Narasumber : Muhammad Na’im Mahmud, S.Pd., M.Pd.
Baubau, 10 September 2026 — Universitas Muslim Buton (UM Buton) kembali melaksanakan kegiatan rutin Kajian Aswaja yang diselenggarakan setiap hari Kamis. Kegiatan ini merupakan salah satu agenda wajib yang secara konsisten dilaksanakan sebagai bagian dari upaya membangun karakter, meningkatkan pemahaman keislaman, serta menumbuhkan budaya refleksi dan perbaikan diri bagi seluruh sivitas akademika Universitas Muslim Buton.
Pada pelaksanaan Kajian Aswaja Kamis, 10 September 2026, Lembaga Kajian Aswaja Universitas Muslim Buton menghadirkan Bapak Muhammad Na’im Mahmud, S.Pd., M.Pd., yang merupakan dosen Program Studi Pendidikan Matematika, sebagai narasumber. Dalam kesempatan tersebut, beliau membawakan kajian dengan tema “PPEPP Sebagai Jalan Muhasabah dan Perbaikan Diri.”
Dalam kajiannya, Muhammad Na’im Mahmud menjelaskan bahwa kehidupan manusia pada dasarnya perlu dijalani dengan mengikuti aturan, pedoman, dan nilai-nilai yang telah ditetapkan. Aturan bukan hanya berfungsi sebagai batasan, tetapi juga menjadi pedoman agar setiap langkah yang dilakukan dapat berjalan secara terarah, tertib, dan memiliki tujuan yang jelas.
Konsep PPEPP (Penetapan, Pelaksanaan, Evaluasi, Pengendalian, dan Peningkatan) yang selama ini dikenal dalam sistem penjaminan mutu perguruan tinggi, kemudian dikaitkan dengan kehidupan manusia sebagai sebuah proses untuk melakukan muhasabah dan perbaikan diri. Menurut pemaparan narasumber, prinsip PPEPP tidak hanya dapat diterapkan dalam konteks kelembagaan dan akademik, tetapi nilai-nilainya juga dapat menjadi refleksi dalam menjalani kehidupan sehari-hari.
Tahap Penetapan dapat dimaknai sebagai proses menentukan tujuan, prinsip, dan komitmen hidup yang ingin dicapai. Manusia perlu memiliki arah dan standar yang jelas agar setiap tindakan yang dilakukan tidak berjalan tanpa tujuan.
Selanjutnya, Pelaksanaan merupakan tahap ketika seseorang berusaha menjalankan apa yang telah ditetapkan dalam kehidupan nyata. Pada tahap ini diperlukan kedisiplinan, tanggung jawab, dan konsistensi agar nilai serta tujuan yang telah ditentukan dapat diwujudkan dalam tindakan.
Tahap berikutnya adalah Evaluasi, yaitu proses melihat dan menilai kembali apa yang telah dilakukan. Dalam konteks kehidupan pribadi, evaluasi dapat menjadi sarana untuk melakukan muhasabah, yakni mengintrospeksi diri dengan melihat kekurangan, kesalahan, maupun keberhasilan yang telah dicapai.
Setelah melakukan evaluasi, seseorang perlu melakukan Pengendalian, yaitu memperbaiki hal-hal yang belum sesuai dan menjaga agar kesalahan yang sama tidak terus berulang. Pengendalian diri menjadi bagian penting dalam membentuk pribadi yang lebih baik, bertanggung jawab, dan mampu mengambil keputusan secara bijaksana.
Tahap terakhir adalah Peningkatan, yaitu upaya untuk terus memperbaiki kualitas diri. Muhasabah tidak berhenti pada kesadaran terhadap kesalahan, tetapi harus dilanjutkan dengan tindakan nyata untuk menjadi pribadi yang lebih baik dari waktu ke waktu.
Melalui kajian tersebut, peserta diajak untuk memahami bahwa PPEPP dapat menjadi sebuah siklus kehidupan yang mendorong manusia untuk terus menetapkan tujuan, melaksanakan kebaikan, mengevaluasi diri, mengendalikan kekurangan, dan meningkatkan kualitas diri secara berkelanjutan.
Kajian Aswaja ini juga menjadi momentum bagi sivitas akademika Universitas Muslim Buton untuk tidak hanya mengejar pencapaian dalam aspek akademik dan profesional, tetapi juga senantiasa melakukan refleksi terhadap sikap, perilaku, tanggung jawab, serta kontribusi masing-masing dalam kehidupan bermasyarakat dan beragama.
Dengan mengintegrasikan nilai-nilai Aswaja dan semangat perbaikan berkelanjutan, kegiatan Kajian Aswaja diharapkan dapat menjadi ruang pembinaan spiritual dan karakter bagi sivitas akademika UM Buton. Kegiatan rutin setiap hari Kamis ini diharapkan terus menjadi sarana untuk memperkuat nilai keislaman, membangun budaya introspeksi, serta mendorong seluruh sivitas akademika untuk senantiasa menjadi pribadi yang lebih baik.
PPEPP bukan sekadar sebuah sistem penjaminan mutu, tetapi dapat menjadi pengingat bahwa kehidupan pun membutuhkan proses penetapan arah, pelaksanaan yang konsisten, evaluasi yang jujur, pengendalian diri, dan peningkatan secara berkelanjutan. Dengan demikian, muhasabah bukan hanya menjadi kegiatan sesaat, melainkan menjadi bagian dari perjalanan hidup menuju pribadi yang lebih baik, bertanggung jawab, dan senantiasa berorientasi pada kebaikan.






