UMU Online-Baubau Jum’at, 27 Maret 2026 Universitas Muslim Buton kembali melanjutkan rangkaian Rapat Koordinasi Kelembagaan pada hari ke-3 yang dilaksanakan pada Jumat, 27 Maret 2026 bertempat di Ballroom Al-Munawwara UMU Buton. Kegiatan strategis ini menjadi salah satu forum paling penting dalam agenda penguatan tata kelola universitas, khususnya dalam memperkokoh sistem penjaminan mutu internal serta mempercepat pengembangan inovasi soft skill mahasiswa sebagai bagian dari transformasi kelembagaan yang berkelanjutan.
Rakor hari ketiga ini dihadiri oleh jajaran pimpinan universitas, para dekan, kepala lembaga, kepala unit kerja, serta seluruh unsur sivitas akademika UMU Buton. Kehadiran para pemangku kebijakan tersebut menunjukkan komitmen kolektif institusi dalam membangun sistem tata kelola yang lebih terarah, terukur, dan berorientasi pada peningkatan mutu berkelanjutan. Forum ini tidak hanya menjadi ruang koordinasi teknis, tetapi juga menjadi ruang konsolidasi visi dalam memastikan seluruh program kerja universitas berjalan selaras dengan arah pengembangan UMU Buton sebagai perguruan tinggi berbasis entrepreneurship yang unggul, berdaya saing global, serta berlandaskan nilai-nilai keislaman.
Dalam agenda utama Rakor hari ke-3, dua lembaga strategis setingkat wakil rektor, yakni Lembaga Penjaminan Mutu dan Direktorat Indonesia Buton Institute, memaparkan peran, mandat, serta arah pengembangan program masing-masing. Kedua lembaga ini diposisikan sebagai motor penggerak utama dalam membangun ekosistem mutu dan inovasi di lingkungan UMU Buton, yang saling melengkapi satu sama lain dalam membentuk sistem kelembagaan yang kuat dan adaptif.
Lembaga Penjaminan Mutu dalam pemaparannya menegaskan posisinya sebagai “Penjaga Mutu Universitas” yang memiliki mandat strategis untuk membangun, mengembangkan, dan mengawal implementasi sistem penjaminan mutu internal (SPMI) secara menyeluruh di lingkungan UMU Buton. LPM menekankan bahwa budaya mutu tidak boleh dipahami sebatas pemenuhan dokumen administratif, melainkan harus menjadi nilai dasar yang hidup dalam setiap aktivitas akademik maupun nonakademik di seluruh unit kerja universitas.
Dalam implementasinya, LPM mengembangkan instrumen utama budaya mutu yang menjadi fondasi sistem penjaminan mutu UMU Buton, yaitu kebijakan mutu, manual mutu, standar mutu, dan formulir mutu. Keempat instrumen ini berfungsi sebagai pedoman utama yang mengarahkan seluruh proses penyelenggaraan pendidikan tinggi agar berjalan sesuai standar yang telah ditetapkan, sekaligus menjadi acuan dalam proses evaluasi dan pengembangan institusi secara berkelanjutan. LPM juga menekankan pentingnya evaluasi berkala terhadap keabsahan dokumen mutu agar tetap relevan dengan perkembangan regulasi nasional pendidikan tinggi dan dinamika kebutuhan institusi.
Lebih lanjut, LPM menjelaskan bahwa penguatan budaya mutu diwujudkan melalui siklus evaluasi yang bersifat dinamis dan berkesinambungan. Siklus tersebut meliputi pelaksanaan Audit Mutu Internal (AMI) institusi yang dilakukan setiap semester ganjil
dan genap, Rapat Tinjauan Manajemen (RTM) sebagai forum evaluasi kinerja mutu, serta Rencana Tindak Lanjut (RTL) sebagai bentuk implementasi hasil evaluasi. Pada level fakultas atau UPPS, siklus ini diperkuat melalui penyusunan pedoman SPMI fakultas, manual mutu SPMI fakultas, standar mutu SPMI fakultas, dan formulir mutu SPMI fakultas yang menjadi acuan operasional di tingkat unit. Seluruh rangkaian ini kemudian dilengkapi dengan laporan AMI fakultas, RTM mutu fakultas, dan RTL mutu fakultas yang dilaksanakan secara konsisten setiap semester.
