UMU Online — Universitas Muslim (UMU) Buton kembali menorehkan capaian positif. Di usia kampus yang relatif muda, baru enam tahun berdiri sejak 2019 UMU Buton telah berhasil melahirkan tiga angkatan wisudawan dan wisudawati. Capaian ini dinilai sebagai prestasi yang patut diapresiasi dalam pengembangan perguruan tinggi swasta di daerah.
Hal tersebut disampaikan oleh Prof. Dr. K.H. Hanief Saha Ghafur, M.A. dalam orasi ilmiahnya pada rangkaian Wisuda dan Pelantikan Sarjana UMU Buton Angkatan ke-III Tahun 2025. Ia menegaskan bahwa UMU Buton memiliki identitas kuat sebagai kampus berbasis kewirausahaan yang secara konsisten membangun ekosistem wirausaha, baik di dalam maupun di luar kampus.
Menurutnya, orientasi kewirausahaan menjadi sangat penting karena secara sederhana lulusan perguruan tinggi akan menghadapi tiga kemungkinan yaitu menjadi pencipta lapangan kerja, terserap di dunia kerja, atau justru menjadi pengangguran. Oleh karena itu, kampus harus menyiapkan mahasiswa agar mampu memilih jalan pertama menjadi pengusaha dan penggerak ekonomi.
Prof. Hanief menekankan bahwa mahasiswa tidak cukup hanya dibekali teori di ruang kelas. Mereka harus terjun langsung ke lapangan untuk membentuk karakter kepemimpinan, etos kerja yang kuat, serta mental tangguh.
“Mahasiswa bukan hanya berteori, tetapi harus turun ke lapangan. Yang dibesarkan bukan kepalanya, melainkan tangannya karena untuk menjadi pengusaha hebat, harus memiliki tangan yang besar siap bekerja dan berbuat,” tegasnya.
Ia juga menyoroti dinamika dunia kerja yang terus berubah sehingga menuntut perguruan tinggi, termasuk UMU Buton untuk terus melahirkan inovasi dan kreativitas sebagai bekal nyata bagi mahasiswa dalam menghadapi persaingan global.
Beliau mengungkapkan bahwa rasio kewirausahaan Indonesia saat ini berada pada kisaran 3–4% dari total penduduk, meskipun angka tersebut masih tergolong rendah dibandingkan negara lain. Singapura memiliki rasio pengusaha yang jauh lebih tinggi, berada pada kisaran 5% dan dalam beberapa laporan mendekati 8–9%, sementara sejumlah negara maju di Eropa telah mencapai dua digit, yakni sekitar 10–20% wirausahawan dari total populasinya.
Prof. Hanief menegaskan bahwa tidak ada perbedaan mendasar antara lulusan perguruan tinggi besar seperti Universitas Indonesia atau Universitas Gadjah Mada dengan lulusan UMU Buton dalam hal peluang meraih kesuksesan. Menurutnya, semua mahasiswa memiliki kesempatan yang sama untuk berhasil, selama dibekali semangat, karakter, dan kompetensi yang kuat.
Semua punya peluang yang sama untuk sukses dan membangun karier yang lebih baik, ujarnya.
Menurutnya UMU Buton perlu menegaskan diri sebagai The Entrepreneurial Characteristics of the University yaitu karakter, budaya, dan arah strategis perguruan tinggi yang menempatkan kewirausahaan, inovasi, dan kemandirian sebagai ruh utama dalam seluruh aktivitas kampus pendidikan, penelitian, pengabdian, dan tata kelola institusi. The Entrepreneurial Characteristics of the University menjadi ciri khas dan kekuatan institusi. Demi menopang pertumbuhan ekonomi kampus sekaligus meningkatkan kesejahteraan civitas akademika, beliau mendorong UMU Buton untuk menginventarisasi dan mengembangkan berbagai amal usaha.
Beberapa langkah strategis yang diusulkan antara lain pembentukan Badan Zakat, Infak, dan Wakaf, keterlibatan sebagai vendor dalam Program Makan Bergizi Gratis, serta pengembangan unit usaha produktif lainnya.
Melalui penguatan karakter kewirausahaan tersebut, UMU Buton diharapkan tidak hanya melahirkan lulusan yang berdaya saing, tetapi juga menjadi kampus penggerak ekonomi dan kemandirian institusi di tingkat daerah dan nasional.
