UMU Online-Baubau, 25 Maret 2026 UMU Buton terus berbenah dengan menegaskan komitmennya dalam memperkuat tata kelola kelembagaan melalui pelaksanaan Rapat Koordinasi dan Sharing Session bertajuk Penguatan Tata Kelola Kelembagaan yang diselenggarakan di Ballroom Almunawwarah. Kegiatan ini menjadi momentum strategis pasca revisi struktur organisasi universitas dalam merumuskan arah baru pengembangan kelembagaan berbasis arsitektur organisasi yang modern, adaptif, dan berorientasi mutu berkelanjutan.
Rapat koordinasi ini menghadirkan unsur pimpinan universitas, mulai dari Yayasan, Majelis Wali Amanat, Rektorat, hingga pimpinan fakultas, lembaga, dan program studi. Agenda utama yang dibahas mencakup penjelasan arsitektur kelembagaan UMU Buton, penguatan tata kelola organisasi, sinkronisasi peran dan fungsi antar unit, evaluasi implementasi sistem penjaminan mutu internal, serta penguatan koordinasi dan kolaborasi kelembagaan secara menyeluruh.
Dalam arahannya, Ketua Majelis Wali Amanat menekankan bahwa keberhasilan tata kelola kelembagaan tidak hanya ditentukan oleh kelengkapan struktur organisasi, tetapi juga oleh semangat kolektif seluruh sivitas akademika dalam mengimplementasikan nilai-nilai mutu. Tata kelola yang dibangun harus berpijak pada siklus PPEPP (Penetapan, Pelaksanaan, Evaluasi, Pengendalian, dan Peningkatan)
sebagai fondasi utama dalam memastikan keberlanjutan mutu institusi. Selain itu, kekhasan UMU Buton sebagai perguruan tinggi berbasis nilai akhlakul karimah dan jiwa entrepreneurship harus tetap menjadi identitas yang terinternalisasi dalam setiap aspek tata kelola akademik dan non-akademik.
Ketua Yayasan menegaskan bahwa statuta universitas merupakan landasan hukum tertinggi yang harus menjadi rujukan dalam seluruh proses pengambilan kebijakan dan implementasi program kerja. Dalam konteks ini, tata kelola kelembagaan harus mampu mengintegrasikan dua fungsi utama sivitas akademika, yaitu fungsi akademik melalui pelaksanaan tridharma perguruan tinggi dan fungsi non-akademik dalam pengelolaan administrasi serta manajerial yang profesional. Ia juga menyoroti pentingnya penguatan tata kelola berbasis sembilan kriteria akreditasi sebagai standar nasional yang harus dilampaui melalui inovasi dan diferensiasi institusi.
Lebih lanjut, roadmap pengembangan UMU Buton yang terbagi dalam dua fase utama, yaitu periode penataan kelembagaan 2020–2025 dan periode pengembangan 2025–2030, menjadi acuan dalam menyusun blueprint organisasi yang lebih progresif.
Tantangan utama yang dihadapi saat ini, seperti belum optimalnya penataan dokumen dan pelaksanaan monitoring serta evaluasi, menjadi perhatian serius yang harus segera ditindaklanjuti melalui langkah-langkah strategis yang terukur.
Pelaksana Tugas Rektor dalam sambutannya menekankan pentingnya kolaborasi lintas unit sebagai kunci keberhasilan implementasi tata kelola yang efektif. Koordinasi yang berkelanjutan harus menjadi budaya kerja baru di lingkungan UMU Buton, sehingga tidak terjadi lagi fragmentasi antar unit kerja. Setiap struktur organisasi, baik di tingkat universitas, fakultas, maupun program studi, harus mampu mengoptimalkan perannya dalam mendukung pelaksanaan tridharma perguruan tinggi secara sinergis.
