Di negara yang sering berteriak slogan soal kemanusiaan, ada masalah yang semakin besar. Orang-orang itu sering bicara soal hak asasi manusia di depan umum. Namun, mereka sering melupakan hak paling dasar yaitu Pulang Ke Rumah Dengan Selamat.
Suatu malam, seorang ayah pulang kerja. Dia membawa sekantong beras di motornya. Susu anaknya juga ada, dibeli dari uang hasil kerja lembur. Jalanan saat itu gelap. Lampu kota terasa enggan menyinari gang-gang sempit. Di sebuah tikungan, empat orang menghadang. Wajah mereka tertutup. Niat mereka jelas: merampok.
Motor ayah itu direbut. Tubuhnya dipukul. Dia jatuh ke jalanan. Kepalanya membentur batu. Darahnya mengalir perlahan. Ini seperti gambaran negara yang lambat melindungi warganya. Keesokan paginya, kejadian itu hanya jadi angka. Berita hanya menyebut, “Korban Begal Kembali Bertambah ataukah Pelaku Begal Semakin Bertambah” Kalimat itu diucapkan tanpa emosi. Seolah nyawa manusia hanya bagian dari laporan.
Lalu, orang-orang marah. Beberapa orang meminta tindakan tegas. Ada yang bilang pelaku begal pantas ditembak mati, karena sudah terlalu lelah berharap ada perubahan.
Nah Di tengah keramaian ini, Ada seseorang memberi pernyataan. Dia menolak gagasan menembak mati pelaku begal. Alasannya simpel. Negara hukum harus bertindak sesuai aturan. Negara tidak boleh bertindak di luar batas kemanusiaan.
Yaa, Pernyataan itu benar dan Sangat benar.
Pernyataan itu terlalu benar untuk orang yang setiap malam merasa takut di jalan. Mereka berdoa agar tidak jadi korban berikutnya. Nah di sinilah luka sosial mulai terasa. Orang kecil sering merasa hukum di negeri ini seperti payung mewah. Hukum terbuka untuk orang berkuasa. Tapi tertutup saat orang biasa butuh perlindungan.
Konsep hak asasi manusia memang mulia. Tujuannya agar negara tidak jadi monster. HAM mengajarkan bahwa setiap orang tetap manusia. Bahkan penjahat pun punya hak. Hukum tidak boleh didasari balas dendam.
Tapi, masalahnya bukan pada teori HAM.
Masalahnya adalah ketika teori dibahas di ruangan nyaman. Sementara rakyat mendengarnya dari pinggir jalan yang penuh darah. Ada kepahitan di negeri ini yang dimana korban diminta memahami pelaku, tpi pelaku jarang diminta memahami korban.
Saat motor dirampas, rakyat diminta sabar.
Saat nyawa hilang, rakyat diminta tenang.
Saat begal tertangkap lalu dilepas karena masih anak-anak, rakyat diminta mengerti masa depan mereka.
Anehnya, masa depan korban tidak pernah dibahas. Seolah nyawa orang miskin hanya jadi bahan diskusi atau pidato.
Ada orang penting yang lancar bicara soal kemanusiaan. Tapi mereka lupa rasa aman itu juga bagian dari HAM. Seorang ibu yang takut anaknya pulang malam, dia sedang kehilangan hak asasinya. Pengendara yang gemetar di jalan sepi, dia kehilangan kebebasan hidup.
Mengapa begal semakin banyak?
Mengapa kejahatan terasa seperti industri?
Mengapa anak muda lebih mudah cari parang daripada kerja?
Negara terlalu sering sibuk memadamkan api. Tapi lupa memperbaiki sumber masalahnya. Kita senang menghukum buah busuk. Tapi malas merawat pohonnya. Tapi ini bukan tentang buah.
Solusi terbaik bukanlah membiarkan begal bebas atas nama HAM. Juga bukan memberi izin aparat menembak tanpa aturan atas nama ketegasan. Tap solusi terbaik adalah negara hadir dengan tiga hal yaitu: Tegas, Adil, dan Manusiawi.
Pelaku begal bersenjata yang membahayakan warga harus dilumpuhkan jika mengancam nyawa. Aparat harus berani bertindak. Tapi tetap diawasi hukum. Agar tidak jadi mesin kekerasan. Hukuman bagi pelaku kejahatan berat harus memberi efek jera. Bukan hanya sekadar formalitas.
“Keamanan tidak lahir dari peluru, tpi Keamanan lahir saat rakyat punya harapan hidup.”
Ini adalah poin paling penting yang sering dilupakan.
“HAM bukan hanya menjaga hak pelaku kejahatan. HAM juga memastikan rakyat biasa hidup tanpa takut.”
Jika rakyat harus terus memilih antara takut pada begal atau kecewa pada negara. Maka yang gagal bukan hanya hukum.
Yang gagal adalah nurani bangsa ini.






