UMU Online-Baubau, Kamis 18 Desember 2025, Universitas Muslim Buton kembali menegaskan peran masjid sebagai pusat pembentukan peradaban melalui pelaksanaan Kajian Rutin Kamis yang diselenggarakan oleh Lembaga Kajian Islam dan Aswaja. Kegiatan ini merupakan bagian dari Program “Merangkai Cita-Cita dari Masjid”, sebuah ikhtiar akademik dan spiritual yang memadukan tradisi keilmuan Islam, refleksi keislaman, serta penguatan nalar sains dalam bingkai pendidikan tinggi. Bertempat di Ballroom Al Munawwara Universitas Muslim Buton, kajian ini menjadi ruang perjumpaan antara iman, ilmu, dan tanggung jawab kebangsaan.
Kajian diawali dengan pembacaan Al-Qur’an Surah Az-Zariyat ayat 45 hingga 50. Ayat-ayat ini mengingatkan manusia tentang tanda-tanda kebesaran Allah di alam semesta serta ajakan untuk berpikir, merenung, dan mengambil pelajaran dari ciptaan-Nya. Pembacaan ayat tersebut bukan sekadar pembuka seremonial, melainkan fondasi ruhani yang menegaskan bahwa ilmu pengetahuan dan keimanan tidak pernah bertentangan, melainkan saling menguatkan.
Dengan mengusung tema “Konsep Sains dalam Pendidikan Islam”, kajian ini menghadirkan pemateri Mujuna Hatuala, S.Pd., M.Pd., dosen Program Studi Pendidikan Biologi Universitas Muslim Buton. Dalam pemaparannya, beliau menekankan bahwa Islam sejak awal adalah agama yang mendorong pencarian ilmu, pengamatan alam, dan penggunaan akal secara bertanggung jawab. Sains dalam perspektif Islam bukanlah upaya memisahkan manusia dari Tuhan, tetapi sarana untuk semakin mengenal kebesaran-Nya melalui keteraturan ciptaan.
Kegiatan ini memperlihatkan bagaimana masjid di lingkungan kampus tidak hanya berfungsi sebagai ruang ibadah ritual, tetapi juga sebagai pusat dialog intelektual dan pengembangan wawasan. Masjid menjadi tempat bertemunya teks wahyu dan realitas kehidupan. Dari masjid, mahasiswa dan sivitas akademika diajak untuk merangkai cita-cita yang tidak semata-mata berorientasi pada karier duniawi, tetapi juga pada tanggung jawab moral dan spiritual sebagai insan berilmu.
Dalam konteks pendidikan Islam, sains dipahami sebagai bagian dari amanah keilmuan. Ilmu pengetahuan modern yang berkembang hari ini sejatinya memiliki akar kuat dalam tradisi keilmuan Islam klasik. Para ilmuwan Muslim masa lalu tidak melihat pemisahan antara ibadah dan penelitian, antara masjid dan laboratorium. Kajian ini menghidupkan kembali semangat tersebut dalam konteks kekinian, khususnya di lingkungan Universitas Muslim Buton.
Fakta pelaksanaan kajian menunjukkan antusiasme peserta yang terdiri dari mahasiswa, dosen, dan sivitas akademika. Mereka hadir bukan hanya untuk mendengar ceramah, tetapi untuk membangun kesadaran bersama bahwa pendidikan tinggi Islam harus melahirkan lulusan yang utuh. Lulusan yang mampu berpikir ilmiah, bersikap kritis, dan tetap berakar pada nilai-nilai keimanan. Inilah inti dari Program Merangkai Cita-Cita dari Masjid, menjadikan masjid sebagai titik awal lahirnya mimpi, gagasan, dan komitmen hidup.
Kajian ini juga menjadi praktik nyata bagaimana konsep integrasi ilmu diterapkan di kampus. Tema sains tidak diposisikan sebagai wacana yang kering, tetapi dikaitkan langsung dengan pendidikan, pembentukan karakter, dan tanggung jawab sosial. Sains dalam pendidikan Islam diarahkan untuk melahirkan manusia yang rendah hati, sadar akan keterbatasannya, dan menggunakan ilmunya untuk kemaslahatan umat.
Dalam pemaparannya, pemateri menegaskan bahwa pendidikan Islam tidak boleh terjebak pada dikotomi antara ilmu agama dan ilmu umum. Pemisahan semacam ini justru melemahkan umat. Islam memandang ilmu sebagai satu kesatuan yang saling melengkapi. Biologi, fisika, kimia, dan ilmu alam lainnya adalah sarana untuk membaca ayat-ayat kauniyah, sebagaimana Al-Qur’an adalah ayat qauliyah. Keduanya harus dibaca secara bersamaan agar manusia tidak kehilangan arah.
