UMU Buton, Kamis, 7 Agustus 2025 – Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (LLDIKTI) Wilayah IX mengadakan kegiatan Monitoring dan Evaluasi Pelaporan Beban Kerja Dosen (BKD) serta Pemutakhiran Data Dosen di Universitas Muslim Buton (UMU Buton) dalam upaya peningkatan kualitas dan tata kelola sumber daya manusia di lingkungan perguruan tinggi yang diselenggarakan pada hari Kamis, 7 Agustus 2025.
Kegiatan ini dilaksanakan berdasarkan penugasan resmi dari Kepala LLDIKTI Wilayah IX kepada tiga pejabat fungsional, yaitu:
- Ichsan Kasnul Faraby, NIP 196707101988031005, Pembina Tk. I, Golongan IV/b, dengan jabatan Analis Sumber Daya Manusia Aparatur Ahli Madya.
- A. Nasri, NIP 197703142010121002, Penata Tk. I, Golongan III/d, dengan jabatan Pengolah Data dan Informasi.Bakri, NIP 197010231993031004, Pembina, Golongan IV/a, dengan jabatan Penelaah Teknis Kebijakan.
- Bakri, NIP 197010231993031004, Pembina, Golongan IV/a, dengan jabatan Penelaah Teknis Kebijakan.
Bakri dalam arahannya, menegaskan pentingnya peningkatan produktivitas dosen dalam publikasi ilmiah sebagai bagian integral dari proses kenaikan jabatan fungsional. “Harus ada publikasi setiap semester. Tidak bisa hanya satu publikasi per tahun. Ini penting agar dosen bisa lebih cepat naik jabatan fungsional,” ujarnya.
Ia juga menyoroti perbedaan insentif penelitian antara jenjang jabatan dosen. “Kalau kita hanya asisten ahli, dana bantuan penelitian dari kementerian hanya sekitar 50 juta rupiah. Tapi kalau sudah lektor kepala, bisa sampai 300 juta rupiah,” jelasnya. Menurutnya, sertifikasi dosen (serdos) adalah syarat mutlak untuk membuka jalan karier fungsional dosen ke jenjang lebih tinggi. “Biar secerdas apapun, kalau tidak serdos, tidak akan bisa naik jabatan fungsional,” tegasnya.
Lebih lanjut, Bakri menjelaskan pentingnya memahami distribusi angka kredit (kum) dalam publikasi bersama. “Kalau menjadi penulis pertama, kum-nya 60, dan penulis kedua 40. Jadi jangan asal terbit, pastikan penerbit yang dipilih kapabel dan terindeks dengan baik.”
Ia juga mendorong dosen untuk tidak terpaku pada zona nyaman mengajar semata, tetapi harus aktif dalam kegiatan penelitian dan pengabdian kepada masyarakat. “Kita jangan nyaman di zona nyaman hanya mengajar. Penelitian dan pengabdian itu wajib,” katanya. Bakri juga mengingatkan bahwa kegiatan dosen harus dibuktikan dengan surat keputusan (SK), bukan sekadar surat undangan atau kehadiran. “Misalnya dalam kegiatan penyuluhan narkoba, harus ada SK atau surat tugas dari institusi, bukan hanya surat biasa.”
Sementara itu, Ichsan Kasnul Faraby, selaku Analis SDM Aparatur Ahli Madya, memberikan solusi strategis untuk mendorong produktivitas dosen dalam publikasi ilmiah. Ia menyarankan agar dibentuk kelompok kerja atau wadah pendampingan karya ilmiah antar dosen. “Bentuk kelompok dosen untuk menulis karya ilmiah, lalu lakukan pendampingan sampai karya itu diterbitkan di jurnal nasional terakreditasi SINTA maupun jurnal internasional bereputasi seperti Scopus,” paparnya.
Menurut Ichsan, kolaborasi adalah kunci percepatan kenaikan jabatan fungsional dosen. “Percayalah, kalau kita berkolaborasi, kenaikan jabatan fungsional akan lebih cepat. Buat karya ilmiah yang jadi syarat naik ke lektor atau lektor kepala,” pesannya kepada para dosen UMU Buton.
Sejumlah tantangan juga dibahas dalam sesi dialog, termasuk minimnya kemampuan penggunaan teknologi komputer di kalangan sebagian dosen, serta lemahnya sistem dokumentasi dan penugasan yang sah secara administratif. Hal ini menjadi perhatian serius tim LLDIKTI untuk ditindaklanjuti bersama pihak universitas.
Diketahui bahwa Universitas Muslim Buton saat ini memiliki sekitar 60-an orang dosen. Melalui kegiatan monitoring ini, diharapkan seluruh dosen dapat lebih memahami pentingnya pemutakhiran data, pelaporan BKD secara akurat, serta peningkatan kualitas dan kuantitas publikasi ilmiah sebagai bagian dari pengembangan karier akademik.
Kegiatan ini juga menjadi momentum strategis dalam memperkuat sinergi antara LLDIKTI Wilayah IX dan Universitas Muslim Buton dalam membangun budaya akademik yang unggul dan profesional di kawasan Timur Indonesia.
Penulis:
Darmin Hasirun.
