ar
en
id

Bahasa:

MENAKAR MUTU, MENEGUHKAN MASA DEPAN AGROTEKNOLOGI

UMU Online-Baubau, 26 Maret 2026 Fakultas Pertanian dan Peternakan kembali menegaskan komitmennya dalam menjaga dan meningkatkan mutu akademik melalui pelaksanaan asesmen internal sebagai bagian dari persiapan akreditasi Program Studi Agroteknologi. Kegiatan ini dilaksanakan di Ballroom Al-Munawwarah dan menjadi momentum strategis menjelang berakhirnya masa berlaku akreditasi program studi tersebut. Rapat evaluasi ini tidak sekadar menjadi forum administratif, tetapi merupakan ruang refleksi akademik yang mempertemukan gagasan, pengalaman, dan komitmen seluruh pemangku kepentingan dalam membangun kualitas pendidikan tinggi yang berkelanjutan.

Kehadiran para pejabat struktural universitas sebagaimana tercantum dalam undangan mencerminkan keseriusan institusi dalam mengawal proses akreditasi secara kolektif. Wakil Rektor Bidang Akademik dan Kemahasiswaan, Wakil Rektor Bidang Aset, ICT, dan Sumber Daya, Ketua Lembaga Penjaminan Mutu, Kepala Biro Akademik, serta seluruh dosen lingkup Faperta hadir dan berpartisipasi aktif dalam memberikan masukan yang konstruktif. Kehadiran lintas unit ini menjadi simbol bahwa akreditasi bukan hanya tanggung jawab program studi semata, melainkan tanggung jawab bersama seluruh ekosistem akademik.

Asesmen internal ini berfokus pada evaluasi mendalam terhadap dokumen utama akreditasi, yaitu Laporan Evaluasi Diri (LED) dan Laporan Kinerja Program Studi (LKPS). Kedua dokumen ini merupakan representasi potret diri program studi dan unit pengelola program studi (UPPS) dalam menggambarkan kualitas penyelenggaraan tridharma perguruan tinggi. Dalam forum ini, setiap bagian dari dokumen dibahas secara sistematis dan kritis dengan mengacu pada matriks serta instrumen akreditasi yang ditetapkan oleh Lembaga Akreditasi Mandiri Perguruan Tinggi Ilmu Pertanian (LAM-PTIP).

Pembahasan dimulai dari Kriteria 1 yang berfokus pada Visi, Misi, Tujuan, dan Strategi (VMTS). Dalam diskusi ini, ditegaskan bahwa VMTS tidak hanya harus jelas secara konseptual, tetapi juga harus terinternalisasi dalam setiap aktivitas akademik dan non- akademik. Visi tidak boleh berhenti sebagai narasi ideal, melainkan harus diterjemahkan menjadi strategi operasional yang terukur dan berorientasi pada capaian. Para peserta rapat memberikan berbagai masukan untuk memperkuat keterkaitan antara VMTS dengan indikator kinerja serta implementasi nyata di lapangan.

Memasuki Kriteria 2 tentang Tata Pamong, Tata Kelola, dan Kerja Sama, diskusi mengarah pada pentingnya sistem organisasi yang transparan, akuntabel, dan partisipatif. Tata kelola yang baik harus mampu menciptakan mekanisme kerja yang efektif serta memastikan adanya kontrol dan evaluasi yang berkelanjutan. Dalam konteks ini, kolaborasi dengan berbagai pihak eksternal juga menjadi aspek penting yang perlu diperkuat untuk mendukung pengembangan program studi.

Kriteria 3 yang membahas tentang Mahasiswa menjadi ruang refleksi mengenai bagaimana program studi mampu menarik, melayani, dan mengembangkan potensi mahasiswa secara optimal. Data terkait jumlah mahasiswa,  prestasi, serta layanan kemahasiswaan dianalisis secara mendalam untuk memastikan bahwa seluruh proses yang berjalan telah memenuhi standar mutu yang ditetapkan. Para peserta rapat menekankan pentingnya pendekatan yang lebih humanis dan adaptif dalam mendukung perkembangan mahasiswa.

Pada Kriteria 4 mengenai Sumber Daya Manusia, fokus pembahasan diarahkan pada kualitas dan kuantitas dosen serta tenaga kependidikan. Kompetensi dosen, kualifikasi akademik, serta keterlibatan dalam penelitian dan pengabdian menjadi indikator utama yang dievaluasi. Diskusi juga menyoroti pentingnya pengembangan kapasitas SDM secara berkelanjutan sebagai bagian dari strategi peningkatan mutu.

Kriteria 5 tentang Keuangan, Sarana, dan Prasarana menghadirkan pembahasan yang menekankan pada efektivitas pengelolaan sumber daya. Ketersediaan fasilitas yang memadai serta dukungan anggaran yang berkelanjutan menjadi faktor penting dalam menunjang proses pembelajaran dan penelitian. Dalam forum ini, disampaikan berbagai masukan terkait optimalisasi pemanfaatan sarana prasarana serta transparansi dalam pengelolaan keuangan.