Program Merangkai Cita-Cita dari Masjid menjadi refleksi bahwa pembangunan sumber daya manusia di Buton tidak hanya bertumpu pada aspek teknis, tetapi juga pada fondasi nilai. Universitas Muslim Buton memandang bahwa daerah kepulauan seperti Buton membutuhkan generasi muda yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga kokoh secara spiritual. Dari masjid, nilai-nilai itu ditanamkan dan dirawat.
Tema “Buton Untuk Indonesia” terasa kuat dalam pelaksanaan kajian ini. Masjid kampus tidak hanya berbicara tentang keselamatan individu, tetapi juga tentang peran kolektif membangun bangsa. Ilmu yang dipelajari di ruang kelas dan laboratorium harus kembali kepada masyarakat. Pendidikan Islam yang terintegrasi dengan sains diharapkan mampu melahirkan kontribusi nyata bagi pembangunan daerah dan nasional.
Kajian ini juga menjadi pengingat bahwa cita-cita besar bangsa tidak lahir dari ruang kosong. Ia lahir dari proses panjang pembentukan karakter, penguatan iman, dan ketekunan menuntut ilmu. Masjid menjadi ruang yang strategis untuk merajut semua itu. Di sinilah mahasiswa belajar menata niat, meluruskan tujuan, dan mengaitkan masa depan pribadi dengan masa depan umat dan bangsa.
Secara filosofis, Program Merangkai Cita-Cita dari Masjid menegaskan bahwa pendidikan adalah perjalanan makna. Ilmu tanpa nilai akan kehilangan arah. Nilai tanpa ilmu akan kehilangan daya. Keduanya harus berjalan bersama. Kajian ini menghadirkan keseimbangan tersebut dalam praktik nyata, bukan sekadar konsep di atas kertas.
Pelaksanaan kajian rutin ini juga menunjukkan komitmen Universitas Muslim Buton dalam membangun budaya akademik yang religius dan inklusif. Kampus tidak hanya menjadi tempat transfer pengetahuan, tetapi juga ruang pembinaan jiwa. Dalam konteks tantangan global, ketika generasi muda dihadapkan pada krisis makna dan identitas, pendekatan semacam ini menjadi sangat relevan.
Fakta kehidupan hari ini menunjukkan bahwa banyak persoalan sosial berakar pada keterputusan antara ilmu dan nilai. Kerusakan lingkungan, penyalahgunaan teknologi, dan krisis etika sering terjadi ketika sains dilepaskan dari moralitas. Kajian ini menawarkan jalan tengah, bahwa sains yang dibingkai nilai Islam justru dapat menjadi solusi bagi persoalan kemanusiaan.
Bagi mahasiswa Universitas Muslim Buton, kajian ini menjadi ruang belajar yang berbeda. Mereka tidak hanya diajak memahami teori, tetapi juga diajak merenung tentang tujuan hidup dan peran ilmu yang sedang mereka pelajari. Dari masjid, mereka diajak melihat bahwa profesi apa pun yang kelak dijalani dapat menjadi ladang amal jika dilandasi niat yang benar dan etika yang kuat.
Program Merangkai Cita-Cita dari Masjid juga menjadi wujud nyata bahwa masjid kampus adalah pusat peradaban kecil. Di sanalah gagasan lahir, nilai dirawat, dan semangat kebangsaan ditumbuhkan. Buton, dengan segala kekhasannya sebagai wilayah kepulauan, membutuhkan pendekatan pendidikan yang membumi dan berakar pada nilai lokal serta keislaman yang rahmatan lil ‘alamin.
Universitas Muslim Buton melalui Lembaga Kajian Islam dan Aswaja menegaskan bahwa kajian rutin ini bukan agenda sesaat, melainkan bagian dari strategi jangka panjang membangun insan akademik yang seimbang. Keseimbangan antara akal dan hati, antara sains dan iman, antara cita-cita pribadi dan tanggung jawab sosial.
Pada akhirnya, kajian ini menyampaikan pesan sederhana namun mendalam. Dari masjid, mimpi dirajut. Dari masjid, ilmu diberi arah. Dari masjid, lahir generasi yang siap berkontribusi bagi daerah dan bangsa. Buton bukan hanya penonton dalam perjalanan Indonesia, tetapi bagian aktif yang menyiapkan generasi berilmu, beriman, dan berakhlak.






