ar
en
id

Bahasa:

TRANSFORMASI PERGURUAN TINGGI DI ERA VUCA

TRANSFORMASI PERGURUAN TINGGI DI ERA VUCA

UMU Online – Universitas Muslim Buton menyelenggarakan kegiatan Focus Group Discussion strategis sebagai ruang akademik kolektif untuk memperkuat arah pengembangan kelembagaan, tata kelola, dan transformasi pendidikan tinggi di tengah perubahan global yang berlangsung sangat cepat. Kegiatan yang berlangsung di Ballroom Al-Munawwara UMU Buton pada Sabtu, 16 Mei 2026 tersebut menghadirkan akademisi dan pakar manajemen pendidikan tinggi, Prof. Dr. Mashur Razak, sebagai pemateri utama yang menguraikan secara mendalam berbagai tantangan, peluang, serta strategi transformasi perguruan tinggi pada era Internet of Things (IoT) dan dinamika dunia yang dikenal dengan konsep VUCA (Volatility, Uncertainty, Complexity, and Ambiguity).

Kegiatan FGD dipimpin langsung oleh Rektor Universitas Muslim Buton, Dr. La Ode Rasmin, S.Pd., M.Pd., dan dihadiri oleh unsur pimpinan universitas yang terdiri atas Wakil Rektor Bidang Akademik dan Kemahasiswaan, Wakil Rektor Bidang Aset, ICT dan Sumber Daya, para dekan di lingkungan UMU Buton, serta seluruh pegawai universitas. Kehadiran seluruh elemen institusi mencerminkan komitmen kolektif dalam membangun budaya akademik yang responsif terhadap perubahan sekaligus memperkuat kapasitas organisasi pendidikan tinggi berbasis tata kelola yang efektif, profesional, dan berorientasi mutu.

Dalam paparannya, Prof. Dr. Mashur Razak menegaskan bahwa transformasi pendidikan tinggi tidak lagi dapat dipahami sekadar sebagai perubahan administratif atau penyesuaian kurikulum secara parsial, melainkan sebagai proses rekonstruksi menyeluruh terhadap sistem manajemen, tata kelola, budaya organisasi, kepemimpinan, serta orientasi kelembagaan. Perguruan tinggi, menurut beliau, saat ini berada pada fase historis yang menuntut kecepatan adaptasi akibat perkembangan teknologi digital, disrupsi kecerdasan buatan, integrasi sistem berbasis data, serta meningkatnya tuntutan masyarakat terhadap kualitas lulusan yang relevan dengan kebutuhan zaman.

Beliau menguraikan bahwa era Internet of Things telah mengubah pola interaksi manusia, sistem kerja, dan mekanisme pengambilan keputusan melalui konektivitas teknologi yang semakin tinggi. Dalam konteks pendidikan tinggi, situasi tersebut menuntut perguruan tinggi untuk memperkuat transformasi digital melalui pengembangan sistem akademik berbasis teknologi, optimalisasi tata kelola berbasis data (data driven university management), digitalisasi layanan administrasi, penguatan ekosistem pembelajaran hibrida, serta peningkatan literasi digital sivitas akademika. Menurutnya, universitas masa depan adalah institusi yang tidak hanya menghasilkan lulusan, tetapi juga menjadi pusat produksi pengetahuan, inovasi sosial, dan solusi berbasis teknologi yang mampu menjawab kebutuhan masyarakat.

Lebih lanjut, Prof. Mashur Razak menjelaskan bahwa dunia pendidikan tinggi saat ini menghadapi tantangan dalam lanskap VUCA, yakni kondisi yang ditandai oleh perubahan cepat (volatility), ketidakpastian (uncertainty), kompleksitas (complexity), dan ambiguitas (ambiguity). Dalam situasi demikian, perguruan tinggi harus mengembangkan tata kelola yang agile, adaptif, kolaboratif, dan visioner. Kepemimpinan pendidikan tinggi tidak cukup dijalankan dengan pendekatan administratif semata, melainkan harus berbasis kemampuan membaca masa depan, melakukan inovasi kebijakan, membangun kolaborasi multipihak, serta memperkuat budaya organisasi yang sehat, produktif, dan berorientasi pada mutu berkelanjutan.

Pada kesempatan tersebut, Rektor UMU Buton, Dr. La Ode Rasmin, S.Pd., M.Pd., menegaskan bahwa pelaksanaan FGD strategis ini merupakan bagian dari ikhtiar institusional universitas untuk memperkuat kapasitas organisasi dalam menghadapi tantangan transformasi pendidikan tinggi. Menurutnya, perguruan tinggi tidak boleh terjebak pada pola kerja rutin dan birokratis yang stagnan, tetapi harus bergerak menuju tata kelola akademik yang inovatif, efektif, dan berbasis capaian (outcome oriented governance). Oleh karena itu, forum ilmiah seperti FGD dipandang penting sebagai media konsolidasi pemikiran, refleksi akademik, sekaligus penyamaan persepsi dalam membangun visi kelembagaan yang progresif.

Diskusi berlangsung dinamis dengan berbagai tanggapan, refleksi, dan dialog strategis dari peserta terkait tantangan implementasi transformasi digital, peningkatan mutu pembelajaran, penguatan kapasitas sumber daya manusia, tata kelola berbasis teknologi informasi, serta pentingnya integrasi budaya kerja profesional di lingkungan perguruan tinggi. Kehadiran para dekan, unsur pimpinan, dan seluruh pegawai memperlihatkan kesadaran bersama bahwa transformasi universitas tidak dapat dijalankan secara parsial, melainkan harus dibangun melalui kolaborasi institusional yang kuat dan kepemimpinan kolektif.

FGD ini sekaligus menegaskan posisi UMU Buton sebagai institusi pendidikan tinggi yang terus berupaya membangun ekosistem akademik yang unggul, relevan, dan adaptif terhadap perubahan global. Melalui forum diskusi ilmiah yang terstruktur dan reflektif, universitas berupaya memperkuat fondasi tata kelola, meningkatkan kualitas layanan pendidikan, serta mempersiapkan sumber daya manusia yang memiliki kapasitas intelektual, moral, profesional, dan kepemimpinan dalam menghadapi tantangan masa depan.

Pelaksanaan FGD di Ballroom Al-Munawwara UMU Buton diharapkan menjadi momentum penting dalam memperkuat kesadaran kolektif sivitas akademika bahwa transformasi pendidikan tinggi bukan sekadar pilihan, melainkan keniscayaan historis yang harus dijawab melalui kepemimpinan visioner, tata kelola modern, inovasi berkelanjutan, serta komitmen bersama untuk menghadirkan pendidikan tinggi yang berdampak bagi masyarakat, bangsa, dan peradaban.

Tags :
Bagikan :