UMU Online, Kupang, 12 September 2026 — Universitas Muslim Buton melaksanakan kegiatan benchmarking pengembangan tanaman hortikultura pada Politeknik Pertanian Negeri Kupang pada tanggal 11–12 September 2026. Kegiatan selama dua hari penuh tersebut menjadi bagian dari upaya strategis UMU Buton untuk memperluas wawasan kelembagaan, memperkuat pembelajaran berbasis praktik, serta mempelajari berbagai praktik baik pengembangan pertanian hortikultura yang dapat diadaptasi dan dikembangkan sesuai dengan karakteristik wilayah Kepulauan Buton.
Kegiatan benchmarking ini diikuti oleh Ketua Yayasan Pendidikan Indonesia Kepulauan, Drs. H. Ibrahim Marsela, MM, dan Rektor Universitas Muslim Buton, Dr. La Ode Rasmin, S.Pd., M.Pd. Selama berada di Kupang, rombongan UMU Buton mendapatkan pendampingan langsung dari Kepala Laboratorium Hortikultura Politeknik Pertanian Negeri Kupang, Dr. Ir. Zainal Arifin, M.Si., yang memberikan penjelasan, diskusi, serta berbagi pengalaman mengenai pengembangan tanaman hortikultura, pengelolaan lahan, teknologi budidaya, pengembangan kebun percontohan, serta pemanfaatan kawasan pertanian terpadu sebagai ruang pembelajaran lapangan.
Kegiatan ini memiliki arti penting bagi UMU Buton karena pengembangan pendidikan tinggi tidak hanya diarahkan pada penguatan pembelajaran teoritis di dalam kelas, tetapi juga pada pembentukan ekosistem pembelajaran yang mampu menghubungkan ilmu pengetahuan, teknologi, praktik lapangan, kewirausahaan, dan kebutuhan pembangunan masyarakat. Dalam konteks tersebut, praktik pengembangan hortikultura yang dikembangkan Politeknik Pertanian Negeri Kupang menjadi salah satu referensi penting yang dapat dipelajari secara langsung oleh UMU Buton.
Penguatan Pembelajaran Berbasis Praktik
Selama kunjungan, rombongan UMU Buton melakukan diskusi dan sharing knowledge bersama Kepala Laboratorium Hortikultura Politeknik Pertanian Negeri Kupang. Diskusi berlangsung di lokasi Perkebunan Terpadu yang menjadi salah satu pusat kegiatan pembelajaran lapangan. Kawasan tersebut memberikan gambaran nyata mengenai bagaimana lahan pertanian dapat dimanfaatkan sebagai laboratorium terbuka bagi proses pendidikan, penelitian, pengembangan teknologi, dan pembelajaran berbasis pengalaman.
Bagi UMU Buton, keberadaan kawasan pembelajaran lapangan seperti ini memberikan perspektif penting bahwa laboratorium perguruan tinggi tidak selalu harus dibatasi oleh ruang kelas atau bangunan laboratorium konvensional. Lahan produktif dapat dikembangkan menjadi ruang belajar yang memungkinkan mahasiswa melakukan observasi, praktik budidaya, pengukuran, pemeliharaan tanaman, pengelolaan lingkungan, evaluasi produksi, hingga memahami aspek ekonomi dari suatu komoditas pertanian.
Pendekatan tersebut sejalan dengan kebutuhan pendidikan tinggi masa kini yang menempatkan mahasiswa sebagai pembelajar aktif. Mahasiswa tidak hanya memperoleh pengetahuan melalui perkuliahan, tetapi juga melalui pengalaman langsung dalam menghadapi persoalan nyata di lapangan. Model pembelajaran seperti ini memberikan peluang bagi mahasiswa untuk mengembangkan kemampuan teknis sekaligus kemampuan memecahkan masalah, bekerja dalam tim, berkomunikasi, mengambil keputusan, dan membangun jiwa kewirausahaan.
Dalam diskusi tersebut, pengembangan hortikultura juga dipandang bukan semata-mata sebagai aktivitas produksi tanaman, tetapi sebagai suatu ekosistem yang menghubungkan pendidikan, teknologi, sumber daya manusia, pengelolaan lahan, inovasi, dan peluang ekonomi. Perspektif inilah yang menjadi salah satu pembelajaran penting bagi UMU Buton dalam merancang pengembangan pendidikan pertanian yang lebih kontekstual.