Wakil Rektor I menambahkan bahwa pasca revisi struktur organisasi, setiap unit kerja wajib memahami secara komprehensif tugas pokok dan fungsi masing-masing. Pemahaman ini harus diikuti dengan penyusunan perencanaan kerja tahunan yang sistematis serta roadmap kegiatan yang jelas dalam jangka pendek, menengah, dan panjang. Hal ini penting untuk memastikan bahwa setiap program yang dijalankan memiliki arah yang terukur dan selaras dengan visi institusi.
Sementara itu, Wakil Rektor II menegaskan pentingnya integrasi antara perencanaan strategis (Renstra) dan rencana operasional (Renop) dalam setiap unit kerja. Setiap unit diharapkan mampu menyusun rencana kerja yang realistis, berbasis data, serta memiliki indikator kinerja yang jelas. Dalam konteks pengembangan institusi, target peningkatan jumlah mahasiswa menjadi salah satu indikator strategis yang harus didukung oleh sistem tata kelola yang efektif dan pelayanan akademik yang berkualitas.
Dari perspektif penjaminan mutu, Ketua Lembaga Penjaminan Mutu (LPM) menekankan bahwa implementasi SPMI tidak boleh berhenti pada aspek dokumentasi semata, tetapi harus diwujudkan dalam praktik nyata di setiap unit kerja. Program studi sebagai jantung sistem akademik harus menjadi fokus utama dalam penguatan mutu berbasis data dan sistem. Optimalisasi sistem informasi akademik, khususnya SIAKARA, menjadi langkah penting dalam mendukung pengambilan keputusan berbasis evidence serta meningkatkan akuntabilitas kinerja institusi.
Diskusi yang berkembang dalam forum ini juga mengungkapkan bahwa implementasi hasil rapat sebelumnya masih belum berjalan secara optimal. Hal ini menunjukkan perlunya penguatan budaya kerja berbasis mutu yang tidak hanya berorientasi pada perencanaan, tetapi juga pada eksekusi dan evaluasi yang konsisten. Setiap unit kerja diharapkan mampu melakukan tindak lanjut konkret atas hasil evaluasi, sehingga siklus PPEPP dapat berjalan secara utuh dan berkelanjutan.
Sebagai bagian dari komitmen bersama, rapat ini menghasilkan sejumlah langkah strategis yang akan menjadi fokus implementasi ke depan. Di antaranya adalah kewajiban setiap unit untuk menyusun roadmap kegiatan dalam rentang waktu tiga bulan, enam bulan, dan satu tahun, penguatan implementasi PPEPP di seluruh lini organisasi, optimalisasi sistem informasi sebagai basis data mutu, serta pelaksanaan evaluasi berkala secara sistematis. Selain itu, peningkatan koordinasi lintas unit menjadi prioritas utama dalam menciptakan tata kelola yang terintegrasi dan responsif terhadap dinamika perubahan.
Pelaksanaan rapat koordinasi ini menandai langkah penting UMU Buton dalam membangun arsitektur organisasi yang tidak hanya kokoh secara struktural, tetapi juga adaptif terhadap tuntutan perubahan lingkungan pendidikan tinggi. Dengan mengedepankan prinsip tata kelola yang baik, budaya mutu yang kuat, serta kolaborasi yang solid, UMU Buton optimis mampu mewujudkan visi sebagai perguruan tinggi unggul yang berdaya saing global.
Ke depan, implementasi blueprint organisasi dan tata kelola yang telah dirumuskan dalam forum ini diharapkan mampu menjadi fondasi dalam mempercepat transformasi institusi. Seluruh sivitas akademika diharapkan dapat berperan aktif dalam mengawal proses ini, sehingga setiap kebijakan yang diambil tidak hanya menjadi dokumen formal, tetapi benar-benar memberikan dampak nyata bagi peningkatan kualitas pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat.
Dengan semangat kebersamaan dan komitmen terhadap mutu, UMU Buton terus melangkah maju sebagai institusi pendidikan tinggi yang tidak hanya unggul dalam akademik, tetapi juga berkarakter, inovatif, dan berorientasi pada pembangunan masyarakat yang berkelanjutan.






