UMU Online-Baubau, 14 Juni 2025 Bertempat di Ballroom Al-Munawwara Universitas Muslim Buton menjadi saksi semangat intelektual dan kesadaran generasi muda saat ratusan mahasiswa, dosen, tenaga kependidikan, dan tokoh masyarakat menghadiri diskusi publik bertajuk “Indonesia dan Tantangan Generasi Milenial di Era Digital”, Sabtu, 14 Juni 2025. Kegiatan ini menghadirkan pembicara utama tokoh nasional, Prof. Dr. Masihu Kamaluddin, yang dikenal luas sebagai intelektual kritis, pemikir strategis, dan pembela nilai-nilai kemanusiaan dalam bingkai kebangsaan.
Dalam suasana yang penuh antusiasme, Prof. Masihu menyampaikan materi dengan gaya khasnya yang penuh semangat dan ketegasan. Ia memulai dengan menggugah kesadaran audiens melalui sebuah pertanyaan reflektif: “Apakah kita sedang hidup di masa depan yang kita siapkan, atau hanya terseret oleh gelombang digital yang tidak kita pahami?” Pertanyaan ini menjadi pembuka yang mengarah pada pemahaman mendalam tentang bagaimana seharusnya generasi milenial Indonesia menyikapi zaman yang berubah cepat, tidak menentu, dan serba digital.
Menurut Prof. Masihu, tantangan utama generasi milenial bukan semata-mata pada persoalan teknologi, melainkan pada kesiapan mental, etika, dan visi jangka panjang. Di tengah derasnya arus informasi dan teknologi, yang dibutuhkan bukan hanya kemampuan untuk mengakses, tetapi juga kebijaksanaan dalam memilah, menilai, dan memanfaatkannya demi kemaslahatan bersama. Beliau menegaskan bahwa digitalisasi adalah keniscayaan, namun tanpa dibarengi dengan literasi mendalam dan tanggung jawab moral, maka digitalisasi justru dapat menjadi bumerang bagi bangsa. Ia mencontohkan banyaknya generasi muda yang kehilangan jati diri, kehilangan arah, bahkan tersesat dalam budaya instan akibat tidak memiliki landasan nilai yang kuat.
Lebih jauh, Prof. Masihu menyuarakan pentingnya pendidikan tinggi sebagai benteng terakhir yang harus mampu membentuk karakter digital leadership pada mahasiswa. Ia menantang UMU Buton dan seluruh perguruan tinggi di Indonesia untuk tidak sekadar mencetak lulusan yang pandai menggunakan teknologi, tetapi mencetak generasi pemimpin yang mampu memanfaatkan teknologi untuk kemajuan masyarakat, bangsa, dan kemanusiaan. Dalam pemaparannya, ia juga mengajak seluruh mahasiswa untuk tidak hanya menjadi pengguna media sosial, tetapi menjadi pencipta gagasan, pembawa pengaruh positif, dan pejuang etika di ruang digital.
Diskusi ini juga menjadi momentum refleksi bahwa di era digitalisasi, pergeseran nilai sangat cepat terjadi. Tanpa fondasi budaya dan spiritualitas yang kokoh, generasi muda sangat rentan terbawa arus pragmatisme, konsumerisme, dan egosentrisme digital. Oleh karena itu, Prof. Masihu mengajak generasi milenial untuk kembali pada akar budaya bangsa yang menjunjung tinggi gotong royong, empati, dan integritas. Menurutnya, globalisasi dan digitalisasi bukanlah sesuatu yang harus ditolak, tetapi harus dihadapi dengan pijakan nilai yang kuat dan arah yang jelas.
Kegiatan ini tidak hanya menghadirkan mahasiswa dan dosen, tetapi juga tokoh masyarakat terkemuka, salah satunya adalah Ketua Dewan Pendidikan Kota Baubau, Dr. Sahirsan. Dalam kesempatan memberikan tanggapan, Dr. Sahirsan menyampaikan apresiasinya terhadap diskusi publik yang digelar UMU Buton, dan menilai bahwa kegiatan seperti ini sangat penting untuk membangun ruang dialog antar generasi serta menanamkan kesadaran kolektif tentang peran generasi muda dalam pembangunan bangsa. Ia berharap, ke depan UMU Buton terus menjadi pelopor pendidikan yang tidak hanya unggul dalam akademik, tetapi juga dalam mencetak generasi berintegritas yang siap menyambut masa depan.
Sementara itu, Direktur IBI UMU Buton dalam sambutannya menegaskan bahwa kegiatan ini merupakan bagian dari komitmen institusi dalam membekali mahasiswa dengan wawasan kebangsaan, kecakapan abad 21, dan semangat kepemimpinan. Direktur IBI menambahkan bahwa menghadirkan tokoh-tokoh nasional seperti Prof. Masihu merupakan langkah nyata universitas dalam membangun iklim akademik yang terbuka, kritis, dan inspiratif.
Mahasiswa yang hadir mengungkapkan kesan mendalam atas materi yang disampaikan. Salah satu mahasiswa dari Fakultas Ilmu Pemerintahan dan Hukum mengatakan bahwa ia merasa tercerahkan dan termotivasi untuk lebih serius dalam membentuk dirinya sebagai agen perubahan. Diskusi ini, menurutnya, bukan sekadar penyampaian materi, tetapi suntikan semangat dan kesadaran baru untuk menjalani peran sebagai bagian dari generasi yang bertanggung jawab terhadap masa depan bangsa.
Acara ini diakhiri dengan pernyataan kuat dari Prof. Masihu yang menyimpulkan bahwa menggugat masa depan bukanlah tindakan pemberontakan, melainkan upaya sadar untuk menakar ulang arah pembangunan dan menegaskan kembali komitmen moral setiap warga negara, khususnya generasi muda, dalam menjawab tantangan zaman. Masa depan, menurutnya, tidak akan datang kepada mereka yang pasif, tetapi hanya kepada mereka yang berani membaca tanda zaman dan mengambil langkah nyata dengan penuh keberanian dan nilai.
Melalui kegiatan ini, UMU Buton kembali menegaskan perannya sebagai kampus pencetak pemimpin masa depan yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga bijak dalam bersikap, kuat dalam nilai, dan berani dalam bertindak. Diskusi publik bersama Prof. Dr. Masihu Kamaluddin menjadi bukti nyata bahwa kampus adalah ruang strategis untuk membangun narasi kebangsaan di era digital, serta tempat terbaik untuk merumuskan masa depan yang lebih adil, cerdas, dan manusiawi.
Editor Kantor Humas, Universitas Muslim Buton Muhamad Firman Syah