Belajar dari Kebun Percontohan dan Pertanian Terpadu
Selain melakukan diskusi di kawasan Perkebunan Terpadu, rombongan UMU Buton juga mengunjungi sejumlah kebun percontohan yang dikembangkan oleh Politeknik Pertanian Negeri Kupang. Kunjungan lapangan memberikan kesempatan kepada rombongan untuk melihat secara langsung berbagai bentuk pengembangan pertanian dan teknologi budidaya yang diterapkan pada lingkungan pendidikan pertanian.
Kebun percontohan memiliki fungsi strategis sebagai media demonstrasi teknologi sekaligus ruang pembelajaran. Mahasiswa dapat melihat hubungan antara teori yang diperoleh dalam perkuliahan dengan praktik budidaya secara langsung. Dalam konteks pendidikan vokasi dan pendidikan tinggi berbasis praktik, keberadaan kebun percontohan juga dapat menjadi instrumen penting untuk membangun budaya belajar yang berorientasi pada kompetensi dan hasil.
UMU Buton memandang pengalaman tersebut relevan untuk dikaji lebih lanjut dalam pengembangan program pendidikan pertanian di lingkungan universitas. Potensi pertanian Kepulauan Buton dan wilayah sekitarnya membutuhkan pendekatan pendidikan yang mampu mengintegrasikan potensi lokal dengan perkembangan teknologi pertanian. Pengembangan hortikultura dapat menjadi salah satu ruang strategis untuk membangun model pendidikan yang menghubungkan ilmu pengetahuan dengan kebutuhan masyarakat.
Kunjungan tersebut juga memperlihatkan pentingnya pengembangan kawasan pertanian secara terpadu. Konsep terpadu memungkinkan berbagai kegiatan pendidikan dan praktik pertanian ditempatkan dalam satu ekosistem yang saling mendukung. Dengan demikian, lahan tidak hanya berfungsi sebagai tempat produksi, tetapi juga sebagai ruang pembelajaran, penelitian, demonstrasi teknologi, pengembangan inovasi, serta pengenalan kewirausahaan kepada mahasiswa.
Pertukaran Pengetahuan dan Pengalaman
Salah satu nilai utama kegiatan benchmarking adalah terjadinya pertukaran pengetahuan secara langsung. UMU Buton tidak hanya datang untuk melihat fasilitas dan praktik yang dikembangkan oleh Politeknik Pertanian Negeri Kupang, tetapi juga membangun dialog akademik mengenai bagaimana praktik tersebut dikembangkan, dikelola, dan dimanfaatkan sebagai bagian dari proses pendidikan.
Pendampingan oleh Dr. Ir. Zainal Arifin, M.Si., memberikan ruang bagi UMU Buton untuk memperoleh penjelasan langsung mengenai pengembangan hortikultura dan pemanfaatan kawasan pertanian sebagai pusat pembelajaran. Proses dialog tersebut menjadi bagian penting dalam membangun pemahaman yang lebih komprehensif mengenai hubungan antara laboratorium, lahan praktik, kebun percontohan, pembelajaran mahasiswa, dan pengembangan teknologi pertanian.
Bagi UMU Buton, proses benchmarking bukan dimaksudkan untuk menyalin suatu model secara langsung, melainkan untuk mempelajari prinsip, sistem, pengalaman, dan praktik baik yang kemudian dapat disesuaikan dengan kondisi kelembagaan dan karakteristik daerah. Pendekatan adaptif tersebut penting karena setiap perguruan tinggi memiliki sumber daya, lingkungan geografis, karakter mahasiswa, serta kebutuhan masyarakat yang berbeda.
Kegiatan ini juga memperkuat pemahaman bahwa pengembangan perguruan tinggi memerlukan kemitraan dan pembelajaran antarlembaga. Perguruan tinggi dapat berkembang lebih cepat ketika memiliki keterbukaan untuk belajar dari institusi lain, mengidentifikasi praktik baik, mengevaluasi relevansinya, dan mengembangkan inovasi sesuai kebutuhan sendiri.
Relevansi bagi Pengembangan UMU Buton
Hasil benchmarking di Politeknik Pertanian Negeri Kupang memiliki relevansi yang kuat dengan arah pengembangan UMU Buton, khususnya dalam memperkuat pendidikan berbasis praktik, pengembangan kewirausahaan, inovasi teknologi, serta pemanfaatan potensi lokal. Pengalaman yang diperoleh selama kunjungan menjadi bahan penting bagi UMU Buton untuk mengkaji pengembangan kawasan praktik pertanian yang dapat berfungsi secara simultan sebagai ruang pembelajaran, penelitian, pengabdian kepada masyarakat, dan pengembangan usaha produktif.