Sistem ini dipandang sebagai satu kesatuan mekanisme integratif yang memastikan setiap unit kerja di UMU Buton memiliki arah pengelolaan mutu yang jelas, terukur, dan dapat dipertanggungjawabkan. LPM menegaskan bahwa keberhasilan implementasi sistem ini sangat bergantung pada konsistensi pelaksanaan di lapangan serta validitas dokumen yang menjadi dasar pengambilan keputusan strategis universitas.
Sementara itu, Direktorat Indonesia Buton Institute (IBI) dalam paparannya menegaskan perannya sebagai pusat inovasi, pengembangan karakter, serta penguatan soft skill mahasiswa UMU Buton. IBI memiliki mandat strategis dalam menciptakan lulusan yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga memiliki kemampuan praktis, jiwa kewirausahaan, kemampuan komunikasi global, serta literasi digital yang adaptif terhadap perkembangan zaman.
IBI menggarisbawahi tiga program utama yang menjadi fokus pengembangan kelembagaan, yaitu Entrepreneurship Wanted (EW), English Tutorial Program (ETP), serta Literasi Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK). Program Entrepreneurship Wanted diarahkan untuk membangun mindset kewirausahaan mahasiswa melalui pembelajaran berbasis praktik, pendampingan bisnis, dan penguatan karakter entrepreneur. Program English Training Program difokuskan pada peningkatan kemampuan bahasa Inggris sebagai keterampilan komunikasi global yang menjadi kebutuhan utama dalam menghadapi persaingan internasional. Sementara itu, program Literasi TIK bertujuan untuk meningkatkan kemampuan digital mahasiswa dalam memanfaatkan teknologi informasi, baik dalam proses pembelajaran maupun dalam pengembangan usaha dan inovasi.
IBI juga menekankan pentingnya sistem pelaporan dan dokumentasi yang terstruktur untuk setiap kegiatan yang dilaksanakan. Pelaporan ini tidak hanya berfungsi sebagai administrasi, tetapi juga sebagai instrumen evaluasi untuk mengukur dampak program secara nyata serta menjadi dasar dalam pengambilan kebijakan pengembangan program di masa mendatang. Dengan demikian, seluruh aktivitas IBI diarahkan untuk membangun sistem yang akuntabel, terukur, dan berkelanjutan.
Dalam arahannya, Ketua Yayasan UMU Buton menegaskan bahwa LPM dan IBI merupakan dua pilar strategis yang tidak dapat dipisahkan dalam membangun kekuatan kelembagaan universitas. Budaya mutu yang dibangun oleh LPM harus menjadi fondasi yang kokoh bagi seluruh aktivitas inovasi yang dijalankan oleh IBI, sementara inovasi yang dihasilkan IBI harus memperkuat relevansi dan daya saing institusi secara keseluruhan. Ketua Yayasan juga menekankan pentingnya penguatan dokumentasi kelembagaan, akuntabilitas program, serta sistem pelaporan berbasis data sebagai bagian dari tata kelola modern yang transparan dan profesional.
Beliau menegaskan bahwa setiap program yang dijalankan di lingkungan UMU Buton harus memiliki dampak yang nyata, terukur, dan dapat dipertanggungjawabkan, tidak hanya dalam aspek akademik, tetapi juga dalam pembentukan karakter mahasiswa serta kontribusi nyata terhadap masyarakat luas. Hal ini menjadi bagian penting dari komitmen UMU Buton untuk terus bertransformasi menjadi perguruan tinggi yang adaptif, responsif, dan progresif dalam menghadapi tantangan pendidikan tinggi di era global.
Rakor Kelembagaan hari ke-3 ini menjadi momentum penting dalam memperkuat sinergi antar lembaga di lingkungan UMU Buton. Melalui penguatan budaya mutu yang sistematis dan pengembangan inovasi soft skill yang terarah, universitas meneguhkan langkahnya menuju sistem tata kelola yang unggul, berdaya saing global, serta berlandaskan nilai-nilai keislaman. Dengan semangat kolaborasi dan komitmen bersama, UMU Buton optimis mampu memperkuat posisinya sebagai institusi pendidikan tinggi yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga berkontribusi nyata dalam pembangunan sumber daya manusia yang berkarakter, inovatif, dan kompetitif di tingkat regional, nasional, maupun internasional.
