ar
en
id

Bahasa:

PROGRAM ENTREPRENEUR WANTED: BUTON UNTUK INDONESIA

UMU Online-Program Entrepreneur Wanted Program Kamisan Level Up Tuesday 18 Desember bertempat Ballroom Al-Munawwara UMU Buton dihadiri ratusan Mahasiswa UMU Buton yang diselenggarakan Indonesia Buton Institute menjadi ruang refleksi sekaligus afirmasi bahwa masa depan ekonomi Indonesia Timur tidak lagi dapat dipandang sebagai wilayah pinggiran. Dalam kegiatan ini, Ketua Yayasan Pendidikan Indonesia Kepulauan Buton, Bapak H. Ibrahim Marsela, menyampaikan orasi strategis yang menempatkan Pulau Buton sebagai simpul penting dalam peta ekonomi nasional, sekaligus ladang subur lahirnya wirausaha muda berbasis wilayah, konektivitas, dan nilai lokal.

Dalam paparannya, Bapak Ibrahim Marsela menegaskan bahwa Indonesia sebagai negara kepulauan sesungguhnya memiliki keunggulan struktural yang tidak dimiliki banyak negara lain. Kawasan Timur Indonesia bukan ruang tertinggal, melainkan ruang tumbuh ekonomi baru. Di dalam konteks itulah Pulau Buton diposisikan secara strategis, bukan hanya sebagai wilayah administratif, tetapi sebagai titik temu jalur Timur–Barat dan Utara–Selatan dalam arus logistik, perdagangan, dan mobilitas ekonomi nasional. Posisi ini menjadikan Buton memiliki nilai geostrategis yang nyata, bukan sekadar potensi di atas kertas.

Program Entrepreneur Wanted dirancang untuk membuka cara pandang mahasiswa dan generasi muda bahwa peluang usaha tidak selalu harus dimulai dari kota-kota besar. Justru wilayah seperti Buton menyimpan peluang riil yang terhubung langsung dengan kebutuhan nasional. Jalur laut nasional dan regional yang melintasi kawasan ini membuka akses langsung ke Sulawesi, Maluku, Nusa Tenggara Timur, hingga Papua. Dalam kerangka ini, Buton diproyeksikan sebagai hub distribusi maritim dan logistik Kawasan Timur Indonesia, sebuah peran yang membutuhkan aktor-aktor usaha muda yang visioner dan berani mengambil peran penghubung.

Dalam orasinya, Ketua Yayasan menekankan bahwa fondasi ekonomi Buton bertumpu pada kekuatan wilayah. Ekonomi pesisir dan kepulauan, pertanian, perikanan, kelautan, serta industri berbasis sumber daya alam menjadi basis nyata yang sudah hidup di tengah masyarakat. UMKM telah lama menjadi tulang punggung ekonomi lokal. Namun tantangan selama ini adalah bagaimana potensi tersebut dinaikkan kelasnya melalui inovasi, hilirisasi, dan konektivitas pasar. Di sinilah peran entrepreneur muda menjadi sangat krusial, bukan sekadar sebagai pelaku usaha, tetapi sebagai penghubung nilai dari hulu ke hilir.

Paparan materi juga menguraikan bahwa Pulau Buton bukanlah entitas tunggal yang homogen, melainkan ekosistem ekonomi yang saling melengkapi. Baubau diposisikan sebagai hub pertumbuhan, pusat perdagangan, jasa, industri pengolahan, budaya, pariwisata, serta kota pendidikan dan pengembangan sumber daya manusia. Peran Baubau tidak hanya sebagai pasar, tetapi sebagai pencipta nilai tambah dan simpul konektivitas regional.

Kabupaten Buton digambarkan sebagai lumbung pangan dan basis produksi darat, dengan kekuatan pada pertanian, hortikultura, tambang, serta logistik pangan dan industri. Buton Tengah berperan sebagai simpul pendidikan dan perdagangan, menjadi penghubung hinterland antara wilayah-wilayah produksi dan pasar. Buton Selatan diproyeksikan sebagai gerbang maritim Kawasan Timur Indonesia, dengan pelabuhan, industri perikanan, logistik laut, dan potensi tambang. Buton Utara menjadi basis darat penyangga produksi melalui pertanian, perkebunan, kehutanan berkelanjutan, serta jasa penunjang. Sementara Wakatobi tampil sebagai etalase global Indonesia, dengan pariwisata kelas dunia, perikanan berkelanjutan, dan branding internasional.

