UMU Online-Dalam upaya menumbuhkan semangat intelektual dan spiritual yang seimbang di lingkungan akademik, Universitas Muslim Buton kembali menggelar program Merangkai Cita-Cita dari Masjid sebagai bagian dari kegiatan LEVEL UP Tuesday. Kegiatan ini merupakan agenda rutin yang diselenggarakan oleh Lembaga Kajian Islam dan ASWAJA UMU Buton setiap hari Kamis, yang kali ini berlangsung pada 30 Oktober 2025 bertempat di Ballroom Al-Munawwara, Universitas Muslim Buton. Acara berlangsung penuh khidmat dan inspiratif dengan kehadiran Ketua Badan Penyelenggara UMU Buton, Dr. (Cand.) Ibrahim Marsela, Rektor UMU Buton, Dr. H. Sujiton, Presiden UMU Buton, para Wakil Rektor, pejabat struktural, dosen, tenaga kependidikan, serta mahasiswa dari berbagai fakultas.
Program ini diawali dengan pembacaan ayat suci Al-Qur’an dari Surah Al-Hujurat ayat 6–10 yang menggugah kesadaran tentang pentingnya tabayyun, ukhuwah, dan kejujuran dalam kehidupan bermasyarakat dan berorganisasi. Ayat-ayat tersebut menjadi pengingat bahwa kemajuan peradaban tidak hanya dibangun melalui kecerdasan intelektual, tetapi juga melalui kejernihan hati dan akhlak yang mulia. Suasana Ballroom Al-Munawwara dipenuhi keheningan dan rasa syukur, menggambarkan kesadaran kolektif civitas akademika untuk terus belajar dan memperbaiki diri dalam bingkai nilai-nilai Islam Ahlussunnah wal Jama’ah.
Kajian Kamis kali ini mengangkat tema “Literasi Digital: Membentengi Diri dari Kejahatan Siber” dengan narasumber Hikmawati, S.Pd., M.Hum., seorang akademisi dan praktisi literasi digital yang dikenal memiliki kepedulian tinggi terhadap pembinaan generasi muda dalam menghadapi tantangan era digital. Dalam paparannya, beliau menekankan bahwa kemajuan teknologi informasi, meskipun membawa banyak manfaat, juga menyimpan potensi ancaman yang serius jika tidak disikapi dengan pengetahuan dan kesadaran yang benar.
Melalui kajian ini, peserta diajak untuk memahami pentingnya literasi digital sebagai bentuk kecakapan hidup di era modern. Hikmawati menjelaskan bahwa dunia maya kini menjadi bagian dari realitas sosial manusia yang tak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari. Oleh karena itu, kemampuan untuk memilah informasi, menjaga etika berkomunikasi, dan melindungi data pribadi merupakan bentuk tanggung jawab moral yang selaras dengan ajaran Islam. Ia mengingatkan bahwa setiap jari yang mengetik di media sosial memiliki nilai amal, baik atau buruk, tergantung pada niat dan manfaat yang dihasilkan.
Selain membahas aspek teknis literasi digital, pemateri juga menekankan sisi spiritualitas dalam bermedia. Menurutnya, Islam mengajarkan keseimbangan antara kebebasan berekspresi dan tanggung jawab sosial. Dalam konteks kampus, mahasiswa dan dosen harus mampu menjadi contoh dalam menggunakan media digital untuk menyebarkan ilmu, kebaikan, serta nilai-nilai kemanusiaan. Literasi digital bukan hanya kemampuan teknologis, tetapi juga kemampuan etis dan spiritual yang mengarahkan seseorang untuk menggunakan teknologi dengan tujuan mulia.
Rektor UMU Buton, Dr. H. Sujiton, dalam sambutannya menegaskan bahwa kegiatan seperti Merangkai Cita-Cita dari Masjid merupakan wujud nyata dari komitmen universitas dalam membentuk generasi akademik yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga berkarakter dan berakhlak. Ia menekankan pentingnya menghadirkan masjid bukan hanya sebagai tempat ibadah ritual, tetapi juga sebagai pusat peradaban ilmu pengetahuan, diskusi nilai, dan penguatan moral. Dalam pandangannya, masjid harus menjadi sumber energi spiritual yang mendorong lahirnya gagasan-gagasan besar untuk kemajuan bangsa.
