UMU Online – UMU Buton terus konsisten membangun ekosistem pendidikan tinggi yang tidak hanya menekankan penguatan kompetensi akademik, tetapi juga pembentukan karakter, mentalitas progresif, dan kesiapan mahasiswa menghadapi dinamika masa depan melalui pelaksanaan Studium General bertema penguatan growth mindset dan kewirausahaan mahasiswa. Kegiatan akademik strategis tersebut dilaksanakan pada Jumat, 16 Mei 2026, bertempat di Ballroom Al-Munawwara UMU Buton dan berlangsung mulai pukul 08.30 hingga 11.30 WITA dengan menghadirkan narasumber utama, Prof. Dr. Mashur Razak.
Kegiatan kuliah umum ini dipimpin langsung oleh Rektor Universitas Muslim Buton, Yusman Sutoyo, S.E., M.M., serta dihadiri oleh Wakil Rektor Bidang Akademik dan Kemahasiswaan, Wakil Rektor Bidang Aset, ICT, dan Sumber Daya, para dekan di lingkungan UMU Buton, seluruh pegawai universitas, serta mahasiswa dari 15 program studi yang mengikuti kegiatan dengan antusias sebagai bagian dari penguatan kapasitas akademik dan pembentukan karakter kepemimpinan masa depan.
Pelaksanaan Studium General ini menjadi ruang refleksi akademik sekaligus momentum intelektual untuk membangun kesadaran baru di kalangan mahasiswa mengenai pentingnya perubahan pola pikir (mindset transformation) dalam menghadapi dunia yang semakin kompetitif, disruptif, dan sarat perubahan. Dalam paparannya, Prof. Dr. Mashur Razak menekankan bahwa mahasiswa pada era kontemporer tidak lagi cukup hanya dibekali dengan kemampuan akademik konvensional, tetapi harus memiliki cara berpikir bertumbuh (growth mindset) yang memungkinkan seseorang terus berkembang, beradaptasi, dan mampu melihat tantangan sebagai peluang untuk bertumbuh.
Dalam penyampaian materinya, beliau menegaskan bahwa salah satu tantangan terbesar generasi muda saat ini adalah keterbatasan visi hidup dan rendahnya keberanian untuk membangun cita-cita besar. Oleh sebab itu, mahasiswa didorong untuk memiliki visi besar terhadap masa depan dirinya, keluarga, masyarakat, dan bangsa. Menurut beliau, mimpi besar tidak memerlukan biaya, tetapi membutuhkan keberanian berpikir melampaui keterbatasan.
“Mimpi itu gratis, tetapi keberhasilan membutuhkan keberanian, perjuangan, dan kerja keras,” demikian pesan substantif yang menjadi refleksi utama dalam kuliah umum tersebut.
Beliau menguraikan bahwa mahasiswa harus membangun paradigma kehidupan yang progresif, optimis, dan produktif. Pendidikan tinggi bukan sekadar tempat memperoleh ijazah, tetapi ruang pembentukan kapasitas intelektual, penguatan karakter, serta laboratorium kehidupan untuk mempersiapkan diri menghadapi realitas sosial dan ekonomi yang terus berubah. Mahasiswa UMU Buton, menurut beliau, harus memosisikan diri sebagai generasi pencipta peluang, bukan sekadar pencari peluang.
Dalam konteks perkembangan dunia kerja, Prof. Mashur Razak secara tegas mengingatkan bahwa orientasi mahasiswa untuk semata-mata menggantungkan masa depan pada profesi sebagai aparatur sipil negara (PNS) perlu mulai ditransformasikan menuju paradigma yang lebih terbuka, adaptif, dan produktif. Beliau menekankan bahwa setelah mahasiswa meninggalkan pintu gerbang kampus, realitas kompetisi akan semakin kompleks, sementara peluang menjadi PNS semakin kompetitif dan terbatas. Oleh karena itu, mahasiswa perlu membangun kesiapan mental untuk menjadi pribadi yang mandiri, inovatif, dan mampu menciptakan lapangan kerja.
Menurut beliau, era saat ini merupakan momentum penting untuk menanamkan semangat entrepreneurship di lingkungan perguruan tinggi. Jiwa kewirausahaan tidak hanya dipahami dalam makna ekonomi semata, tetapi sebagai pola pikir kreatif, inovatif, problem solving, dan kemampuan membaca kebutuhan masyarakat. Entrepreneurship dipandang sebagai instrumen strategis dalam membentuk generasi muda yang mampu beradaptasi terhadap perubahan sekaligus menjadi aktor pembangunan sosial-ekonomi berbasis kreativitas dan inovasi.
