dari sistem ekonomi Islam yang menekankan keadilan, keseimbangan, dan kepedulian sosial.
Dalam kajian tersebut, ditegaskan bahwa sedekah terbaik bukanlah semata-mata tentang besarnya jumlah harta yang dikeluarkan, melainkan tentang keikhlasan niat, ketepatan sasaran, dan cara pemberian yang menjaga martabat penerima. Islam mengajarkan bahwa sedekah yang disertai dengan niat riya atau menyakiti perasaan orang lain justru dapat menghapus pahala. Oleh karena itu, prosedur sedekah yang baik mencakup aspek niat yang lurus, waktu yang tepat, serta sikap rendah hati dalam memberi.
Bagi civitas akademika, nilai sedekah memiliki relevansi yang sangat kuat dalam kehidupan kampus. Sedekah tidak hanya diwujudkan dalam bentuk materi, tetapi juga dalam bentuk ilmu, waktu, tenaga, dan kepedulian. Dosen yang dengan ikhlas membagikan ilmunya, tenaga kependidikan yang melayani dengan sepenuh hati, serta mahasiswa yang saling membantu dalam proses belajar, semuanya merupakan bentuk sedekah yang bernilai ibadah. Melalui kajian ini, UMU Buton ingin menanamkan kesadaran bahwa sedekah adalah spirit hidup yang harus hadir dalam setiap aktivitas akademik.
Kajian Rutin Kamis ini merupakan bagian integral dari Visi Besar Universitas Muslim Buton dalam membangun insan akademik yang bertakwa dan memegang teguh akhlak serta nilai moral. Pendidikan tinggi tidak boleh hanya melahirkan individu yang cerdas secara intelektual, tetapi juga pribadi yang peka terhadap persoalan sosial dan memiliki kepedulian terhadap sesama. Sedekah, dalam makna yang luas, menjadi salah satu instrumen penting dalam membangun karakter tersebut.
Program ini dikemas di bawah naungan Level Up Tuesday, sebuah payung besar pengembangan kapasitas dan karakter civitas akademika UMU Buton. Level Up Tuesday dirancang sebagai ruang peningkatan kualitas diri secara berkelanjutan, baik dalam aspek keilmuan, spiritualitas, maupun kepemimpinan. Dengan penanggung jawab utama Kantor Lembaga Kajian Islam dan Aswaja (LKI-Aswaja) UMU Buton, program ini disusun secara sistematis agar selaras dengan visi, misi, dan arah kebijakan universitas.
Lebih dari itu, Kajian Rutin Kamis juga menjadi bagian dari gerakan Merangkai Cita-cita dari Masjid (MCM). Gerakan ini menempatkan masjid kampus sebagai pusat pembinaan nilai, pusat dialog keilmuan, dan pusat pembentukan karakter. Dari masjid, nilai-nilai keislaman dirawat dan disebarkan ke seluruh lini kehidupan kampus. Masjid tidak hanya berfungsi sebagai tempat ibadah ritual, tetapi juga sebagai ruang intelektual dan moral yang melahirkan gagasan-gagasan kebaikan.
Penyelenggaraan kajian ini terbuka bagi seluruh civitas akademika Universitas Muslim Buton, baik dosen, tenaga kependidikan, maupun mahasiswa. Kehadiran berbagai unsur kampus dalam satu ruang kajian mencerminkan semangat kebersamaan dan kesetaraan dalam menuntut ilmu dan memperbaiki diri. Dalam suasana yang khusyuk dan penuh kekeluargaan, kajian ini diharapkan menjadi momentum untuk saling mengingatkan dalam kebaikan dan ketakwaan.
Melalui tema sedekah, UMU Buton ingin menegaskan bahwa pembangunan kualitas insan akademik tidak dapat dilepaskan dari nilai kepedulian sosial. Kampus bukanlah menara gading yang terpisah dari realitas masyarakat, melainkan bagian dari masyarakat itu sendiri. Dengan membiasakan nilai sedekah dan kepedulian, civitas akademika diharapkan mampu menjadi agen perubahan yang membawa manfaat bagi lingkungan sekitar.
Kajian Rutin Kamis ini juga menjadi pengingat bahwa setiap harta, jabatan, dan ilmu yang dimiliki adalah amanah dari Allah SWT. Amanah tersebut harus dikelola dan disalurkan dengan cara yang benar agar mendatangkan keberkahan. Sedekah yang dilakukan dengan prosedur yang tepat tidak hanya membersihkan harta, tetapi juga membersihkan jiwa dan menumbuhkan rasa syukur.
Pada akhirnya, Kajian Rutin Kamis di Masjid Baitul Hikmah Universitas Muslim Buton bukan sekadar agenda rutin, melainkan bagian dari perjalanan panjang membangun budaya kampus yang religius, berakhlak, dan berorientasi pada kemaslahatan. Dari masjid kampus, nilai-nilai keikhlasan dan kepedulian dirajut, diharapkan tumbuh menjadi karakter kolektif civitas akademika UMU Buton.
Dengan terus menghidupkan kajian-kajian keislaman yang relevan dan kontekstual, Universitas Muslim Buton menegaskan jati dirinya sebagai perguruan tinggi yang berkomitmen melahirkan insan akademik yang unggul secara intelektual, matang secara spiritual, dan kuat secara moral. Inilah ikhtiar UMU Buton dalam merangkai cita-cita besar pendidikan, dimulai dari masjid, untuk masa depan umat dan bangsa.
Editor, UMU Buton
Muh Adil






