UMU Online-Hari Kamis, 06 November 2025, menjadi momentum penting bagi Universitas Muslim Buton dalam meneguhkan komitmennya mencetak generasi muda yang tangguh, berkarakter, dan adaptif terhadap perubahan zaman. Melalui program Entrepreneur Wanted yang dikemas dalam bentuk Studium Generale, kegiatan ini mengangkat topik yang sangat relevan dengan kondisi generasi saat ini, yakni “Dampak Teknologi dan Internet terhadap Kemampuan Berbahasa Generasi Muda.” Acara yang diadakan di aula utama kampus UMU Buton ini menghadirkan narasumber inspiratif, Dr. Nurhayati, M.Si., seorang praktisi organisasi dari HMI Cabang Baubau yang dikenal aktif mendorong peningkatan kapasitas generasi muda dalam berpikir kritis dan berkomunikasi efektif di era digital.
Kegiatan ini tidak sekadar menjadi ajang transfer ilmu, tetapi juga menjadi ruang refleksi tentang bagaimana teknologi dan internet telah mengubah cara berpikir, berkomunikasi, dan bahkan berperilaku generasi muda. Mahasiswa UMU Buton yang hadir dalam kegiatan ini diajak untuk memahami bahwa kemajuan teknologi ibarat pisau bermata dua. Di satu sisi, ia memberikan kemudahan luar biasa dalam mengakses informasi dan memperluas wawasan. Namun di sisi lain, ia juga membawa tantangan besar terhadap cara manusia berinteraksi, berpikir, dan menggunakan bahasa dalam kehidupan sehari-hari.
Dalam penyampaiannya, Dr. Nurhayati menyoroti fenomena yang kini tengah melanda kehidupan remaja dan mahasiswa: menurunnya kemampuan berbahasa yang baik dan benar akibat dominasi media digital. Bahasa sebagai sarana berpikir dan berkomunikasi telah mengalami pergeseran nilai. Penggunaan bahasa singkat, simbolik, bahkan campur aduk antara bahasa Indonesia dan bahasa asing dalam media sosial menjadi kebiasaan baru yang seringkali menurunkan kualitas komunikasi. Akibatnya, kemampuan generasi muda untuk menulis akademik, berbicara formal, maupun mengekspresikan ide dengan runut dan logis mulai berkurang.
Poin menarik dari paparan beliau adalah bahwa kemampuan berbahasa mencerminkan kemampuan berpikir. Ketika seseorang tidak lagi mampu menggunakan bahasa secara tertata dan bermakna, itu menandakan adanya krisis dalam cara berpikir yang mendalam. Di sinilah tantangan terbesar generasi digital-mereka tumbuh dengan arus informasi cepat, tetapi sering kehilangan kedalaman dalam memaknai sesuatu. Teknologi dan internet memang mempercepat cara kita belajar dan berinteraksi, tetapi jika tidak diimbangi dengan kesadaran berbahasa yang baik, maka generasi yang lahir adalah generasi yang cepat tanggap namun dangkal refleksi.
Lebih jauh, Dr. Nurhayati menegaskan bahwa internet tidak hanya memengaruhi kemampuan linguistik, tetapi juga memengaruhi pola perilaku sosial. Dunia digital menciptakan ruang ekspresi tanpa batas, namun sekaligus menghapus sekat etika dan kesantunan berbahasa. Mahasiswa harus mampu menjadi pengguna teknologi yang cerdas—menguasai media digital tanpa kehilangan identitas dan nilai budaya berbahasa yang santun. Ia menekankan bahwa generasi yang hebat bukan hanya mereka yang mahir menggunakan teknologi, tetapi mereka yang mampu memanfaatkannya untuk memperluas kebaikan dan memperkuat nilai-nilai kemanusiaan.
Dalam konteks ini, kegiatan Entrepreneur Wanted menjadi relevan dan bermakna. Semangat kewirausahaan bukan hanya tentang membangun bisnis, tetapi juga tentang membangun karakter, kreativitas, dan kemampuan berkomunikasi yang efektif. Di era globalisasi dan ekonomi digital, kemampuan berbicara, menulis, dan menyampaikan ide dengan bahasa yang kuat adalah modal utama bagi seorang entrepreneur. Dunia bisnis kini menuntut kejelasan komunikasi, kemampuan meyakinkan, dan kemampuan membangun jejaring melalui bahasa yang positif dan profesional.