Lebih jauh, Prof. Mashur Razak menjelaskan bahwa dunia masa depan membutuhkan manusia yang memiliki kapasitas multidimensional, yakni kreativitas, inovasi, integritas, keberanian mengambil risiko, kemampuan membangun jejaring, serta daya tahan menghadapi kegagalan. Menurutnya, mahasiswa tidak boleh membangun mentalitas instan yang berharap keberhasilan hadir tanpa proses panjang.
Beliau menekankan bahwa tidak ada kesuksesan tanpa perjuangan, dan tidak ada keberhasilan tanpa kerja keras. Kesuksesan, menurutnya, merupakan akumulasi dari konsistensi, disiplin, pengorbanan, kemauan belajar, dan keberanian menghadapi tantangan. Oleh karena itu, mahasiswa didorong untuk meninggalkan pola pikir nyaman (comfort zone mindset) yang sering kali membatasi potensi diri.
Dalam forum akademik tersebut, mahasiswa diajak untuk memahami bahwa keluar dari zona nyaman merupakan syarat penting bagi pertumbuhan personal dan profesional. Mahasiswa yang berhasil adalah mereka yang mampu mengubah keterbatasan menjadi motivasi, kegagalan menjadi pembelajaran, serta tantangan menjadi energi perubahan. Oleh sebab itu, bangku kuliah harus dipahami sebagai fase penting untuk membangun kompetensi, memperluas pengalaman, meningkatkan jejaring, dan membaca peluang usaha secara realistis.
Secara khusus, beliau mengajak mahasiswa UMU Buton agar sejak dini memiliki keberanian untuk membaca potensi usaha di sekitarnya, memahami perubahan kebutuhan pasar, serta membangun orientasi kewirausahaan berbasis kreativitas lokal, teknologi, dan inovasi sosial. Mahasiswa harus belajar memahami bahwa peluang usaha tidak selalu membutuhkan modal besar, melainkan keberanian memulai, kreativitas berpikir, dan ketekunan membangun proses.
Rektor UMU Buton, Yusman Sutoyo, S.E., M.M., dalam arahannya menyampaikan bahwa pelaksanaan Studium General ini merupakan bagian dari komitmen institusional universitas dalam membangun karakter mahasiswa yang unggul, mandiri, adaptif, dan memiliki orientasi masa depan yang jelas. Menurutnya, UMU Buton berupaya menghadirkan pendidikan tinggi yang tidak hanya menghasilkan lulusan berijazah, tetapi lulusan yang memiliki mentalitas kepemimpinan, semangat inovasi, karakter kewirausahaan, dan kesiapan menghadapi kompetisi global.
Beliau menegaskan bahwa perguruan tinggi memiliki tanggung jawab moral dan akademik untuk mempersiapkan mahasiswa menjadi agen perubahan (agent of change) yang produktif, visioner, serta mampu memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat. Oleh sebab itu, kegiatan kuliah umum seperti ini menjadi instrumen strategis dalam memperluas horizon berpikir mahasiswa sekaligus memperkuat integrasi antara kompetensi akademik dan pembentukan karakter.
Antusiasme mahasiswa dari 15 program studi terlihat jelas sepanjang kegiatan berlangsung. Dialog akademik yang tercipta memperlihatkan semangat belajar, refleksi kritis, serta meningkatnya kesadaran mahasiswa mengenai pentingnya membangun visi hidup yang besar dan realistis. Kehadiran pimpinan universitas, para dekan, serta seluruh pegawai UMU Buton menunjukkan bahwa transformasi mahasiswa menuju generasi unggul tidak dapat dibangun secara parsial, melainkan membutuhkan sinergi kelembagaan yang kuat.
Pelaksanaan Studium General di Ballroom Al-Munawwara UMU Buton ini diharapkan menjadi momentum akademik yang mampu memperkuat kesadaran mahasiswa bahwa masa depan bukan sesuatu yang ditunggu, tetapi harus dirancang, diperjuangkan, dan diwujudkan melalui kerja keras, integritas, kreativitas, inovasi, serta keberanian untuk keluar dari zona nyaman. Dengan menanamkan growth mindset dan jiwa entrepreneurship sejak di bangku kuliah, mahasiswa UMU Buton diharapkan tumbuh menjadi generasi pembelajar, pemimpin perubahan, pencipta lapangan kerja, dan insan akademik yang memiliki kontribusi nyata terhadap pembangunan masyarakat, bangsa, dan peradaban.