Bagi Fakultas Pertanian dan Peternakan UMU Buton, pengalaman tersebut dapat menjadi referensi dalam memperkuat desain pembelajaran berbasis lapangan. Mahasiswa dapat diarahkan untuk tidak hanya memahami konsep agribisnis, agroteknologi, dan peternakan melalui teori, tetapi juga memperoleh pengalaman langsung dalam pengelolaan kegiatan produktif.
Dalam perspektif Entrepreneur University, pengembangan pertanian juga dapat diarahkan untuk membangun kemampuan mahasiswa dalam melihat peluang ekonomi dari sektor pertanian. Tanaman hortikultura, teknologi budidaya, pengelolaan hasil, pemasaran, dan pengembangan produk dapat menjadi bagian dari ekosistem pembelajaran kewirausahaan yang berbasis potensi lokal.
Kawasan pertanian terpadu juga berpotensi dikembangkan sebagai living laboratory, yaitu lingkungan pembelajaran nyata yang memungkinkan mahasiswa belajar melalui proses produksi dan penyelesaian persoalan secara langsung. Konsep tersebut dapat menjadi salah satu alternatif pengembangan pendidikan tinggi yang lebih aplikatif, produktif, dan memiliki keterkaitan langsung dengan kebutuhan masyarakat.
Komitmen Tindak Lanjut
Kegiatan benchmarking UMU Buton di Politeknik Pertanian Negeri Kupang pada 11–12 September 2026 diharapkan tidak berhenti pada kegiatan kunjungan, tetapi dilanjutkan melalui proses internalisasi dan pengembangan program yang relevan di lingkungan UMU Buton. Berbagai pengalaman yang diperoleh selama kunjungan akan menjadi bahan evaluasi dan kajian dalam merancang penguatan pembelajaran lapangan, pengembangan kebun percontohan, pemanfaatan lahan produktif, serta pengintegrasian kegiatan pendidikan, penelitian, pengabdian kepada masyarakat, dan kewirausahaan.
Kunjungan selama dua hari penuh tersebut sekaligus memperkuat komitmen UMU Buton untuk membangun pendidikan tinggi yang semakin dekat dengan kebutuhan masyarakat dan potensi daerah. Pembelajaran dari Politeknik Pertanian Negeri Kupang memberikan perspektif bahwa pengembangan pertanian modern membutuhkan integrasi antara sumber daya manusia, teknologi, lahan, pengetahuan, inovasi, dan tata kelola yang berkelanjutan.
Bagi UMU Buton, benchmarking merupakan bagian dari budaya peningkatan mutu. Setiap pengalaman baik yang diperoleh dari institusi lain perlu dipelajari, dianalisis, disesuaikan, dan diterjemahkan menjadi inovasi kelembagaan. Dengan pendekatan tersebut, kegiatan benchmarking tidak sekadar menjadi agenda kunjungan akademik, tetapi menjadi instrumen pembelajaran organisasi dan bagian dari proses peningkatan mutu berkelanjutan.
Kegiatan UMU Buton di Kupang pada akhirnya memberikan pesan penting bahwa masa depan pendidikan pertanian tidak hanya ditentukan oleh kemampuan menyampaikan teori, tetapi juga oleh kemampuan menciptakan pengalaman belajar yang nyata, inovatif, produktif, dan relevan dengan kebutuhan pembangunan. Pengembangan hortikultura melalui kawasan pertanian terpadu, kebun percontohan, teknologi budidaya, dan pembelajaran lapangan menjadi inspirasi penting bagi UMU Buton untuk terus mengembangkan ekosistem pendidikan yang menghubungkan ilmu pengetahuan, praktik, inovasi, kewirausahaan, dan pengabdian kepada masyarakat.
Melalui kegiatan ini, UMU Buton menegaskan komitmennya untuk terus belajar dari praktik baik, membangun jejaring kelembagaan, dan mengembangkan model pendidikan yang adaptif terhadap potensi wilayah Kepulauan Buton. Benchmarking di Politeknik Pertanian Negeri Kupang menjadi salah satu langkah konkret dalam perjalanan tersebut: belajar dari praktik baik, mengadaptasi pengetahuan, mengembangkan inovasi, dan menghadirkannya kembali untuk kemajuan pendidikan serta masyarakat.