UMU Buton melalui program seperti ini menegaskan bahwa membangun jiwa wirausaha tidak hanya soal strategi ekonomi, tetapi juga soal membentuk mentalitas dan kompetensi komunikasi generasi muda. Mahasiswa diajak untuk melihat teknologi bukan sebagai ancaman, tetapi sebagai peluang. Internet adalah ruang luas untuk berinovasi, membangun usaha kreatif, memperluas relasi, dan memperkenalkan produk atau ide ke dunia. Namun semua itu hanya mungkin jika mereka memiliki kemampuan bahasa yang kuat untuk mengekspresikan gagasan secara jernih dan inspiratif.
Secara filosofis, topik yang dibawakan dalam studium generale ini mengandung pesan mendalam: bahasa adalah ruh dari peradaban manusia. Sepanjang sejarah, bangsa yang besar selalu ditandai oleh kekuatan bahasanya. Bahasa bukan hanya alat komunikasi, tetapi juga wadah bagi nilai, logika, dan peradaban. Ketika kemampuan berbahasa generasi muda menurun, maka secara perlahan kualitas berpikir dan berbudaya juga akan ikut melemah. Oleh karena itu, penting bagi lembaga pendidikan seperti UMU Buton untuk menjadi benteng dalam menjaga kualitas bahasa dan komunikasi di tengah derasnya arus digitalisasi.
Dalam suasana diskusi yang interaktif, mahasiswa UMU Buton juga diajak untuk merenungkan bagaimana penggunaan media sosial dapat diarahkan untuk hal-hal produktif. Dr. Nurhayati memberi contoh bagaimana teknologi bisa menjadi sarana edukatif yang luar biasa jika digunakan dengan benar. Menulis artikel, membuat konten edukasi, atau berdiskusi dalam forum digital yang positif dapat meningkatkan kemampuan berpikir kritis sekaligus memperkuat kemampuan bahasa. Ia mengajak mahasiswa untuk tidak menjadi “konsumen pasif” teknologi, tetapi “produsen aktif” gagasan dan karya yang memberi manfaat bagi masyarakat.
Kegiatan ini juga memperlihatkan bagaimana kampus UMU Buton terus berupaya membangun atmosfer akademik yang dinamis dan progresif. Di tengah tantangan global yang kompleks, universitas ini mendorong dosen dan mahasiswa untuk terus berpikir terbuka, kreatif, dan adaptif terhadap perubahan zaman tanpa kehilangan jati diri. Entrepreneur Wanted bukan sekadar program seremonial, tetapi bagian dari gerakan kampus dalam memupuk budaya intelektual, kewirausahaan, dan karakter mulia di kalangan mahasiswa.
Secara rasional, kegiatan seperti ini juga menjadi strategi penting dalam mempersiapkan lulusan yang kompetitif di era digital. Dunia kerja dan dunia usaha kini menuntut kemampuan komunikasi lintas budaya dan lintas bahasa. Mahasiswa yang mampu menulis laporan, bernegosiasi, dan mempresentasikan ide dengan baik memiliki peluang lebih besar untuk sukses. Dengan memahami dampak teknologi terhadap bahasa, mahasiswa akan lebih sadar untuk menjaga kualitas komunikasi mereka di dunia nyata maupun dunia maya.
Di akhir sesi, Dr. Nurhayati menutup dengan pesan yang menggugah hati: “Teknologi adalah alat, bukan tujuan. Gunakan untuk memperkuat pikiran dan memperluas manfaat. Bahasa adalah jembatan antara ide dan realitas – jika kita kehilangan kemampuan berbahasa, kita kehilangan kemampuan untuk membangun dunia.” Kalimat ini mendapat tepuk tangan panjang dari seluruh peserta yang hadir.
Momentum Studium Generale Entrepreneur Wanted ini bukan hanya meninggalkan wawasan baru, tetapi juga semangat baru di kalangan mahasiswa UMU Buton untuk terus belajar dan beradaptasi. Mereka menyadari bahwa menjadi generasi unggul di era digital bukan sekadar menguasai teknologi, tetapi juga menjaga esensi kemanusiaan melalui bahasa, etika, dan karakter.
Kegiatan ini menjadi bukti bahwa UMU Buton terus berkomitmen menghadirkan pendidikan yang menyatukan ilmu pengetahuan, nilai, dan kemanusiaan. Karena sejatinya, kecanggihan teknologi tidak akan berarti tanpa manusia yang cerdas, berbahasa baik, dan berakhlak mulia. Dari kampus inilah lahir generasi muda yang siap menghadapi dunia dengan pikiran terbuka, hati yang kuat, dan kemampuan komunikasi yang menginspirasi perubahan.
Today’s Highlight UMU Buton