Ketua Badan Penyelenggara UMU Buton, Dr. (Cand.) Ibrahim Marsela, dalam arahannya menambahkan bahwa kegiatan kajian rutin seperti ini merupakan bagian dari strategi besar universitas dalam membangun keseimbangan antara hard skill dan soft skill mahasiswa. Menurutnya, era digital saat ini memerlukan manusia yang memiliki kecerdasan spiritual yang kuat agar tidak terombang-ambing oleh arus informasi yang tidak terkendali. Dengan menempatkan nilai-nilai Islam dan moralitas Aswaja sebagai landasan berpikir, UMU Buton berupaya mencetak lulusan yang tidak hanya kompeten, tetapi juga beretika, jujur, dan memiliki integritas.
Forum ini menjadi wadah penting untuk mempertemukan dimensi religius dan akademis dalam satu kesatuan yang utuh. Merangkai Cita-Cita dari Masjid bukan sekadar kajian keagamaan, tetapi juga gerakan spiritual-intelektual yang mengembalikan ruh keilmuan kepada sumbernya, yakni nilai-nilai ilahiah. Dari forum inilah diharapkan tumbuh kesadaran baru di kalangan civitas akademika bahwa membangun cita-cita besar harus dimulai dari niat yang lurus, disiplin belajar, dan keikhlasan berjuang di jalan ilmu.
Program ini juga memperkuat identitas UMU Buton sebagai kampus yang berlandaskan nilai Islam Ahlussunnah wal Jama’ah dan menjadikan spiritualitas sebagai kekuatan utama dalam membangun peradaban kampus. Melalui kajian seperti ini, nilai Aswaja yang menekankan keseimbangan, toleransi, dan moderasi Islam diterjemahkan ke dalam kehidupan akademik sehari-hari. Hal ini sejalan dengan visi UMU Buton untuk melahirkan insan intelektual yang berakhlak mulia, berwawasan global, dan berjiwa entrepreneur.
Suasana kajian terasa hangat dan reflektif. Para peserta, baik dosen maupun mahasiswa, terlihat antusias menyimak penjelasan pemateri dan aktif berdiskusi dalam sesi tanya jawab. Banyak pertanyaan yang muncul seputar cara mengelola jejak digital, etika dalam menggunakan media sosial, serta peran mahasiswa dalam menjadi agen literasi digital yang beretika. Diskusi berlangsung interaktif dan penuh makna, mencerminkan semangat keilmuan yang tumbuh dari kesadaran spiritual.
Di akhir acara, seluruh peserta diajak untuk merenungkan kembali pesan QS. Al-Hujurat ayat 6–10 yang menjadi dasar kajian hari itu. Ayat tersebut mengajarkan pentingnya verifikasi informasi dan menjaga keharmonisan sosial, nilai yang sangat relevan dalam menghadapi fenomena penyebaran hoaks dan ujaran kebencian di dunia maya. Dengan demikian, kegiatan ini tidak hanya memperkaya wawasan, tetapi juga menanamkan kesadaran etis dan religius dalam bermedia.
Program Merangkai Cita-Cita dari Masjid kembali menegaskan bahwa kampus tidak hanya tempat menuntut ilmu, tetapi juga ruang untuk membangun kesadaran spiritual, moral, dan sosial. Dari masjid, cita-cita besar itu dirangkai; dari kajian, semangat perubahan itu tumbuh; dan dari kesadaran kolektif, peradaban ilmu itu dibangun. UMU Buton terus membuktikan bahwa integrasi antara ilmu, iman, dan akhlak bukanlah konsep ideal belaka, melainkan jalan nyata menuju universitas yang unggul dan berkarakter.
Melalui kegiatan ini, LEVEL UP Tuesday tidak hanya menjadi program peningkatan kapasitas akademik, tetapi juga menjadi gerakan pembinaan karakter yang menumbuhkan generasi kampus yang berjiwa kuat, cerdas digital, dan berlandaskan nilai-nilai Islam. Dengan semangat Merangkai Cita-Cita dari Masjid, UMU Buton melangkah pasti menuju masa depan yang berilmu, berakhlak, dan berperadaban.
