ar
en
id

Bahasa:

TALKSHOW PELAKU EKONOMI UMKM DI UMU BUTON

UMU Online—Baubau, 16 Mei 2025 Suasana Ballroom Al-Munawwara Universitas Muslim Buton pada Jumat Malam itu terasa berbeda. Suara langkah peserta yang berdatangan, semarak obrolan antarpelaku usaha, serta alunan musik khas Buton menyambut satu per satu tamu undangan yang hadir dalam acara istimewa bertajuk Talkshow Pelaku Ekonomi/UMKM.

Kegiatan ini merupakan bagian dari rangkaian besar UMU Entrepreneur Expo 2025, dan menjadi titik temu penting antara dunia akademik, pemerintah daerah, lembaga keuangan, serta pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah di kawasan Kepulauan Buton. Talkshow yang digagas dengan semangat kolaborasi ini menghadirkan para narasumber ternama dari berbagai latar belakang baik birokrat, teknokrat, maupun pelaku kebijakan ekonomi daerah dan nasional.

Mengawali sesi, Bupati Buton Selatan, Haji Muhammad Adios, memberikan pandangan strategisnya mengenai tantangan dan peluang UMKM dalam mendongkrak perekonomian daerah. Ia menyoroti pentingnya pendidikan kewirausahaan yang dimulai sejak dini serta perlunya keterlibatan kampus dalam mencetak generasi wirausaha. Menurutnya, kehadiran UMU Buton telah menjadi energi baru dalam memajukan SDM Buton dan membuka ruang sinergi antara akademisi dan praktisi ekonomi.

Haji Muhammad Adios dengan tegas menyampaikan bahwa pembangunan ekonomi yang berkeadilan hanya bisa dicapai jika pelaku UMKM diberi ruang tumbuh yang sehat, baik melalui kebijakan pendampingan yang berkelanjutan. Ia memuji inisiatif UMU Buton dalam menjadikan entrepreneur sebagai salah satu roh utama dalam tridharma perguruan tinggi.

Selanjutnya, sesi talkshow menjadi semakin hidup dengan kehadiran tokoh penting lainnya: Bapak La Ode Ahmad Monianse, mantan Wali Kota Baubau ke-4. Dalam paparannya, beliau membagikan pengalaman nyata selama menjabat, bagaimana mengelola geliat ekonomi lokal, menyentuh sisi-sisi psikologis dan sosial pelaku UMKM, serta bagaimana peran pemerintah dapat mempercepat transformasi pelaku usaha menjadi bagian dari rantai ekonomi global.

La Ode Monianse menekankan bahwa kekuatan ekonomi lokal Buton tidak boleh dianggap kecil. Justru kekayaan budaya, sumber daya alam, serta semangat komunitas adalah aset tak ternilai yang harus dimodernisasi. Ia menilai kampus seperti UMU Buton telah menjalankan fungsinya sebagai jembatan antara ide dan aksi, antara visi dan implementasi.

Wakil Pemerintah Daerah Wakatobi turut hadir memberi dimensi regional pada diskusi ini. Dalam pandangannya, wilayah Kepton memiliki ekosistem ekonomi maritim dan pariwisata yang sangat potensial untuk dikembangkan, namun belum sepenuhnya dimanfaatkan secara strategis oleh pelaku UMKM. Ia mengajak para pelaku ekonomi untuk tidak hanya fokus pada perdagangan konvensional, tetapi mulai memanfaatkan teknologi digital untuk memasarkan produk, menjangkau konsumen luar daerah, dan membangun branding daerah yang kuat.

Talkshow ini juga mempertemukan para pelaku ekonomi dengan Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Sulawesi Tenggara. Dalam paparannya, Kepala BI Sultra menjelaskan pentingnya literasi keuangan digital, sistem pembayaran non-tunai, serta akses pembiayaan mikro yang berbasis produktivitas dan kelayakan usaha. Ia mengungkapkan bahwa Bank Indonesia mendukung penuh inisiatif kampus seperti UMU Buton yang aktif mendorong mahasiswa menjadi agen-agen ekonomi baru di wilayah masing-masing.