Dalam kerangka ini, Bapak Ibrahim Marsela menekankan bahwa seluruh wilayah tersebut bukan untuk dipertentangkan, tetapi dirajut sebagai satu ekosistem ekonomi. Jaringan Timur–Barat dan Utara–Selatan menjadikan Buton sebagai titik temu. Di sinilah peluang besar lahir bagi entrepreneur muda yang mampu membaca keterhubungan antarwilayah, mengintegrasikan pasar, dan menghadirkan layanan logistik serta jasa maritim yang efisien. Entrepreneur tidak lagi dipahami sebagai pedagang kecil yang berdiri sendiri, tetapi sebagai aktor penghubung ekonomi regional dan nasional.

Program Entrepreneur Wanted tidak berhenti pada pemetaan potensi, tetapi membawa pesan strategis yang kuat kepada mahasiswa. Wilayah Buton adalah satu ekosistem usaha yang utuh. Peluang ada di hulu, di tengah, dan di hilir. Anak muda tidak harus menunggu modal besar atau peluang dari luar. Yang dibutuhkan adalah keberanian membaca potensi sekitar, kemampuan mengolah nilai, dan kemauan untuk bekerja keras membangun usaha yang relevan dengan kebutuhan zaman.

Dalam konteks ini, Universitas Muslim Buton diposisikan bukan hanya sebagai institusi akademik, tetapi sebagai inkubator gagasan dan keberanian. Kampus diharapkan menjadi ruang lahirnya entrepreneur muda yang berpikir kontekstual, memahami wilayahnya, dan mampu menghubungkan kepentingan lokal dengan kebutuhan nasional. Pendidikan tinggi tidak cukup melahirkan pencari kerja, tetapi harus melahirkan pencipta kerja yang berakar pada realitas sosial dan ekonomi daerah.

Bapak Ibrahim Marsela menegaskan bahwa Entrepreneur Wanted adalah gerakan kesadaran, bukan sekadar program seremonial. Gerakan untuk membangun mental kemandirian. Gerakan untuk mengubah cara pandang bahwa sukses tidak selalu harus pergi jauh. Dari Buton, kontribusi untuk Indonesia dapat lahir jika potensi lokal dikelola dengan ilmu, keberanian, dan jejaring yang tepat.

Fakta-fakta yang disampaikan dalam kegiatan ini menunjukkan bahwa pembangunan ekonomi tidak bisa lagi bersifat sentralistik. Indonesia membutuhkan simpul-simpul baru pertumbuhan yang berbasis wilayah. Buton memiliki semua prasyarat itu, posisi geostrategis, sumber daya alam, budaya maritim, serta generasi muda yang sedang tumbuh. Yang dibutuhkan adalah orkestrasi, keberanian mengambil peran, dan konsistensi membangun ekosistem usaha.

Dalam suasana reflektif, Ketua Yayasan juga mengingatkan bahwa menjadi entrepreneur berarti siap hidup berdampingan dengan risiko. Namun risiko itu bukan untuk ditakuti, melainkan dikelola. Dengan pemahaman wilayah, jejaring yang kuat, dan nilai-nilai kejujuran serta kerja keras, risiko justru menjadi jalan pembelajaran dan pertumbuhan. Di sinilah nilai filosofis Entrepreneur Wanted ditekankan, bahwa usaha bukan sekadar mencari untung, tetapi membangun makna dan kebermanfaatan.

Program ini menegaskan bahwa Buton bukan hanya penonton dalam arus ekonomi nasional. Buton adalah bagian dari solusi. Buton adalah penghubung. Buton adalah pintu. Ketika mahasiswa dan generasi muda menyadari peran ini, maka lahirlah optimisme baru bahwa pembangunan Indonesia tidak hanya bertumpu di pusat, tetapi tumbuh dari daerah-daerah yang sadar akan potensinya.

Melalui Entrepreneur Wanted, Universitas Muslim Buton dan Yayasan Pendidikan Indonesia Kepulauan Buton mengirimkan pesan yang jelas kepada publik. Pendidikan, kewirausahaan, dan pembangunan wilayah harus berjalan sebagai satu kesatuan. Kampus, masyarakat, dan dunia usaha tidak boleh berjalan sendiri-sendiri. Kolaborasi adalah kunci agar potensi tidak berhenti sebagai wacana.

Pada akhirnya, Entrepreneur Wanted bukan hanya tentang melahirkan wirausaha, tetapi tentang membangun kesadaran kebangsaan baru. Kesadaran bahwa membangun Indonesia bisa dimulai dari Buton. Kesadaran bahwa menjadi besar tidak harus meninggalkan akar. Kesadaran bahwa daerah bukan beban, melainkan kekuatan.

Dengan semangat itu, kegiatan ini menegaskan satu pesan utama. Dari Buton, nilai diciptakan. Dari Buton, ekonomi dirajut. Dari Buton, kontribusi untuk Indonesia diwujudkan. Dan di tangan generasi muda yang berani, cerdas, dan berakar, Buton tidak hanya menjadi bagian dari peta, tetapi menjadi bagian dari masa depan Indonesia.

Tags :
Bagikan :