Selanjutnya,  Kriteria  6  yang  membahas  tentang  Pendidikan menjadi inti dari keseluruhan proses evaluasi. Kurikulum, proses pembelajaran, serta sistem evaluasi dianalisis secara mendalam untuk memastikan kesesuaian dengan standar nasional dan kebutuhan dunia kerja. Implementasi pendekatan Outcome-Based Education (OBE) menjadi salah satu fokus utama dalam pembahasan ini, dengan harapan mampu menghasilkan lulusan yang kompeten dan relevan dengan perkembangan zaman.

Pada Kriteria 7 mengenai Penelitian, diskusi mengarah pada peningkatan kualitas dan kuantitas penelitian dosen serta keterlibatan mahasiswa dalam kegiatan riset. Penelitian tidak hanya dilihat sebagai kewajiban akademik, tetapi juga sebagai sarana untuk menghasilkan inovasi yang bermanfaat bagi masyarakat. Oleh karena itu, penguatan budaya riset menjadi salah satu agenda penting yang harus terus didorong.

Kriteria 8 tentang Pengabdian kepada Masyarakat menjadi refleksi atas kontribusi nyata program studi dalam menjawab kebutuhan masyarakat. Kegiatan pengabdian harus mampu memberikan dampak yang signifikan serta menjadi bagian integral dari proses pembelajaran. Dalam diskusi ini, ditekankan pentingnya integrasi antara pendidikan, penelitian, dan pengabdian sebagai satu kesatuan yang tidak terpisahkan.

Akhirnya, pembahasan mencapai Kriteria 9 yang berfokus pada Luaran dan Capaian Tridharma. Indikator keberhasilan program studi tidak hanya diukur dari proses yang dilakukan, tetapi juga dari hasil yang dicapai. Lulusan yang berkualitas, publikasi ilmiah, serta kontribusi terhadap masyarakat menjadi tolok ukur utama dalam menilai keberhasilan program studi. Oleh karena itu, setiap data yang disajikan dalam LKPS harus akurat, relevan, dan mampu menggambarkan capaian secara komprehensif.

Sepanjang proses  asesmen internal  ini, suasana diskusi  berlangsung dinamis dan konstruktif. Setiap peserta memberikan pandangan berdasarkan pengalaman dan perspektif masing-masing, sehingga menghasilkan pemahaman yang lebih utuh terhadap kondisi program studi. Kritik dan saran yang disampaikan tidak dimaknai sebagai kelemahan, tetapi sebagai peluang untuk melakukan perbaikan dan peningkatan mutu.

Secara filosofis, kegiatan ini mencerminkan kesadaran kolektif bahwa mutu tidak dapat dicapai secara instan, melainkan melalui proses yang berkelanjutan dan terstruktur. Akreditasi bukan sekadar penilaian eksternal, tetapi merupakan cermin dari komitmen internal dalam menjaga kualitas pendidikan. Dalam konteks ini, LED dan LKPS bukan hanya dokumen formal, tetapi representasi dari perjalanan akademik yang telah dan sedang ditempuh oleh program studi.

Lebih dari itu, asesmen internal ini menjadi bagian dari implementasi budaya mutu yang berakar pada prinsip refleksi, evaluasi, dan perbaikan berkelanjutan. Setiap data yang dianalisis, setiap narasi yang disusun, dan setiap keputusan yang diambil harus didasarkan pada fakta dan kebutuhan nyata. Dengan demikian, proses akreditasi tidak hanya menghasilkan pengakuan formal, tetapi juga membawa perubahan substantif dalam kualitas penyelenggaraan pendidikan.

Universitas Muslim Buton melalui langkah ini menunjukkan bahwa transformasi menuju institusi yang unggul tidak dapat dilepaskan dari komitmen terhadap mutu. Penguatan tata kelola, peningkatan kualitas sumber daya, serta optimalisasi sistem penjaminan mutu menjadi fondasi utama dalam mewujudkan visi tersebut. Program Studi Agroteknologi sebagai bagian dari Faperta diharapkan mampu menjadi role model dalam implementasi standar mutu yang tinggi.

Kegiatan ini pada akhirnya menegaskan bahwa keberhasilan akreditasi bukanlah tujuan akhir, melainkan bagian dari proses panjang dalam membangun peradaban akademik yang berkualitas. Setiap upaya yang dilakukan hari ini adalah investasi untuk masa depan, di mana lulusan yang dihasilkan tidak hanya memiliki kompetensi akademik, tetapi juga mampu memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat.

Dengan semangat kolaborasi, integritas, dan komitmen terhadap mutu, Universitas Muslim Buton terus melangkah maju dalam menghadapi tantangan global. Asesmen internal ini menjadi bukti bahwa institusi tidak hanya siap menghadapi proses akreditasi, tetapi juga siap untuk terus berkembang dan berinovasi. Dari ruang-ruang diskusi yang penuh makna inilah lahir harapan baru untuk masa depan pendidikan tinggi yang lebih baik, lebih bermakna, dan lebih berdampak.

Tags :
Bagikan :