Lebih dari itu, kehadiran perwakilan lembaga perbankan se-Kota Baubau memberikan warna tambahan dalam diskusi. Para pelaku usaha diberi kesempatan untuk menyampaikan kendala mereka selama ini, mulai dari sulitnya mendapatkan akses kredit, keterbatasan literasi digital, hingga perlunya pendampingan dalam pengelolaan keuangan usaha secara profesional. Forum ini menjadi jembatan komunikasi langsung antara pelaku UMKM dan lembaga keuangan, yang jarang terjadi dalam forum akademik konvensional.

Seluruh rangkaian talkshow dipandu dengan cermat dan inspiratif oleh moderator utama, Prof. Dr. Mashur Razak, seorang pakar ekonomi pembangunan dan dosen senior yang telah banyak terlibat dalam pemberdayaan UMKM di Indonesia timur. Dengan kepiawaiannya, Prof. Mashur tidak hanya menghidupkan suasana dialog, tetapi juga menggali pemikiran mendalam dari tiap narasumber, menyambungkannya dengan konteks lokal Buton dan Indonesia secara umum.

Dalam pengantarnya, Prof. Mashur menyampaikan bahwa saat ini kita tengah berada dalam masa transisi ekonomi yang membutuhkan keberanian kolektif. Ia mengajak semua pihak untuk tidak lagi menempatkan UMKM sebagai pelengkap, tetapi sebagai tulang punggung ekonomi bangsa. Kampus, dalam hal ini UMU Buton, menurutnya telah mengambil langkah tepat dengan membangun ekosistem entrepreneur yang tidak berhenti di kelas, tetapi menyatu dalam dinamika kehidupan masyarakat.

Talkshow ini bukan sekadar sesi wacana, melainkan menjadi ruang konkret untuk membangun kepercayaan dan kolaborasi. Sejumlah tindak lanjut pun dirancang pascaacara, termasuk penjajakan kerjasama antara UMU Buton dengan Bank Indonesia dan perbankan lokal untuk program literasi dan inkubasi bisnis mahasiswa. Beberapa pelaku usaha juga mendapat kesempatan mempresentasikan produknya langsung kepada lembaga keuangan sebagai bagian dari sesi temu bisnis.

Sebagaimana ditegaskan oleh Rektor UMU Buton, Dr. H. Sujiton, kegiatan ini merupakan wujud nyata dari komitmen kampus dalam menjalankan tridharma perguruan tinggi secara holistik. Pendidikan di UMU Buton, tegasnya, bukan sekadar soal gelar, melainkan bagaimana menciptakan manusia unggul yang mampu membaca peluang dan menjawab tantangan secara konkret. Menurut beliau, UMU Entrepreneur Expo 2025 dan kegiatan talkshow ini menjadi ruang strategis dalam menumbuhkan mentalitas wirausaha di kalangan mahasiswa sekaligus memperkuat jaringan kemitraan di wilayah Kepton.

Dr. Sujiton mengungkapkan bahwa setiap mahasiswa UMU Buton didorong untuk tidak hanya berpikir sebagai pencari kerja, tetapi sebagai pencipta nilai. Dalam pandangan beliau, keberhasilan seorang sarjana tidak hanya diukur dari ijazahnya, tetapi sejauh mana ia mampu membawa perubahan bagi komunitas sekitarnya. Dan semua itu, hanya bisa terjadi jika proses pendidikan menyatu dengan kehidupan nyata, sebagaimana yang tercermin dalam forum seperti ini.

UMU Buton telah menempatkan dirinya sebagai pionir kampus berbasis kewirausahaan di kawasan timur Indonesia. Dengan mengundang pemangku kepentingan utama dalam satu ruang dialog, UMU Buton menunjukkan keberanian untuk mendobrak batas, menjembatani sektor formal dan informal, serta mempertemukan ide, pengalaman, dan strategi dalam satu tarikan napas pembangunan ekonomi berbasis rakyat.

Talkshow Pelaku Ekonomi/UMKM ini bukanlah akhir, tetapi awal dari proses panjang membangun gerakan ekonomi kerakyatan dari kampus. Dari Ballroom Al-Munawwara, semangat itu disuarakan, didengar, dan dihidupi bukan hanya oleh mahasiswa dan akademisi, tetapi oleh setiap individu yang percaya bahwa perubahan bisa dimulai dari ruang yang paling sederhana: ruang belajar, ruang diskusi, dan ruang kerja sama.

Editor, Humas UMU Buton Muh Firman Syah

Tags :
Bagikan :